Home / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 6. Rahasia Darah Ratri

Share

Bab 6. Rahasia Darah Ratri

Author: RKamila
last update publish date: 2026-08-12 09:26:30

“Kalau aku menyuruhmu lari…,” perintah Jaya.

“A– aaku tidak akan lari,” jawab Ratri.

Jaya tersenyum tipis. “Jawabanmu selalu saja sama,”

“Karena pertanyaanmu selalu sama,”kata Ratri.

Mereka pun berdiri berdampingan, pedang dan keris terhunus secara bersamaan. Di hadapan mereka pula, para pendekar berjubah merah itu mulai turun dari tebing satu persatu.

Di tangan Jaya, masih ada gulungan pesan terakhir ayahnya yang menjadi satu-satunya petunjuk menuju kebenaran.

Namun Jaya belum tahu satu hal, jika di antara para pendekar yang datang malam itu, ada seseorang yang mengenali Ratri.

Seseorang yang tahu bahwa Ratri Wulan bukanlah sekadar putri seorang guru padepokan, bahkan rahasia tentang asal-usul Ratri akan menjadi senjata paling berbahaya yang dimiliki Surya Raksa.

Kabut di Lembah Watu Ireng semakin menebal, ada belasan pendekar berjubah merah berdiri di atas tebing dan mengelilingi Jaya, Ratri juga Ki Lembu Wira.

Lambang matahari yang dililit naga terlihat jelas pada dada mereka.

Jaya menggenggam pedangnya lebih erat kali ini. “Dewan Sembilan Bayangan?”

Ki Lembu langsung menggeleng. “Bukan!”

Jaya menoleh pada Ki Lembu. “Bukankah lambang mereka itu sama?”

“Lambang boleh sama! Tapi orangnya belum tentu,”

Ki Lembu menatap para pendekar yang ada di atas tebing. “Mereka adalah pasukan Perguruan Naga Surya!”

Ratri mengerutkan keningnya. “Perguruan yang berada di bawah Persekutuan?”

“Secara resmi,” Ki Lembu tersenyum pahit. “Tapi dunia persilatan memiliki terlalu banyak rahasia untuk percaya pada kata resmi,”

Salah seorang pendekar berjubah merah melangkah maju dengan tegap. “Serahkan gulungan itu!”

Jaya mengangkat gulungan bambu yang ada di tangannya itu. “Kenapa kalian begitu takut pada tulisan seorang lelaki yang kalian klaim sudah mati?”

Tidak ada jawaban! Para pendekar itu justru mengangkat tangannya. “Bunuh mereka!”

Belasan pendekar langsung melompat turun dengan cepat.

Jaya dengan gagah berani melangkah maju, dadanya yang bidang membuat tubuhnya semakin terlihat perkasa. Pedangnya berkelebat.

Tangg!

Bilah pertama para pendekar itu bertemu pedangnya, lalu Jaya memutar pergelangan tangannya.

Klang!

Pedang lawan berhasil terlempar bahkan sebelum lelaki itu menyentuh tanah, Jaya sudah bergerak ke arah penyerang kedua.

Satu tebasan dan satu tendangan mampu membuat dua tubuh jatuh seketika, sayangnya jumlah lawan terlalu banyak.

Membuat Ratri ikut bergerak, Keris di tangannya menari dengan begitu cepat, ia berhasil menangkis serangan yang datang dari dua arah berlawanan.

Tiba-tiba ada seorang pendekar yang menyerang dari belakang, Jaya menyadarinya.

“Ratri!” teriak Jaya.

Ratri menunduk dan berhasil mengelaknya, pedang Jaya melintas beberapa jengkal di atas kepalanya.

Tangg!

Serangan lawan berhasil tertahan, Ratri berputar lalu menusukkan kerisnya tepat ke bahu lawannya. Membuat pria itu berhasil mundur.

“Terima kasih,” ucap Ratri.

Jaya tersenyum. “Jangan berterima kasih dulu!”

