بيت / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 7. Siapa yang Menjadi Target Sebenarnya?

مشاركة

Bab 7. Siapa yang Menjadi Target Sebenarnya?

مؤلف: RKamila
last update تاريخ النشر: 2026-08-12 09:55:34

Jaya menatapnya. “Jangan percaya kata-katanya!”

“Tapi… bagaimana kalau memang benar?” kata Ratri berusaha kuat.

Jaya tidak langsung menjawab.

Ratri hanya menunduk. “Bahkan aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya,”

Kini Ki Lembu berjalan mendekat ke arah mereka. “Justru karena itu kita harus segera pergi dari sini!”

Jaya menatap Ki Lembu dengan sejuta tanda tanya. “Kamu tahu sesuatu?”

Ki Lembu hanya terdiam.

“Ki Lembu!” sentak Jaya.

“Tidak untuk sekarang,” kata Ki Lembu singkat.

“Kamu tahu sesuatu tentang Ratri!” sentak Jaya dengan nada suara tinggi.

Ratri menatap keduanya dengan penuh tanda tanya di kepalanya. “Jaya…,”

“Aku harus tahu!” ungkap Jaya, kemudian menoleh pada Ratri.

Ki Lembu menghela napas. “Aku mengenal ayah Ratri!”

Ratri membeku. “S– ssiapa ayahku?”

Ki Lembu menatap Ratri. “Namanya Raksa Wira!”

Ratri menggeleng tidak tahu. “Aku tidak pernah mendengar nama itu?”

“Karena namanya memang sengaja dihapus dari sejarah!” jawab Ki Lembu.

Jaya semakin di buat bingung. “Apa hubungannya ini dengan Persekutuan?”

Kini Ki Lembu menatap gulungan bambu yang ada di tangan Jaya kemudian menghembuskan napas berat. “Raksa Wira… adalah salah satu dari tiga pendekar yang berhasil menemukan Kitab Arus Naga!”

Hening!

Jaya teringat pesan Ayahnya untuk jangan sesekali percaya pada kitab itu. “Lalu apa yang terjadi?”

“Ketiga pendekar tersebut akhirnya berselisih,” ucap Ki Lembu kemudian melanjutkan. “Ada dua orang yang ingin menghancurkan kitab itu, yaitu satu orang ingin menggunakannya untuk menciptakan sebuah tatanan baru di dunia persilatan!”

“Siapa orang ketiga?” tanya Jaya.

Ki Lembu tidak menjawab.

Ratri juga ikut menatap Ki Lembu. “Siapa?”

“Namanya tidak diketahui!” ungkap Ki Lembu.

“Dan ayahku?” tanya Ratri lagi.

“Dibunuh!” jawab Ki Lembu.

Ratri terdiam dan air matanya mulai menggenang. “Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”

Ki Lembu menatapnya dengan penuh iba. “Karena ketika kamu masih bayi, orang-orang yang memburu ayahmu juga ikut memburumu!”

Ratri mundur selangkah dengan hati yang retak. “Jadi… Ki Wreda…?”

“Bukan ayah kandungmu!” ucap Ki Lembu.

Jaya menatap Ratri, karena untuk pertama kalinya, ia melihat wanita itu benar-benar kehilangan pijakan.

Selama dua puluh lima tahun, Ratri percaya bahwa dirinya adalah putri Ki Wreda Jayeng. Namun ternyata… seluruh hidupnya sudah dibangun di atas kebohongan.

“Kenapa Romo menyembunyikannya?” tanya Ratri tak kuasa menahan air matanya.

Ki Lembu pun menjawab dengan tenang. “Untuk menyelamatkanmu,”

Ratri menggigit bibirnya. “Dari siapa Ki?”

Ki Lembu kembali menatap ke arah hutan.

“Dari orang-orang yang sekarang mengejar kalian,”

Jaya mengepalkan tangannya, karena dipikirannya hanya ada satu nama. “Surya Raksa?”

“Bukan hanya dia!” kata Ki Lembu yang menatap Jaya dengan tajam. “Surya Raksa hanyalah wajah yang terlihat!”

“Lalu siapa yang berada di belakangnya, Ki?” tanya Jaya.

Ki Lembu tidak sempat untuk menjawabnya, karena ada suara burung malam yang tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Suara itu terdengar hingga 3x

Ki Lembu langsung berdiri, karena ia tahu ada yang tidak beres. “Kita harus pergi!”

Jaya menatap Ki Lembu dengan penuh tanda tanya. “Kenapa, Ki?”

“Karena itu bukanlah suara burung!” kata i Lembu lalu ia mengambil pedangnya. “Itu adalah tanda bahwa mereka sudah berhasil menemukan kita!”

Ratri menghapus air matanya. “S– ssiapa?”

Ki Lembu menjawab dengan pelan. “Dewan Sembilan Bayangan,”

Tak sempat untuk bertanya lagi, Ki Lembu lari dan mereka bertiga segera meninggalkan makam itu.

Namun baru beberapa langkah saja, tiba-tiba Jaya berhenti. Ia melihat kembali makam Ayahnya, bagi Jaya ada sesuatu yang terasa salah.

