Mag-log in“...Jika kau melenceng dari prinsip itu, maka kekuatan ini akan berbalik melahapmu, dan bahkan jiwamu akan akan ikut tenggelam dalam arus yang kau ciptakan.”
Sagara menelan ludah, peringatan Ki Jatmika menusuk tepat di jantungnya. Ia tak tahu bagaimana jiwanya bisa dimakan oleh kekuatannya sendiri, namun ia mengerti beban di balik kalimat yang terpenggal itu. Sebuah janji agung, namun juga bahaya yang teramat besar. Ia mengangguk perlahan, mata elangnya menatap lurus sang guru.
Di pulau yang sama, Perguruan Banyu Langit tenggelam dalam sunyi. Namun malam itu, keheningan terasa berbeda, seolah angin membawa kabar yang belum terucapkan. Lampion-lampion yang tergantung di halaman memancarkan cahaya redup, seolah enggan mengusir kegelapan sepenuhnya.
Larisa berjalan sendirian, langkah kakinya memecah kesunyian lantai batu menuju ruang arsip tua. Ada desakan aneh dalam hatinya, firasat bahwa jawaban atas keanehan yang mereka hadapi tersembunyi di antara lembaran-lembaran usang.
Ia menemukan sebuah gulungan catatan lama yang tersembunyi di balik rak-rak debu. Rekaman latihan Guru Besar terdahulu, juga daftar murid inti mereka. Matanya menyapu deretan nama dan teknik yang tertulis dengan tinta memudar. Lalu, ia berhenti. Di samping nama-nama yang asing, ada sebuah simbol. Simbol yang sama persis dengan yang muncul dalam penglihatan Sagara. Spiral bergelombang, mengikat dua tanda air yang berlawanan.
“Apa maksud semua ini?” gumam Larisa, jemarinya menyentuh tulisan kuno itu.
Firasat buruk merayap dingin di punggungnya. Ia harus segera menunjukkan temuannya kepada Ki Jatmika.
Saat Larisa hendak pergi, bayangan-bayangan muncul dari sudut gelap ruangan. Beberapa murid berpakaian hitam, lambang Naga Hitam terbordir di dada mereka, menghadang jalannya. Wajah-wajah mereka tampak asing, tapi tatapan mereka penuh permusuhan.
“Mau ke mana, Larisa?” salah seorang dari mereka, bertubuh tegap dengan rambut ikal, meludah. “Mencari rahasia lama yang seharusnya terkubur?”
Larisa berdiri tegak, gulungan catatan ia genggam erat. “Kalian siapa? Kenapa menghalangi jalanku?”
“Kami adalah penjaga perguruan dari pengkhianat sepertimu,” sahut yang lain, suaranya tajam. “Rangga sudah memperingatkan kami tentang orang-orang yang terlalu ingin tahu.”
“Rangga?” tanya Larisa, terkejut. “Jadi, ia di balik semua ini?”
“Jangan banyak tanya!” Murid tegap itu melangkah maju. “Serahkan gulungan yang kau curi itu!”
Larisa mendesah. “Aku tidak mencuri apa pun. Ini hanya catatan lama. Apa yang begitu menakutkan bagi kalian?”
“Omong kosong!” Tiga murid lain menyerang serentak. Larisa merespons cepat. Ia mengalirkan energinya, menciptakan perisai angin di sekelilingnya, menangkis pukulan pertama. Udara di sekitarnya berputar, mendorong mundur penyerangnya.
“Teknik Banyu Langit!” seru murid tegap itu. “Beraninya kau menggunakan ajaran sesat itu di sini!”
“Ini bukan sesat!” bantah Larisa, suaranya meninggi. “Kalianlah yang sesat karena melupakan ajaran sejati!”
Ia melawan dengan gesit, namun jumlah mereka terlalu banyak. Satu pukulan lolos dari perisainya, menghantam rusuk Larisa. Rasa sakit menyengat, membuatnya terhuyung. Sebelum ia sempat memulihkan diri, sebuah jaring energi melilit tubuhnya, mengunci gerakannya.