Lalu Jaya menunjuk ke atas, rupanya masih ada lebih dari sepuluh orang yang ada di sana.

Ratri menghela napas kesal. “Benar juga!”

Di sisi lain, Ki Lembu Wira bertarung tanpa banyak bergerak. Setiap kali ia mengangkat tangannya, mampu membuat seorang pendekar terlempar.

Namun wajah Ki Lembu semakin serius. “Jaya!”

“Kenapa Ki?” tanya Jaya.

“Jangan habiskan tenaga!” sentak Ki Lembu.

Jaya mengerutkan keningnya. “Kenapa?”

“Karena mereka sedang mengulur waktu!” jawab Ki Lembu.

Jaya melihat ke arah sekelilingnya, baru lah saat itu ia menyadarinya. Bahwa para pendekar tersebut tidak benar-benar berusaha untuk membunuh mereka.

Mereka terus menyerang, tetapi selalu mundur setelah menerima satu atau dua serangan. Seolah-olah mereka sedang menunggu sesuatu.

“Terlambat!” terdengar suara seorang lelaki berbicara dari atas tebing.

Jaya menoleh ke arah sumber suara dengan samar, tampak seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun sedang berdiri di sana.

Berbeda dari yang lainnya, pria itu mengenakan jubah berwarna merah tua dengan sulaman emas. Di tangannya terdapat sebuah tongkat besi.

Seketika Ki Lembu langsung berubah tegang. “Dd– ddia…!”

“Siapa Ki?” tanya Jaya penasaran.

“Mahesa Raka!” sentak Ki Lembu.

Jaya menyipitkan matanya. “Pemimpin Naga Surya?”

“Bukan,” kata Ki Lembu sembari menggenggam tongkatnya. “Wakil pemimpin!”

Mahesa tersenyum. “Ki Lembu Wira… Sudah lama sekali,”

“Aku berharap tidak pernah bertemu denganmu lagi!” sengkal Ki Lembu.

Mahesa tertawa renyah. “Perasaan kita masih sama!”

Kemudian matanya beralih menyorot kepada Ratri, seketika senyumnya langsung menghilang. Mahesa menatap Ratri cukup lama, bahkan terlalu lama.

Ratri mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan tersebut. “Kenapa dia melihatku seperti itu?”

Mahesa turun perlahan, langkahnya terlihat tenang. Ketika jaraknya dengan Ratri hanya tinggal beberapa tombak saja, ia berkata.

“Jadi benar?” ucap Mahesa.

Ratri mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti. “Benar apa?”

Mahesa tidak menjawabnya, ia justru menoleh dan memandangi Ki Lembu. “Putri itu masih hidup?”

Sontak Jaya langsung berdiri di depan Ratri. “Apa maksudmu?”

Mahesa hanya tertawa kecil. “Tidak perlu berpura-pura untuk melindunginya!”

Jaya mengangkat pedangnya. “Bicaralah!”

Mahesa menatap Ratri sekali lagi dengan cermat. “Dia… bukan putri Ki Wreda Jayeng?”

Seketika Ratri membeku.

Jaya langsung menoleh. “Apa?”

Mahesa tersenyum kembali. “Jika kamu ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya, perempuan yang selama ini kamu lindungi…,”

Mahesa mengangkat tongkatnya. “Datanglah ke Kota Giri Aruna,”

Jaya melangkah maju seakan tak percaya, tapi Mahesa langsung melemparkan sesuatu ke tanah.

Boom!

Asap hitam meledak.

Jaya refleks menutup hidungnya, bahkan ketika asap mulai menipis, Mahesa dan para pendekar Naga Surya yang lainnya langsung menghilang yang tersisa hanyalah beberapa tubuh orang yang pingsan.

