ホーム / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 47 Kecurigaan Mahamenteri

共有

Bab 47 Kecurigaan Mahamenteri

作者: Alexa Ayang
last update 公開日: 2025-10-16 22:14:36
Ia adalah Ranala, tabib kepercayaan pasanggrahan ini, yang juga sesepuh dalam bidang pengobatan. Napas lega, meski samar, tersemburat di wajah Balaputeradewa, meskipun demikian, kekhawatiran tentang identitas Madujingga masih menggelayuti benaknya dengan kuat, belum sepenuhnya sirna. Madujingga yang menyaksikan kedatangan Ranala seketika menegang, dihadapkan oleh dilema batin yang menusuk: haruskah ia sepenuhnya menerima pertolongan yang datang, membuka diri pada pemeriksaan, atau tetap memperta
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Epilog Abadi dalam Batu dan Legenda

    Senja merangkak di atas cakrawala Medang, mewarnai istana Watugaluh dengan pendar jingga keemasan saat Rakai Kayuwangi kembali dari peristiwa pahit di Bukit Ngobaran. Namun, pangeran yang kembali bukanlah pribadi yang sama. Langkahnya mungkin tegap, tatapan matanya tajam membidik masa depan, tetapi ada fragmen jiwa yang luka, lara yang tak terobati. Bagian dari dirinya yang dahulu bergemuruh sebagai Bandung Bondowoso, sang ksatria pemberang dan pecinta yang gigih, telah larut ditelan gelombang Laut Selatan, tersapu bersama kenangan Ron Ayu yang tercinta. Kini, ia hanya Kayuwangi, seorang Mahamentri yang membawa beban sebuah imperium di pundaknya, serta duka abadi di dasar relung hatinya. Sisa hidupnya, setiap helaan napasnya, setiap tetes keringatnya, ia persembahkan sepenuhnya untuk tanah pertiwi Medang, sebagai penebusan, sebagai amanah yang tak terucapkan.Di balairung agung istana, Paksi, patih kepercayaannya yang setia, menyambut Kayuwangi dengan hormat mendalam. Wajah tuanya men

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 280: Nyala Api di Bukit Ngobaran

    Berbulan-bulan lamanya, segenap penjuru Istana Manguntur seolah tersentuh kembali oleh berkah kejayaan yang telah lama tiada. Nyala api semangat dan kasih yang tulus membakar kalbu di setiap sudut kediaman agung itu. Ron Ayu, sang putri yang kini menyandang status sebagai istri sah Mahamentri I Hino, mencurahkan seluruh benih cintanya kepada Rakai Kayuwangi. Ia melayani suaminya dengan kelembutan yang teramat dalam, memberikan kasih sayang yang meluap-luap dari sanubarinya, menciptakan lautan ketenangan yang bagi Kayuwangi terasa mampu menyembuhkan luka peperangan dahsyat di Walaing secara paripurna. Setiap sentuhan, setiap tatapan, setiap bisikan mesra dari Ron Ayu seolah adalah obat mujarab yang perlahan namun pasti mengisi kekosongan jiwanya, memulihkan retakan hati yang dulu remuk redam.Puncak dari jalinan asmara yang penuh gairah ini terwujud manakala Kayuwangi, dengan kedua jemari terampilnya yang dahulu memahat karya, mempersembahkan sebuah mahakarya: Arca Durga Mahisasura Mar

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 279: Penebusan Sang Mahamentri

    Keheningan Istana Manguntur laksana belati tak terlihat, menusuk relung-relung jiwa Sang Mahamentri. Setelah sekian lama hiruk pikuk intrik dan tugas kenegaraan, kini hanya detak jam yang membisu dan bisikan angin malam yang terdengar, menggema dalam kehampaan batin Kayuwangi. Berhari-hari lamanya, sang Mahamentri menghabiskan malam-malamnya di ambang pintu peraduan sang istri, Prameswari Ron Ayu. Ia duduk bersimpuh di sana, laksana seorang pertapa yang sedang menjalani tapa brata tanpa suara, membiarkan dirinya terpapar embun dingin yang menggigit sebagai bentuk penyesalan atas luka yang telah ia torehkan. Raga boleh merasa beku, namun jiwanya terbakar oleh penyesalan yang membara.Keraguan merayapi setiap serat napasnya untuk mengetuk, apalagi masuk ke dalam ruang sakral itu. Pintu yang terkatup rapat itu laksana tembok tinggi yang tak terambah, simbol dari jurang pemisah yang terbentang antara ia dan istrinya. Namun, ia tidak pernah beranjak, laksana akar pohon tua yang tak mampu d

