Share

Bab 9

Author: lovelypurple
last update publish date: 2025-09-29 20:42:00

“...Jika kau melenceng dari prinsip itu, maka kekuatan ini akan berbalik melahapmu, dan bahkan jiwamu akan akan ikut tenggelam dalam arus yang kau ciptakan.”

Sagara menelan ludah, peringatan Ki Jatmika menusuk tepat di jantungnya. Ia tak tahu bagaimana jiwanya bisa dimakan oleh kekuatannya sendiri, namun ia mengerti beban di balik kalimat yang terpenggal itu. Sebuah janji agung, namun juga bahaya yang teramat besar. Ia mengangguk perlahan, mata elangnya menatap lurus sang guru.

Di pulau yang sama, Perguruan Banyu Langit tenggelam dalam sunyi. Namun malam itu, keheningan terasa berbeda, seolah angin membawa kabar yang belum terucapkan. Lampion-lampion yang tergantung di halaman memancarkan cahaya redup, seolah enggan mengusir kegelapan sepenuhnya. 

Larisa berjalan sendirian, langkah kakinya memecah kesunyian lantai batu menuju ruang arsip tua. Ada desakan aneh dalam hatinya, firasat bahwa jawaban atas keanehan yang mereka hadapi tersembunyi di antara lembaran-lembaran usang.

Ia menemukan sebuah gulungan catatan lama yang tersembunyi di balik rak-rak debu. Rekaman latihan Guru Besar terdahulu, juga daftar murid inti mereka. Matanya menyapu deretan nama dan teknik yang tertulis dengan tinta memudar. Lalu, ia berhenti. Di samping nama-nama yang asing, ada sebuah simbol. Simbol yang sama persis dengan yang muncul dalam penglihatan Sagara. Spiral bergelombang, mengikat dua tanda air yang berlawanan.

“Apa maksud semua ini?” gumam Larisa, jemarinya menyentuh tulisan kuno itu.

Firasat buruk merayap dingin di punggungnya. Ia harus segera menunjukkan temuannya kepada Ki Jatmika.

Saat Larisa hendak pergi, bayangan-bayangan muncul dari sudut gelap ruangan. Beberapa murid berpakaian hitam, lambang Naga Hitam terbordir di dada mereka, menghadang jalannya. Wajah-wajah mereka tampak asing, tapi tatapan mereka penuh permusuhan.

“Mau ke mana, Larisa?” salah seorang dari mereka, bertubuh tegap dengan rambut ikal, meludah. “Mencari rahasia lama yang seharusnya terkubur?”

Larisa berdiri tegak, gulungan catatan ia genggam erat. “Kalian siapa? Kenapa menghalangi jalanku?”

“Kami adalah penjaga perguruan dari pengkhianat sepertimu,” sahut yang lain, suaranya tajam. “Rangga sudah memperingatkan kami tentang orang-orang yang terlalu ingin tahu.”

“Rangga?” tanya Larisa, terkejut. “Jadi, ia di balik semua ini?”

“Jangan banyak tanya!” Murid tegap itu melangkah maju. “Serahkan gulungan yang kau curi itu!”

Larisa mendesah. “Aku tidak mencuri apa pun. Ini hanya catatan lama. Apa yang begitu menakutkan bagi kalian?”

“Omong kosong!” Tiga murid lain menyerang serentak. Larisa merespons cepat. Ia mengalirkan energinya, menciptakan perisai angin di sekelilingnya, menangkis pukulan pertama. Udara di sekitarnya berputar, mendorong mundur penyerangnya.

“Teknik Banyu Langit!” seru murid tegap itu. “Beraninya kau menggunakan ajaran sesat itu di sini!”

“Ini bukan sesat!” bantah Larisa, suaranya meninggi. “Kalianlah yang sesat karena melupakan ajaran sejati!”

Ia melawan dengan gesit, namun jumlah mereka terlalu banyak. Satu pukulan lolos dari perisainya, menghantam rusuk Larisa. Rasa sakit menyengat, membuatnya terhuyung. Sebelum ia sempat memulihkan diri, sebuah jaring energi melilit tubuhnya, mengunci gerakannya.

