Compartir

Bab 141

last update Fecha de publicación: 2026-09-08 18:01:31

Kedatangan panglima Tunka, pada akhirnya hentikan pertarungan yang sebentar di pagi hari itu, pertarungan yang tak lebih dari pemanasan bagi Panji Sanjaya.

"Dewi naga ungu, atas nama tuan Sanjaya, aku meminta maaf!" kata panglima Tunka.

"Apa sungguh ia tamumu, Panglima?" tanya putri Kenanga.

"Iya, tuan putri!"

"Dia tak memilik sopan santun, aku tak suka padanya!' kata gadis itu.

Panji Sanjaya merasa kalau ia yang bertanggung jawab atas masalah itu, dan berjalan maju ke depan putri Kenanga.

"Tu
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 146

    Tuan Barkah dan Panji Sanjaya diterima oleh salah satu wakil ketua di perguruan kalajengking hitam, wakil Sadak, namanya. "Maksudnya, putramu akan belajar ilmu kanuragan disini, tuan Barkah?" tanya wakil Sadak."Iya, tuan Sadak. Aku yakin putraku akan baik-baik saja jika berada di perguruan ini!" kata tuan Barkah."Sudah jelas di akan baik-baik saja. Tapi tuan Barkah tahu bukan kalau semua ini tak gratis?" "Jelas aku tahu tuan Sadak!" kata tuan Barkah dan letakkan dua kantong koin emas di atas meja.Mata tuan Sadak terbuka lebar, dan ia menerima dua kantong koin emas itu, yang mana dia simpan di dalam lacinya."Dengan ini, putra tuan Barkah sudah kami terima di perguruan ini!" kata wakil Sadak. "Benarkah itu?" "Iya, tuan Barkah!""Kau lihat Sanjaya, kau diterima di perguruan ini!" kata tuan Barkah. "Iya, ayah! Aku senang sekali!" kata Panji Sanjaya."Kalau begitu, aku akan pergi, aku percayakan putraku pada perguruan ini!" kata tuan Barkah. "Iya, tuan Barkah!" kata wakil Sadak.

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 145

    Huppp!!Panji melesat dari rumah Ki Samara, dan langsung awasi perguruan kalajengking hitam dari jauh. "Perguruan ini sangat ketat, dan tak mungkin bagiku masuk dengan mudah ke dalam perguruan ini!" ucap Panji.Panji melihat dari segala arah, namun ia tak menemukan satu pun celah untuk masuk dengan mudah ke dalam perguruan itu. Apalagi Panji belum tahu seluk beluk dari perguruan itu. Itu jelas akan menyulitkan Panji. Salah sedikit, malah Panji akan ditangkap, dan itu akan membahayakan nyawa neneknya. Itu tak mungkin Panji inginkan. "Bagaimana cara masuk ke dalam perguruan itu?" gumam Panji bingung. Merasa tidak memiliki cara untuk masuk, Panji melesat tinggalkan area itu, dan menuju ke perguruan Teratai Salju. "Ketua Saban, aku ada diluar, apa kita bisa bicara?" ucap Panji lewat suara dan kekuatan bathin tepat pada Ki Saban. Setelah itu, Panji menunggu di belakang perguruan Teratai Salju, dan ia yakin kalau ketua perguruan itu akan datang. Tak berapa lama, satu tubuh melayang d

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 144

    Ki Samara kaget bukan main karena perkataan Panji Sanjaya, dan ia menambah cahaya obor di dalam rumah usang itu. Dia menatap wajah Panji, dan menatap dengan sangat lama, dan menemukan ada persamaan Panji dengan ayahnya, Harlah si pendekar mata iblis.Namun, Ki Samara tak serta merta percaya akan hal itu, dan dengan cepat ia kuasai dirinya. "Jangan asal bicara tuan Panji, mungkin kau memiliki wajah yang mirip dengan keponakanku, tapi aku tak percaya kalau kau adalah cucuku!" kata Ki Samara."Kakek yang menyuruhku kemari, Ki Sarman, kek!" kata Panji."Ki Sarman, dia sudah lama mati. Jangan asal bicara di hadapanku, tuan Panji!" kata Ki Samara masih tak mau akui tentang hubungan dengan Panji.Panji yang memang sudah mulai membuka jati dirinya, membuka dua liontin yang ada di lehernya, dan tunjukkan pada Ki Samara. "Apa ini belum membuktikan apa-apa, kakek? Aku sungguh cucumu!" kata Panji. Ki Samara menatap dua liontin itu, dan tangannya gemetaran saat melihat dua liontin itu. "Kau .