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 278: Abu di Ujung Jemari

    Bayangan Manguntur merayap perlahan menyelimuti lembah, seolah ikut berduka atas apa yang tengah terjadi di pangkuannya. Angin senja berembus membawa keharuman kemenyan dan cendana, aroma sakral yang kini berbaur dengan duka yang menyayat hati. Sekar melangkah, menopang tubuh ringkih Nimas Ron Ayu, bahunya terasa memikul beban yang melebihi penderitaannya sendiri. Sorot matanya menunjukkan empati yang mendalam, mencerminkan pemahaman akan rasa sakit yang tak terlukiskan di jiwa sahabatnya.“Mari, Nimas. Aku akan mengantarmu,” bisik Sekar lembut, suaranya bergetar di tengah keheningan yang menyesakkan. Setiap kata adalah untaian kekuatan yang diberikannya. “Kau berhak memberikan penghormatan terakhir untuk Ayahanda Prabu.”Ron Ayu hanya mampu mengangguk lemah, bibirnya terkatup rapat, menahan isak yang mengancam pecah. Langkahnya berat, tertatih di setiap jengkal tanah yang terangkum dalam jejak pilu menuju lokasi perabuan. Seolah setiap pijakannya memikul beban duka yang tak tertanggu

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 277: Abu di Langit Manguntur

    Ron Ayu, dengan langkah-langkah yang terhuyung dan kain kebaya yang menjuntai di lantai bebatuan pelataran istana, memaksakan tubuhnya yang masih terlanda kepayahan untuk keluar dari peraduan pribadinya. Perih yang semula mencengkeram ulu hatinya, imbas dari persalinan yang baru saja berlalu, kini terasa meredup, tergantikan oleh sebuah nyeri yang jauh lebih pedih dan mendalam, mengoyak jiwanya hingga ke dasar. Sebuah panggilan tak terelakkan mendesaknya. Ia harus menemukan Rakai Kayuwangi, Sang Bhupati yang kini menggenggam tahta Mataram. Ia harus menghentikan kegilaan ini sebelum segala kehormatan dan keagungan Mataram terkoyak menjadi kepingan tak berarti, tercampakkan dalam sejarah. Kekuatannya, sekecil apa pun itu, harus ia curahkan demi menyelamatkan apa yang masih tersisa dari hati nuraninya.Namun, tepat di ambang gerbang pelataran dalam yang memisahkan area peristirahatan keluarga raja dari keramaian istana, langkah Ron Ayu terhenti dengan mendadak. Sebuah sosok tinggi besar

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 276: Racun di Tengah Nifas

    Di dalam peraduan yang diwangikan oleh semerbak boreh, cendana, dan daun nilam, udara malam terasa hening mencekam. Bukanlah kedamaian yang menyelimuti bilik permata Ron Ayu, melainkan penantian sunyi akan hari-hari yang baru setelah gemuruh perang usai. Sang Putri, yang baru beberapa minggu lalu melahirkan sepasang permata yang amat dinantikan, sejatinya hendak memejamkan mata, membiarkan kelelahan nifas membawanya pada mimpi-mimpi indah yang selama ini direnggut kegelisahan perang. Setiap hela napas terasa berat, namun ia memaksa raga untuk tenang, demi pemulihan dan demi kedua buah hatinya. Namun, keheningan itu mendadak terusik, bukan oleh angin malam atau jangkrik di luar, melainkan oleh kemunculan seorang dayang tua, Surani namanya, yang kini berdiri di ambang pintu peraduan.Wajahnya pucat pasi bak kapur barus, dengan napas tersengal-sengal, memutus damai yang semu. Mata tuanya yang biasanya jernih kini diliputi kabut ketakutan yang mendalam. Langkahnya tertatih, seolah membawa

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 151: Dendam Sanditaraparan

    Rintihan panjang nan pilu mengiris keheningan malam yang menggantung berat di sekitar aliran Sungai Kedung Pedhut. Sosok Sriti—yang selama ini dikenal sebagai Sanditaraparan—terhuyung, tubuhnya menggeliat kesakitan, berusaha merangkak susah payah. Setiap gerakan kecil adalah perjuangan monumental b

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 150: Belas Kasih dan Kelemahan Calon Pemimpin

    Perjalanan mendesak menuju persembunyian di Randu watangan telah dimulai, membentang melewati rimba lebat dan likuan alam yang menantang. Wulan, Putri Wangsa Sanjaya, telah menunjukkan pemulihan signifikan berkat daya penawar dari Bunga Sokaliman dan kehangatan tubuh Wulung yang tiada henti memanca

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 145: Perbedaan Keyakinan dan Dendam

    Matahari pagi, dengan sinarnya yang keemasan, perlahan namun pasti menembus rerimbunan dedaunan hutan Kedung Pedhut, menyentuh tanah yang masih lembap oleh embun malam. Kicauan burung-burung hutan mulai memecah keheningan, menciptakan melodi alami yang seolah menyapa awal hari yang baru. Meskipun d

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 141 Bunga Sokaliman

    Darah merah pekat menetes perlahan ke dalam air Kedung Pedhut yang keruh, menciptakan riak-riak kecil yang menyebar seperti duka. Di tepi kedung, di bawah teduhnya pepohonan rindang, Wulung berlutut dalam keterkejutan total. Sebuah pengkhianatan yang pahit kini termanifestasi sebagai tindakan pen

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status