LOGINPertempuran dahsyat antara Medang dan Walaing telah meluluhlantakkan istana, mengubahnya menjadi medan kematian yang dipenuhi jeritan dan auman prajurit. Di tengah kekacauan ini, sekelompok kecil pelarian dari Kerajaan Walaing berjuang keras untuk keluar. Rombongan ini dipimpin oleh Gusti Ayu Mayang Salewang yang perkasa, Mpu Kumbhayoni yang terluka parah, serta Pangeran Talang Wisang, pewaris takhta yang keselamatannya vital bagi kelangsungan kerajaan Walaing. Mereka, bersama pengikut setia seperti Megarana, Wiyuhmega, dan Laturana, bergerak tertatih-tatih di antara puing dan genangan darah, digerakkan oleh asa untuk lolos dari bahaya yang mengancam dan menyelamatkan masa depan Walaing yang kini di ambang kehancuran total.
Sementara itu, di medan laga utama, gemuruh pertempuran tak kalah mengerikan. Mpu Rahagi dan Mpu Regdaya, Rakai Walaing Sepuh yang melegenda, masih bertarung sengit melawan para panglima Medang. Mpu Rahagi, dengan jurus lincahnya, berhadapan langsung dengan Cangak Sabrang dan Dandang Wilis, yang melancarkan serangan bergelombang tanpa henti. Tak jauh dari sana, Mpu Regdaya dengan konsentrasi penuh melawan Kunara Sancaka, seorang kesatria Medang yang dipersenjatai pusaka sakti Guntur Sangara. Senjata itu tak hanya melancarkan serangan dahsyat berupa halilintar air dan api, tetapi juga setiap lecutannya menimbulkan gema yang meruntuhkan semangat lawan, menciptakan pusaran energi yang nyaris tak terbayangkan.
Di tengah situasi yang kacau-balau, terlihat sosok Rukma, salah satu punggawa utama Medang, telah berhasil meringkus Sri Gunting, punggawa Walaing. Dengan cekatan ia melancarkan jurus pamungkasnya, "Ilat Banyu," yang membekukan pergerakan Sri Gunting tanpa merenggut nyawanya, menuruti perintah Baginda Raja Medang agar musuh tertangkap hidup-hidup.
"Kemana yang lainnya?" Jentra, rekan sesama punggawa Medang, menghampiri Rukma dengan raut gusar.
Rukma menunjuk ke arah celah tersembunyi dekat reruntuhan gapura utama. "Kurasa mereka mencoba melarikan diri melalui gua bawah tanah istana, Kakang Jentra. Celah itu mungkin sudah dirancang khusus sebagai jalur pelarian terakhir yang dirahasiakan," jelasnya.
"Gua bawah tanah?" Jentra mengulang, menyadari implikasi penting dari penemuan ini. "Apakah itu menuju gerbang rahasia, gerbang pelarian mereka?"
"Benar sekali, Kakang. Itu jalur pelarian ke wilayah lainnya, jauh dari jangkauan kita," sahut Rukma. "Jika mereka mencapai sana, semua upaya kita akan sia-sia. Kita harus segera mencegah mereka meloloskan diri. Pangeran Talang Wisang pasti ada di antara mereka. Keberadaannya sangat krusial bagi kelangsungan Walaing dan penundukannya."
"Begitu," Jentra menyeringai. "Aku akan mengejar Pangeran muda Walaing itu sendiri. Ini adalah kesempatan emas!"
Namun, Rukma menggeleng pelan. "Biar aku saja, Kakang. Ada alasan khusus mengapa saya ingin menghadap mereka sendiri." Ia memegang gagang pedangnya, sorot matanya tajam. "Pangeran Talang Wisang adalah mangsa utama Baginda Raja. Beliau menginginkannya hidup-hidup, namun ada nuansa tertentu dalam penangkapannya yang hanya bisa kuselesaikan secara pribadi. Biarkan hamba yang menuntaskannya, Kakang, sesuai dengan titah Baginda."
