Home / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 91 Kegelisahan Sang Rakai

Share

Bab 91 Kegelisahan Sang Rakai

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2025-11-05 22:45:27

Watak Panaraban terasa seperti memegang bom waktu yang sebentar lagi meledak. Suasana mencekam menyelimuti setiap sudut benteng batu itu, diselimuti aroma tanah basah dan ketegangan yang kian mengental. Rakai Panaraban sendiri, di ruang utamanya, mondar-mandir seperti harimau lapar yang terjebak dalam sangkar emas. Pikirannya kalut. Mpu Kumbayoni yang dia kenal adalah seorang pemberontak? Dan parahnya lagi, Raja sampai memerintahkan pembumihangusan Panaraban? Ini mimpi buruk.

"Diajeng," suara Rakai Panaraban berat, pecah dalam ketegangan yang menumpuk di dadanya. Matanya menatap Dyah Ayu Manohara yang berdiri tegar, walau samar terbayang gurat kecemasan di wajahnya. "Aku harus berjuang, ini tanah kita. Tapi kau, kau dan anak-anak... harus selamat. Nggak peduli apapun caranya."

Dyah Ayu Manohara meraih tangan suaminya, genggaman yang terasa kuat sekaligus rapuh. "Jangan bicara begitu, Kangmas. Kita akan hadapi ini bersama."

Rakai Panaraban menggeleng pelan. "Ini bukan lagi soal 'bersam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 219: Mamatripura, Kota di Atas Aliran Suci

    Gagasan itu, sebuah keputusan agung yang akan membentuk wajah Kerajaan Medang untuk generasi mendatang, telah diputuskan oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan. Bagai guntur yang tiba-tiba menggelegar di tengah cerahnya hari, titah Sang Maharaja menukik tajam, menciptakan riak di kolam kemapanan. Poh Pitu, ibu kota yang selama ini menjadi nadi Kerajaan Medang, sebentar lagi akan menjadi masa lalu. Pusat pemerintahan akan beralih, bersemi kembali di Bromonila, wilayah Kelasa, di tanah yang belum terjamah, di jantung apa yang kelak akan dinamai Mamatripura.Mamatripura bukan sekadar pergantian nama. Ia adalah visi, sebuah mahakarya yang dirancang untuk berdiri tidak hanya sebagai benteng kekuasaan, melainkan juga sebagai mercusuar peradaban, kota yang akan menyatu harmonis dengan irama alam sekitarnya. Ini adalah bukti nyata keseriusan Rakai Pikatan. Mata Sang Maharaja harus mengawasi secara langsung setiap goresan pahat dan tumpukan batu yang membentuk fondasi Siwagrha, candi persembahan agun

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 218: Tanah Suci Param Brahman

    Rakai Pikatan merasakan desir ambisi yang kian menggebu. Hatinya terpanggil untuk menyeimbangkan cakrawala spiritual Bhumi Medang. Ia mendambakan sebuah Siwagrha, kediaman suci Bhagawan Siwa, yang kemegahannya takkan lekang oleh pergiliran zaman, sebuah pencapaian yang mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui, keagungan Sambhara Budura. Bagi sang Maharaja, candi agung ini tak hanya menjadi penanda keyakinan; ia adalah mercusuar kejayaan Sanjaya yang harus terpahat abadi dalam sejarah. Namun, langkah pertama dan terpenting adalah menemukan ‘locus sacer’ yang tepat, sebuah tanah suci nan strategis, fondasi spiritual dan material bagi mimpi besar itu.Untuk mewujudkan visi besar itu, Rakai Pikatan segera mengutus dua orang kepercayaannya, Adipati Gagak Rukma dan Wulung. Keduanya dikenal akan ketelitian, kecerdasan, dan kesetiaan mereka kepada takhta. Pagi itu, di balai agung Keraton Mamratipura yang diselimuti suasana khidmat, sang Maharaja mengemban amanat berat.