Yaitu batu nisan itu, Jaya kembali mendekat. Tangannya menyentuh ukiran nama Ayahnya, lalu ia menemukan sebuah celah kecil di bagian bawah batu.

Jaya mencoba memasukkan jarinya dengan cepat, ternyata ada sebuah ruang rahasia yang terbuka. Di dalamnya terdapat benda kecil terbungkus dengan kain.

Kemudian Jaya mengambilnya, sebuah liontin batu berwarna hitam. Di permukaannya terdapat ukiran dua lambang yaitu matahari dan bunga teratai.

Ratri menatapnya. “I– iitu…?”

Ki Lembu hanya terdiam memperhatikan.

“Apa?” tanya Jaya.

Lelaki tua itu menatap liontin tersebut dengan wajah pucat dan mata membelalak. “I– ituu… lambang keluarga Raksa!”

Ratri langsung membeku. “Raksa?”

Kemudian Ki Lembu mengangguk. “Lambang keluarga ayahmu!”

Jaya menatap Ratri, mencoba membuka teka teki. “Berarti…!”

Namun sebelum kalimat itu selesai diucapkan, sudah kembali terdengar lagi sebuah suara dari kejauhan.

“Jaya Wiratama!” teriak suara seorang lelaki menggema di antara pepohonan.

Jayatl tentu sangat mengenalinya. ‘Surya Raksa!”

“Serahkan Ratri Wulan, Jaya!”teriak Surya.

Jaya langsung berdiri di depan Ratri untuk melindunginya

Surya kembali berteriak. “Dia bukan sekadar putri seorang pendekar!”

Hening sejenak!

Lalu tiba-tiba ada suara yang kembali di dengar setengah kalimat yang membuat darah Jaya terasa membeku seketika.

“Dia adalah pewaris terakhir dari Kitab Arus Naga!” terang Ki Lembu.

Jaya menatap Ratri dengan tidak peevaya, dan Ratri pun kembali menatapnya. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara, karena sejak malam itu, mereka akhirnya mengerti satu hal.

Yaitu fitnah terhadap Jaya bukanlah tujuan utama, melainkan Jaya hanyalah dijadikan umpan sebenarnya. Karena target sebenarnya… adalah Ratri.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 11. Pintu Darah

    Membuat Mahesa mengerutkan keningnya. “Apa yang lucu?”“Aku hanya baru sadar,” ucap Jaya. “Apa?” tanya Mahesa. “Surya Raksa yang mengirimmu ke sini karena dia tidak cukup berani untuk datang sendiri,” ucap Jaya dengan tatapan sinisnya. Seketika Wajah Mahesa berubah.Kemudian Jaya melanjutkan pembicaraannya. “Dia takut pada apa yang akan terjadi jika aku membaca pesan ayahku,”Mahesa mengangkat pedangnya. “Jangan bermain-main!”“Aku tidak bermain-main,” tukas Jaya. Kemudian Jaya melempar gulungan bambu itu ke tanah, lalu Mahesa memberi isyarat kepada anak buahnya dan salah seorang pendekar mengambilnya.“Buka!” perintah Mahesa. Gulungan itu akhirnya dibuka, tapi isinya kosong. Membuat mata Mahesa membelalak.“Mustahil,” pekik Mahesa. Jaya hanya tersenyum. “Pesan yang asli tidak pernah ada di dalamnya,”Mahesa langsung menyadarinya. “Di mana?”Jaya mengangkat tangannya, terlihat sebuah potongan kecil bambu terselip di antara jarinya.“Di sini,” ucap Jaya. Nyi Sekar Arum tersenyu

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 10. Kuil Banyu Langit.

    Di tangan Mahesa Raka terdapat sebuah benda kecil, yaitu liontin yang sama dengan milik Ratri.“Karena di Kuil Banyu Langit…,” ucap Mahesa Raka, tatapannya mengarah ke rumah persembunyian. “…kebenaran tentang perempuan itu akhirnya akan terbuka,”Fajar semakin dekat dan Jaya belum tahu bahwa pertemuan berikutnya, ternyata akan membuatnya memilih antara menyelamatkan Ratri atau membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Langit mulai berubah warna ketika Jaya meninggalkan rumah persembunyian itu, kabut tipis menggantung di jalan menuju Kuil Banyu Langit. Burung-burung belum berkicau, tetapi beberapa lampu minyak yang bergelantungan sudah terlihat dari kejauhan.Jaya berjalan seorang diri dengan pedangnya yang tergantung di pinggang, di balik jubahnya ia menyimpan gulungan pesan Ayahnya.Jaya tahu bahwa ini adalah jebakan, tapi ancaman terhadap Ratri yang membuatnya tidak punya pilihan.Sebelum pergi, Ratri sempat menahannya. “Jaya!”“Apa?” kata Jaya. “Jangan percaya siapa pun di sana!

