Share

Bab 18

last update Tanggal publikasi: 2026-07-11 11:20:21

Meskipun merasa ragu, tapi Panji tetap datang ke api unggun yang dia buat, dan orang yang Panji lihat malah tersenyum padanya.

Tapi, Panji masih curiga, karena dia tahu kalau di hutan itu tidak ada satu pun orang, jadi Panji memperlihatkan wajah dan gerakan yang waspada.

"Hei, sikap apa itu? Apa kau akan menyerangku, bocah?" kata sosok itu.

"Siapa kau?" tanya Panji.

"Aku Ki Ageng!"

"Ki Ageng, aku tak kenal dengan dirimu!" kata Panji.

"Hahaha, untuk itu mari kita berkenalan, aku Ki ageng, ka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 163

    Tanpa pedulikan Ki Jauji ataupun perempuan yang bersama gadis itu, Panji melesat mengejar gadis yang kenali itu.Namun gadis itu juga melesat cepat, dan gunakan ilmu meringankan tubuh yang cukup baik."Cepat!" desis Panji.Gadis itu tahu-tahu masuk ke dalam semak-semak, dan hilang dari pandangan Panji Sanjaya.Namun Panji juga masuk ke dalam semak-semak itu, dan pada saat itulah pandangan mata Panji tak lagi temukan dimana bayangan gadis itu, padahal jelas-jelas kalau tadi Panji melihat gadis itu hilang ke dalam semak-semak itu."Tidak mungkin!" kata Panji.Panji berlarian kesana kemari, dan berusaha keras untuk temukan keberadaan gadis itu.Namun, jangan tubuhnya, bayangan gadis itu pun sudah tak terlihat, jangankan bayangan, bau gadis itu pun tak lagi tercium hidup Panji Sanjaya."Tidak! Mayang!" teriak Panji Sanjaya dengan suara yang sangat keras.Panji mencari ke segala arah, tiap semak-semak Panji sibak, namun tetap tak ada tubuh gadis itu, seolah-olah gadis itu hilang ditelan ol

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 162

    Seperti kata Ki Pamungkas, dalam tiga hari Panji pun menerima semua ramuan obat yang digodok Ki Pamungkas di telaga buatannya.Dan saat Panji membuka matanya, Panji kaget karena ia melayang di udara, dan Panji buru-buru lepaskan ilmu meringankan tubuh, dan melayang di udara.Dan saat ia sadari kalau ia dalam keadaan telanjang, Panji pun turun dan pakai semua pakaiannya."Ki Pamungkas!" panggil Panji."Kau sudah bangun, Sanjaya!"Panji tersenyum, dan berjalan ke arah Ki Pamungkas."Terima kasih, paman!" kata Panji dan berlutut pada Ki Pamungkas."Hei apa yang kau lakukan?""Aku sungguh berterima kasih karena paman sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga untukku!" kata Panji."Aku melakukan ini untuk membalas budi padamu, Panji. Kau sudah membebaskan aku dari penjara bawah tanah perguruan kalajengking hitam!" kata Ki Pamungkas."Tapi paman juga sudah membantuku, jika tanpa bantuan dari paman, aku tak akan bisa bebaskan nenekku!" kata Panji."Sudahkah, aku anggap kita impas. Dan sa

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 161

    Merasa tak dapatkan apa yang ia inginkan di lembah Seribu Batu, Panji Sanjaya putuskan untuk menuju gunung Halimun.Gunung itu satu arah dengan lembah seribu batu, hingga Panji perlu memutar arah hanya untuk menuju gunung itu."Aku harap dia akan katakan sesuatu yang berharga!" kata Panji Sanjaya.Kedatangan Panji ke gunung Halimun, untuk bertemu dengan Ki Pamungkas, sosok yang ia kenali di penjara bawah tanah perguruan kalajengking hitam.Ki Pamungkas juga salah satu orang yang membuat Panji berhasil selamatkan neneknya, nyai Samiya. Hal itulah, untuk mengucapkan terima kasih, Panji putuskan untuk datang ke gunung itu."Aku tak tahu yang mana gunung halimun? Negeri ini begitu banyak gunung!" ucap Panji.Namun, saat Panji berada di kaki salah satu Gunung, Panji merasakan kalau gunung itu memiliki aura Ki Pamungkas."Sepertinya ia sengaja melepaskan aura dan energinya, itu semua agar aku tahu keberadaan dirinya di gunung ini!" ucap Panji.Hupppp!!Panji melesat sangat cepat, dan melaya

