LOGIN"Tahan! Jangan biarkan air menelanmu!"
Suara Ki Jatmika bagai guntur, menembus deru badai yang mengamuk. Sagara terhuyung, tubuhnya dihantam ombak raksasa yang tak henti-hentinya menerjang. Dingin dan asin memenuhi indra, mengaburkan pandangannya. Dia mengira jantungnya akan meledak, bukan karena takut, melainkan karena kelelahan yang mematikan. Malam pekat, hanya sesekali kilat menyambar, memperlihatkan siluet tebing curam di belakangnya dan sosok Ki Jatmika yang berdiri kokoh, seolah tak terpengaruh oleh amukan alam.
"Sudah berapa lama kau di sana?" Ki Jatmika berteriak lagi, suaranya dipaksa menembus gemuruh. "Berdiri! Hadapi dia! Laut itu bukan musuhmu! Dia adalah dirimu!"
Sagara nyaris tak bisa mendengar. Kakinya terasa seperti timah, setiap gerakan adalah perjuangan. Paru-parunya terasa terbakar, memohon oksigen yang tak kunjung datang. Dia merasa tak berdaya.
"Aku... aku tak sanggup lagi, Guru!" Sagara berhasil membalas, suaranya parau dan lemah, tenggelam oleh desiran angin kencang. "Ombaknya terlalu besar! Aku tidak bisa bernapas! Aku akan tenggelam!"
Sebuah gelombang besar datang lagi, menyeretnya hingga beberapa meter dari posisi semula. Dia terseret di atas batu karang, punggungnya terasa nyeri.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Ki Jatmika bertanya, nada suaranya tajam, memancing. "Menyerah? Membiarkan ombak kecil ini mengalahkanmu? Bagaimana kau akan menghadapi Perguruan Banyu Langit jika laut saja membuatmu patah arang?"
"Aku hanya ingin beristirahat," Sagara memohon, mencoba mengangkat kepalanya. Air mata asin bercampur dengan air laut. "Aku kedinginan, Guru... aku lelah sampai ke tulang."
"Istirahat?" desis Ki Jatmika, nadanya menusuk. "Kau pikir Larisa bisa beristirahat sekarang? Kau pikir dia punya kemewahan itu, Sagara? Saat dia terikat, setiap detik adalah siksaan!"
Kata "Larisa" menyentak Sagara. Sebuah sengatan listrik menjalar di nadinya, membuat sekujur tubuhnya menegang. Tiba-tiba, wajah Larisa muncul dalam benaknya, terikat, terancam, matanya memancarkan ketakutan sekaligus harapan yang putus asa. Bayangan itu lebih tajam dari petir yang baru saja menyambar. Dia melihat bagaimana para pengikut Perguruan Banyu Langit menyeretnya pergi, senyum mengejek menghiasi bibir mereka. Kemarahan membakar Sagara, membakar lebih panas dari paru-parunya yang sakit.
"Tidak!" Sagara berteriak, suaranya menemukan kembali kekuatannya, meski terpecah oleh batuk. "Aku tidak akan menyerah! Aku akan menyelamatkannya! Aku harus! Aku telah berjanji!"
"Maka buktikan!" Ki Jatmika membalas, suaranya kini terdengar seperti perintah dari langit. "Berdiri! Hadapi Arus Samudra! Jangan melawan, Sagara! Jangan! Itu bukan tentang kekuatan lenganmu, melainkan kekuatan jiwamu!"
Sagara memaksa dirinya bangkit, kakinya bergetar. Dia menatap ombak di depannya, bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai raksasa yang harus ia pahami. Dia mencoba teknik yang diajarkan Ki Jatmika, merendahkan kuda-kuda, membiarkan tubuhnya lentur seperti rumput laut. Namun, setiap kali ombak datang, tubuhnya tetap melawan, menegang, dan dia kembali dihempaskan.
