Share

Bara di Hati Mikha
Bara di Hati Mikha
Author: Kristiana0909

1. Klub Malam

last update publish date: 2026-06-17 08:27:16

Mikhaila Ameera Violetta POV

Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi, bullshit. Itulah pendapatku ketika ada orang yang mengatakan itu kepadaku. Tidak taukah mereka rasanya harus mengubur perasaan cintaku yang sudah seumur gajah bunting ini untuk selama-lamanya?

Sakit.... sakit guys....

Di saat aku merasakan ini semua yang ada justru salah satu sahabatku sibuk mengejar duda paruh baya beranak satu, bukannya ikut menemaniku di sini dan menghiburku. Apesnya malam ini aku sedang bersama Maureen Atmaja, salah satu sahabatku selain Kania Briolla Ramadityo.

"Mik, yang lebih ganteng, tajir dan berduit dari Mas Rio itu bejibun. Eh, salah-salah bukan Mas Rio lagi tapi Om Rio."

Mendengar ocehan Maureen, Aku menoleh dan memberikan tatapan membunuh padanya. Namun dasar Maureen yang tidak pernah memiliki perasaan peka, dirinya santai saja kali ini dan terus menikmati tequilla yang ada di tangannya sambil mengikuti irama musik yang sedang dimainkan oleh seorang DJ bule di depan sana.

"Lo tu ngecablak gampang aja, mana lo ngerti apa yang gue rasain saat ini?"

"Woi, sadar, Mik. Dunia nggak akan kiamat karena lo patah hati. Ini semua itu cuma akan jadi kenangan nanti. So, nikmati aja semua yang ada di sini, mumpung kita masih muda."

Daripada merasa jengkel dengan kelakuan Maureen ini, aku memilih meminum segelas Martini yang ada di depanku. Terserah, malam ini aku ingin mabuk semabuk mabuknya. Aku ingin melupakan semua yang terjadi saat ini. Apalagi ingatan di kepalaku yang terus mendengungkan suara Mas Rio saat melafalkan ijab qobul.

Demi Tuhan,

Saat itu hidupku terasa hancur berkeping-keping. Aku menitikkan air mataku entah karena aku berbahagia karena akhirnya tanteku melepas masa jandanya atau justru karena meluapkan rasa sakit di hatiku yang tak mampu aku lukiskan dengan kata-kata.

Aaaa.......

Dunia kejam, sungguh kejam kepadaku saat ini. Tidak ada laki-laki yang mencintaiku padahal aku bukan perempuan yang buruk rupa. Aku cantik, seksi, tinggi semampai dan satu lagi, aset bemper depan dan bemper belakangku sangat menggugah selera kaum adam. Tapi kenapa Mas Rio lebih memilih Tante Retno yang usianya bahkan 13 tahun lebih tua dari dirinya berbonus status Janda tanpa anak? Bahkan selentingan yang aku dengar dulu adalah Tante Retno yang mandul. Itu yang membuat Om Handi dan dirinya bercerai. Sayangnya semua itu terpatahkan dengan kejadian Tante Retno yang keguguran beberapa bulan sebelum acara pernikahannya dengan Mas Rio.

Bosan dengan seluruh pertanyaan yang menumpuk di kepalaku namun saat aku utarakan secara lisan hanya mendapatkan jawaban, "sudah takdir, kalo Mas Rio itu tercipta untuk Tante Retno bukan buat lo. Sekuat apapun lo berjuang, tetep aja Mas Rio itu bakalan jadi suaminya Tante Retno," dari kedua sahabatku Maureen dan Kania, aku memilih menenggak Martini sebanyak-banyaknya. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa gelas Martini yang masuk ke tubuhku setelah gelas ke empat ini. Kini aku merasa ingin ke toilet sehingga aku meninggalkan Maureen dengan kegilaannya yang sedang menari dengan gelas minuman yang telah kosong di tangannya. Aku yakin dirinya malam ini akan meninggalkan mobilnya di parkiran club' ini lagi dan pulang dengan jemputan supirnya.

Sejujurnya aku merasa sudah limbung hingga aku beberapa kali hampir menabrak orang yang aku temui di sepanjang perjalanan menuju ke toilet.

Brruuggg....

Akhirnya aku menabrak seseorang malam ini. Bahkan aku sudah menutup mataku karena tak sanggup untuk melihat wajah orang yang aku tabrak. Yang pasti orang yang aku tabrak ini laki-laki dengan tubuh tinggi dan kekar. Parfum yang ia kenakan, hmm... Sungguh mampu membuat kaum hawa kelimpungan di buatnya. Sayangnya tidak denganku yang menganggap semua laki-laki sama saja dengan Mas Rio yang kini telah berganti status menjadi Om Rio. Aku tidak mau lagi mencintai dan berharap memiliki pasangan jika pada akhirnya rasa sakit seperti ini hanya akan membuatku mati secara perlahan. Mungkin menjadi lajang seumur hidup tidak ada buruknya untuk dicoba daripada memiliki pasangan namun aku harus merasakan sakit seperti apa yang aku alami ketika mencintai Mas Rio. Nanti jika Mama dan Papa menagih diriku untuk menikah agar bisa memberikan mereka cucu, aku tinggal terbang ke Amerika dan mencari bank sperma di sana. Akan aku pastikan minimal calon donor spermaku memiliki kualifikasi yang mumpuni agar anakku lahir dengan kualitas gen yang baik dan unggul. Lahir tanpa ayah tidak masalah, nanti aku akan membesarkannya di luar negri saja.

