LOGINIn December at the end of her Jr. year of high school Breanna's mom tells her that they will be moving into her boyfriend's house, she didn't know her mom's boyfriend had son, let alone one her age and once she moved in her life turned upside down.
View MoreSeorang guru cantik di sebuah taman kanak-kanak sedang bernyanyi bersama anak-anak didiknya di halaman sekolah. Beberapa kali wanita cantik itu tertawa geli melihat tingkah lucu anak-anak tersebut yang selalu membuat hatinya terhibur.
"Bu Anaya selalu bahagia saat bersama anak-anak, tetapi ia kembali murung setelah anak-anak pulang," ucap Bu Vera dengan tatapan kasihan. "Yah, setidaknya Anaya sedikit terhibur dengan tingkah anak-anak yang polos itu!" sahut Daisy yang menjadi teman curhat Anaya disekolah. "Iya, ya. Padahal Anaya baru nikah dua tahun eh sudah didesak untuk punya anak. Emangnya punya anak itu semaunya kita, itu kan hak progresifnya Tuhan. Jadi gak bisa kita menuntutnya kapanpun kita mau. Masih banyak kok diluar sana pasutri yang sepuluh tahun nikah baru di karuniai anak," omel Anita dengan muka cemberut. Ketiga rekannya disekolah itu mengetahui dengan pasti apa yang terjadi dengan hidup Anaya. Anaya Azalea Murray seorang guru TK yang dinikahi pengacara muda yang baru melejit setahun ini, Naraka Surya Dinata. Selama dua tahun pernikahan, Anaya selalu di desak dan diteror ibu mertuanya untuk memiliki momongan. Anaya sering kali disindir dan menjadi bahan gosip ibu mertuanya saat kumpul keluarga atau pun saat berkumpul dengan tetangga sekitar rumah mereka hanya karena belum kunjung hamil. "Sudah, sudah! Jangan bergosip terus! Doakan saja mudah-mudahan hati mertuanya Anaya terbuka dan tidak lagi menyalahkan Anaya!" tegur Bu Darwin selaku kepala sekolah yang berdiri dibelakang ketiganya. "Hehehehe, maaf Bu Kepala!" jawab mereka bertiga cengengesan. Bu Darwin geleng-geleng melihat tingkah bawahannya itu. Mereka langsung bubar karena tidak ingin dimarahin karena membicarakan Anaya yang menjadi guru kesayangan Bu Darwin. Tepat jam satu, Anaya pulang ke rumahnya dengan menggunakan motor matic kesayangannya. Panas terik yang menerpa kulitnya tidak ia hiraukan asalkan pulang ke rumah tepat waktu. "Assalamualaikum," ucap Anaya di depan pintu pagar. Terlihat beberapa Ibu-ibu duduk santai berbincang termasuk ibu mertuanya di teras rumah. "Waalaikumsalam, baru pulang Nay?" sahut Bu Dewi sambil bertanya. Dari semua Ibu-ibu yang berkumpul di sana, hanya Bu Dewi yang menjawab salam Anaya dan menyapanya. "Iya, Bu Dewi," jawab Anaya dengan tersenyum kecut. Ia menyalami tangan Ibu mertuanya Bu Yati yang langsung menarik tangannya dengan cepat seakan-akan sentuhan Anaya membuatnya jijik. Bu Dewi menatap Anaya dengan tatapan prihatin, Anaya yang sadar ditatap seperti itu hanya mengangguk pelan dan langsung memasuki rumah. "Tuh, kan, kalian lihat sendiri si Anaya. Pulang udah siang banget, terus mengeluh kecapean karena kerja. Disuruh berhenti kerja gak mau, gimana mau punya anak kalau kecapean terus!" omel Bu Yati mulai julid pada menantunya sendiri. "Kenapa gak dipaksa aja Anaya nya, Jeng? Kan Raka suaminya, sudah pasti berhak melarang Anaya kerja!" sahut Bu Anik ikutan julid. "Ya, sudah sih! Anaya aja yang bebal dan gak mau ngikutin perintah suaminya!" jawab Bu Yati berbohong. Wajahnya sedikit khawatir jika Anaya mendengarkan pembicaraan mereka. "Duh, jangan sampai tuh Anaya mendengarkan pembicaraan ini! Bisa gawat kalau dia buka mulut kalau alasan ia bekerja karena sebagian jatahnya aku ambil paksa dari Raka!" batin Bu Yati ketar ketir takut Anaya dengar. "Wah, parah tuh si Anaya! Dasar istri durhaka itu namanya," tuduh Bu Anton tanpa tahu kebenarannya. Bu Dewi mengurut dadanya mendengarkan omongan mereka yang selalu menyalahkan Anaya hanya karena mendengarkan dari satu pihak. "Jangan bicara sembarangan Bu-ibu! Jatuhnya nanti fitnah! Jangan hanya karena mendengarkan dari satu pihak saja kita langsung menjudge Anaya tanpa tahu kebenarannya. Memangnya Ibu-ibu semuanya pernah tanya sama Anaya gimana kebenarannya? Saya tidak mau hanya karena Bu Yati tidak menyukai menantunya kita menjadi ikut-ikutan menyalahkan Anaya. Apa Ibu-ibu mau pahala sholat, puasa dan sedekah Ibu-ibu menjadi milik