Share

Bab 132. Firasat Buruk

Penulis: RKamila
last update Tanggal publikasi: 2026-10-13 11:40:53

Namun, Ratri bukan perempuan yang akan menunggu nasib yang ditentukan oleh pedang orang lain.

Ketika Wira mulai kehilangan kendali atas genggamannya sendiri, dengan cepat Ratri memiringkan tubuh dengan gerakan kecil. Ujung pedang itu menggores bahunya, merobek kain dan mengalirkan darah hangat.

Ia menahan rasa sakit, lalu menghentakkan tumit ke tanah untuk mengganggu keseimbangan Wira. Gerakan itu hanya memberinya ruang sesaat, tetapi cukup untuk membuat Jaya bergerak.

Bilah Jaya melesat tanpa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 133. Bayangan yang Memiliki Wajah Jaya

    Jaya justru menggenggam tangan Arya semakin erat, ia telah terlalu sering mendengar bahwa seseorang harus dilepaskan agar yang lain dapat hidup. Ia menolak menerima hukum kejam itu sebagai satu-satunya jalan, sekalipun seluruh dunia persilatan memaksanya berlutut di hadapan takdir.Lalu, dari balik bayangan Naga Langit, muncul lah sosok Ardhan. Ayahnya berdiri dengan tubuh dirantai, tetapi matanya masih menyimpan cahaya yang sama seperti saat terakhir mereka berpisah. Ia mengangkat kepala, memandang Jaya dengan kesedihan yang begitu dalam hingga putranya nyaris kehilangan tenaga.Di belakang Ardhan, ada sesuatu yang sedang bergerak. Bukan rantai dan bukan pula bayangan.Melainkan sosok lain yang wajahnya serupa dengan Jaya, hanya saja matanya merah menyala dan senyum di bibirnya tampak seperti luka yang tak pernah sembuh.Sosok itu mengangkat pedang hitam, lalu menunjuk tepat ke arah Jaya. “Kalau kamu ingin membawa mereka pulang,” bisiknya, “kamu harus lebih dulu membunuh dirimu sen

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 132. Firasat Buruk

    Namun, Ratri bukan perempuan yang akan menunggu nasib yang ditentukan oleh pedang orang lain.Ketika Wira mulai kehilangan kendali atas genggamannya sendiri, dengan cepat Ratri memiringkan tubuh dengan gerakan kecil. Ujung pedang itu menggores bahunya, merobek kain dan mengalirkan darah hangat. Ia menahan rasa sakit, lalu menghentakkan tumit ke tanah untuk mengganggu keseimbangan Wira. Gerakan itu hanya memberinya ruang sesaat, tetapi cukup untuk membuat Jaya bergerak.Bilah Jaya melesat tanpa suara bukan menuju tubuh Wira, melainkan menghantam sisi pedangnya dengan sudut yang tepat. Denting keras mengguncang halaman, membuat senjata Wira terlempar ke samping. Ratri segera merunduk dan menjauh, sementara Jaya menangkap lengan sahabatnya sebelum pemuda itu jatuh berlutut di tanah.Namun, sentuhan itu justru membuat tanda di dada Jaya menyala liar. Cahaya hitam merambat dari tangan Wira menuju pergelangan Jaya, menyusup ke bawah kulit seperti akar yang mencari tanah. Seketika, pandan

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 131. Bilah Di Jantung Kekasih

    "Pedang yang menusuk ayahmu bukanlah pedang yang membunuhnya,” suara Kirana semakin lirih. "Aku memindahkan kesadarannya ke dalam segel agar Naga Langit tidak menguasai tubuhnya sepenuhnya,"Jaya teringat sosok Ardhan yang baru saja ia peluk, ayahnya hidup dan ayahnya kembali.Lalu ayahnya masuk ke dalam gerbang untuk menggantikan Kirana."Jadi… Ayah masih bisa diselamatkan?" tanya Jaya. Tidak ada jawaban segera, lalu Kirana berbisik. "Bisa,"Jaya menoleh kepada Ratri, harapan yang hampir padam kembali menyala di matanya.Namun Kirana melanjutkan. "Tetapi jika kamu membuka gerbang untuk membawanya pulang, maka harus ada seseorang yang menggantikannya sebagai penjara Naga Langit!”Jaya terdiam.Ratri langsung menggenggam tangannya. "Jangan!”Jaya menatap gerbang. "Siapa yang harus menggantikan Ayah?"Suara Kirana terdengar semakin dekat. "Orang yang membawa darah penjaga paling murni,”Jaya menatap lambang yang ada di dadanya, lalu kepada Arya, kemudian kepada Ratri.Kirana akhirnya m

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 130. Apa Maksud Ibu?