"Kenapa aku masih tidak bisa?!" Sagara frustrasi, dia terbatuk-batuk, mengeluarkan air dari paru-parunya. "Aku mencoba mengikutinya! Aku mencoba membungkuk! Aku mencoba melepaskan diri!"
"Kau masih melawan, Sagara!" Ki Jatmika mengamati dari atas tebing. "Kau masih menganggap laut sebagai lawan! Kapan kau akan belajar? Aku sudah bilang, Arus Samudra bukan tentang kekuatan, melainkan penyerahan diri. Mengalirlah bersamanya, Sagara, seperti air itu sendiri!"
"Tapi... tapi jika aku menyerah, aku akan tenggelam!" Sagara membalas, rasa takut itu kembali, menggigit. "Bagaimana aku bisa menyelamatkan Larisa jika aku mati di sini?!"
"Kau tidak akan mati," Ki Jatmika berkata, suaranya lebih tenang sekarang, namun tetap penuh otoritas. "Kau akan hidup. Kau akan menemukan kekuatan sejati. Kau harus berhenti berjuang. Biarkan laut melewati dirimu. Jadilah bagian dari dirinya. Bukan dia bagian darimu. Pikirkan air dalam dirimu, Sagara. Pikirkan darah yang mengalir, cairan di setiap sel. Kau adalah bagian dari laut. Laut adalah bagian dari dirimu. Rasakan denyut nadinya!"
Sagara menatap ombak yang bergolak. Gelombang-gelombang itu tampak tak ada habisnya, tak punya belas kasihan. Namun, kata-kata Ki Jatmika bergema di kepalanya: *Berhenti berjuang. Biarkan laut melewati dirimu. Jadilah bagian dari dirinya.*
Dia menutup matanya sejenak, mengambil napas dalam-dalam, merasakan dinginnya air yang membalut tubuhnya. Dia tidak mencoba menahan diri, tidak mencoba mendorong ombak. Sebaliknya, dia mengendurkan setiap otot, membiarkan dirinya terangkat, terhempas, lalu kembali ditarik. Dia membiarkan dirinya bergerak bersama arus, bukan melawannya. Seperti dedaunan yang menari mengikuti hembusan angin, bukan menentangnya. Dia bernapas dengan laut.
Sebuah gelombang besar datang, lebih besar dari sebelumnya. Sagara tidak panik. Dia membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya. Ombak itu mengangkatnya tinggi, lalu membawanya turun, memutarnya. Dia merasakan kekuatan luar biasa air, namun kali ini, air tidak lagi terasa seperti ancaman. Itu terasa seperti pelukan, memegang dirinya dengan lembut di tengah amukan badai. Dia merasa seperti ikan, lahir kembali dalam elemen yang seharusnya menjadi miliknya.
Ketika gelombang itu surut, Sagara mendapati dirinya berdiri tegak di atas batu karang, kakinya menapak kuat, seolah tak ada apa-apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya tidak lagi menegang. Dia merasakan keseimbangan sempurna, sebuah keselarasan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Angin dan ombak masih menderu, namun dalam dirinya, ada ketenangan.
Dia membuka matanya. Ki Jatmika menatapnya dengan senyum tipis, senyum yang merekah di wajah keriputnya, diterangi oleh kilat yang sesekali.
"Kau berhasil," kata Ki Jatmika, suaranya kini terdengar hangat, penuh kebanggaan. "Sekarang kau benar-benar berjalan bersama laut. Kau telah menemukan Arus Samudra. Kau telah menyatu."
Sagara merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Kelelahan masih ada, tapi kini ada rasa kekuatan baru, pemahaman yang mendalam. Dia menatap ke cakrawala yang gelap, merasa seperti dia bisa melihat melampaui badai, melampaui malam.
"Larisa..." bisiknya, namun kali ini dengan tekad yang membara. "Aku bisa merasakannya, Guru. Aku bisa menyelamatkannya."
