Share

Bab 46

last update publish date: 2026-07-21 21:59:45

Whusssssssss!!

Pedang dengan warna keperakan itu tertahan tepat di atas kepala Panji, dan pedang itu di pegang oleh seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat cantik.

Panji bahkan sampai terpana pada kecantikan gadis muda itu, hingga tak sadari kalau ada sebilah pedang yang siap mengoyak kepalanya.

"Mayang, apa yang kau lakukan?" bentak Hardi.

"Eh, dia bukan musuh kak?" tanya gadis yang memiliki nama Mayang itu.

"Selalu saja ceroboh, dan sesukamu mengambil keputusan!" kata Hardi geleng kepal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 177

    Panji Sanjaya berdiri di depan gerbang perguruan Anggrek putih, dan mengenang sejenak masa indah yang ia lalui di perguruan itu.Panji memang sempat datang ke perguruan itu, namun ia tak mampir, hanya datang untuk obati guru Sanjaya, guru pertama Panji untuk berlatih ilmu kanuragan.Banyak murid perguruan yang berdiri di halaman perguruan, dan menatap Panji dengan tatapan yang bingung.Namun, Panji tak hiraukan itu, Panji terus berjalan ke pondok guru Sanjaya, dan Panji cukup kaget karena Panji melihat banyak bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan pondok itu."Tuan Sanjaya!" teriak satu suara.Panji kaget, karena suara itu berasal dari dalam pondok Sanjaya, dan satu tubuh berlari cepat, dan menubruk tubuh Panji, sekalian memeluk erat tubuh Panji Sanjaya."Aku yakin kau akan datang kemari!" kata gadis yang tak lain adalah putri Lembayung Senja."Tuan putri!" ucap Panji tak percaya."Iya, ini aku tuan Sanjaya!" kata Putri Lembayung.Dan tak berapa lama, guru Sanjaya keluar dari dalam po

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 176

    Pertemuan dengan Mayang, membuat Panji memiliki semangat yang baru. Belum lagi pelukan dari Mayang, itu membuat Panji semakin bertenaga.Panji menatap mata Mayang dengan sangat dalam, dan menemukan kalau gadis itu juga sama bahagianya dengan Panji."Aku tak ingin kehilangan dirimu lagi, Mayang!" kata Panji.Gadis itu terdiam, dia ingin bicara, namun suaranya hilang dan tertahan oleh tenggorokan. Hanya senyuman yang bisa bisa ia berikan pada Panji Sanjaya."Ada apa dengan wajahmu?" tanya Panji dan sentuh gelembung yang membengkak di wajah Mayang"Sttttt, sakit. Jangan sentuh itu!" rintih gadis itu."Kenapa bisa seperti ini?" tanya Panji."Dia diracuni oleh si raja racun!" jawab nyai Kasih."Aku akan obati dia setelah aku sembuhkan racun di dalam diriku!" kata Panji."Kau yakin?""Iya, tapi untuk saat ini aku ingin memiliki ruangan sendiri. Aku ingin membuat pil penyembuh racun!" kata Panji."Ikuti aku!" kata nyai Kasih.Panji angguk kepala, dan ikuti nyai kasih untuk memasuki sebuah ru

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 175

    Sementara itu, pertarungan lain juga terjadi di belakang Panji Sanjaya. Pertarungan antara para ahli racun melawan raksasa racun yang Panji Sanjaya panggil untuk membantunya.Aaaaaaa!!Kematian nyai racun kagetkan semua ahli racun, dan saat mereka menoleh ternyata nyai racun sudah tewas di tangan Panji Sanjaya."Tidak mungkin!" kata mereka tak percaya.Roaaarrrr!!Namun suara keras raksasa racun itu kagetkan mereka, dan membuat mereka lupakan tentang kematian nyai racun.Bammmmmmm!!Tangan raksasa itu bergerak, dan membunuh beberapa ahli racun, yang membuat rasa takut di hati para ahli racun itu semakin menguasai diri mereka.Huppppp!!Satu ahli racun memilih untuk menjauh, dan mengambil jarak yang jauh dari raksasa racun itu."Raja racun, aku tak ingin mati disini. Aku pergi!" teriaknya.Huppppp!!Dia memilih untuk kabur, dan tinggalkan area lembah itu, kabur dengan sangat cepat."Keparat kau!" teriak si Raja Racun dan melompat untuk serang ahli racun yang kabur itu."Biarkan saja di