Jentra mengamati Rukma sejenak, wajahnya menunjukkan perenungan. Ia akhirnya mengangguk, menyadari ada rencana tersembunyi. "Baiklah jika demikian. Hati-hati, Rukma. Putri Walaing itu, Gusti Ayu Mayang Salewang, bukan gadis sembarangan sama sekali. Kekuatannya konon sebanding, bahkan melampaui seorang Mpu."
"Saya menyadari itu sepenuhnya, Kakang," jawab Rukma penuh keyakinan. Dengan langkah sigap, ia segera bergegas, memimpin lima belas orang bawahannya menyusul. Mereka bergerak cepat dan tanpa suara. Tak berapa lama, dari kejauhan, Rukma melihat rombongan kecil yang hendak melarikan diri tersebut, bergerak tertatih-tatih di koridor belakang istana yang gelap, tak jauh dari mulut gua bawah tanah yang menjadi tujuan terakhir mereka. Sebuah seringai dingin terukir di wajah Rukma, yakin targetnya tak akan luput.
"Berhenti!" Teriak Rukma, suaranya menggelegar memenuhi lorong, seraya memposisikan diri menghadang jalan rombongan kecil itu. Ia berdiri tegak dan perkasa, memblokir akses ke gua yang gelap, menutup rapat harapan pelarian mereka.
Melihat Rukma, Mayang Salewang meledak dalam kemarahan. "Ahh, lagi-lagi kau! Tak punya martabatkah kau menyerang punggawa yang sudah pincang?" Mayang memandang Mpu Kumbhayoni, sorot matanya menyiratkan kepedihan atas keadaan gurunya yang terluka parah.
Rukma tersenyum simpul, menikmati kejengkelan di wajah sang putri. Ia melangkah maju perlahan. "Ahhh, rupanya Gusti Ayu pun sangat licin. Hamba selalu takjub akan kelihaian Tuan Putri meloloskan diri. Namun, saya pastikan pelarian ini akan segera berakhir di sini. Adalah suatu kehormatan bagi hamba untuk kembali berkesempatan memboyong Tuan Putri yang mulia ini ke hadapan Baginda Raja kami. Beliau tak sabar menanti persembahan semulia Tuan Putri." Kata-kata Rukma mengandung ejekan dan ancaman tersembunyi.
"Omong kosongmu terlalu busuk untuk didengar, Panglima!" cetus Mayang dengan murka, dadanya bergemuruh menahan amarah. Ia tahu betul apa yang dimaksud "persembahan" itu – takdir yang lebih buruk dari kematian. "Kangmas Kumbhayoni," seru Mayang, nadanya penuh tekad dan perintah yang tak terbantahkan. "Pergilah dulu! Bawa Talang Wisang menjauh dari sini, cepatlah! Jangan sia-siakan kesempatan emas ini, ini semua demi kelangsungan Walaing!" Matanya menatap Mpu Kumbhayoni dengan sorot yang dalam, seolah mengatakan, 'Kita harus menjaga tunas penerus tahta! Keselamatan pangeran adalah segalanya!' "Aku akan menahan mereka di sini! Aku akan menjadi perisai terakhir kalian, hidup atau mati!" Tanpa menunggu balasan, ia melangkah maju.
Mpu Kumbhayoni, walau dengan hati berkeberatan dan penuh sesal, akhirnya mengangguk mengiyakan. Ia mengerti sepenuhnya strategi pengorbanan Mayang demi keselamatan Talang Wisang dan masa depan Walaing. Bersama Megarana dan Wiyuhmega, ia bergegas lari membawa Pangeran Talang Wisang memasuki kegelapan gua bawah tanah, menjauh secepatnya dari pertempuran yang akan datang. Sementara itu, Laturana dengan gesit memutar balikkan badannya, mengambil posisi strategis di belakang Mayang. Dengan gagah berani ia menghadang kelima belas anak buah Rukma, menciptakan penghalang hidup agar mereka tidak dapat mengejar tuannya yang baru saja kabur, siap mempertaruhkan nyawanya sendiri demi memberi waktu berharga bagi Talang Wisang.