    Air mata mengalir di pipinya. "Aku hanya ingin memiliki keluarga!”Ratri meremas jemarinya.Jaya menatap gerbang sekali lagi.."Aku hanya ingin Ayah dan Ibu berada di rumah ketika aku pulang,”Dari balik gerbang terdengar tangisan yang semakin jelas dan untuk pertama kalinya, Jaya membayangkan seorang perempuan yang mungkin pernah menimangnya, mencium keningnya, lalu terpaksa melepaskan anaknya demi menyelamatkan dunia.Bayangan itu menyakitkan, tapi ia belum bisa untuk mempercayainya. Mungkin juga belum."Jangan dengarkan dia!" suara Kala memecah keheningan.Lelaki itu berdiri di dekat reruntuhan, dengan liontin keemasan masih berada di tangannya."Ibumu pandai membuat dirinya terlihat sebagai korban,”Jaya menoleh tajam. "Jelaskan maksudmu!”Kala tersenyum miring. "Dua puluh tujuh tahun yang lalu, Kirana mengetahui bahwa Ardhan berencana mengunci Naga Langit untuk selamanya! Namun ada satu masalah,”"Apa?" tanya Jaya. "Untuk menyegel makhluk itu, seluruh ikatan darah penjaga harus d

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 129. Dosa Seorang Ibu

    Lalu Ratna mengucapkan kalimat yang membuat dada Jaya terasa sesak. "Dua puluh tujuh tahun yang lalu, Kirana masuk ke sana untuk menyelamatkanmu,"Jaya memandang gerbang. "J– jjadi selama ini…?"Ratna mengangguk. "Ibumu bukan meninggalkanmu, Jaya! Dia mempertaruhkan seluruh hidupnya agar kamu bisa tumbuh di dunia yang tidak dikuasai oleh Naga Langit,”Jaya tidak bergerak, ia teringat kembali suara perempuan itu. ‘Jaya... jangan percaya kepada ayahmu,’Mengapa ibunya memperingatkannya?Apa yang sebenarnya diketahui Kirana tentang Ardhan? dan mengapa Ardhan tampak begitu ketakutan ketika suara itu terdengar?Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar di kepala Jaya, semakin menyakitkan karena tidak ada satu pun yang memiliki jawabannya. Tiba-tiba Kala tertawa dari kejauhan. Tawa itu terdengar serak, tetapi penuh kepuasan."Indah sekali!”Surya Raksa yang berdiri dengan tubuh terluka langsung mengangkat pedangnya. "Diam!"Kala tidak mempedulikannya, ia menatap Jaya."Kamu akhirnya mengetah

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 128. Perempuan Dibalik Gerbang

    Pedang yang seharusnya sudah hilang dua puluh tujuh tahun yang lalu.KRAAAK!Retakan terakhir pada gerbang kuno itu akhirnya tertutup, cahaya hitam yang sejak tadi menyelimuti langit juga perlahan meredup. Angin berhenti berembus, tanah yang bergetar juga mulai tenang, seolah dunia baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.Namun Jaya tidak merasakan kelegaan sedikit pun di hatinya, ia masih berdiri di hadapan gerbang, dengan tangan terulur dan jemari yang gemetar."Ayah…,” panggil Jaya. Tidak ada jawaban."Ayah, buka gerbangnya!" Jaya menghantam batu kuno itu dengan telapak tangannya.Sekali, dua kali hingga ketiga kalinya, kulit tangannya terkoyak hingga darah mengalir di sela-sela jemarinya."Ayahh!" jerit Jaya. Arya segera meraih bahunya. "Jaya, berhenti!""Lepaskan aku!" Jaya mendorong kakaknya, kemudian kembali menghantam gerbang."Ayah baru saja kembali! Aku bahkan belum sempat mengatakan semua yang ingin kukatakan!” suaranya pecah. "Aku belum sempat bertanya mengap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status