LOGINBara Nareswara POV
Waktu libur yang aku miliki setelah tour 50 kota dengan bandku yang beranggotakan aku, Eldrico dan Kafka, aku gunakan untuk menikmati dunia malam kali ini bersama para teman wanitaku. Aku yang memang sejak dulu tidak mempercayai cinta apalagi ikatan sebuah hubungan memilih melakukan FWB alias Friend With Benefits dengan beberapa wanita yang ada di sekelilingku. Okay, anggaplah aku ini bajingan atau bahkan lelaki kardus, tapi percayalah bahwa 90 persen lebih ajakan bercinta di atas ranjang itu bukan berasal dariku, tapi dari para wanita yang sudah terpesona dengan diriku. Aku yang lahir dengan darah campuran luar negri ini tentunya membuat para wanita semakin menggilaiku. Apalagi popularitas diriku ini yang anak tunggal seorang model internasional sedangkan Papaku yang memiliki jabatan penting di berbagai perusahaan besar dunia. Parahnya semua ini semakin menjadi jadi sejak aku menjadi seorang vokalis band dan banyak para wanita yang mengejar ngejar diriku. Sampai detik ini belum ada satupun wanita yang bisa membuatku ingin tetap tinggal bersamanya hingga akhir hayat dan berbagi semua rasa yang aku rasakan.
Eldrico : bro, gue nggak bisa datang. Kasian si Rara sendirian di rumah.
Kafka : Gue juga nggak bisa ikut soalnya pulang ke rumah Mama.
Bara : ah, bangke lo berdua. Gue sendirian lagi.
Kafka : bokis banget lo. Mana mungkin lo sendirian tanpa di kelilingi para bidadari.
Eldrico : bidadari pencari popularitas. Masih mending bini gue nggak mau terekspos media 🤣
Bara : nggak usah muna lo, El. Sebenarnya lo pingin juga si Rara akuin lo di hadapan publik kalo lo itu suaminya.
Eldrico : gue hargain privasi dia. Dan gue semakin yakin kalo gue sayang sama dia pada akhirnya gue nggak mau tangan-tangan kejam media menjamahnya. Karena itu lebih baik dia sembunyi aja, yang penting orang-orang terdekat gue maupun dia tau kalo kita sudah menikah.
Kafka : fix, kawin sama cewek lebih tua ternyata membuat laki-laki semakin dewasa dan matang cara berfikirnya ya, kalo gitu gue otw cari oma-oma.
Eldrico : gue lempar kutang juga mulut lo, Kaf.
Kafka : okay, gue udah mangap nih, buruan lempar.
Aku memilih untuk mengabaikan percakapan antara diriku dengan mereka yang terjadi melalui pesan W******p. Aku tutup handphoneku lagi dan berniat pergi dari kursi ini karena sudah semakin banyak temanku malam ini yang teler. Dengan tinggi tubuh yang di atas rata-rata pria asli negara ini, aku cukup tinggi menjulang dengan tinggi 189 centimeter. Bahkan aku adalah yang paling tinggi daripada Eldrico dan Kafka.
Dalam keadaan penuh sesak lantai club' malam ini tidak sengaja aku menabrak seorang wanita cantik yang terlihat setengah teler. Wait, tidak hanya cantik, bentuk tubuhnya begitu menggoda iman, apalagi bemper depannya yang hmm, aku yakin pasti begitu nikmat saat aku sentuh dan remas. Wanita yang lain daripada wanita yang biasa aku temui di club' malam. Biasanya banyak wanita yang akan langsung memaparkan senyum menggoda dan memintaku untuk berlama lama tinggal hingga akhirnya kami berakhir di atas ranjang dengan saling memuja satu sama lain. Bahkan kadang aku akan lupa dengan apa yang semalam terjadi. Bagiku sex sudah bukan lagi hal yang sakral tapi lebih ke kegiatan menyalurkan kebutuhan. Entah kenapa aku menjadi laki-laki seperti ini? Padahal aku lahir dari pasangan harmonis dan memiliki atittude yang bagus. Satu hal yang menurutku menjadi alasan aku bisa seperti ini, mungkin karena pengaruh dunia hiburan yang tidak semuanya selalu positif.