"Ya," Ki Jatmika mengangguk, seolah membaca pikirannya. "Waktumu semakin sempit, Sagara. Setelah ini, tidak ada lagi istirahat. Setiap detik sangat berharga. Perguruan Banyu Langit tidak akan menunggu."
Sagara mengangguk, tatapannya tajam. "Aku siap, Guru. Aku akan pergi sekarang."
Tiba-tiba, Ki Jatmika mendongak. Pandangannya menyapu langit yang bergejolak. Sagara mengikuti arah pandangnya. Dari kejauhan, menembus awan badai, terlihat siluet titik-titik hitam yang terbang cepat. Bukan satu atau dua, melainkan kawanan besar, berputar-putar di langit. Mereka datang dari arah timur, arah Perguruan Banyu Langit.
"Burung-burung gagak," bisik Ki Jatmika, suaranya kini dipenuhi kegelisahan. "Mereka tidak pernah terbang sejauh itu, apalagi di tengah badai. Bukan pertanda baik. Mereka adalah pertanda kematian."
Sagara merasakan firasat buruk merayapi punggungnya. "Apa artinya itu, Guru? Apakah mereka mencari kita? Apakah mereka tahu kita di sini?"
"Tidak," jawab Ki Jatmika, matanya menyipit, menatap kawanan burung yang semakin mendekat, menambah suasana mencekam. "Itu pertanda. Tanda bahwa kegelapan di Perguruan Banyu Langit semakin kuat. Kekuatan jahat mereka tumbuh, menyebar, bahkan ke samudra lepas. Mereka sedang bergerak. Mereka memanggil sesuatu."
"Kalau begitu, kita harus segera bergerak juga," kata Sagara, tanpa keraguan. Kekuatan baru yang ia dapatkan memompanya dengan energi. "Kita tidak boleh membuang waktu. Aku tidak bisa membiarkan mereka lebih jauh."
Ki Jatmika menoleh padanya, sorot matanya serius. "Ingat, Sagara. Kau telah menaklukkan Arus Samudra, kau telah menyatu dengan kekuatan lautan. Tapi ini baru permulaan. Perjalananmu akan jauh lebih berbahaya dari badai apapun yang pernah kau hadapi. Kau harus tetap waspada, setiap saat. Jangan sampai lengah."
Sagara menatap kawanan burung hitam yang kini tampak seperti bayangan kematian di cakrawala. Setiap kepakan sayap mereka membawa pesan bahaya yang tak terucapkan. Dia tahu, ini bukan lagi tentang melarikan diri atau bertahan. Ini adalah pertarungan.
Dia membiarkan ombak membasuh kakinya sekali lagi, merasakan sentuhan akrab air. Pikirannya dipenuhi gambaran Larisa, senyumnya, tawanya, dan kini, ketakutannya. Dia tidak akan membiarkan mereka menang.