Anaya karena kalian menggunjingnya?" tegur Bu Dewi dengan tatapan tidak suka pada semua Ibu-ibu tersebut termasuk mertua Anaya, Bu Yati. Bu Yati merenggut kesal mendengar teguran Bu Dewi yang juga menjabat sebagai Bu RT di tempat mereka semuanya tinggal. "Sialan nih Bu RT, selalu membela perempuan mandul itu setiap aku bicara! Kalau ia bukan Bu RT, sudah aku sumpal mulutnya dengan kain kotor!" umpat Bu Yati dalam hatinya. Tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya ketika Bu Dewi sudah bicara. Mereka semuanya terdiam termasuk mertuanya Anaya, Bu Yati. "Ya sudah, saya mau permisi pulang, Bu Yati! Dan jangan lupa pengajian kita lusa di rumah Bu Asnawi ya Bu-ibu? Assalamualaikum!" ucap Bu Dewi pamit pulang. "Saya juga mau pulang, Jeng!" ucap Bu Salma yang sedari tadi hanya diam dan menyimak saja. Melihat Bu Salma ikut pulang, Ibu-ibu yang lain juga ikutan pulang sehingga membuat wajah Bu Yati semakin merenggut kesal karena kehilangan teman ngerumpi. Bu Dewi mendatanginya karena memberikan undangan pengajian RT mereka yang minggu lalu tidak ia datangi. Setelah mereka semuanya pulang, Bu Yati langsung masuk dengan wajah yang tidak enak dilihat. Ia menutup pintu dengan keras hingga membuat Anaya yang sedang makan siang menjadi terkejut. Sore harinya, Anaya menunggu suaminya pulang dengan menyiram bunga yang ia tanam di depan rumah. "Assalamualaikum, sayang?" ucap Raka dengan tersenyum lebar begitu turun dari mobilnya. "Waalaikumsalam, Mas!" jawab Anaya juga dengan tersenyum lebar dan langsung menyalami tangan suaminya setelah ia mematikan kran air. Raka memeluk erat tubuh Anaya dan melabuhkan kecupan ringan di kening istrinya. Bu Yati yang mau keluar untuk ngerumpi mencebik kesal melihat senyum Anaya dan kemesraan mereka berdua. "Memangnya tidak ada tempat yang lebih baik untuk bermesraan hingga harus di luar rumah? Benar-benar tidak tahu malu!" sindir Bu Yati dengan wajah judes. Anaya dan Raka terkejut mendengar sindiran Bu Yati sehingga mereka tersenyum malu-malu. "Kita kan cuma pelukan doang, Ma! Masa iya pelukan dengan istri sendiri dilarang? Lagian gak ada juga tetangga yang lihat kok," jawab Raka dengan santai sembari merengkuh pinggang Anaya. "Terserah kamulah, setiap Mama ngomong pasti kamu bantah!" omel Bu Yati sembari masuk dan meninggalkan mereka berdua didepan rumah. Raka menggeleng pelan melihat sikap ibunya yang berubah ketus, dan membenci istrinya. Padahal dulu dialah yang paling ngotot mendesaknya saat dirinya berniat ingin menikahi Anaya. "Maafkan Mama ya, sayang? Mas harap kamu mau mengerti dengan sikapnya Mama," ucap Raka dengan wajah sendu. Anaya hanya mengangguk pelan dan tidak ambil pusing sindiran Ibu mertuanya. "Sayang, tolong ambilkan tas Mas di mobil? Mas kebelet nih!" pinta Raka dengan wajah menahan mules. Anaya mengangguk kecil dan mengambil kunci mobil yang diberikan Raka. Sedangkan Raka langsung berlari masuk rumah sambil memegang perutnya yang tiba-tiba mules. Anaya yang membuka pintu depan mobil langsung mengambil tas kerja yang tergeletak di bangku depan. Matanya tiba-tiba melihat sesuatu yang aneh di lantai bawah bangku depan. Anaya menunduk sedikit dengan tangannya menggapai sesuatu yang ia lihat. "Lipstik, milik siapa lipstik ini? Perasaan aku gak punya lipstik yang warna mencolok kayak gini? Masa iya Mas Raka pakai lipstik?" gumam Anaya bertanya-tanya. Bersambung..."Well, that was fun," Tyler says as he reaches to pull Breanna into a hug.She pushes him away. "There was nothing fun about that. Jake is going to tell my mom, and even if he doesn’t, she’ll know just by looking at these marks."Tyler doesn’t let her go so easily—he hugs her tight, his grip too strong for her to break free. Leaning in, he whispers in her ear, "Those will fade if you hold ice on them for a bit. We can convince him not to say anything to your mom, so don’t worry—it’ll work out."He kisses her forehead before finally releasing her. "But you can only hide the ones your mom would be able to see," he adds with a smirk as he pulls on his shirt.Breanna sighs and grabs her clothes from the floor, quickly putting everything on—except her bra.Tyler watches her with a raised eyebrow. "What are you doing?"Breanna looks at him, confused. "What do you mean?"He picks up her bra from the floor and hands it to her. "
