Home / Young Adult / Bara di Hati Mikha / 3. Gue bukan Mas Rio!

Share

3. Gue bukan Mas Rio!

last update publish date: 2026-06-17 08:28:44

Mikhaila Ameera Violetta POV

Malam ini aku duduk di samping Mas Rio yang terlihat begitu manis memperlakukan diriku. Sepanjang perjalanan di dalam mobil ini, Mas Rio terus memegang tangan kananku dengan tangan kirinya dan sesekali ia mencium punggung tanganku yang membuatku terbang melayang ke angkasa.

Ya Tuhan....

Akhirnya mas Rio sadar jika aku lebih menggairahkan, cantik dan tentunya lebih muda dari Tante Retno.

"Mas... Mas Rio?"

Aku memanyunkan bibirku setiap kali aku memanggil namanya namun dirinya hanya diam saja. Apa mas Rio berubah menjadi tuli sejak meninggalkan Tante Retno?

"Don't call me Mas Rio?"

Aku mengernyitkan keningku saat mendengar perkataannya.

"Terus aku mesti manggil apa, Mas?"

"Panggil aku sayang."

Ya Tuhan....

Kenapa Mas Rio tiba-tiba sebucin ini? Oh, aku tidak akan sok jual mahal kepadanya. Aku akan menuruti semua keinginannya. Bahkan jika Mas Rio kini berstatus duda dan mantan suami dari tanteku pun aku tidak akan menolaknya.

Aku angkat tangan kananku dan aku letakkan pada pipi kiri Mas Rio yang ditumbuhi jambang tipis-tipis. Aku merasa geli sendiri saat jambang tipis Mas Rio itu mengenai telapak tanganku.

"Sayang?" Panggilku pelan padanya.

"Hmm?"

"Aku tetap masih cinta sama kamu walau kamu sempat khilaf sama Tanteku sendiri."

Mas Rio masih diam saja hingga akhirnya dia memilih membunyikan klakson mobil. Tidak lama setelahnya seorang satpam membukakan pintu gerbang dan mobil yang kami tumpangi langsung masuk begitu saja ke dalam.

Saat memasuki halaman rumah itu, aku dibuat begitu takjub. Mimpikah ini? Bagaimana bisa mas Rio sekaya ini? Ah, tentu saja dia kaya, kalo tidak bagaimana dia akan membiayai gaya hidup Tanteku dulu yang begitu hedon? Untuk sekedar gincu dan bedak saja harganya bisa menembus selembar alias sejuta lebih.

Mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah garasi yang besar dan terdapat tiga mobil lain di tempat ini. Aku menggelengkan kepalaku saat menyadari tiga mobil di tempat ini tergolong mobil mewah. Terdapat mobil Lexus LM 350 berwarna hitam yang mirip milik Mamaku. Aku tahu harganya menembus 2,42 milyar rupiah. Ada sebuah Lamborghini Aventador berwarna arancio argos dan sebuah mobil hardtop berwarna hitam.

Aku merasakan kedua tangan mas Rio tiba-tiba memegang kedua pipiku yang membuatku menoleh untuk menatapnya. Saat mata kami beradu aku bisa melihat bagaimana wajah Mas Rio yang sedang memandang diriku dengan fokus.

"Violet, Sayang ini rumah aku. Kamu adalah perempuan pertama yang aku ajak ke rumah ini."

Wait.... wait ... wait...

Apa Mas Rio bilang? Aku perempuan pertama yang ia ajak ke tempat ini?

Oh my God....

Berarti selama ini Tante Retno tidak tahu jika Mas Rio cukup tajir melintir? Walau aku tidak peduli dengan saldo rekening milik Mas Rio, tapi ini bisa menjadi nilai plus mas Rio kelak di depan Papa dan Mama. Supaya Mama dan Papa tahu jika aku tidak salah memilih pasangan. Aku tidak salah melabuhkan hatiku kepada sosok Riosandi Gumilang alias Mas Rio.

"Apa Tante Retno pernah ke sini?"

Mas Rio tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Yes...yes....yes....

Gelengan kepala Mas Rio berhasil membuatku merasa bahagia hingga ingin salto sambil guling-guling di tengah jalan andai itu bisa aku lakukan saat ini.

"Sekarang kita turun, ya?"

Aku menggelengkan kepala dan mengangkat kedua tanganku untuk memegang kedua pipi Mas Rio balik.