“Tangkap dia!” perintah si murid tegap.
Larisa meronta, tapi kekuatan mereka melumpuhkannya. Gulungan catatan terlepas dari genggamannya, direbut paksa. Ia diseret, perlawanannya sia-sia, menuju lorong gelap yang ia tahu mengarah ke ruang bawah tanah.
Di ruang bawah tanah yang dingin, dengan hanya obor-obor menari di dinding batu, Larisa diikat ke pilar. Mulutnya disumpal kain. Ia melihat Rangga berdiri di sana, tak jauh darinya, ditemani oleh sosok bertopeng yang sama sekali asing. Sosok itu mengenakan jubah hitam legam, menutupi seluruh tubuhnya, bahkan suaranya pun terdengar serak dan dalam, seolah disamarkan.
“Gulungan ini, Rangga. Sudah kuduga gadis itu akan menemukan sesuatu,” ucap sosok bertopeng, matanya menatap catatan yang dipegang Rangga.
Rangga menyeringai dingin. “Mereka terlalu bodoh untuk menyadari apa yang kita kejar. Mereka masih terbuai dengan dongeng Banyu Langit.”
“Segera tiba waktunya. Kitab Naga Langit akan berada di tangan kita. Dan dengan kekuatan itu, ajaran Banyu Langit akan terhapus selamanya dari dunia ini,” kata sosok bertopeng.
“Lalu, Hukum Naga Hitam akan berjaya!” timpal Rangga, matanya berbinar ambisi.
“Tepat sekali,” sahut sosok misterius. “Bahkan tetua mereka, Ki Adikara, tidak pernah mengira bahwa warisan yang ia sembunyikan akan jatuh ke tangan yang lebih pantas.”
Mata Larisa melebar. Ki Adikara? Nama itu. Ia ingat pernah mendengar Ki Jatmika menyebutnya sebagai salah satu tetua lama yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Jadi, ia tidak hilang, ia menyembunyikan sesuatu? Sebuah teka-teki baru muncul, bahkan saat ia terikat tak berdaya.
***
Jauh di tepi pantai terpencil, tempat ombak tanpa henti menghantam karang, Sagara terus melatih Langkah Arus Samudra. Setiap langkahnya di atas batu-batu basah adalah perjuangan untuk menahan keseimbangan, melawan desakan ombak yang tak kenal lelah. Tubuhnya terhempas berkali-kali ke air asin, luka-luka baru terbuka di lengan dan kakinya. Perih.
Ki Jatmika hanya mengawasi dari kejauhan, dengan tatapan tenang. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali melempar komentar singkat yang menusuk.
“Kau masih melawan laut, Sagara. Bukan menyatu dengannya,” Ki Jatmika berkata, suaranya tenang, namun mengandung teguran.
Sagara bangkit lagi, napasnya terengah, rambutnya basah oleh air laut. “Aku sudah mencoba, Guru! Tapi ombak terlalu kuat!”
“Kekuatan ombak ada di dalam dirimu. Lepaskan keteganganmu, rasakan tarikannya, lalu biarkan ia membimbingmu,” Ki Jatmika menasihati.
Frustrasi melanda Sagara. Setiap kali ia mencoba, ombak seolah sengaja menariknya jatuh. Ia mengepalkan tangan, menatap tajam ke arah laut yang tak sabar. Lalu, ia menutup mata. Ia memusatkan diri pada suara deburan ombak, pada sensasi air yang membasahi kulitnya. Mengikuti ritme. Mengikuti tarikan dan dorongan.
Ada momen singkat, hanya sekejap mata, di mana kakinya tidak lagi tergelincir. Tubuhnya terasa ringan, seolah ia benar-benar menjadi bagian dari arus. Ia melangkah, dan ombak, untuk sesaat, membawanya, bukan menjatuhkannya.
“Itu dia,” Ki Jatmika berbisik.