Ratri berdiri kaku, wajahnya pucat. “Jaya…,”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 11. Pintu Darah

    Membuat Mahesa mengerutkan keningnya. “Apa yang lucu?”“Aku hanya baru sadar,” ucap Jaya. “Apa?” tanya Mahesa. “Surya Raksa yang mengirimmu ke sini karena dia tidak cukup berani untuk datang sendiri,” ucap Jaya dengan tatapan sinisnya. Seketika Wajah Mahesa berubah.Kemudian Jaya melanjutkan pembicaraannya. “Dia takut pada apa yang akan terjadi jika aku membaca pesan ayahku,”Mahesa mengangkat pedangnya. “Jangan bermain-main!”“Aku tidak bermain-main,” tukas Jaya. Kemudian Jaya melempar gulungan bambu itu ke tanah, lalu Mahesa memberi isyarat kepada anak buahnya dan salah seorang pendekar mengambilnya.“Buka!” perintah Mahesa. Gulungan itu akhirnya dibuka, tapi isinya kosong. Membuat mata Mahesa membelalak.“Mustahil,” pekik Mahesa. Jaya hanya tersenyum. “Pesan yang asli tidak pernah ada di dalamnya,”Mahesa langsung menyadarinya. “Di mana?”Jaya mengangkat tangannya, terlihat sebuah potongan kecil bambu terselip di antara jarinya.“Di sini,” ucap Jaya. Nyi Sekar Arum tersenyu

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 10. Kuil Banyu Langit.

    Di tangan Mahesa Raka terdapat sebuah benda kecil, yaitu liontin yang sama dengan milik Ratri.“Karena di Kuil Banyu Langit…,” ucap Mahesa Raka, tatapannya mengarah ke rumah persembunyian. “…kebenaran tentang perempuan itu akhirnya akan terbuka,”Fajar semakin dekat dan Jaya belum tahu bahwa pertemuan berikutnya, ternyata akan membuatnya memilih antara menyelamatkan Ratri atau membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Langit mulai berubah warna ketika Jaya meninggalkan rumah persembunyian itu, kabut tipis menggantung di jalan menuju Kuil Banyu Langit. Burung-burung belum berkicau, tetapi beberapa lampu minyak yang bergelantungan sudah terlihat dari kejauhan.Jaya berjalan seorang diri dengan pedangnya yang tergantung di pinggang, di balik jubahnya ia menyimpan gulungan pesan Ayahnya.Jaya tahu bahwa ini adalah jebakan, tapi ancaman terhadap Ratri yang membuatnya tidak punya pilihan.Sebelum pergi, Ratri sempat menahannya. “Jaya!”“Apa?” kata Jaya. “Jangan percaya siapa pun di sana!

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 9. Teka Teki Tentang Ratri

    Darma Seta mengangguk kemudian menatap kearah Ratri, seketika saja ekspresinya berubah.“Jadi…,” Darma Seta mendekat. “Ini gadis yang mereka cari?”Jaya langsung berdiri di depan Ratri dengan sigap. Darma Seta mengangkat tangannya sebagai tanda tidak akan berbuat apa-apa. “Tenanglah! Aku tidak berniat untuk menyerahkannya,”Darma Seta kembali menatap Ratri dengan sangat lama.“Sekarang aku sudah mengerti kenapa Surya Raksa begitu takut!” ucap Darma Seta. Ratri mengerutkan keningnya lalu bertanya. “Takut pada apa?”Darma Seta tidak menjawabnya, Ia hanya berkata. “Jangan biarkan siapa pun untuk mengambil darahmu!”Ratri semakin dibuat tak mengerti dan bingung. “Apa maksudnya?”“Suatu hari nanti kamu akan segera mengerti!” ucap Darma Seta. Jaya langsung menoleh pada Ki Lembu, sebagai tanda harus melakukan apa kedepannya. Ki Lembu pun mengangguk, tanda menyetujui untuk segera mengikuti mereka. Tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka berhasil untuk memasuki Giri Aruna melalui lorong

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 8. Buronan di Kota Giri Aruna