Sejak menabrak dirinya, aku menunggu di meja pojok yang memberikanku akses mengamati seluruh ruangan di sini. Hingga akhirnya aku menemukan wanita yang mengenakan dress hitam itu keluar dari sana. Bukannya menuju ke tempatnya semula, ia justru menuju ke pintu keluar. Melihatnya keluar, aku mengikutinya dengan menjaga jarak aman kami. Baiklah, kini gairahku mulai bangkit saat melihatnya berjalan dengan pinggulnya yang bergoyang dengan indah. Sungguh sempurna sekali mahluk ciptaan Tuhan ini.
Wanita itu berhenti di dekat parkiran mobil dan sedang sibuk dengan handphone yang ada di tangannya. Entah apa yang terjadi padanya namun aku mendengarnya berteriak sambil menangis secara bersamaan.
"Aaaaa..." Teriak wanita itu di susul ocehannya tentang hidup. "Semua sama aja. Di jodohin? Bullshit! Gue nggak akan mau!"
Brugg....
Brugg....
Brugg.....
Wanita itu memukul mukul kap mobil depan entah miliknya atau milik orang lain. Wow, wanita yang cukup menarik karena aku yakin dia akan beringas dan bukan wanita yang akan pasrah begitu saja ketika aku bisa mengajaknya bergulat di atas ranjang. Jiwa players yang ada di dalam diriku bangun dan aku segera berjalan mendekati wanita itu.
Aku berdeham saat ada di dekatnya yang membuatnya membalikkan badannya untuk menatapku. Ya Tuhan, ternyata dia lebih cantik daripada tadi saat aku melihatnya di dalam club'. Bukannya menyapaku, dia hanya memperhatikanmu tanpa membuka mulutnya. Aku mencoba tersenyum kepadanya.
Apakah aku aneh atau bagaimana menurut dirinya karena ia kini telah menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"What happened with you?" Hanya itu yang coba aku tanyakan kepadanya.
Bukannya melunak seperti wanita lain, yang ada wanita ini justru mengeluarkan kedua tanduk tak kasat mata yang ada di kepalanya. Bahkan kini terlihat bahwa emosi sedang menyelimuti dirinya.
"Bukan urusan Lo!" Sergahnya galak hingga membuatku memundurkan badanku saking kagetnya dengan jawabannya.
Liar.
Itulah kata yang tepat menggambarkannya dan aku semakin tertantang untuk menjinakkannya, bagaimanapun caranya, aku pastikan aku akan mendapatkannya, cepat atau lambat."Siapa tau gue bisa menjadi pendengar yang baik buat masalah Lo."
Wanita itu memilih meninggalkan diriku begitu saja untuk masuk kembali ke club malam. Saat ia melewatiku, aku hanya bisa memutar tubuh dan kembali masuk ke dalam club'. Aku terus mengikutinya yang tampak celingukan di tempat ini. Sepertinya ia mencari seseorang. Bahkan saat ia tidak menemukan orang yang ia cari, segera ia mengambil handphonenya. Entah apa yang mereka obrolkan, namun yang jelas setelah telepon itu di tutup, wanita itu menuju ke meja bar dan meminta segelas Martini. Aku duduk di sampingnya sambil memperhatikannya dengan seksama. Entahlah, sepetinya aku tidak menarik perhatiannya sama sekali atau mungkin dia tidak mengenaliku? Mustahil jika ia tidak tau siapa aku, karena seantero negri Konoha ini tau siapa aku.
Lelah melihatnya yang terus mencoba mengabaikanku, aku berdeham yang membuatnya menoleh menatapku sebentar dan kembali lagi ia meminta minuman beralkohol tinggi itu. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Sepertinya kini ia sudah mulai hampir mabuk karena kini ia menaruh kepalanya di atas meja sambil menatapku dengan senyuman manisnya. Aku menahan napas saat ia mengangkat tangan kanannya dan ia menepuk pipiku pelan berkali kali.