Namun, momen itu pecah. Sensasi aneh tiba-tiba merayap di benak Sagara, mengganggu konsentrasinya. Penglihatannya kabur, dunia di sekitarnya seolah berputar, dan kemudian, sebuah bayangan muncul di pikirannya.
Ia melihat Larisa. Diikat, di ruang bawah tanah yang remang-remang. Wajahnya pucat, matanya penuh ketakutan. Rangga berdiri di atasnya, ekspresi dingin membekas di wajahnya, sambil menatap rendah. Di samping Rangga, ada seorang pria bertopeng, membisikkan sesuatu yang tidak dapat Sagara dengar. Visi itu begitu nyata, begitu mendesak.
Dada Sagara sesak. Ketakutan menusuknya. Visi itu hanya berlangsung beberapa detik, lalu lenyap begitu saja, meninggalkan Sagara dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar keras.
“Larisa!” seru Sagara, suaranya tercekat. Ia jatuh berlutut, menekan dadanya.
Ki Jatmika segera menghampirinya. “Ada apa, Sagara?”
“Larisa dalam bahaya, Guru! Aku melihatnya! Ia diikat di bawah tanah! Rangga ada di sana bersama orang bertopeng!” Sagara mendesak, matanya memancarkan kepanikan. “Aku harus kembali sekarang! Ia membutuhkan aku!”
Ki Jatmika menatap muridnya dengan tatapan tenang, meskipun ada kekhawatiran di balik matanya. “Jika kau kembali dalam keadaan setengah matang, kau hanya akan mati sia-sia. Dan apa gunanya itu bagi Larisa?”
“Tapi…” Sagara mencoba berargumen, namun Ki Jatmika mengangkat tangan.
“Dengarkan aku, Sagara. Langkah Arus Samudra adalah dasar dari semua jurus berikutnya. Tanpa menguasainya, kau tak akan mampu menghadapi Rangga atau siapa pun yang bersamanya.” Ki Jatmika berbicara dengan serius. “Kau harus kuat, Sagara. Lebih kuat dari yang bisa kau bayangkan.”
Ketegangan terasa di antara mereka. Sagara ingin segera turun gunung, berlari kembali ke perguruan, menyelamatkan Larisa. Namun, ia tahu Ki Jatmika benar. Dengan kekuatannya sekarang, ia hanya akan menjadi beban.
Malam itu, Sagara kembali berdiri di tepi pantai. Dinginnya air laut menusuk kulitnya, namun tekadnya membara. Tubuhnya gemetar karena kelelahan, tetapi tatapannya keras, mencerminkan bara semangat yang tak padam. Ia mengangkat wajahnya ke arah bulan, lalu berbisik.
“Larisa, tunggulah. Aku akan menguasai ini, demi menjemputmu.”
Ia menarik napas dalam, lalu kembali melangkah ke tengah ombak yang menderu, bertekad untuk menyatu dengan laut, apa pun yang terjadi. Tekadnya kini tak hanya tentang kekuatan, tetapi tentang hidup seorang yang dicintainya.