“Tangkap dia!” perintah si murid tegap.

Larisa meronta, tapi kekuatan mereka melumpuhkannya. Gulungan catatan terlepas dari genggamannya, direbut paksa. Ia diseret, perlawanannya sia-sia, menuju lorong gelap yang ia tahu mengarah ke ruang bawah tanah.

Di ruang bawah tanah yang dingin, dengan hanya obor-obor menari di dinding batu, Larisa diikat ke pilar. Mulutnya disumpal kain. Ia melihat Rangga berdiri di sana, tak jauh darinya, ditemani oleh sosok bertopeng yang sama sekali asing. Sosok itu mengenakan jubah hitam legam, menutupi seluruh tubuhnya, bahkan suaranya pun terdengar serak dan dalam, seolah disamarkan.

“Gulungan ini, Rangga. Sudah kuduga gadis itu akan menemukan sesuatu,” ucap sosok bertopeng, matanya menatap catatan yang dipegang Rangga.

Rangga menyeringai dingin. “Mereka terlalu bodoh untuk menyadari apa yang kita kejar. Mereka masih terbuai dengan dongeng Banyu Langit.”

“Segera tiba waktunya. Kitab Naga Langit akan berada di tangan kita. Dan dengan kekuatan itu, ajaran Banyu Langit akan terhapus selamanya dari dunia ini,” kata sosok bertopeng.

“Lalu, Hukum Naga Hitam akan berjaya!” timpal Rangga, matanya berbinar ambisi.

“Tepat sekali,” sahut sosok misterius. “Bahkan tetua mereka, Ki Adikara, tidak pernah mengira bahwa warisan yang ia sembunyikan akan jatuh ke tangan yang lebih pantas.”

Mata Larisa melebar. Ki Adikara? Nama itu. Ia ingat pernah mendengar Ki Jatmika menyebutnya sebagai salah satu tetua lama yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Jadi, ia tidak hilang, ia menyembunyikan sesuatu? Sebuah teka-teki baru muncul, bahkan saat ia terikat tak berdaya.

***

Jauh di tepi pantai terpencil, tempat ombak tanpa henti menghantam karang, Sagara terus melatih Langkah Arus Samudra. Setiap langkahnya di atas batu-batu basah adalah perjuangan untuk menahan keseimbangan, melawan desakan ombak yang tak kenal lelah. Tubuhnya terhempas berkali-kali ke air asin, luka-luka baru terbuka di lengan dan kakinya. Perih.

Ki Jatmika hanya mengawasi dari kejauhan, dengan tatapan tenang. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali melempar komentar singkat yang menusuk.

“Kau masih melawan laut, Sagara. Bukan menyatu dengannya,” Ki Jatmika berkata, suaranya tenang, namun mengandung teguran.

Sagara bangkit lagi, napasnya terengah, rambutnya basah oleh air laut. “Aku sudah mencoba, Guru! Tapi ombak terlalu kuat!”

“Kekuatan ombak ada di dalam dirimu. Lepaskan keteganganmu, rasakan tarikannya, lalu biarkan ia membimbingmu,” Ki Jatmika menasihati.

Frustrasi melanda Sagara. Setiap kali ia mencoba, ombak seolah sengaja menariknya jatuh. Ia mengepalkan tangan, menatap tajam ke arah laut yang tak sabar. Lalu, ia menutup mata. Ia memusatkan diri pada suara deburan ombak, pada sensasi air yang membasahi kulitnya. Mengikuti ritme. Mengikuti tarikan dan dorongan.

Ada momen singkat, hanya sekejap mata, di mana kakinya tidak lagi tergelincir. Tubuhnya terasa ringan, seolah ia benar-benar menjadi bagian dari arus. Ia melangkah, dan ombak, untuk sesaat, membawanya, bukan menjatuhkannya.

“Itu dia,” Ki Jatmika berbisik.