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 143

    Dua orang dari tiga jagoan pasar itu mundur karena melihat apa yang sudah terjadi pada rekan mereka. "Ada apa? Ambillah!" kata Panji.Prakkk!!Dan kaki Panji injak dada orang yang tangannya sudah buntung, hingga remuk dan bagian dalamnya pecah."Maafkan kami, maafkan kami anak muda!" ucap mereka dan berlutut pada Panji.Mereka mengira kalau Panji marah karena mereka mengambil tuak Panji, namun masalahnya tak sederhana itu. Mereka tak tahu, Panji dari awal sudah marah pada mereka. Dan tuak itu hanya alasan Panji untuk marah. "Tidak akan aku maafkan!" kata Panji."Kami akan bayar tuak yang kau minta, anak muda!' "Aku tak butuh!" kata Panji dan berjalan ke arah mereka berdua. Whusssssssss!!Crasssssss!!Dengan jurus jari pedang, Panji bergerak, dan tahu-tahu mereka merasakan ada rasa sakit di leher mereka. Brukkkkkk!!Bersamaan, kepala keduanya jatuh dan lepas dari tubuh mereka. Keduanya tewas dengan kepala yang berpisah dari tubuhnya. "Terima kasih untuk minumnya, paman! Aku tak

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 142

    Panji Sanjaya, setelah bicara dengan Ki Saban, darahnya mendidih karena dipenuhi dengan amarah. Semua yang dikatakan oleh Ki Sarman, Iblis Tujuh Nyawa sangat benar, Panji memiliki keluarga di kota Benggala.Baru saja Panji akan tinggalkan perguruan Teratai Salju, Panji sudah merasakan kalau memang ada yang awasi dirinya."Sungguh mereka tahu kalau aku di kota ini!" ucap Panji dan memilih masuk lagi ke perguruan itu."Ada apa Panji, kenapa kau kembali?" tanya Ki Saban. "Seperti yang ketua katakan, mereka memang awasi diriku!""Iya, itu karena kau sudah mencari di kota, dan kabar di kota ini sangat cepat menyebar!" kata Ki Saban."Jadi apa yang harus aku lakukan, ketua?" tanya Panji."Tinggalkan kota ini!" "Tidak mungkin!" kata Panji."Hanya pengalihan saja. Aku yakin mereka akan lupakan dirimu jika kau sudah terlihat tinggalkan kota ini!" "Pengalihan?" ucap Panji dan paham maksud Ki Saban."Iya, lakukan sekarang juga! Saat kau datang lagi ke kota ini, coba tutupi wajahmu!" "Baik,

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 141

    Kedatangan panglima Tunka, pada akhirnya hentikan pertarungan yang sebentar di pagi hari itu, pertarungan yang tak lebih dari pemanasan bagi Panji Sanjaya. "Dewi naga ungu, atas nama tuan Sanjaya, aku meminta maaf!" kata panglima Tunka."Apa sungguh ia tamumu, Panglima?" tanya putri Kenanga."Iya, tuan putri!""Dia tak memilik sopan santun, aku tak suka padanya!' kata gadis itu.Panji Sanjaya merasa kalau ia yang bertanggung jawab atas masalah itu, dan berjalan maju ke depan putri Kenanga."Tuan putri, aku minta maaf. Aku sungguh tak tahu kalau yang aku lakukan salah!" kata Panji."Cih, mudah bagiku untuk meminta maaf. Kau akan tetap dapatkan hukuman!" kata gadis muda itu. "Aku siap menerima hukuman, tuan putri!" kata Panji."Bagus, ikuti aku!" kata gadis itu. "Tidak untuk sekarang tuan putri. Saat aku sudah selesai, aku akan datang temui tuan putri!" "Apa kau pikir kau memiliki hak untuk berunding? Tidak ada anak muda!" kata putri Kenanga."Tuan putri, tuan Sanjaya pasti akan me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status