Mag-log inMikhaila Ameera Violetta POV
Aku duduk di sofa sambil memperhatikan Bara yang sedang sibuk memasak di dapur apartemen yang aku sewa. Ya, sejak dua hari yang lalu, Bara ikut pindah ke sini bersamaku. Aku sudah mencoba mengusirnya agar pulang ke rumah saja dan membiarkan aku tinggal di sini seorang diri sampai berita-berita tentang kedekatan kami di media mere
Mikhaila Ameera Violetta POVEntah aku harus marah atau merasa bahagia mendengar alasan Bara yang mengeluarkan bikini milikku dari dalam koper. Padahal aku sengaja membeli bikini-bikini itu khusus untuk aku bawa ke Queensland. Gagal sudah sepertinya menggoda suami dengan menggunakan bikini. Kalo tahu ujungnya begini, aku juga tidak mau repot-repot berselancar di aplikasi belanja cuma untuk mencari mana yang menurutku cocok untuk menjalankan misiku ini."Ayo, Yang kita jalan-jalan ke pantai.""Jalan-jalan? aku pakai daster batik ini?""Iya, Yang enggak pa-pa. Beneran serius aku enggak malu gandeng emak-emak."Sompret ....Ba
Bara Nareswara POVSeminggu di rumah Grandma benar-benar membuatku jadi anak rumahan. Baru sekali ini ketika aku jauh-jauh mudik ke Australia, namun kami tidak berlibur ke mana-mana. Hampir seluruh hari dihabiskan di rumah saja. Mungkin salahku juga yang tidak protes kepada Mikha tentang hal ini. Kalo aku protes mungkin ia juga akan memahaminya dan mau berjalan-jalan meskipun hanya disekitar Royal Botanic Gardens atau ke kebun binatang Taronga. Karena aku yakin jika aku mengusulkan pergi ke Opera House, pasti Mikha menolaknya dengan alasan sudah pernah ke sana.Kini yang ada di depanku sekarang adalah Mikha yang sedang duduk di sofa sambil menangis sesenggukan. Ia masih baper karena besok kami akan terbang ke Queensland. Semoga saja besok Mikha mau aku ajak untuk berpetualang di sana.
Mikhaila Ameera Violetta POVSiang ini aku dan Bara sudah berada di ruang keluarga rumah Grandma Bara yang ada di Sydney. Sejak beberapa hari sebelum kami berangkat ke sini, suasana hatiku jauh lebih baik setelah aku berbicara dengan Mama Belinda. Mungkin aku beruntung karena memiliki ibu mertua yang bisa serasa jadi ibu kandung. Dengannya aku bisa mencurahkan apa yang aku rasakan. Saran dari Mama adalah aku cukup berhenti melihat akun media sosial ataupun televisi. Aku harus menikmati hidup dan waktu yang masih aku miliki dengan Bara sebelum kami akhirnya sama-sama sibuk dengan kegiatan kami lagi.Jadi siang ini aku dan Bara memilih duduk bersama Grandma Barbara di sini. Dasarnya Bara memang kurang ajar, bisa-bisanya ia memanggil Grandma-nya dengan panggilan Barbie. Sumpah, aku sempat tidak enak kepada Grandma ketika pertama kali aku mendengar Bara memanggil begitu. Tapi menurut Grandma, Bara sudah memangilnya begitu sejak ia kecil. Ia bahkan memangil Bara dengan panggilan Ken. Kelua
Bara Nareswara POVSejak pulang dari kondangan hampir satu Minggu yang lalu, Mikha lebih sering menyibukkan dirinya sendiri dan jarang ada di rumah bersamaku. Aku tahu memang dia lebih sering pergi ke panti asuhan dan rumah sakit dari pagi sampai sore. Malam hari kadang saat ia sampai di rumah, ia memilih mengabaikan aku. Entah kenapa Mikha tidak bisa menerima alasanku yang aku tidak memberitahu masalah kedekatan Papanya dengan Fiorella. Model muda pendatang baru yang sedang naik daun.Bahkan hasil wawancara diriku dan Mikha saja kala di kondangan itu kalah booming dengan berita Fio yang menggandeng Papa Rey. Justru karena Fio mengaku terang-terangan bila ia sedang menjalin hubungan dengan Papa Rey, akhirnya latar belakang Papa Rey yang sudah memiliki dua orang anak dikulik habis-habisan. Tidak hanya itu saja, akun sosial media Mikha juga penuh sekali dengan orang yang menginvite dirinya untuk berteman. Sayangnya Mikha memilih meng-uninstal aplikasi sosial medianya.Selama seminggu ju
Mikhaila Ameera Violetta POVMalam ini aku sudah siap dengan gown berwarna merah rancangan salah satu designer langganan Mama Belinda. Sebenarnya aku sedikit tidak percaya diri dengan model gaun berbelahan tinggi seperti ini, tapi memang aku akui, ini membuat aset-aset terbaik di tubuhku menonjol dengan maksimal. Termasuk badanku yang mulai menyusut meskipun belum kembali ke berat badan awal sebelum hamil."Kamu kenapa sih, Yang ngaca terus?""Enggak PD, Bar. Badan masih melar, takut juga kalo ASI-nya rembes."Memang sejak Langit meninggal, aku masih rajin memompa asiku yang aku berikan kepada salah satu bayi di rumah sakit karena ibunya meninggal dunia setelah melahirkannya
Bara Nareswara POVSetelah menunggu kabar selama beberapa waktu, akhirnya aku tidak lolos seleksi jadi aktor. Bukannya kecewa, aku justru bahagia. Bahkan aku dan Mikha bisa tertawa bersama karena menertawakan kebodohanku ini. Toh sudah jelas aku tidak bisa berakting, penulisnya saja yang sedikit aneh, mau memakai aku menjadi pemeran utama prianya hanya karena namaku baru saja wara-wiri lagi di media namun dengan masalah yang berbeda dengan biasanya. Jika dulu biasanya aku digosipkan dengan banyak perempuan, namun saat ini justru karena aku kehilangan anakku untuk selama-lamanya. Sudah tahu kehilangan itu sakit, tapi ada aja yang tega mengatakan jika ini karma untukku. Tanpa mereka harus mengatakan itu juga aku sadar kalo aku pantas mendapatkan balasan dari apa yang aku perbuat dulu, tapi jangan bawa-bawa kondisi Langit itu sebagai karma. Karena Lan







