MasukMalam di penjara bawah tanah istana Medang terasa begitu dingin dan pengap, melukiskan bayangan kegelapan yang pekat di setiap sudutnya. Bau apak tanah dan kelembapan yang menyengat menelisik hingga ke tulang, menambah suram suasana yang sudah menindas. Namun, suasana di dalam jeruji besi tempat Balaputeradewa mendekam jauh lebih menyesakkan secara batin. Sang Pangeran, yang kini statusnya tak lebih dari seorang terpidana yang menunggu vonis, duduk bersandar pada dinding batu yang lembab dan kasar. Matanya kosong, menatap lantai batu yang kotor, seolah tak lagi ada harapan yang tersisa di lubuk jiwanya. Ia adalah seekor singa yang terperangkap, energinya terkuras, semangatnya padam, dan kehormatannya tercabik. Pikirannya melayang tanpa arah, berkecamuk dalam labirin penyesalan dan ketidakberdayaan.Keheningan yang memekakkan telinga dipecahkan oleh suara gemerincing kunci dan langkah kaki halus yang terdengar semakin mendekat di lorong selasar yang remang-remang. Suara itu seolah-olah
Ibu kota Medang diliputi suasana mencekam yang belum pernah terasa sepekat ini sebelumnya. Sebuah berita tersiar bak badai menggerus ketenangan, kabar tentang kepulangan Wiku Sasodara dan Wiku Amasu yang tidak membawa berita suka cita. Alih-alih merayakan kemenangan atau penumpasan pemberontakan, keduanya justru tiba dengan membawa Pangeran Balaputeradewa, sang Mahamentri I Halu, dalam kondisi yang memprihatinkan. Pangeran yang dahulunya angkuh dan perkasa itu kini tak lebih dari seonggok raga lemah, kekuatannya terkikis habis, terenggut entah oleh penderitaan fisik atau badai di dalam batinnya. Ia diseret ke hadapan Samgat Agung, dewan hakim tertinggi kerajaan yang terdiri dari para pendeta dan ahli hukum terkemuka, kumpulan cendekia dengan kearifan usia dan kebijakan tak terbantahkan.Ruang Mahkamah Agung, yang biasanya dipenuhi gema petuah-petuah bijaksana, kini terjejali ketegangan yang pekat. Udara terasa begitu berat, membebani setiap dada yang hadir. Tiang-tiang ukiran jati men
Di bawah kanopi langit yang menggerutu, bergemuruh oleh benturan energi purba yang baru saja pecah di cakrawala, Pangeran Balaputeradewa berdiri kokoh di tepi selasar puri, rambut panjangnya terurai liar, bagaikan helai-helai hitam dalam pusaran angin badai. Pandangan matanya nanar, membakar dengan bara ambisi yang tidak tergoyahkan, melirik setiap sudut halaman Puri Walaing yang kini dilanda kekacauan.Dengan gestur yang megah namun penuh ketegangan, ia menggerakkan kedua tangannya dalam pola melingkar, memanggil kekuatan yang nyaris tak terbayangkan. Seketika, permukaan danau Song Ranu yang jernih bergolak hebat, jutaan galon air menuruti perintahnya, merayap naik ke angkasa, memadat dalam wujud yang menakutkan.Di hadapan mata Wiku Sasodara dan Wiku Amasu yang tak berkedip, air tersebut mengeras, menjelma menjadi tujuh kepala naga raksasa yang transparan namun padat, mendesis-desis garang, siap memangsa apa pun yang menghalangi jalannya.Pusaran kekuatan elemental terpancar kuat da
Lembah Song Ranu, yang selama ini termasyhur akan ketenangan dan keheningan sakralnya, kini tercekam dalam selubung kegelapan pekat yang menggulir dari puncak-puncak batu cadasnya. Kabut yang lazim menyelimuti permukaan Telaga Song Ranu pada dini hari, seakan berubah wujud menjadi jumbai-jumbai ancaman, merambat pelan menuruni pepohonan raksasa. Di dalam Puri Walaing, Pangeran Balaputeradewa bersemayam dalam arogansi tak tergoyahkan. Ia merasa di atas angin, percaya bahwa kekuasaannya, yang terikat erat pada Baruna Warih, adalah absolut dan tak terbandingi, bahkan tak menyadari bahwa dua sosok agung, takdir berjalan, tengah melintasi hutan perbatasan dengan kecepatan yang melampaui segala nalar insani.Wiku Sasodara dan Wiku Amasu, dalam jubah putih kehormatan mereka, bergerak menyusuri belantara sunyi. Setiap langkah mereka tidak menyentuh tanah, melainkan seolah menapaki rongga udara tipis yang terbentuk sesaat di bawah telapak kaki mereka. Gerak-gerik mereka menguarkan aura kebijak
Di dalam Balairung Agung Kerajaan Medang, atmosfer terasa sarat, mencekam laksana selubung kelam meskipun genderang kemenangan atas rongrongan pemberontakan baru saja menggema dari medan laga. Sorot mata Maharaja Samarattungga, yang bertahta agung di atas singgasana berukirkan intan permata, tidak lagi terpaku pada kemegahan duniawi atau simbol kekuasaan fana, melainkan meresapi kedalaman makna dharma, cahaya abadi yang menjadi pedoman dalam setiap langkah titahnya. Setiap detak jarum waktu terasa berhenti, memberi ruang bagi keputusan-keputusan fundamental yang akan mengukir nasib Medang. Para pembesar kerajaan, menteri, dan panglima, duduk di tempat masing-masing dengan sikap tertunduk, menanti titah Sang Prabu dengan napas tertahan, seolah menggantung di udara.“Para pembesar kerajaan, para panglima perkasa, dan para menteri yang bijaksana,” titah Maharaja Samarattungga, suaranya, meski tenang, mengandung gema yang memenuhi setiap relung balairung. Aura wibawa
Keheningan malam yang pekat di Puri Walaing, Song Ranu, sejatinya bukanlah keheningan yang menenangkan. Malam itu menjadi saksi bisu bagi kemelut jiwa dan nafsu yang gelap, sebuah badai yang tak kunjung mereda di relung hati Sang Pangeran. Balaputeradewa, putra mahkota yang dihormati, telah sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya. Harga dirinya, yang semula kokoh tak tertandingi, kini hancur berkeping-keping di bawah tekanan kekalahan dan rasa cemburu yang mematikan.Amarah membakar setiap sel darahnya, melebur bersama gairah yang telah lama dipendam namun kini meledak dalam rupa paling purba. Dengan kekuatan yang dipupuk oleh keputusasaan, ia mengangkat tubuh Mayang Salewang, istrinya, dan mengikat kedua tangan perempuan itu pada tiang ranjang kayu jati yang kokoh. Simpul tali kulit rusa yang keras itu mengencang, melambangkan belenggu tak kasat mata yang menjerat Mayang dalam kungkungan amarah sang suami.Ia memasuki tubuh Mayang dengan dorongan-dorongan yang memi