"Mas, i want you," Bisikku pelan di depan wajahnya yang membuat Mas Rio memamerkan senyum mautnya. Jika setiap hari Mas Rio memamerkan senyumannya seperti ini, bisa-bisa aku diabetes.

"Kamu ingin apa?"

Mas Rio ini sok polos sekali, kenapa dirinya tidak langsung paham dengan maksudku. Dengan menyingkirkan rasa malu serta harga diri yang aku sudah buang ke sungai Ciliwung, aku memilih memajukan kepalaku dan aku melesatkan bibirku pada bibir Mas Rio yang berwarna pink ini. Saat bibir kami sudah saling menempel dan tertaut, aku mulai mencium Mas Rio dengan pelan dan tanpa lidah bermain di mana-mana. Aku ingin mengungkapkan segala rasa yang aku rasakan kepada Mas Rio. Aku menutup mataku saat aku merasakan Mas Rio mulai membalas ciuman yang aku berikan kepadanya. Mas Rio bahkan menciumku dengan ciuman yang tidak kalah lembutnya hingga membuatku merasa tak berdaya di bawah dominasinya.

Tanpa aku sadari setetes air mata jatuh membasahi pipiku. Aku tahu, aku mencintai Mas Rio dan kemungkinan aku telah berselingkuh dengan dirinya saat ini muncul di dalam kepalaku karena bagaimanapun dirinya telah menikahi tanteku belum lama ini.

Maaf, Tante Retno... maaf...

aku merasa memang seharusnya Mas Rio adalah milikku sejak dulu. Sejak aku pertama berjumpa dengannya di kampus. Demi dirinya aku rela mengikuti kegiatan mapala. Demi dirinya juga aku rela memberikan segalanya yang aku miliki tidak terkecuali nyawaku. Apa saja yang Mas Rio mau dariku, aku akan dengan senang hati memberikannya tanpa berharap apapun selain ia membalas cintaku.

***

Bara Nareswara POV

Damn it!

Tiba-tiba aku membenci nama Rio secara tiba-tiba hanya karena Violet terus memanggil diriku dengan nama itu. Apakah dia tidak sadar jika laki-laki yang sedang menyetir di sebelahnya adalah aku, Bara Nareswara. Seorang vokalis band terkenal yang digilai jutaan perempuan di negeri Konoha. Walau awalnya aku mengabaikannya, namun telingaku lama-lama pekak juga karena Violet terus memanggilku dengan nama Rio. Aku masih bisa menghargai jika ia memanggilku dengan panggilan asshole, wanker bahkan panggilan apapun asal bukan nama itu. Sungguh rasanya aku ingin menggebuki orang yang bernama Rio malam ini. Karena sepertinya yang ada di hati hingga mata Violet adalah dirinya, bukan diriku.

Tidak tahan dengan semua ini, aku segera memintanya memanggilku dengan panggilan yang manis dan enak di dengar. Aku memintanya memanggilku dengan panggilan sayang.

Oh my God...

Aku benar-benar terbang ke langit ke tujuh saat pertama kali mendengar Violet memanggilku dengan panggilan sayang. Ah, sungguh manis sekali. Baru sekali ini aku merasa tersanjung hanya karena ada perempuan yang memanggilku dengan panggilan sayang. Tidak peduli jika dirinya sedang setengah mabuk, namun aku bisa melihat dari matanya yang benar-benar memancarkan sorot mata penuh cinta. Wanita ini adalah wanita yang akan rela melakukan apa saja untuk orang yang ia cintai. Dan aku langsung tersenyum karena baru aku sadari jika kemungkinan aku telah jatuh hati kepadanya. Kepada seorang wanita yang aku temui di sebuah club malam.

Aku terus berpikir untuk mengajaknya ke mana malam ini. Biasanya aku tidak akan segan-segan melajukan mobilku menuju ke apartemen milik Papa atau hotel-hotel di sekitaran Jakarta, tapi entah kenapa kali ini aku merasa berat untuk melakukan itu. Dengan keadaannya yang setengah mabuk, aku rasa menghabiskan waktu di rumah pribadiku cukup bisa menjadi pilihan. Dan violet adalah wanita pertama yang aku akan ajak memasuki rumahku. Sebuah rumah yang baru beberapa bulan lalu selesai di bangun. Kini rumah ini lebih sering aku tempati daripada apartemen tempatku tinggal sebelumnya.

