Mag-log inDebu tebal mengepul dari pijakan kaki-kaki kuda yang berlari bak kesetanan, melukis gumpalan cokelat di ufuk senja saat Mpu Kumbhayoni memacu kudanya dengan liar, menuruni bukit berbatu Abhaya Giri. Hatinya bergemuruh, diselimuti amarah dan keraguan yang menghimpit jiwanya. Tiga Rakai penghasut—Madusupena, Dwijapala, dan Danaraharsa—mengikutinya di belakang, mata mereka memancarkan binar kemenangan yang tersembunyi, sebuah pertanda dari jaring muslihat yang mulai menjerat Sang Rakai Walaing.Setibanya di pelataran luas Abhaya Giri Vihara, pemandangan yang menyambut mereka memanglah luar biasa, jauh melampaui gambaran sekilas yang pernah Mpu Kumbhayoni dengar. Vihara agung itu tampak hidup dan bercahaya, dikelilingi oleh ribuan cahaya lilin yang berkelap-kelip seperti bintang-bintang jatuh ke bumi. Puluhan bhikku berjubah jingga dan kuning dari berbagai negeri berjalan dengan tenang di antara stupa-stupa batu, ada yang berkulit gelap dari dataran India, ada pula yang berwajah teduh dar
Angin kering berhembus menyapu perbukitan Sewu di wilayah Kewu, membawa serta aroma debu dan semangat pembangunan yang mengawang di kejauhan. Di atas sebuah bukit karang di utara Banyu Nibo, Mpu Kumbhayoni, yang kini telah resmi menyandang gelar kebanggaan Rakai Walaing, duduk diam di atas punggung kudanya yang berwana kelabu tua. Jubah kebesaran dengan hiasan patra bermotif kepala raksasa terukir halus menyelimuti tubuhnya, simbol kekuasaan yang baru ia genggam erat. Dari ketinggian posisi mereka, matanya yang tajam menatap jauh ke bawah, ke arah lembah di mana ribuan pekerja tampak serupa semut yang sedang menata batu dan menumbuhkan kemegahan dua karya arsitektural agung: istana Mamatripura yang tengah menjulang dan kuil megah Siwagrha yang dasar-dasarnya telah mulai terlihat.Di belakang Mpu Kumbhayoni, dua orang kepercayaannya, Laturana dan Megarana, berdiri tegak menjaga jarak, sorot mata mereka menelusuri sekitar dengan waspada. Namun, kehadiran tiga Rakai bawahan Rakai Walaing
Gagasan itu, sebuah keputusan agung yang akan membentuk wajah Kerajaan Medang untuk generasi mendatang, telah diputuskan oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan. Bagai guntur yang tiba-tiba menggelegar di tengah cerahnya hari, titah Sang Maharaja menukik tajam, menciptakan riak di kolam kemapanan. Poh Pitu, ibu kota yang selama ini menjadi nadi Kerajaan Medang, sebentar lagi akan menjadi masa lalu. Pusat pemerintahan akan beralih, bersemi kembali di Bromonila, wilayah Kelasa, di tanah yang belum terjamah, di jantung apa yang kelak akan dinamai Mamatripura.Mamatripura bukan sekadar pergantian nama. Ia adalah visi, sebuah mahakarya yang dirancang untuk berdiri tidak hanya sebagai benteng kekuasaan, melainkan juga sebagai mercusuar peradaban, kota yang akan menyatu harmonis dengan irama alam sekitarnya. Ini adalah bukti nyata keseriusan Rakai Pikatan. Mata Sang Maharaja harus mengawasi secara langsung setiap goresan pahat dan tumpukan batu yang membentuk fondasi Siwagrha, candi persembahan agun
Rakai Pikatan merasakan desir ambisi yang kian menggebu. Hatinya terpanggil untuk menyeimbangkan cakrawala spiritual Bhumi Medang. Ia mendambakan sebuah Siwagrha, kediaman suci Bhagawan Siwa, yang kemegahannya takkan lekang oleh pergiliran zaman, sebuah pencapaian yang mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui, keagungan Sambhara Budura. Bagi sang Maharaja, candi agung ini tak hanya menjadi penanda keyakinan; ia adalah mercusuar kejayaan Sanjaya yang harus terpahat abadi dalam sejarah. Namun, langkah pertama dan terpenting adalah menemukan ‘locus sacer’ yang tepat, sebuah tanah suci nan strategis, fondasi spiritual dan material bagi mimpi besar itu.Untuk mewujudkan visi besar itu, Rakai Pikatan segera mengutus dua orang kepercayaannya, Adipati Gagak Rukma dan Wulung. Keduanya dikenal akan ketelitian, kecerdasan, dan kesetiaan mereka kepada takhta. Pagi itu, di balai agung Keraton Mamratipura yang diselimuti suasana khidmat, sang Maharaja mengemban amanat berat.
Di pedalaman pegunungan Walaing, nuansa ketidakpastian mulai menyelubungi sanubari Mpu Kumbhayoni. Sosoknya yang biasanya tegap dan penuh wibawa kini terlihat sering menyendiri, termenung di puncak-puncak bukit yang berpasir. Ia kerap kali menghentikan perjalanan ritualnya di lokasi-lokasi tertinggi, di mana semilir angin gunung menyapu kuncir rambut putihnya yang sudah dipenuhi oleh kegaiban zaman, dan menatap jauh ke arah barat laut, menuju lembah subur Prambanan. Pandangannya yang sarat rindu itu menyiratkan sebuah getir yang mendalam, seolah terbelenggu di antara kewajiban leluhur dan kenyataan pahit yang kini mendominasi tanah Jawa. Berbagai laku tapa, dari ritual Tantra kuno hingga meditasi yang menguras daya pikir, seolah menjadi pelarian bagi kegalauan yang terus menghantuinya.Adiknya, Sri Gunting, seorang penasihat sekaligus sahabat yang telah menemaninya dalam berbagai pasang surut kehidupan, tidak dapat mengabaikan perubahan tersebut. Ia mengenal tabiat Mpu Kumbha
Kemenangan atas Kunara Sancaka, pengukuhan kedaulatan Bhumi Medang atas bumi Mataram, serta kelahiran sang penerus takhta yang mulia, Dyah Lokapala – seorang pangeran yang kelak dikenal dengan gelar agung Rakai Kayuwangi – seharusnya menjadi penanda bagi datangnya era kedamaian abadi bagi seluruh persada Medang. Ibu kota diselimuti suasana suka cita dan harapan, dengan upacara-upacara adat nan meriah yang silih berganti diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas karunia Sang Hyang Widi. Namun, di balik kemegahan perayaan yang menyilaukan mata dan riuhnya genderang kemenangan, sebuah riak kegelisahan yang halus namun mendalam, bak racun yang menyusup ke dalam sari kehidupan, mulai tumbuh subur dari celah-celah di dalam tubuh wangsa Sanjaya itu sendiri, mengancam untuk meretakkan fondasi yang telah dibangun dengan susah payah.Puncak dari serangkaian perayaan dan konsolidasi kekuasaan tersebut adalah Pisowanan Ageng, sebuah pertemuan akbar yang menghimpun seluruh pembesar watak, para pa