Namun, momen itu pecah. Sensasi aneh tiba-tiba merayap di benak Sagara, mengganggu konsentrasinya. Penglihatannya kabur, dunia di sekitarnya seolah berputar, dan kemudian, sebuah bayangan muncul di pikirannya.

Ia melihat Larisa. Diikat, di ruang bawah tanah yang remang-remang. Wajahnya pucat, matanya penuh ketakutan. Rangga berdiri di atasnya, ekspresi dingin membekas di wajahnya, sambil menatap rendah. Di samping Rangga, ada seorang pria bertopeng, membisikkan sesuatu yang tidak dapat Sagara dengar. Visi itu begitu nyata, begitu mendesak.

Dada Sagara sesak. Ketakutan menusuknya. Visi itu hanya berlangsung beberapa detik, lalu lenyap begitu saja, meninggalkan Sagara dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar keras.

“Larisa!” seru Sagara, suaranya tercekat. Ia jatuh berlutut, menekan dadanya.

Ki Jatmika segera menghampirinya. “Ada apa, Sagara?”

“Larisa dalam bahaya, Guru! Aku melihatnya! Ia diikat di bawah tanah! Rangga ada di sana bersama orang bertopeng!” Sagara mendesak, matanya memancarkan kepanikan. “Aku harus kembali sekarang! Ia membutuhkan aku!”

Ki Jatmika menatap muridnya dengan tatapan tenang, meskipun ada kekhawatiran di balik matanya. “Jika kau kembali dalam keadaan setengah matang, kau hanya akan mati sia-sia. Dan apa gunanya itu bagi Larisa?”

“Tapi…” Sagara mencoba berargumen, namun Ki Jatmika mengangkat tangan.

“Dengarkan aku, Sagara. Langkah Arus Samudra adalah dasar dari semua jurus berikutnya. Tanpa menguasainya, kau tak akan mampu menghadapi Rangga atau siapa pun yang bersamanya.” Ki Jatmika berbicara dengan serius. “Kau harus kuat, Sagara. Lebih kuat dari yang bisa kau bayangkan.”

Ketegangan terasa di antara mereka. Sagara ingin segera turun gunung, berlari kembali ke perguruan, menyelamatkan Larisa. Namun, ia tahu Ki Jatmika benar. Dengan kekuatannya sekarang, ia hanya akan menjadi beban.

Malam itu, Sagara kembali berdiri di tepi pantai. Dinginnya air laut menusuk kulitnya, namun tekadnya membara. Tubuhnya gemetar karena kelelahan, tetapi tatapannya keras, mencerminkan bara semangat yang tak padam. Ia mengangkat wajahnya ke arah bulan, lalu berbisik.

“Larisa, tunggulah. Aku akan menguasai ini, demi menjemputmu.”

Ia menarik napas dalam, lalu kembali melangkah ke tengah ombak yang menderu, bertekad untuk menyatu dengan laut, apa pun yang terjadi. Tekadnya kini tak hanya tentang kekuatan, tetapi tentang hidup seorang yang dicintainya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bara Dendam Sagara    Bab 48

    Jari-jari Sekar yang terbiasa memegang belati kini bergerak dengan kelembutan yang mengejutkan. Ia mengambil sehelai kain bersih, menuangkan cairan bening dari salah satu botol. Cairan itu dingin, berbau sedikit mint. Ia perlahan mengusapkannya ke sekeliling luka.Rasa perih menyengat. Sagara mengatupkan rahang, mencoba menahan napas. Rasanya seperti api yang membakar. Tapi tidak boleh goyah.Suasana gua menjadi sangat sunyi. Hanya suara gemericik air terjun dari luar yang menjadi latar, dan napas mereka berdua. Cahaya obor melingkari mereka, menciptakan sebuah dunia kecil yang terpisah dari yang lain. Aroma ramuan herbal yang dioleskan Sekar kini memenuhi udara, menenangkan. Aroma ini… mengingatkan.Jari-jari Sekar yang dingin menyentuh kulit lengannya, begitu lembut. Begitu mirip. Kilasan memori muncul. Larisa.Ia melihat dirinya terbaring di ranjang kayu sederhana di kamar Larisa. Punggungnya memar, luka goresan akibat jatuh dari tebing saat latihan. Larisa duduk di sisinya, wajahn