Saat aku mulai memasuki rumah, aku bisa melihat wajah Violet yang begitu takjub karena melihat rumahku yang bergaya minimalis modern ini. Rumah tiga lantai yang cukup bisa membuat wanita tidak segan-segan menerima diriku sebagai pendamping hidupnya andai saja aku melamarnya dan menjadikan rumah ini sebagai seserahannya. Sayangnya aku bukan laki-laki bodoh yang akan dengan mudah menyerahkan rumah impianku ini begitu saja karena untuk memilikinya aku harus bekerja cerda dan keras. Bukan hanya menjadi seorang vokalis, namun aku harus membantu Papa di perusahaannya, memeras otakku agar aku dapat menambah pundi-pundi keuanganku. 

Rasa bahagiaku semakin menjadi-jadi tatkala Violet justru mencium diriku lebih dulu. Ciuman lembutnya seolah bisa membuat diriku yang asshole ini merasa menjadi pria paling beruntung sedunia karena dicintai dengan begitu tulus. Aku menutup mataku saat ia mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Aku baru membuka mata saat aku merasakan ada air yang membasahi pipiku. Saat aku membuka mataku, aku bisa melihat Violet yang sudah menutup kedua matanya namun air mata tetap jatuh membasahi pipinya. Ia terus menciumku dengan begitu lembut serta teratur. Tidak ada lidah yang berekspedisi ke mana-mana saat ini. Andai setiap hari aku mendapatkan ciuman seperti dari dirinya, bisa-bisa aku kembali ke jalan yang benar dan lurus tidak lagi belok kanan kiri lalu berhenti di setiap SPBU hanya untuk mengisi bahan bakar jiwaku yang kosong ini.

Kini rasa bahagia itu berubah menjadi sebuah rasa sakit yang tiba-tiba aku rasakan di dalam hatiku. Perempuan ini sedang patah hati dengan teramat dalam. Sampai ia tidak menyadari jika orang yang ada di depannya ini adalah seorang predator. Predator wanita cantik yang siap menerkam dirinya kapan saja andai ia tidak bersiap-siap untuk menjadi santapanku mulai sekarang. Mungkin aku akan  mencabik-cabik dirinya dengan sentuhan-sentuhan sensual hingga ia akan merasakan kenikmatan yang mungkin belum pernah ia dapatkan sebelumnya dari pasangannya.

Gairahku mulai bangun dari tidurnya dan saa aku mengangkat tangan kananku dan aku tempatkan di atas salah satu gunung kembarnya yang begitu menggugah selera ini, Violet tidak menghentikan aksiku. Bahkan saat aku mulai memainkannya, ia justru melenguh panjang. Suara lenguhannya laksana lagu pembangkit gairahku untuk memulai percintaan kamu di dalam mobil ini.

Untuk Violet...

Malam ini aku akan menjadi pejantanmu. Semoga saja kita akan menjadi partner gulat yang sangat responsif dan sepadan di dalam mobil ini.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bara di Hati Mikha   94. Tes NIPT

    Mikhaila Ameera Violetta POVSetelah tiga hari pulang dari jepang dan baru saja aku selesai mengirimkan semua barang-barang jastip ke alamat para pelangganku, kini aku harus packing lagi. Bagaimana tidak, aku harus segera menuju ke Jogja karena kemarin aku mendapatkan kabar jika cafe-ku baru saja mendapatkan sebuah masalah. Ada seorang kasir yang membawa kabur uang sebesar 50 juta. Total uang yang seharusnya disetor ke bank, justru ia bawa kabur. Mungkin itu bukan uang yang besar sekali bagi pengusaha kelas kakap, namun bagiku yang masih merintis bisnis tentu saja tidak seperti itu. Uang segitu sangat penting bagiku terlebih sebentar lagi aku harus membayar gaji dan insentif para karyawan."Yang, kamu beneran harus ke Jogja hari ini?"