"Ganteng juga lo, mirip Mas Rio," Katanya singkat lalu ia meringis.
Fix, dia sudah mabuk. Kini bahkan saat ia menarik tangannya dan mencoba bangkit berdiri, aku harus membantunya agar tidak terjatuh. Aku harus menahan malu saat dirinya mulai bernyanyi sambil berteriak-teriak sepanjang jalan kami keluar dari club'. Andai suaranya begitu indah, aku yakin telingaku tak akan keberatan, namun ini? Suaranya sudah seperti kodok terjepit pintu kamar mandi.
Aku terus memapahnya hingga akhirnya kami berhenti di depan mobilku. Wanita itu kini berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pintu mobil penumpang depan. Aku menatapnya dalam-dalam yang sedang mengerucutkan bibir dan membetulkan rambut panjangnya yang terurai. Ada perasaan aneh yang muncul di dalam diriku, aku ingin memanggilnya dengan panggilan yang lebih akrab.
"Nama kamu siapa?"
"Violet." Jawabnya singkat dan aku langsung memegang tubuhnya yang sudah limbung dan hampir mencium tanah.
"Rumah kamu di mana?"
Dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan sebuah ide gila muncul di kepalaku.
"Kalo begitu pulang ke rumah aku, mau?"
Ia meringis dan menatapku dengan tatapan polosnya. "Emang boleh?"
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum.
"Ehmm... Nanti di marahin Mama kamu."
Mendengar jawabannya aku tertawa cekikikan. Sumpah, wanita ini begitu lucu bagiku dan rasanya aku sudah tidak sabar untuk merasakan rasanya.
"Enggak, tenang aja. Aku di rumah sendirian. Udah buruan masuk ke dalam."
Aku tarik tubuhnya ke depan hingga tubuh bagian depan kami saling bersentuhan dan aku bukakan pintu mobil untuknya. Setelah perempuan yang bernama Violet itu masuk ke dalam, aku segera menutup pintu mobil dan berjalan menuju ke sisi pengemudi.
Akhirnya malam ini aku berhasil mendapatkannya dan aku pastikan aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik baiknya. Aku akan memberikan Violet surga dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Aku akan menghadirkannya untuknya. Semoga saja ia tidak akan kecewa dengan performa permainanku.
***
Bara Nareswara POVPukul lima sore akhirnya aku dan Mikha pamit dari rumah orangtua Sofia. Meksipun mereka menawarkan kepada kami untuk menginap, namun rasanya kami akan lebih nyaman dan bebas jika tinggal di hotel saja.Selama perjalanan menuju ke hotel, kami mampir ke beberapa tempat terlebih dahulu seperti telaga yang tidak jauh dari rumah Sofia untuk melihat keindahan sunset di sana. Setelah itu, Mikha sempat mengajak diriku mampir di sebuah minimarket. Awalnya bukan untuk berbelanja, namun untuk numpang di toiletnya. Entahlah, istriku itu lebih suka menumpang toilet di minimarket kala kami berpergian daripada di pom bensin. Meksipun pada akhirnya tetap saja akan berbelanja minimal adalah air mineral. Tujuan selanjutnya adalah warung pinggir jalan untuk makan malam. Cukup nyaman juga aku di sini karena tidak ada yang menyadari siapa diriku. Mungkin karena tempatnya tidak terlalu ramai dan pedagangnya sudah paruh baya."Pak, mie gorengnya satu, mie kuahnya satu. Minumnya jeruk pana
Mikhaila Ameera Violetta POV"Kamu sama Bara jauh-jauh ke sini tapi malah mau ke Wonosari. Eyang masih kangen sama kamu."Aku tersenyum mendengar perkataan Eyang Putri. Memang sejak Chava meninggal, aku adalah cucu perempuan satu-satunya yang Eyang miliki. Kedua sepupuku yang merupakan anak Om Chandra adalah laki-laki, sedangkan Tante Retno, sampai sekarang juga belum ada tanda-tanda akan memberikanku sepupu baru."Besok aku pulang ke sini, Eyang.""Kamu mau nginap di sana?""Iya. Di sana 'kan ada hotel baru. Si Bara ngajakin staycation."Aku bisa melihat Eyang yang tampa