"Sorry, sorry," Kataku kepada laki-laki itu. Seharusnya aku tidak hanya mengatakan sorry, tapi terimakasih juga, karena jika ia tidak memegang kedua lenganku dengan kedua tangannya yang kekar itu, sudah bisa dipastikan jika aku akan jatuh di atas lantai club' malam ini dan mungkin akan terinjak injak oleh orang yang berlalu lalang di sini karena malam ini suasana club' begitu ramai dan penuh sesak.

Laki-laki itu tidak menjawab, mungkin karena suaraku teredam oleh kebisingan suara musik yang sedang di mainkan oleh seorang DJ di sini. Tanpa banyak membuang waktu, aku meninggalkan dirinya secepat yang aku mampu. Semoga saja aku tidak mengalami hal buruk selama perjalanan menuju ke kamar mandi. Karena aku sudah jalan semakin sempoyongan. Bahkan sesekali aku tidak sengaja menyenggol badan para pengunjung club' malam ini.

Setelah perjalanan yang aku yakin lebih dari 10 menit ini karena banyak "kemacetan" menuju tempat ini, akhirnya kini aku tiba di sebuah toilet yang sebenarnya tidak bisa di sebut toilet seperti di tempat lain. Di sini ada sofa yang nyaman, tempatnya terlalu bersih, oh... Aku yakin siapapun yang mendesign tempat ini adalah orang yang jenius karena ia bisa meninggalkan kesan toilet bau, kotor dan menjadi tempat yang asyik untuk berselfi ria.

Saat aku keluar dari dalam bilik toilet, di sampingku ada sepasang wanita berusia 25 tahunan dan sedang sibuk mematut dirinya di depan cermin.

"Sialan, si Bara. Dia cuekin gue lagi malam ini. Padahal gue udah niat seret dia ke ranjang."

"Mau aja lo sama laki yang doyan celap celup kaya dia."

Kini wanita yang sedang membetulkan bedaknya di sampingku ini menghadapkan tubuhnya ke temannya sambil berkacak pinggang.

"Lo gimana sih, Bara itu ibarat thropy bagi wanita. Lo digandeng dia, popularitas lo bakalan naik. Minimal akun sosmed lo bakalan rame dikunjungi orang. Dan lo tau 'kan setelahnya akan kaya gimana?"

"Tawaran endorse berdatangan."

Wanita yang tadi berkacak pinggang menjentikkan jarinya di depan wajah temannya.

"Good. Itu tujuan gue deketin Bara."

Entah mengapa aku bisa menyunggingkan sebuah senyum sinis. Segila inikah para wanita yang rela dirinya di obrak abrik oleh kaum lelaki di atas ranjang hanya untuk sebuah popularitas sesaat?

Lelah mendengarkan ocehan kedua perempuan itu yang sedang menyusun sebuah akal bulus untuk laki-laki yang bernama Bara, aku segera keluar dari tempat ini. Sudah waktunya aku menikmati gemerlap dunia malam yang penuh warna warni dan musik yang membangkitkan keinginan untuk menggoyangkan tubuh seraya berharap kesedihanku akan musnah saat matahari mulai menyapa hidupku lagi esok hari.

Mikhaila Ameera Violetta, mari kita menggila, melupakan semua beban yang ada...

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Styaningsih Danik
dilapak orange kisah mika--bara udah tamat blm sih thor? akunku udah tak hapus jd lupa hehe heeee
goodnovel comment avatar
Styaningsih Danik
thor...gak ada ex chap buat gav--gadis ya???
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bara di Hati Mikha   Epilog

    Bara Nareswara POVSetelah menarik diri selama hampir dua tahun dari industri hiburan yang membesarkan namaku, kini aku dan teman-temanku meluncurkan album ke empat kami. Rasanya album ini begitu spesial karena saat peluncuran malam ini, aku dan El tidak lagi sendiri. Ada anak dan istri yang menemani kami. Ini juga kali pertama Cinta ikut tour bersamaku. Biasanya aku tinggalkan anakku di rumah bersama dengan Mikha.Ternyata bisa sebahagia ini menikah dan membangun keluarga dengan orang yang tepat. Ya, karena terkadang orang yang kita cintai belum tentu orang yang tepat untuk diri kita. Seperti Mikha dulu yang tergila-gila pada Mas Rio hingga mengatakan bahwa ia mencintai suami Tantenya itu. Tapi nyatanya, kegigihan diriku memperjuangkannya, berusaha selalu ada bersamanya hingga akhirn

