MasukLangkah kaki pasukan Walaing yang mundur dengan tergesa-gesa terhenti sejenak di perbatasan hutan yang gelap. Debu tipis dari sisa pertempuran sebelumnya masih melayang di udara, membawa aroma amis darah dan kehancuran. Balaputeradewa, pemimpin yang baru saja menerima pengkhianatan pedih dari Jentra dan adiknya, Gagak Rukma, merasakan hatinya terhimpit oleh beban ganda: kekalahan di medan perang dan tusukan penghianatan sanak saudara. Dalam kepahitan itu, matanya yang tajam menyapu tepian rimbun semak, mencari jejak musuh atau sisa-sisa sekutu yang setia. Di balik rerimbunan daun, sesosok wanita dengan keanggunan yang tak bisa disembunyikan tampak terpaku mengamati sisa-sisa pertempuran yang menyayat. Kerudung yang semula membingkai wajahnya telah tersingkap, memperlihatkan rona kulit seputih pualam yang sangat dikenalnya. Hatinya, yang hancur berkeping-keping oleh Jentra dan Rukma, mendadak menajamkan pandangannya pada sosok itu. Kerinduan dan amarah laksana badai yang mengamuk."Jad
Medan laga yang menganga luas bak rahang neraka, kini bergetar hebat di bawah injakan kaki ribuan prajurit dan amuk kekuatan sakti. Asap tebal bercampur debu mengepul ke angkasa, mewarnai senja dengan spektrum kelabu nan suram. Di satu sisi arena, seorang pendekar berwibawa, Kunara Sancaka, mengamuk laksana banteng terluka. Setiap sabetan cambuk sakti yang berapi-api miliknya meledak dengan daya hancur luar biasa, menciptakan parit-parit api yang menganga di permukaan tanah. Nyala apinya bagaikan napas naga purba yang murka, melumat apa pun yang dilewatinya. Namun, gempuran dahsyat itu kini dihadapkan pada ketenangan seorang mahaguru strategi sekaligus pendekar tanpa tanding, Jentra Kenanga.Cakram Jentera Biru miliknya berdesing tajam di udara, menari-nari memantulkan cahaya senja yang memudar. Benda pusaka itu, yang bergerak dengan presisi mematikan, beradu dengan setiap lecutan cambuk Kunara, menghasilkan denting logam dan kilatan energi yang menyambar-nyambar. Jentera bagai perwuj
Langit di atas dataran antara Walaing dan Patapan mendadak legam, bukan oleh mendung yang lazim menyelimuti bumi, melainkan oleh benturan energi sakti yang dilepaskan para senopati terkemuka. Aura peperangan yang pekat terasa memilin udara, membebani setiap helaan napas prajurit. Dari kejauhan, terompet perang dari kubu Walaing ditiupkan, menggelegar membelah keheningan, dan tak lama kemudian, gelombang pasukan yang tak terhitung jumlahnya mulai menerjang maju bagai bah lautan, diiringi dentuman tambur yang menghantam relung dada.Di barisan paling depan pasukan Walaing, Panglima Kunara Sancaka memimpin serbuan dengan raungan yang menggetarkan bumi dan memekakkan telinga lawan. Cambuk saktinya yang berpijar merah menyambar-nyambar bagai lidah api naga, menciptakan ledakan api di setiap jengkal tanah yang disentuhnya, membakar semangat dan menebar ketakutan. Di belakangnya, Jentra Kenanga bergerak dengan langkah yang tampak berat dan enggan, setiap pijakannya seolah terbebani
Angin kencang berhembus dari lembah, membawa aroma tanah basah dan logam yang segera akan bersimbah darah. Di padang terbuka yang memisahkan wilayah Patapan dan Walaing, pasukan gabungan Medang telah menggelar barisan perang. Ribuan prajurit bersiaga dengan zirah dan senjata mereka. Namun, pemandangan paling luar biasa terpampang di garis depan: panji-panji Sanjaya dari Giri Watangan berkibar megah, berdampingan dengan panji kebesaran Syailendra. Merah tua Giri Watangan berpadu anggun dengan nila pekat Syailendra, sebuah simbol nyata penyatuan yang telah lama diidamkan, kini terwujud di ambang medan laga yang brutal. Sebuah harapan baru membumbung di atas Bhumi Medang yang bergejolak.Mpu Kumbhayoni, mengenakan baju zirah kebesarannya yang telah tersimpan lama, kini berdiri tegak di garis depan. Zirah tempaan besi hitam membalut tubuh tuanya, namun memancarkan tekad yang membaja. Kilau pantulan cahaya pagi pada permukaan bajunya mencerminkan kobaran api di matanya. Penyesalan atas kek
Malam di Giri Watangan yang semula sunyi senyap kini pecah oleh dentaman langkah-langkah berat, derap sepatu prajurit yang mengawal para tawanan. Bunyi gemericik rantai besi dan suara-suara lirih yang tertahan turut melengkapi kekalutan suasana. Nalaraja berjalan di paling depan, aura kegelapan terpancar dari wajahnya yang sekeras batu. Di belakangnya, Mahesa Seta dan Sekar tampak sigap, memastikan bahwa Sriti dan Tantripala, yang terikat erat dan terbungkuk di antara para prajurit, tidak memiliki celah sekecil apa pun untuk mencoba meloloskan diri. Udara malam yang dingin seolah turut membekukan ketegangan yang menggantung di antara mereka.Gerombolan itu tiba di depan bangsal utama, sebuah bangunan kokoh yang menjadi kediaman utama Mpu Kumbhayoni. Tanpa banyak basa-basi, pintu kayu jati yang tebal itu dibuka paksa dengan satu dorongan keras dari salah seorang prajurit. Di dalam, Mpu Kumbhayoni sedang duduk bersandar di kursi ukir miliknya, tampak muram, sementara Dyah Ayu Manohara d
Kalamasa melingkupi Giri Watangan, menyelimuti pesanggrah-an dengan suasana yang semakin memberat dan mencekam. Di balik pilar-pilar besar yang memahkotai aula utama, siluet Mpu Kumbhayoni masih terkesan teguh, namun batinnya bergolak dalam amarah serta harga diri yang terluka. Kehadiran Tantripala di sisinya, yang kini ia biarkan kian dekat dalam sorot pandang masyarakat istana, sejatinya adalah sebuah penistaan yang mendalam terhadap martabat Dyah Ayu Manohara. Ironisnya, tindakan yang Mpu Kumbhayoni anggap sebagai balas dendam dan pelipur lara itu justru secara perlahan-lahan meracuni sendi-sendi kehidupannya sendiri.Namun, di kedalaman jantung puri, dalam keremangan ruang rahasia milik Nalaraja, sebuah gerakan bawah tanah sedang dikonsolidasikan dengan penuh kehati-hatian. Sekar, Mahesa Seta, dan Nalaraja saling bertukar pandang, raut wajah mereka mengeras oleh determinasi.“Kita tidak memiliki banyak waktu, Kakang Nalaraja, Kakang Mahesa,” bisik Sekar, suaranya pelan namun menga