Saat Ibu Sarinem sedang panik mengipasi wajahnya, sosok gadis lain muncul dari balik tirai dapur, membawa baskom berisi air. Rambutnya diikat rapi, wajahnya bersih tanpa riasan, dan matanya bulat lebar menatap Sagara dengan penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.Dia adalah Kirana, putri tunggal Ibu Sarinem, yang mewarisi kecantikandari sang ibu, sementara status sebagai keturunan saudagar kaya di ibu kota didapat dari mendiang ayahnya. Senyum Sagara yang baru saja terukir membuat rona merah di pipi Kirana yang bening dan ia tanpa sadar menjatuhkan baskomnya, membuat genangan air kecil di lantai kayu."Astaga, Kirana!" pekik Ibu Sarinem, lalu segera tersenyum malu-malu kepada Sagara. "Maaf, Kisanak. Anakku ini memang ceroboh. Tapi hatinya baik kok!"Kirana tergagap meminta maaf, tetapi matanya tetap tak lepas dari wajah Ranu. Dia tahu Ibu Sarinem memang kasar, tetapi jarang sekali wanita cerewet itu langsung berubah seperti ini hanya karena uang, atau lebih tepatnya, hanya
Sagara tak membuang waktu. Peluit tulang telah dibunyikan, entah seberapa lemah suaranya, Rangga pasti memiliki mata dan telinga yang siap siaga. Di dunia persilatan, berasumsi sinyal itu tak sampai adalah kebodohan paling mematikan. Dengan urgensi baru yang membakar jiwanya, ia bergerak.Hutan bambu di hadapannya seperti labirin hijau. Sagara menuruni lereng tebing dengan langkah cepat namun senyap, tubuhnya serasa seringan kapas, setiap langkah adalah penari tanpa suara. Teknik 'Tusukan Arus Bawah' menjadi mantra baru yang mengalir di benaknya. Ujung jari kakinya menyentuh lumut, sebuah denyutan energi halus menjalar, menghapus jejak, mengembalikan bumi ke asalnya. Ia bukan lagi pengejar. Ia adalah bayangan, jejak tak kasat mata di atas dunia yang penuh mata.Angin pagi mengusik dedaunan, membawa bisikan lautan dan juga, entah mengapa, bisikan Larisa. Wajah tunangannya yang cantik, tawanya, janji-janji yang tak sempat terpenuhi. Amarah kembali berdesir, tetapi kali ini, ia bukan bad
“Mati kau, pengkhianat!” jerit Danu, menerjang maju dengan pedang teracung. Serangannya membabi buta, didorong oleh teror.Sagara tidak menghindar. Ia tetap berdiri di tempatnya. Saat pedang Danu hanya berjarak satu jengkal dari dadanya, ia menggerakkan tangan kirinya. Ia tidak menangkis bilah pedang itu. Ia meraih pergelangan tangan Danu.Lagi-lagi, bukan dengan cengkeraman yang mematahkan tulang, melainkan dengan sentuhan yang seolah menyerap.“Ikat,” bisiknya sekali lagi.Danu merasakan hal yang sama seperti yang Bima rasakan. Energi dingin merambat dari pergelangan tangannya, melumpuhkan lengannya, lalu bahunya, hingga seluruh sisi tubuhnya terasa kaku seperti es. Pedangnya jatuh ke tanah dengan bunyi denting yang nyaring. Momentum serangannya telah dicuri, diserap, dan dinetralkan dalam sekejap mata.“Bagaimana… bagaimana mungkin?” racaunya, separuh tubuhnya kini lumpuh.Sagara menatap mata Danu yang dipenuhi teror. “Aku tidak ingin melukaimu.”“Jangan berbohong!” pekik Danu, men
Dua pasang mata elang api yang terukir di pelindung dada mereka berkilat-kilat disiram cahaya api unggun. Mereka adalah anjing penjaga Rangga, tembok pertama antara Sagara dan kebebasannya, antara dirinya dan jalan menuju Larisa.Sagara menahan napas, menekan tubuhnya lebih dalam ke rumpun bambu yang dingin dan basah. Embun pagi menetes dari daun-daun di atasnya, terasa seperti tusukan es di tengkuknya, namun ia tidak bergeming. Dari celah sempit di antara batang-batang bambu yang kokoh, ia mempelajari setiap gerakan mereka. Yang satu, bertubuh lebih kurus dan tampak gelisah, terus-menerus melirik ke dalam kegelapan hutan. Yang lain, lebih kekar dan percaya diri, menyandarkan tombaknya ke sebatang pohon dan menghangatkan tangan di atas api.“Hentikan kegelisahanmu itu, Danu,” kata si penjaga kekar, suaranya serak dan penuh kejengkelan. “Kau membuatku ikut tegang.”Penjaga yang dipanggil Danu itu tersentak, bahunya menegang. “Aku tidak bisa, Bima. Tempat ini memberikan firasat buruk ke