    Malam itu belum berakhir ketika Jaya, Ratri, dan Ki Lembu meninggalkan Lembah Watu Ireng.Mereka bertiga berjalan tanpa ada penerangan obor, hanya yakin pada cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan untuk menjadi penerang jalan.Namun tiba-tiba saja, langkah Jaya tidak lagi setenang seperti sebelumnya. Pesan Ayahnya selalu saja terngiang-ngiang di kepalanya. ‘Jangan percaya persekutuan, dan jangan percaya pada kitab itu!’ gumam Jaya. Terlebih lagi sekarang Surya Raksa sudah mengklaim, bahwa Ratri adalah pewaris terakhir dari Kitab Arus Naga tersebut. Jaya melirik perempuan yang ada di sampingnya itu, Ratri sedang berjalan dalam diam sejak mereka meninggalkan makam.Biasanya Ratri akan selalu mengomel, jika Jaya berjalan terlalu cepat tapi malam ini tidak lagi. “Ratri!” panggil Jaya. “Hm?” gumam Ratri. “Kamu… baik-baik saja?” tanya Jaya. Ratri hanya tersenyum tipis tidak seperti biasanya. “Aku tidak tahu,”Sontak jawaban itu membuat Jaya berhenti untuk melangkah, disu

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 7. Siapa yang Menjadi Target Sebenarnya?

    Jaya menatapnya. “Jangan percaya kata-katanya!”“Tapi… bagaimana kalau memang benar?” kata Ratri berusaha kuat. Jaya tidak langsung menjawab.Ratri hanya menunduk. “Bahkan aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya,”Kini Ki Lembu berjalan mendekat ke arah mereka. “Justru karena itu kita harus segera pergi dari sini!”Jaya menatap Ki Lembu dengan sejuta tanda tanya. “Kamu tahu sesuatu?”Ki Lembu hanya terdiam.“Ki Lembu!” sentak Jaya. “Tidak untuk sekarang,” kata Ki Lembu singkat. “Kamu tahu sesuatu tentang Ratri!” sentak Jaya dengan nada suara tinggi. Ratri menatap keduanya dengan penuh tanda tanya di kepalanya. “Jaya…,”“Aku harus tahu!” ungkap Jaya, kemudian menoleh pada Ratri. Ki Lembu menghela napas. “Aku mengenal ayah Ratri!”Ratri membeku. “S– ssiapa ayahku?”Ki Lembu menatap Ratri. “Namanya Raksa Wira!”Ratri menggeleng tidak tahu. “Aku tidak pernah mendengar nama itu?”“Karena namanya memang sengaja dihapus dari sejarah!” jawab Ki Lembu. Jaya semakin di buat bingung. “Apa h

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 6. Rahasia Darah Ratri

    “Kalau aku menyuruhmu lari…,” perintah Jaya. “A– aaku tidak akan lari,” jawab Ratri. Jaya tersenyum tipis. “Jawabanmu selalu saja sama,”“Karena pertanyaanmu selalu sama,”kata Ratri.Mereka pun berdiri berdampingan, pedang dan keris terhunus secara bersamaan. Di hadapan mereka pula, para pendekar berjubah merah itu mulai turun dari tebing satu persatu. Di tangan Jaya, masih ada gulungan pesan terakhir ayahnya yang menjadi satu-satunya petunjuk menuju kebenaran.Namun Jaya belum tahu satu hal, jika di antara para pendekar yang datang malam itu, ada seseorang yang mengenali Ratri.Seseorang yang tahu bahwa Ratri Wulan bukanlah sekadar putri seorang guru padepokan, bahkan rahasia tentang asal-usul Ratri akan menjadi senjata paling berbahaya yang dimiliki Surya Raksa. Kabut di Lembah Watu Ireng semakin menebal, ada belasan pendekar berjubah merah berdiri di atas tebing dan mengelilingi Jaya, Ratri juga Ki Lembu Wira.Lambang matahari yang dililit naga terlihat jelas pada dada mereka.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status