  • Bara di Hati Mikha   178. Keluarga adalah prioritas

    Mikhaila Ameera Violeta POVSejak pulang dari rumah sakit, jam tidurku berantakan. Tidak hanya jam tidur namun juga diriku sungguh tidak bisa merawat diridiri lagi. Jangankan bermake-up, bisa sisiran saja sudah alhamdulillah. Mataku bahkan sudah seperti mata panda.Layaknya ibu baru, jika Cinta tidur, aku selalu mengecek napasnya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia lapar atau mungkin diapers yang dipakai penuh. Siapa sangka jika mengurus new born cukup menguras tenaga, hati dan pikiran. Bahkan Bara sudah tidak aku urus sejak aku dan Cinta pulang dari rumah sakit. Prioritas utama menjadi mengurus anak. Untung saja Bara juga mengerti dengan semua ini.Kini setiap pagi justru Bara yang memasak untukku. Dia juga tidak keberatan un

  • Bara di Hati Mikha   177. Welcome to the world Embun Cinta

    Bara Nareswara POVSetelah sejak semalam aku meyakinkan Mikha bahwa semua akan baik-baik saja, akhirnya siang ini Mikha dibawa masuk ke ruang operasi. Kali ini aku diberi kesempatan untuk menemaninya. Tidak hanya aku saja, namun ada kru dari jasa foto dan video yang disewa Mama khusus untuk mengabadikan momment persalinan Mikha.Aku kira semua ini akan berjalan menegangkan, namun ternyata tidak juga. Di dalam justru aku dipaksa untuk melakukan konser tunggal oleh Mikha. Kalo bukan karena Mikha yang memintanya, aku tidak akan mau melakukan semua ini. Di saat aku sendiri sedang tegang karena mataku terus melihat pisau yang mulai menyayat perut bagian bawah istriku, namun bibirku harus terus bernyanyi. Sumpah, melihat Mikha seperti ini, rasanya cukup sekali saja i

  • Bara di Hati Mikha   176. Weton dan dekorasi kamar

    Mikhaila Ameera Violetta POV Setelah pemeriksaan hari ini, aku tinggal di rumah sakit, sedangkan Bara pamit untuk pulang karena ia akan menyiapkan tas berisi barang-barang dan dokumen yang aku butuhkan. Akhirnya harapanku untuk bisa melahirkan secara normal yang kedua kalinya pupus sudah. Mau tidak mau aku harus melakukan operasi secar. Kenyataan bahwa operasi secar pun kini bisa sembuh lebih cepat dengan menggunakan metode eracs, nyatanya itu tidak membuatku jauh lebih baik. Apalagi aku ini orang yang takut disuntik. Tidak mungkin jika aku tidak dibius. Mana ini tidak dibius total pula. Dari perut ke atas aku masih sadar. Entahlah, aku takut menghadapi ini semua melebihi ketakutanku kala menghadapi persalinan Langit dulu.Kini aku segera mengambil handphone milikku dan aku menghubungi Eyang

  • Bara di Hati Mikha   175. Terlilit Tali Pusar

    Bara Nareswara POVSelama 37 Minggu ini aku menemani Mikha menjalani masa-masa kehamilannya. Selama itu juga aku vakum dari dunia entertainment yang membesarkan namaku. Meskipun sesekali tawaran manggung datang, namun kami hanya melakukannya di daerah Jabodetabek saja. Untung saja Kafka mengerti pilihan yang aku ambil dan El ambil kali ini. Kami ingin menemani istri terlebih dahulu. Rasanya sudah cukup 'ngamen' ke sana ke sini bertahun-tahun. Mungkin kini prioritas kami sudah lain. Tidak lagi karier yang nomer satu namun keluarga. Lagipula tabungan yang kami kumpulkan sejak muda sebagian sudah diinvestasikan. Mungkin karena kami bertiga berasal dari keluarga yang melek investasi sehingga untuk masa tua kami kelak sudah diajarkan untuk mempersiapkannya sejak muda. Apalagi dunia entertainment ini hanya sementara, selalu ada wajah baru yang h

  • Bara di Hati Mikha   174. Kondinya lebih baik daripada Langit dulu

    Mikhaila Ameera Violetta POVAku menatap hasil pemeriksaan antenatal yang sudah aku lakukan. Ada perasaan lega kala mengetahui jika calon anak kedua ini kondisinya jauh berbeda dengan Langit dulu. Semua sehat dan tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Entah kenapa hal ini membuatku bahagia."Kalian sudah bisa tenang sekarang. Calon anak kalian baik-baik saja di dalam sana."Aku angkat pandanganku untuk menatap dokter Hans yang ada di hadapanku dan Bara. Kami berdua bisa tersenyum. Tanpa aku sadari setetes air mata jatuh membasahi pipiku. Cepat-cepat aku menghapusnya sebelum Bara terlebih dokter Hans menyadarinya."Terimakasih, Dok untuk bantuan dokter selama ini," ucapku pada dokter Hans."Sama-sama, Mikh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status