  • Bara di Hati Mikha   93. Permintaan Mama

    Bara Nareswara POVSetelah seminggu meninggalkan negara tercinta ini, akhirnya aku dan Mikha sampai di Jakarta lagi. Ketika kami keluar dari bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, ternyata Mama sudah menjemput kami. Saat melihat kami berdua, Mama langsung memeluk kami secara bergantian. Mamaku tentu saja langsung bertanya tentang bagaimana kabar kami ketika berada di sana selama seminggu. Yang lebih banyak Mama tanyakan tentu saja kondisi Mikha, bukan aku. Saat aku protes mengenai hal itu, yang ada Mama justru mengatakan bahwa Mikha sedang hamil, sedangkan aku tidak. Jadi wajar saja jika Mama lebih mengkhawatirkan menantunya daripada anaknya sendiri.Saat sudah sampai di parkiran mobil, aku meminta remote kunci mobil pada Mama. Setelah itu aku memilih memasukkan koper-koper milikku dan Mikha yang

  • Bara di Hati Mikha   92. Kartun favorit kami yang berbeda

    Mikhaila Ameera Violetta POVAku tersenyum kala melihat rumah-rumah di sekitarku yang benar-benar hampir semuanya mirip dengan rumah-rumah dan lapangan di film kartun Doraemon. Sungguh, aku kira Bara akan mengajakku untuk berfoto di tempat-tempat yang umumnya dijadikan tempat foto prewedding seperti di Zoyoji Park, Shinjuku Gyoen, Shibuya, Stasiun Tokyo, dan masih banyak lagi tempat di mana aku sering melihat banyak orang yang berfoto di tempat ini.Satu setengah bulan menjalani biduk rumah tangga dengan Bara membuatku cukup mengenal dirinya sedikit demi sedikit. Terutama satu bulan belakangan ini di mana Bara lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah untuk membantuku mengurus persyaratan nikah KUA hingga beres seluruhnya. Kami juga sudah menghadiri penataran dan ternyata kami berha

  • Bara di Hati Mikha   91. Lasagna sebagai ucapan maaf

    Bara Nareswara POV Sejak pulang dari rumah Eyang kemarin, moodku menjadi berantakan. Entah karena Mikha yang ternyata tidak memercayai jika aku sudah berubah atau justru karena Eyang Yuni yang tidak percaya jika aku memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk menghidupi cucunya. Come on, aku bekerja di dunia entertainment bukan hanya baru satu dua hari saja, namun sudah sejak aku lulus sekolah. Sebagai seorang anak dari Alfred Jones, tentu aja aku sudah ditanamkan tentang investasi sejak aku masih kecil. Hal ini yang membuatku tidak kalang kabut saat harus menikah secara mendadak dengan Mikha.Siang ini aku turun dari kamar dan menemukan Mikha yang baru saja pulang ke rumah. Andai dalam keadaan biasa, mungkin aku akan bertanya dari mana saja dia sejak pagi, tapi tidak kali ini. Aku

  • Bara di Hati Mikha   90. Rumah Tante Retno

    Mikhaila Ameera Violetta POVHari ini aku mengajak Bara untuk pergi ke rumah Tante Retno. Benar-benar Bara ini seperti anak kecil yang sedang merajuk. Diajak berkunjung ke rumah keluarga saja banyak sekali alasannya. Yang mengatakan jika ia malas bertemu Mas Rio, sampai dengan alasan ia sudah capek. Sedangkan saat aku memintanya menurunkan aku di pinggir jalan agar aku bisa mengorder taxi online, Bara menolaknya. Katanya ia ingin ikut denganku ke mana saja aku pergi. Sumpah, laki-laki kalo sudah cemburu tapi gengsi memang kekakuannya aneh-aneh saja. Dari awalnya terlihat biasa saja berubah menjadi sangat absurd seperti ini.Saat kami tiba di depan pintu gerbang rumah Tante Retno yang ada di daerah Jakarta Timur saja Bara tidak mau turun dari mobil. Ini membuatku mau

  • Bara di Hati Mikha   89. Urus Syarat Nikah

    Bara Nareswara POVSudah empat hari aku menghabiskan waktu di rumah. Siapa sangka jika aku akan bisa kuat untuk tidak menyentuh minuman beralkohol bahkan tidak pergi ke club malam hanya sekedar untuk mencari kesenangan sesaat. Sungguh, aku rasanya bahkan tidak percaya jika aku bisa sekuat ini menahan godaannya. Sebagai pengalihannya, aku dan Mikha selalu menyatukan seluruh partikel-partikel atom di dalam diri kami bersama selama aku libur. Kami akan bercinta di mana saja dan kapan saja selama kami menginginkannya. Ternyata seenak ini ketika kita menikah. Meskipun terkadang juga ada konflik yang membuat kami harus duduk bersama untuk mencari solusinya.Aku beruntung karena pada akhirnya Mikha tidak pernah mengalami flek lagi. Semoga saja ini pertanda baik. Meskipun aku tetap membuang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status