Too tired to freak out, Breanna says, "What are you doing here, Tyler?"He pulls her closer and replies, "Well, first off, this is my room."Breanna can smell the alcohol on his breath. "Ty... why are you drinking? And why did you come back?""I don’t normally drink, but I feel like you’re making me go crazy. I want you by my side. I felt uneasy with another guy being here. You never text me, yet you took the note off your door."Silence fills the room."I'm sorry," Tyler says.Breanna turns to face him. "What for…?"Tyler doesn’t reply."Ty..." Breanna whispers."No... why did you have to do that? I've been trying so hard to hold back," Tyler says before pulling her closer and kissing her. Then, he gets on top of her.Hearing the way she whispered his name, seeing the way she looked at him—it drives him over the edge. He wants her so badly, he can't hold back anymore. His hands start to trace
Tyler was fuming as he drove to Dave’s house. He had thought Breanna came back to see him, not to make sure he left before Jake showed up. What was she hiding? Why did it even matter if Jake saw him there? The more he thought about it, the more irritated he got.Grabbing his phone, Tyler called Dave.“Hey, man, what’s up? Are you on your way yet?” Dave answered.“Yeah. Are your parents home?” Tyler asked.“No, they won’t be back until tomorrow. What’s wrong?”“I need to drink. Are you down?”“Always.”“Cool. I’ll be there in five,” Tyler said before hanging up.“Wow, Bre, this house is amazing,” Kallie said, spinning around to take in the large living room.“Yeah, it’s awesome,” Jake agreed.“Let’s order some pizza. It’s already 7 o’clock. Rick gave me his card so I could get food and stuff,” Breanna said, walking toward the kitchen.“That was nice of him,” Kallie said, leaning on the counter.“Yeah, but it sounds like he’s trying to buy your love,” Jake quipped.Kallie rolled her eye
“You’re right, it’s not like he goes to our school or anything,” I sighed, hoping that wouldn’t be the case.“So… how is he in bed?” Kallie asked, leaning in and lowering her voice so no one else could hear.“Kallie… OMG, stop,” I said, embarrassed.“Come on, this is exciting! We never get to girl talk like this!”I stared down at my soda, feeling my cheeks heat up. In a low voice, I admitted, “He’s really, really good.”“He better be with looks like that. How big is he?” she teased.“Kay, stop...”“Come on,” she pressed, grinning.“Big,” I muttered, feeling my face flush crimson.“I’m surprised you can walk,” Kallie teased, laughing.I rolled my eyes but couldn’t stop myself from adding, “He put me in the bath afterward, then carried me to bed.”“So, he’s sexy, big, good in bed, and a gentleman. What’s the problem?”“He’s Rick’s son, Kallie. And we have adjoining rooms connected by a bathroom,” I groaned, placing my face in my hands.“That you’ve already had sex in. The deed is done.
“Oh no, dear... you can sleep in our bed tonight while we’re gone,” Annabel said.“Anna, our bed was part of that delivery,” Rick reminded her in a worried tone.“She can stay in my room tonight,” Tyler offered. “I’ll go to Dave’s house. I don’t feel comfortable letting her sleep on the couch.”“Wh
BreannaHearing what Rick said, Breanna looked at her mom and asked, “Sleeping Beauty?”Her mom giggled and replied, “Yes, earlier he referred to you as Sleeping Beauty. When you were asleep on the couch last night and this morning, Tyler saw you as he left for a run.”Turning her face downward to
But for Tyler, he felt a deep need to protect Bre and destroy anyone who dared to hurt her. Glancing toward the bathroom, he thought, Why the hell would they agree for us to share a bathroom like this? Either they trust us, or they wanted something to happen. Shaking off his thoughts, he took off h
On the first day of winter break, I woke up and did my normal morning routine. As I started making breakfast, my mom came into the kitchen."Honey, I have some great news," she said.I continued cooking but looked up at her with a smile. "What is it, Mom?"She clapped her hands together once in exc












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.