  • Bara Dendam Sagara    Bab 47

    Perjalanan pulang menuju markas Naga Merah terasa jauh lebih panjang dari jarak yang sesungguhnya. Senja merayap lambat, seolah enggan melepaskan cahayanya, dan bersamaan dengan meredupnya langit, kabut mulai naik dari lembah di bawah sana, merayap pelan di antara batang-batang pohon hingga membentuk tabir putih yang dingin dan tebal.Suara langkah kaki rombongan kecil itu menjadi satu-satunya bunyi yang membelah kesunyian hutan. Mereka bergerak cepat, teratur, punggung mereka menanggung peti-peti perbekalan yang kini terasa lebih berharga dari logam mulia mana pun.Sagara melangkah di tengah barisan, kedua bahunya menanggung dua peti kayu berukuran sedang. Dalam diam, ia sudah mengenali rapuhnya benda-benda itu jauh sebelum jemarinya menyentuhnya. Papan-papannya tipis, ikatannya usang, kayunya mengandung kelembapan yang terlalu lama tersimpan. Bahan seperti ini seharusnya sudah diganti berbulan-bulan lalu, namun Naga Merah tidak kenal kemewahan itu. Mereka memakai apa yang ada.Bunyi

  • Bara Dendam Sagara    Bab 46

    Jalur sempit yang tadi mereka lewati kini terasa sedikit lebih lapang dalam perjalanan pulang. Beban perbekalan yang kini menempel di punggung para pejuang terasa lebih ringan, bukan karena kuantitasnya berkurang, melainkan karena beban kekhawatiran yang telah terangkat. Sinar matahari sore mulai menyusup di antara dedaunan, menciptakan mozaik cahaya keemasan yang menari di tanah lembap. Udara masih membawa aroma pinus yang tajam, bercampur dengan bau tanah basah dan sejuknya embusan angin laut yang tak pernah berhenti. Jauh di kejauhan, samar-samar terdengar suara burung hantu yang mulai menyapa senja.Sekar Arum berjalan di depan, langkahnya masih tegap namun sedikit melambat. Di sisinya, Sagara melangkah tanpa suara, bayangannya seolah menyatu dengan bayangan pepohonan. Aroma laut yang khas masih tercium tipis dari jubahnya, seolah ia adalah bagian tak terpisahkan dari elemen itu sendiri. Sekar menyadarinya lagi, aroma itu… selalu ada pada dirinya.“Pengamanan perbekalan kali ini b

  • Bara Dendam Sagara    Bab 45

    Perjalanan melalui celah sempit itu memakan waktu lebih dari tiga jam. Matahari mulai naik tinggi di langit, sinarnya menembus celah-celah bebatuan, menciptakan pola cahaya dan bayangan di tanah yang lembap. Aroma tanah basah bercampur wangi pinus yang tajam menusuk hidung. Udara laut masih terasa, membawa sedikit rasa dingin yang kontras dengan kehangatan matahari yang mulai menyengat.Sekar Arum menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan lengketnya keringat di punggungnya yang dibalut kain kasar. Setiap langkahnya terukur, dipandu oleh insting seorang pemimpin yang terbiasa menghadapi situasi genting. Di sampingnya, Sagara melangkah dengan ritme yang sama, nyaris tanpa suara. Gerakannya tetap mengalir, seperti air yang menghindari batu.Mereka tiba di sebuah ceruk alami, sedikit lebih lebar dari jalur sebelumnya. Di depan mereka, terhampar sedikit tanah lapang yang diapit oleh dua bukit. Di sana, tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun, tempat itu dijadikan lokasi penyimpanan pe