"Tunggulah, Larisa," gumam Sagara, suaranya tegas, penuh janji. Angin badai menerpa wajahnya, namun tekadnya tak tergoyahkan. "Aku segera datang. Tidak akan ada lagi yang menghalangiku. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku
Jari-jari Sekar yang terbiasa memegang belati kini bergerak dengan kelembutan yang mengejutkan. Ia mengambil sehelai kain bersih, menuangkan cairan bening dari salah satu botol. Cairan itu dingin, berbau sedikit mint. Ia perlahan mengusapkannya ke sekeliling luka.Rasa perih menyengat. Sagara mengatupkan rahang, mencoba menahan napas. Rasanya seperti api yang membakar. Tapi tidak boleh goyah.Suasana gua menjadi sangat sunyi. Hanya suara gemericik air terjun dari luar yang menjadi latar, dan napas mereka berdua. Cahaya obor melingkari mereka, menciptakan sebuah dunia kecil yang terpisah dari yang lain. Aroma ramuan herbal yang dioleskan Sekar kini memenuhi udara, menenangkan. Aroma ini… mengingatkan.Jari-jari Sekar yang dingin menyentuh kulit lengannya, begitu lembut. Begitu mirip. Kilasan memori muncul. Larisa.Ia melihat dirinya terbaring di ranjang kayu sederhana di kamar Larisa. Punggungnya memar, luka goresan akibat jatuh dari tebing saat latihan. Larisa duduk di sisinya, wajahn
Perjalanan pulang menuju markas Naga Merah terasa jauh lebih panjang dari jarak yang sesungguhnya. Senja merayap lambat, seolah enggan melepaskan cahayanya, dan bersamaan dengan meredupnya langit, kabut mulai naik dari lembah di bawah sana, merayap pelan di antara batang-batang pohon hingga membentuk tabir putih yang dingin dan tebal.Suara langkah kaki rombongan kecil itu menjadi satu-satunya bunyi yang membelah kesunyian hutan. Mereka bergerak cepat, teratur, punggung mereka menanggung peti-peti perbekalan yang kini terasa lebih berharga dari logam mulia mana pun.Sagara melangkah di tengah barisan, kedua bahunya menanggung dua peti kayu berukuran sedang. Dalam diam, ia sudah mengenali rapuhnya benda-benda itu jauh sebelum jemarinya menyentuhnya. Papan-papannya tipis, ikatannya usang, kayunya mengandung kelembapan yang terlalu lama tersimpan. Bahan seperti ini seharusnya sudah diganti berbulan-bulan lalu, namun Naga Merah tidak kenal kemewahan itu. Mereka memakai apa yang ada.Bunyi
Jalur sempit yang tadi mereka lewati kini terasa sedikit lebih lapang dalam perjalanan pulang. Beban perbekalan yang kini menempel di punggung para pejuang terasa lebih ringan, bukan karena kuantitasnya berkurang, melainkan karena beban kekhawatiran yang telah terangkat. Sinar matahari sore mulai menyusup di antara dedaunan, menciptakan mozaik cahaya keemasan yang menari di tanah lembap. Udara masih membawa aroma pinus yang tajam, bercampur dengan bau tanah basah dan sejuknya embusan angin laut yang tak pernah berhenti. Jauh di kejauhan, samar-samar terdengar suara burung hantu yang mulai menyapa senja.Sekar Arum berjalan di depan, langkahnya masih tegap namun sedikit melambat. Di sisinya, Sagara melangkah tanpa suara, bayangannya seolah menyatu dengan bayangan pepohonan. Aroma laut yang khas masih tercium tipis dari jubahnya, seolah ia adalah bagian tak terpisahkan dari elemen itu sendiri. Sekar menyadarinya lagi, aroma itu… selalu ada pada dirinya.“Pengamanan perbekalan kali ini b