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 217: Persembahan untuk Sang Mahadewa

    Di pedalaman pegunungan Walaing, nuansa ketidakpastian mulai menyelubungi sanubari Mpu Kumbhayoni. Sosoknya yang biasanya tegap dan penuh wibawa kini terlihat sering menyendiri, termenung di puncak-puncak bukit yang berpasir. Ia kerap kali menghentikan perjalanan ritualnya di lokasi-lokasi tertinggi, di mana semilir angin gunung menyapu kuncir rambut putihnya yang sudah dipenuhi oleh kegaiban zaman, dan menatap jauh ke arah barat laut, menuju lembah subur Prambanan. Pandangannya yang sarat rindu itu menyiratkan sebuah getir yang mendalam, seolah terbelenggu di antara kewajiban leluhur dan kenyataan pahit yang kini mendominasi tanah Jawa. Berbagai laku tapa, dari ritual Tantra kuno hingga meditasi yang menguras daya pikir, seolah menjadi pelarian bagi kegalauan yang terus menghantuinya.Adiknya, Sri Gunting, seorang penasihat sekaligus sahabat yang telah menemaninya dalam berbagai pasang surut kehidupan, tidak dapat mengabaikan perubahan tersebut. Ia mengenal tabiat Mpu Kumbha

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 216: Racun di Pisowanan Ageng

    Kemenangan atas Kunara Sancaka, pengukuhan kedaulatan Bhumi Medang atas bumi Mataram, serta kelahiran sang penerus takhta yang mulia, Dyah Lokapala – seorang pangeran yang kelak dikenal dengan gelar agung Rakai Kayuwangi – seharusnya menjadi penanda bagi datangnya era kedamaian abadi bagi seluruh persada Medang. Ibu kota diselimuti suasana suka cita dan harapan, dengan upacara-upacara adat nan meriah yang silih berganti diselenggarakan sebagai bentuk syukur atas karunia Sang Hyang Widi. Namun, di balik kemegahan perayaan yang menyilaukan mata dan riuhnya genderang kemenangan, sebuah riak kegelisahan yang halus namun mendalam, bak racun yang menyusup ke dalam sari kehidupan, mulai tumbuh subur dari celah-celah di dalam tubuh wangsa Sanjaya itu sendiri, mengancam untuk meretakkan fondasi yang telah dibangun dengan susah payah.Puncak dari serangkaian perayaan dan konsolidasi kekuasaan tersebut adalah Pisowanan Ageng, sebuah pertemuan akbar yang menghimpun seluruh pembesar watak, para pa

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 215: Perayaan di Bhumi Mataram

    Bhumi Mataram berdandan, menyongsong hari besar yang terukir dalam sejarahnya. Di jantung kerajaan, kota Medang bersolek dalam kemegahan yang tak tertandingi, melampaui segala perayaan yang pernah ada. Janur kuning melengkung anggun di setiap gerbang istana, menyambut kedatangan para pembesar dari segala penjuru, para bupati dan nayaka praja, para sanak saudara, serta rakyat jelata yang berkumpul memenuhi alun-alun. Setiap hiasan, setiap untai bunga melati yang harum semerbak, seolah bercerita tentang kebahagiaan. Hari ini adalah hari ketika dua hati tulus, Wulung dan Wulan, menyatukan ikatan suci, setulus pengabdian mereka pada negara dan raja.Di pelataran utama Pendopo Ageng, Wulung berdiri gagah dalam balutan dodot kebesaran berwarna keemasan, sulaman benang perak melukis motif batik dengan simbol kekuasaan dan kebijaksanaan. Sebuah keris bertahta permata Zamrud Katon menyelinap gagah di pinggangnya, memancarkan aura ketegasan sekaligus kharisma yang mendalam. Di sampingnya, Wulan

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 214 Gugurnya Ular Syailendra

    Angin dingin menusuk tulang di lereng Candramuka, membawa serta embun beku yang merangkul setiap helai pinus dan dedaunan hutan. Kabut tebal menyelimuti area, menciptakan suasana mencekam yang seolah menahan napas, sebuah panggung alam yang murung bagi drama akhir. Di bawah komando Panglima Sanditaraparan, Gagak Rukma, pasukan elite Bhumi Medang telah mengepung posisi persembunyian terakhir Kunara Sancaka, duri dalam daging kemaharajaan yang tak kunjung layu. Strategi pengepungan telah direncanakan dengan cermat, tanpa celah bagi Sang Prahara untuk melarikan diri dari takdirnya.Kunara Sancaka, kini tampak kusam dengan jubah koyak dan rambut gimbal yang berserakan, berdiri tegak di atas sebongkah batu besar. Aura gelap masih menyelimutinya, meskipun pasukannya telah hancur dan semangat para pengikutnya telah padam. Matanya yang merah, bagai bara api iblis yang membara di tengah malam pekat, tetap memancarkan kobaran amarah yang tak terkendali. Di tangannya, cambuk sakti Pralayakusuma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status