  • Bara Dendam Sagara    Bab 44

    Setengah jam kemudian, Sekar Arum memimpin tim kecilnya. Enam orang. Wira di sampingnya sebagai tangan kanan, ditambah beberapa anggota yang paling bisa diandalkan. Mereka tidak melewati jalur utama, tentu saja. Garuda Hitam pasti sudah berjaga di sana. Sebagai gantinya, mereka menyusuri celah sempit di antara dua bukit yang Sagara sebutkan tadi.Jalurnya tidak enak dilalui. Sempit, tidak rata, dan beberapa kali Sekar hampir tersandung akar yang menyembul dari tanah. Tapi Sagara benar soal angin. Arus dari laut bertiup konstan di sepanjang celah itu, menyapu bersih apapun yang mereka tinggalkan. Jejak kaki, aroma tubuh, semuanya. Mereka juga memecah muatan peti logistik, dibagi rata di punggung masing-masing. Lebih berat, tapi lebih aman. Udara di sana dingin dan berbau tanah basah, ada sedikit asin dari laut yang terbawa angin. Sekar menarik napas pelan. Segar, tapi bikin waspada.Ia sengaja berjalan di sebelah Sagara. Padahal pria itu bukan bagian dari misi ini. Tapi Sekar punya ala

  • Bara Dendam Sagara    Bab 43

    Sagara, atau Ranu, akhirnya menoleh, menatap Sekar lekat. "Garuda Hitam menggunakan anjing pelacak di malam hari. Tanpa bau, tidak ada jejak yang bisa diikuti."Ruangan hening sesaat.Sekar tidak langsung balas bicara. Ia kembali menatap peta di hadapannya, tapi kali ini pandangannya berbeda. Bukan lagi mencari jalan teraman, tapi membayangkan bagaimana angin bergerak. Membayangkan udara laut yang terus menerus berembus lewat celah sempit itu, menyapu bersih semua jejak yang mungkin tertinggal.Baru saja ia hendak membuka mulut, Sekar sadar sesuatu yang tak ia rencanakan: jarak di antara mereka. Sagara berdiri begitu dekat. Bahu mereka nyaris bersentuhan di atas meja yang tak terlalu lebar itu. Dari jarak sedekat ini, jarak yang tak memberi ruang untuk berpura-pura tak sadar, Sekar mencium sesuatu yang asing di tengah aroma tanah basah dan karat logam yang memenuhi gua.Aroma laut. Tipis, tapi jelas. Seperti embusan angin dari sela karang, dingin dan sedikit asin, menempel di jubah Sa

  • Bara Dendam Sagara    Bab 2

    Kabar tentang Sagara yang akan dihukum mati karena membunuh Guru Besar menyebar cepat, bagaikan api membakar ilalang kering. Bisikan itu akhirnya sampai juga ke telinga Larisa, tunangan Sagara.“Nona, Tuan Sagara… besok fajar ia akan dihukum dibuang ke Tebing Selatan,” bisik seorang pelayan tergopo

  • Bara Dendam Sagara    Bab 1

    “Guru Besar! Guru Besar!”Teriakan seorang murid muda menggema di halaman padepokan, membuat semua orang yang sedang berkumpul langsung menoleh dan berlari mengikuti suara itu.Orang-orang berhamburan, langkah kaki mereka berat dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Suasana hening malam seketika berubah

  • Bara Dendam Sagara    Bab 42

    Sesekali, tatapan Sekar mencuri pandang ke arah Sagara. Matanya berkedip cepat, seperti ingin... memancing reaksi.Bukan sekadar melirik, melainkan mengukur. Pandangannya sempat bertahan di sana lebih lama dari yang seharusnya, lalu berpaling, lalu kembali lagi, seolah ada magnet tak kasat mata yan

  • Bara Dendam Sagara    Bab 3

    Samar-samar, seperti sebuah bisikan dari alam mimpi yang memudar, kesadaran mulai merayapi Sagara. Udara dingin yang menusuk tulangnya kini digantikan oleh kehangatan samar, diiringi aroma herbal yang pekat dan asing. Namun, yang paling terasa adalah rasa sakit. Rasa sakit di sekujur tubuhnya, seo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status