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 9. Teka Teki Tentang Ratri

    Darma Seta mengangguk kemudian menatap kearah Ratri, seketika saja ekspresinya berubah.“Jadi…,” Darma Seta mendekat. “Ini gadis yang mereka cari?”Jaya langsung berdiri di depan Ratri dengan sigap. Darma Seta mengangkat tangannya sebagai tanda tidak akan berbuat apa-apa. “Tenanglah! Aku tidak berniat untuk menyerahkannya,”Darma Seta kembali menatap Ratri dengan sangat lama.“Sekarang aku sudah mengerti kenapa Surya Raksa begitu takut!” ucap Darma Seta. Ratri mengerutkan keningnya lalu bertanya. “Takut pada apa?”Darma Seta tidak menjawabnya, Ia hanya berkata. “Jangan biarkan siapa pun untuk mengambil darahmu!”Ratri semakin dibuat tak mengerti dan bingung. “Apa maksudnya?”“Suatu hari nanti kamu akan segera mengerti!” ucap Darma Seta. Jaya langsung menoleh pada Ki Lembu, sebagai tanda harus melakukan apa kedepannya. Ki Lembu pun mengangguk, tanda menyetujui untuk segera mengikuti mereka. Tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka berhasil untuk memasuki Giri Aruna melalui lorong

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 8. Buronan di Kota Giri Aruna

    Malam itu belum berakhir ketika Jaya, Ratri, dan Ki Lembu meninggalkan Lembah Watu Ireng.Mereka bertiga berjalan tanpa ada penerangan obor, hanya yakin pada cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan untuk menjadi penerang jalan.Namun tiba-tiba saja, langkah Jaya tidak lagi setenang seperti sebelumnya. Pesan Ayahnya selalu saja terngiang-ngiang di kepalanya. ‘Jangan percaya persekutuan, dan jangan percaya pada kitab itu!’ gumam Jaya. Terlebih lagi sekarang Surya Raksa sudah mengklaim, bahwa Ratri adalah pewaris terakhir dari Kitab Arus Naga tersebut. Jaya melirik perempuan yang ada di sampingnya itu, Ratri sedang berjalan dalam diam sejak mereka meninggalkan makam.Biasanya Ratri akan selalu mengomel, jika Jaya berjalan terlalu cepat tapi malam ini tidak lagi. “Ratri!” panggil Jaya. “Hm?” gumam Ratri. “Kamu… baik-baik saja?” tanya Jaya. Ratri hanya tersenyum tipis tidak seperti biasanya. “Aku tidak tahu,”Sontak jawaban itu membuat Jaya berhenti untuk melangkah, disu

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 7. Siapa yang Menjadi Target Sebenarnya?

    Jaya menatapnya. “Jangan percaya kata-katanya!”“Tapi… bagaimana kalau memang benar?” kata Ratri berusaha kuat. Jaya tidak langsung menjawab.Ratri hanya menunduk. “Bahkan aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya,”Kini Ki Lembu berjalan mendekat ke arah mereka. “Justru karena itu kita harus segera pergi dari sini!”Jaya menatap Ki Lembu dengan sejuta tanda tanya. “Kamu tahu sesuatu?”Ki Lembu hanya terdiam.“Ki Lembu!” sentak Jaya. “Tidak untuk sekarang,” kata Ki Lembu singkat. “Kamu tahu sesuatu tentang Ratri!” sentak Jaya dengan nada suara tinggi. Ratri menatap keduanya dengan penuh tanda tanya di kepalanya. “Jaya…,”“Aku harus tahu!” ungkap Jaya, kemudian menoleh pada Ratri. Ki Lembu menghela napas. “Aku mengenal ayah Ratri!”Ratri membeku. “S– ssiapa ayahku?”Ki Lembu menatap Ratri. “Namanya Raksa Wira!”Ratri menggeleng tidak tahu. “Aku tidak pernah mendengar nama itu?”“Karena namanya memang sengaja dihapus dari sejarah!” jawab Ki Lembu. Jaya semakin di buat bingung. “Apa h

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 6. Rahasia Darah Ratri

    “Kalau aku menyuruhmu lari…,” perintah Jaya. “A– aaku tidak akan lari,” jawab Ratri. Jaya tersenyum tipis. “Jawabanmu selalu saja sama,”“Karena pertanyaanmu selalu sama,”kata Ratri.Mereka pun berdiri berdampingan, pedang dan keris terhunus secara bersamaan. Di hadapan mereka pula, para pendekar berjubah merah itu mulai turun dari tebing satu persatu. Di tangan Jaya, masih ada gulungan pesan terakhir ayahnya yang menjadi satu-satunya petunjuk menuju kebenaran.Namun Jaya belum tahu satu hal, jika di antara para pendekar yang datang malam itu, ada seseorang yang mengenali Ratri.Seseorang yang tahu bahwa Ratri Wulan bukanlah sekadar putri seorang guru padepokan, bahkan rahasia tentang asal-usul Ratri akan menjadi senjata paling berbahaya yang dimiliki Surya Raksa. Kabut di Lembah Watu Ireng semakin menebal, ada belasan pendekar berjubah merah berdiri di atas tebing dan mengelilingi Jaya, Ratri juga Ki Lembu Wira.Lambang matahari yang dililit naga terlihat jelas pada dada mereka.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status