Perjalanan melalui celah sempit itu memakan waktu lebih dari tiga jam. Matahari mulai naik tinggi di langit, sinarnya menembus celah-celah bebatuan, menciptakan pola cahaya dan bayangan di tanah yang lembap. Aroma tanah basah bercampur wangi pinus yang tajam menusuk hidung. Udara laut masih terasa, membawa sedikit rasa dingin yang kontras dengan kehangatan matahari yang mulai menyengat.Sekar Arum menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan lengketnya keringat di punggungnya yang dibalut kain kasar. Setiap langkahnya terukur, dipandu oleh insting seorang pemimpin yang terbiasa menghadapi situasi genting. Di sampingnya, Sagara melangkah dengan ritme yang sama, nyaris tanpa suara. Gerakannya tetap mengalir, seperti air yang menghindari batu.Mereka tiba di sebuah ceruk alami, sedikit lebih lebar dari jalur sebelumnya. Di depan mereka, terhampar sedikit tanah lapang yang diapit oleh dua bukit. Di sana, tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun, tempat itu dijadikan lokasi penyimpanan pe
Setengah jam kemudian, Sekar Arum memimpin tim kecilnya. Enam orang. Wira di sampingnya sebagai tangan kanan, ditambah beberapa anggota yang paling bisa diandalkan. Mereka tidak melewati jalur utama, tentu saja. Garuda Hitam pasti sudah berjaga di sana. Sebagai gantinya, mereka menyusuri celah sempit di antara dua bukit yang Sagara sebutkan tadi.Jalurnya tidak enak dilalui. Sempit, tidak rata, dan beberapa kali Sekar hampir tersandung akar yang menyembul dari tanah. Tapi Sagara benar soal angin. Arus dari laut bertiup konstan di sepanjang celah itu, menyapu bersih apapun yang mereka tinggalkan. Jejak kaki, aroma tubuh, semuanya. Mereka juga memecah muatan peti logistik, dibagi rata di punggung masing-masing. Lebih berat, tapi lebih aman. Udara di sana dingin dan berbau tanah basah, ada sedikit asin dari laut yang terbawa angin. Sekar menarik napas pelan. Segar, tapi bikin waspada.Ia sengaja berjalan di sebelah Sagara. Padahal pria itu bukan bagian dari misi ini. Tapi Sekar punya ala
Sagara, atau Ranu, akhirnya menoleh, menatap Sekar lekat. "Garuda Hitam menggunakan anjing pelacak di malam hari. Tanpa bau, tidak ada jejak yang bisa diikuti."Ruangan hening sesaat.Sekar tidak langsung balas bicara. Ia kembali menatap peta di hadapannya, tapi kali ini pandangannya berbeda. Bukan lagi mencari jalan teraman, tapi membayangkan bagaimana angin bergerak. Membayangkan udara laut yang terus menerus berembus lewat celah sempit itu, menyapu bersih semua jejak yang mungkin tertinggal.Baru saja ia hendak membuka mulut, Sekar sadar sesuatu yang tak ia rencanakan: jarak di antara mereka. Sagara berdiri begitu dekat. Bahu mereka nyaris bersentuhan di atas meja yang tak terlalu lebar itu. Dari jarak sedekat ini, jarak yang tak memberi ruang untuk berpura-pura tak sadar, Sekar mencium sesuatu yang asing di tengah aroma tanah basah dan karat logam yang memenuhi gua.Aroma laut. Tipis, tapi jelas. Seperti embusan angin dari sela karang, dingin dan sedikit asin, menempel di jubah Sa
"Cara saya memang tidak mengikuti kebiasaan umum,” ucap Sagara mencoba melawan rasa tidak percaya Sekar Arum. "Caramu tidak masuk di akal orang biasa!" Suara Sekar mengeras satu tingkat, seiring dengan tatapannya yang kian menajam. "Gerakanmu tadi bukan bela diri sembarangan. Aku sudah berhadapan
Belati Sekar Arum belum juga turun.Ia berdiri di tempatnya, mata yang sudah terlatih bertahun-tahun membaca medan perang kini membaca seseorang yang jauh lebih sulit ditafsirkan daripada formasi musuh mana pun. Pandangannya bergerak lambat, dari wajah Sagara yang tenang, ke tangannya yang sudah k
Sagara bergerak cepat. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara di atas tanah yang lembap. Hutan lebat di selatan Penginapan Surya Kencana menelannya begitu saja. Pohon-pohon tinggi, semak yang rapat, aroma tanah basah bercampur daun-daun yang membusuk. Ia ingat kata-kata Ki Jatmika. Markas Naga Mera
Sagara melihat kekhawatiran dan keberanian muncul di mata Ibu Sarinem secara bergantian."Tidak ada, Tuan Komandan," jawab Ibu Sarinem dengan suara bergetar. "Hanya beberapa penduduk desa, dan seorang pengelana biasa yang kuyu. Ia kelelahan setelah turun gunung. Penampilannya biasa saja — jubah lus