Bara Nareswara POVSelama satu bulan ini aku sudah mengurangi jadwal manggungku di saat weekend dan tentunya berusaha pulang tepat waktu dari kantor setiap hari. Itu semua demi suksesnya program memiliki momongan dengan Mikha. Sebenarnya sedikit heran juga, kenapa dulu saat kami tidak merencanakan untuk memiliki momongan, yang ada Tuhan justru dengan mudahnya memberikan garis dua untuk Mikha, sedangkan sekarang? Sudah minum vitamin setiap hari, bercinta dengan posisi yang memungkinkan untuk hamil lebih besar sampai makan makanan yang sehat, tapi Mikha masih kedatangan tamu juga. Mungkin benar kata orang jika setelah menikah, perjuangan memiliki anak bukan hanya sebatas enak-enak di atas ranjang semata."Bar, aku masuk masa subur ini. Kamu pulang on time ya?"
Mikhaila Ameera Violetta POV Aku menatap penampilanku di depan cermin malam ini. Dari ujung rambut sampai ujung kaki semua sudah terlihat sempurna. Namun sayangnya karena aku sedikit tidak bahagia melakukan semua ini, rasa malasku bisa terlihat dari aura wajahku. Bara saja bisa melihatnya dengan jelas hingga ia memilih memelukku dari arah belakang tubuhku."Yang, setelah kita ambil hasil tes HSG dan tes analisa sperma kemarin, ini adalah jalan selanjutnya. Kita coba minta doa dari orangtua."Ya, memang beberapa hari yang lalu aku dan Bara mengambil hasil tes kami berdua di rumah sakit. Hasilnya benar-benar memuaskan. Tidak ada sumbatan atau masalah di tuba falopiku. Kualitas benih Bara juga baik. Aku tanyakan kepada dokter Hans apakah ka
Bara Nareswara POVSepertinya ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Ini terbukti dari hasil rapat yang baru saja aku ikuti bersama Papa dan jajaran petinggi perusahaan. Bisa dibilang omset penjualan menurun meskipun tidak secara signifikan, tapi sejak memasuki bulan September hingga kini ke Oktober benar-benar menunjukkan penurunan. Kata Papa hal ini wajar karena hampir masuk tahun politik. Aku tidak paham hubungannya apa, tapi kata Papa tidak perlu dicemaskan secara berlebihan. Perusahaan ini sudah berhasil melewati masa-masa pandemi yang cukup berat hingga kami harus merumahkan berapa persen karyawan kami. Semoga saja situasi saat ini tak akan seburuk beberapa tahun lalu. Jika mengingat masa itu, aku cukup prihatin melihat apa yang terjadi pada keluargaku. Selain karena kondisi perusahaan yang morat-marit, Papa bahkan sampai masuk ke rumah sakit k
Mikhaila Ameera Violetta POVDua hari ini bagian intiku terasa sedikit sakit setelah menjalani tes HSG di rumah sakit. Karena aku sudah mengeluh setelah menjalani tes HSG, maka Bara memutuskan bahwa tes torch untuk kami akan dilakukan lain waktu saja. Padahal aku berharap kami akan bisa langsung melakukannya agar tidak bolak balik ke rumah sakit.Aku juga berharap hasil pemeriksaan kami yang akan kami ambil minggu depan benar-benar baik. Terpaksa aku harus mengundur waktu untuk mengambil hasil tes itu karena Bara tidak mengijinkan aku mengambilnya sendiri. Mungkin dia takut jika kejadian dulu saat aku mengambil tes kehamilan Langit akan terulang lagi."Yang, aku hari ini pulangnya telat, jadi nanti kamu makan malam sendiri aja, ya?"