Mayang Salewang kembali berhadapan satu lawan satu dengan Rukma, matanya masih memancarkan api perlawanan yang tak padam. Namun, kali ini jurus "Ilat Banyu" milik Rukma bergerak jauh lebih cepat, lebih dingin, dan mematikan. Seperti lidah air raksasa yang hidup, haus, dan tak terhentikan, jurus tersebut dengan segera membungkus, menggulung, dan membekukan tubuh sang putri perkasa itu. Usaha Mayang Salewang untuk melepaskan serangan Tapak Geninya, untuk sekadar memantik bara perlawanan terakhirnya, gagal total. Dalam sekejap, sang putri gagah berani terperangkap dalam pelukan dingin yang mencengkeram erat. Ia membeku, tak berdaya di hadapan Rukma. Langkah-langkah kaki Talang Wisang dan Mpu Kumbhayoni semakin jauh terdengar, berangsur menghilang di kedalaman gua, disusul oleh ratapan kesedihan Laturana yang menyaksikan takdir pahit Mayang Salewang.
Di dalam Balairung Agung Kerajaan Medang, atmosfer terasa sarat, mencekam laksana selubung kelam meskipun genderang kemenangan atas rongrongan pemberontakan baru saja menggema dari medan laga. Sorot mata Maharaja Samarattungga, yang bertahta agung di atas singgasana berukirkan intan permata, tidak lagi terpaku pada kemegahan duniawi atau simbol kekuasaan fana, melainkan meresapi kedalaman makna dharma, cahaya abadi yang menjadi pedoman dalam setiap langkah titahnya. Setiap detak jarum waktu terasa berhenti, memberi ruang bagi keputusan-keputusan fundamental yang akan mengukir nasib Medang. Para pembesar kerajaan, menteri, dan panglima, duduk di tempat masing-masing dengan sikap tertunduk, menanti titah Sang Prabu dengan napas tertahan, seolah menggantung di udara.“Para pembesar kerajaan, para panglima perkasa, dan para menteri yang bijaksana,” titah Maharaja Samarattungga, suaranya, meski tenang, mengandung gema yang memenuhi setiap relung balairung. Aura wibawa
Keheningan malam yang pekat di Puri Walaing, Song Ranu, sejatinya bukanlah keheningan yang menenangkan. Malam itu menjadi saksi bisu bagi kemelut jiwa dan nafsu yang gelap, sebuah badai yang tak kunjung mereda di relung hati Sang Pangeran. Balaputeradewa, putra mahkota yang dihormati, telah sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya. Harga dirinya, yang semula kokoh tak tertandingi, kini hancur berkeping-keping di bawah tekanan kekalahan dan rasa cemburu yang mematikan.Amarah membakar setiap sel darahnya, melebur bersama gairah yang telah lama dipendam namun kini meledak dalam rupa paling purba. Dengan kekuatan yang dipupuk oleh keputusasaan, ia mengangkat tubuh Mayang Salewang, istrinya, dan mengikat kedua tangan perempuan itu pada tiang ranjang kayu jati yang kokoh. Simpul tali kulit rusa yang keras itu mengencang, melambangkan belenggu tak kasat mata yang menjerat Mayang dalam kungkungan amarah sang suami.Ia memasuki tubuh Mayang dengan dorongan-dorongan yang memi
Di balik pintu kayu jati yang kokoh dan tebal, Windri Sageni berdiri dengan tubuh menggigil hebat, bagai daun lontar yang disapu badai tak berkesudahan. Butiran air mata mengalir pilu membasahi pipi yang kini tampak pucat pasi, bercampur dengan butiran keringat dingin yang mengucur deras di dahinya. Setiap rintihan samar, setiap desahan ancaman kejam, dan setiap jeritan tertahan yang berhasil meloloskan diri dari celah pintu yang rapat itu, bagaikan bilah-bilah belati tajam yang tanpa ampun menusuk hingga ke jantungnya, mengoyak jiwanya. Ia mengenal suara-suara itu. Itu adalah suara tuan putrinya, Mayang Salewang, yang kini kembali menjadi tawanan nafsu dan amarah suaminya.Sejak berhari-hari dalam pelarian yang melelahkan, Windri telah dengan setia mendampingi sang putri dengan loyalitas tak tergoyahkan. Ia melihat Mayang tumbuh dari gadis ceria yang polos menjadi wanita yang dipenuhi kepahitan, lalu kini harus kembali menyaksikan wanita yang amat dicintainya itu terpuruk dalam duka