"Kau bukan lagi Sagara si Penguasa Jurus Harimau Merah. Kau adalah pewaris Cakra Laut Selatan," tutur Ki Jatmika menasehati Sagara.Dengan diberikannya liontin medali Cakra Selatan, hal itu berarti menandakan bahwa sudah saatnya bagi Sagara untuk berkelana dan menuntaskan urusannya yang belum tuntas."Sagara, kini aku izinkan kau untuk terjun ke dunia persilatan sesungguhnya. Namun, pembelajaranmu belum tuntas sepenuhnya," lontar Ki Jatmika."Liontin yang aku berikan padamu itu bukan sekadar liontin biasa. Ia memiliki roh. Roh yang membimbing pemiliknya untuk menguasai Jurus Cakra Laut Selatan secara sempurna," paparnya lebih lanjut."Roh... guru?"Ya, sekarang pegang liontin itu,” perintah Ki Jatmika."Baik, Ki. Sudah.""Dengarkan baik-baik. Sekarang kau usap permukaannya sebanyak tiga kali, lalu ucapkan mantranya."“Mantra apa, Guru?” tanya Sagara, jemarinya yang ragu melayang di atas permukaan dingin liontin perunggu itu.Ki Jatmika tidak menjawab langsung. Ia hanya tersenyum tipi
...air yang meresap ke dalam bumi yang haus.Keheningan kembali menyelimuti mereka. Ki Jatmika menatap Sagara dengan kebanggaan yang nyaris tak terlihat.“Kau berhasil,” bisik Ki Jatmika.Sagara membuka matanya, terkejut. Ia menarik pusarannya, membiarkan tangan Ki Jatmika bebas. Pemuda itu tidak merasa lelah, tidak merasa nyeri, hanya ketenangan yang luar biasa.“Aku… aku tidak tahu bagaimana,” aku Sagara, napasnya masih teratur, “aku hanya membiarkannya mengalir.”“Justru itu kuncinya,” balas Ki Jatmika, mundur selangkah. “Kau berhenti melawan diri sendiri. Kau berhenti melawan bayangan Rangga. Kau menerima arus itu sebagai bagian darimu.”Sagara mengangguk. Keseimbangan yang ia rasakan berbeda dari latihan fisik mana pun. Ini adalah keseimbangan jiwa.“Tapi ini baru permulaan, Nak,” lanjut Ki Jatmika, matanya kembali tajam. “Mengekang amarah itu mudah dalam kondisi santai. Sekarang, aku ingin kau menghadapi arus yang tidak bisa kau kendalikan. Aku ingin kau menggunakan semua yang k
“Dia dalam bahaya, Guru. Aku bisa merasakannya. Dia berada di sebuah tempat tersembunyi, mungkin di sebuah gua di balik air terjun. Tapi…” Sagara berhenti sejenak, matanya memancarkan ketidakpercayaan yang mendalam. “…tapi bukan Rangga yang bersamanya. Ada orang lain. Seseorang yang sangat kuat dan
BAB 16 – Mata Batin SamudraDeru ombak Laut Selatan terdengar seperti napas seekor naga raksasa yang sedang tidur. Di bibir pantai, di bawah cahaya fajar yang baru merayap di ufuk timur, Sagara Wicaksana menarik napas dalam-dalam. Seluruh tenaga dalam yang ia kumpulkan selama berhari-hari kini terp
"Tapi jika kau tahu kebenarannya sekarang, itu akan merusak semua rencana yang… telah kita susun dengan susah payah,” bisik Wanita Bertopeng itu pelan.Selesai berkata begitu, ia menyesuaikan posisi tubuh Larisa di lengannya. Gerakannya lembut namun cepat. Ia melangkah ringan tanpa suara, bagaikan k
"...Kau tidak hanya akan berhadapan dengan Rangga yang kau kenal, tetapi juga dengan kekuatan gelap yang telah berakar sangat dalam dan kini tumbuh subur di jantung dunia persilatan. Kau akan menghadapi muridku, kekuatan yang lebih tua dan lebih licik dari yang pernah kau bayangkan. Jangan biarkan