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 160

    Panji berusaha untuk terlihat kuat saat putri Kenanga datang, dan Ki Sarman paham akan hal itu."Kakek keluar sebentar!" kata Ki Sarman."Baik, kakek!" kata Panji.Putri Kenanga masuk, dan duduk di hadapan Panji. Gadis yang cantik itu menunjukkan betapa ia mampu membuat Panji tak terpana pada kecantikan gadis itu.Bau dari tubuh gadis itu menusuk hidung Panji, dan itu sungguh bau gadis yang selalu terjaga oleh dayang-dayang istana."Ada apa tuan putri?" tanya Panji."Tidak ada, apa aku salah untuk menjengukmu?""Bukan, bukan seperti itu tuan putri!" kata Panji."Asal kau tahu, istana ini adalah rumahku, jadi kau tak berhak bertanya untuk apa aku datang kemari!" kata gadis itu dengan suara melengking."Tuan putri, apa tuan putri tak bisa bicara pelan? Telingaku bisa rusak karena itu!" kata Panji."Aku datang karena kau masih memiliki hutang padaku!""Hutang?" tanya Panji."Iya, kau masih harus memberikan waktu untukku, dan kau akan jadi pengawal bagiku!" kata putri Kenanga."Dasar gadi

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 159

    Panji menjerit keras saat ramuan ciptaan tabib Mulintang melewati tenggorokannya, dan itu karena rasa panas yang dibawa oleh ramuan itu.Haaaaaaaaaaa!!Panji alirkan hawa murni untuk melawan rasa panas itu, namun rasa panas itu malah semakin membakar seluruh bagian dalam tubuh Panji.Keringat yang sangat deras membasahi tubuh dan pakaian Panji, dan itu adalah reaksi dari ramuan obat itu.Ramuan obat itu adalah ramuan yang berhawa panas, dan ramuan itulah yang melawan racun yang berada di dalam tubuh Panji Sanjaya.Arggggg!!Panji kembali menjerit sangat keras, dan tubuhnya bergulingan di lantai ruangan pengobatan istana itu.Ki Sarman yang mendengar jeritan Panji tak tahan mendengar itu, dan memilih untuk keluar dan akan melihat Panji.Namun, saat ia akan keluar, tabib Mulintang sudah ada di pintu masuk rumah panglima Tunka."Tidak usah khawatir, kondisi cucumu akan baik-baik saja!" kata tabib Mulintang pada Ki Sarman."Tapi dia menjerit kesakitan?""Iya, itu adalah reaksi ramuan obat

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 158

    Ketua perguruan Teratai Salju, Ki Saban, melesat dengan cukup cepat, dan ia membelah kota Benggala, hanya untuk sampai secepatnya di istana kerajaan Benua Putih.Di pundaknya, tubuh Panji Sanjaya yang terluka karena racun kalajengking milik Ki Ganda, sudah terkapar tak berdaya.Whusssssssss!!Ki Saban tak perduli pada prajurit yang berjaga di pintu masuk istana, dan ia melesat dengan sangat cepat."Itu Ki Saban, biarkan saja! Istana ini seperti miliknya!" kata prajurit."Tabib, tabib Mulintang!" teriak Ki Saban saat ia sampai di istana.Beberapa panglima datang, dan salah satunya adalah panglima Tunka."Ki Saban, ada apa? Eh bukankah itu tuan Sanjaya?" kata panglima Tunka."Dimana tabib Mulintang, aku ingin ia obati Sanjaya!" kata Ki Saban."Ikuti aku, dia sedang melatih putri Kenanga dalam ilmu pengobatan!" kata panglima Tunka.Mereka berdua berjalan sangat cepat, dan masuk wilayah kaputren, Wilayah yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga istana.Namun, Ki Saban tak peduli akan hal i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status