Pagi di Song Ranu tidak jua mampu membawa kehangatan yang merasuk hingga ke tulang bagi Mayang Salewang. Dalam selubung dingin embun pagi dan gemerisik daun-daun pinus, seolah alam turut meratapi nasibnya. Di kamar utama puri yang dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Mahamentri I Halu, ia duduk terpaku, matanya menatap hampa pada lukisan langit-langit berukir. Jiwanya tercabik di antara kebencian yang mendalam dan membara terhadap suaminya, serta kenyataan pahit yang kini kembali menghantamnya: ia terperangkap sebagai permaisuri Balaputeradewa, layaknya burung dalam sangkar emas, terpisah dari kebebasan yang pernah sebentar ia rengkuh. Hati Mayang berteriak, merindukan embusan angin pegunungan yang ia rasakan bersama Rukma dan Gardikaraja, namun kini ia terkurung dalam dinding kemewahan yang terasa seperti nisan hidup.Balaputeradewa berdiri kokoh di dekat jendela tinggi, parasnya memancarkan ketegasan dan otoritas. Pandangannya menerawang ke arah kabut tipis yang menyelimuti permukaan
Langkah kaki pasukan Walaing yang mundur dengan tergesa-gesa terhenti sejenak di perbatasan hutan yang gelap. Debu tipis dari sisa pertempuran sebelumnya masih melayang di udara, membawa aroma amis darah dan kehancuran. Balaputeradewa, pemimpin yang baru saja menerima pengkhianatan pedih dari Jentra dan adiknya, Gagak Rukma, merasakan hatinya terhimpit oleh beban ganda: kekalahan di medan perang dan tusukan penghianatan sanak saudara. Dalam kepahitan itu, matanya yang tajam menyapu tepian rimbun semak, mencari jejak musuh atau sisa-sisa sekutu yang setia. Di balik rerimbunan daun, sesosok wanita dengan keanggunan yang tak bisa disembunyikan tampak terpaku mengamati sisa-sisa pertempuran yang menyayat. Kerudung yang semula membingkai wajahnya telah tersingkap, memperlihatkan rona kulit seputih pualam yang sangat dikenalnya. Hatinya, yang hancur berkeping-keping oleh Jentra dan Rukma, mendadak menajamkan pandangannya pada sosok itu. Kerinduan dan amarah laksana badai yang mengamuk."Jad
Medan laga yang menganga luas bak rahang neraka, kini bergetar hebat di bawah injakan kaki ribuan prajurit dan amuk kekuatan sakti. Asap tebal bercampur debu mengepul ke angkasa, mewarnai senja dengan spektrum kelabu nan suram. Di satu sisi arena, seorang pendekar berwibawa, Kunara Sancaka, mengamuk laksana banteng terluka. Setiap sabetan cambuk sakti yang berapi-api miliknya meledak dengan daya hancur luar biasa, menciptakan parit-parit api yang menganga di permukaan tanah. Nyala apinya bagaikan napas naga purba yang murka, melumat apa pun yang dilewatinya. Namun, gempuran dahsyat itu kini dihadapkan pada ketenangan seorang mahaguru strategi sekaligus pendekar tanpa tanding, Jentra Kenanga.Cakram Jentera Biru miliknya berdesing tajam di udara, menari-nari memantulkan cahaya senja yang memudar. Benda pusaka itu, yang bergerak dengan presisi mematikan, beradu dengan setiap lecutan cambuk Kunara, menghasilkan denting logam dan kilatan energi yang menyambar-nyambar. Jentera bagai perwuj