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 174

    Nyai racun kaget, padahal ia sangat yakin kalau serangan selendang hijau miliknya sudah hantam tubuh Panji Sanjaya.Itu adalah senjata andalan nyai racun, dan jarang bisa selamat jika selendang itu sudah hanya sesuatu, bahkan bukit besar pun akan rata dengan tanah jika dihantam selendang hijau itu."Apa lagi ini?" ucap nyai racun saat ia mencoba menarik selendang hijau itu.Ia merasakan kalau selendang itu ditahan oleh kekuatan yang besar, dan ia memaksa untuk memiliki selendang itu.Haaaaaaaaaaa!!Teriakan yang keras terdengar, dan tubuh nyai racun tertarik ke arah Panji Sanjaya yang berada di dalam debu yang tebal."Tidak akan aku biarkan!" teriak si Raja Racun.Tappppp!!Si Raja Racun menangkap lengan nyai racun, dan menahan agar nyai racun tak tertarik ke dalam debu itu, yang mana ia yakini kalau itu adalah perbuatan Panji Sanjaya.Haaaaaaaaaaa!!Dan tidak hanya itu, dia juga lepaskan satu pukulan jarak jauh ke arah Panji, dan barulah pegangan pada selendang itu lepas, dan bersam

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 173

    "Dimana keberadaan pedukuhan Kalimayat, paman?" tanya Panji pada seorang yang sedang menggarap sawah."Ini sudah masuk ke wilayah pedukuhan Kalimayat, anak muda. Apa yang kau inginkan datang ke pedukuhan ini?""Aku ingin menemui si Raja Racun, dimana dia tinggal?" tanya Panji."Pergilah ke tengah pedukuhan, kau akan temukan sebuah rumah yang besar, itulah kediaman si Raja Racun!" kata orang itu."Baik," kata Panji.Hiatttttt!!Panji kembali memaksa kuda Pegasus untuk melesat, dan memasuki pedukuhan kalimayat.Panji ikuti apa yang dikatakan oleh petani itu, dan memasuki sebuah pekarangan rumah yang besar."Hei siapa kau?" teriak penjaga rumah itu.Huppppp!!Panji melompat, dan setelah itu tendang penjaga rumah itu hingga terbang jauh. Jauh dari Panji Sanjaya.Belasan penjaga rumah si Raja Racun berlari ke arah Panji, dan senjata sudah ada di tangan mereka.Haaaaaaaaaaa!!Panji tak ingin mengotori tangan dengan membunuh mereka, jadi Panji hanya lepaskan aura membunuh, dan itu sudah cuku

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 172

    "Pergi cepat dari sini!" teriak Panji pada tiga gadis yang berasal dari padepokan Bunga Kasih.Panji tahu, jika perkataan salah satu dari empat ahli racun itu benar, maka dia akan bertarung dengan para ahli racun, dan ketiga gadis itu kemungkinan besar akan terlibat."Tuan Sanjaya, kenapa tuan bisa terlibat masalah dengan ahli racun?""Pergi!" bentak Panji.Kumala paham, kalau Panji tak ingin libatkan mereka bertiga dengan masalahnya jadi ia menyuruh ketiganya untuk tinggalkan dirinya."Baik, kami akan pergi tuan Sanjaya! Aku harap tuan baik-baik saja, dan mampu bertahan dari para ahli racun itu!" kata Kumala.Panji angguk kepala, dan melihat ke arah orang-orang yang begitu banyak di kota Terang Bulan. Jika terjadi pertarungan bukan tak mungkin mereka yang akan jadi korban dalam pertarungan itu."Kejar aku jika kalian mampu!" teriak Panji.Huppppp!Panji melesat cepat, dan menyusuri jalanan kota Terang Bulan, dan keluar dari kota itu.Sebuah bola dengan warna ungu melesat ke arah Panj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status