Share

bab 2 (BPSC)

Penulis: NH_berkah
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-26 07:32:24

"Jangan keterlaluan, Nara!?" Peringatkan Bastian.

"Aku tidak keterlaluan Bastian. Aku bicara sesuai fakta. Memang kenyataannya seperti itu,"

"Seorang pemilik hotel dengan tampang sepertimu aku yakin, tidak akan cukup satu wanita dalam semalam." Sambungnya kembali.

"Baik, jika itu pendapatmu, aku akan menelpon Bara untuk menjelaskan semuanya." Tantang Bastian.

"Tidak perlu. Aku ingin pulang. Aku sudah yakin akan pendapatku!" Nara yakin.

Berkacak pinggang, Bastian mengusap wajahnya kasar. Baru kali ini dia menemukan gadis yang super bawel, menyebalkan dan keras kepala seperti Nara.

Bahkan dirinya sampai melembutkan suaranya dan dengan sabar saat menghadapi Nara. Tapi tetap saja, wanita ini tak ada baik-baiknya sama sekali saat berkata padanya. Selalu ketus dan acuh. Benar-benar menyebalkan.

"Makanlah lebih dulu. Kita akan keluar bersama besok." tutur Bastian pada akhirnya. Lagi-lagi, dia mengalah.

"Aku tidak mau. Aku mau pulang sekarang."

"Tolong lepaskan aku!" Pintanya.

"Jika kamu menurut, kamu akan tenang dan nyaman tinggal di sini. Tapi kalau tidak, ya... Jadi seperti ini." Terang Bastian santai.

"Bastian, tolong lepaskan aku. Semua orang pasti akan mencariku. Terutama temanku di hotel ini."

"Biarkan saja. Kita keluar besok saat ijab akan dilaksanakan."

"Ijab? Jangan sembarangan Bastian! Aku tidak mau menikah denganmu!" Tolaknya menggebu.

"Kita cukup menikah siri saja. Kemu boleh melakukan apapun tanpa ada larangan. Kecuali, dekat dengan pria lain." Ujarnya.

"Tidak bisa. Aku tidak mau menikah." Nara bersikekeh menolak ajakan baik Bastian. Padahal hal tersebut, tidak merugikannya sama sekali. Justru menguntungkan.

"Baiklah, berarti kita akan selamanya di sini." Ancam Bastian.

"Jangan!"

"Lalu?"

"Bukankah dari awal kamu ingin bertanggung jawab atas perbuatanmu ini dengan pernikahan? Aku putuskan untuk kau tidak usah menikahiku."

"Tapi, cukup bayarkan utang ibuku sebesar 75 juta. Maka sejak hari itu, beban tanggung jawabmu akan ku anggap lunas." Ucapnya menggebu.

"Nara, apa kamu sudah memikirkan perkataanmu tadi?"

"Apa maksudmu? Aku sudah berkata jelas di hadapanmu. Apa kamu kurang paham?" Nara justru balik bertanya.

Menarik napasnya dalam-dalam, Bastian melihat wanita didepannya ini baik-baik. "Sekarang, dengarkan aku!" Ucapnya serius.

"Apa kamu tahu, dengan adanya pernikahan, kamu bisa meminta segalanya. Termasuk, membayar utang ibumu dan membiayai kebutuhanmu."

"Sampai sini kamu paham? Selain dua hal tadi, kamu juga akan merasa aman sebab terlindungi."

"Ada sosok yang melindungimu dan bertanggung jawab atas kamu. Apa kamu tidak ingin hal itu terjadi?"

Nara terdiam, termangu mendengar kata demi kata yang diucapkan Bastian.

Dia tertunduk, membenarkan semua yang dikatakan Bastian. Sebab apa yang diucapkannya, memang sesuatu yang diharapkan oleh semua wanita. Tak lain juga dirinya sendiri.

"Gimana? Pilihanmu hanya satu, menurut denganku." Ucap Bastian saat Nara tak kunjung bicara.

"Perlu kamu ingat juga Nara, jika kamu,(Maaf) sudah ternoda. Pasti ada perasaan minder saat akan menjalin hubungan dengan pria manapun, aku yakin itu."

"Dari hal itu, izinkan aku bertanggung jawab atas kamu. Setelahnya, kamu bebas melakukan apapun kecuali hal-hal yang melanggar hukum dan dekat dengan pria lain." Ucap Bastian panjang.

"Nara?" Lagi-lagi Bastian memanggilnya sebab Nara tak kunjung memberi reaksi apapun. Dia diam menunduk.

"Aku memang sudah ternoda Bastian, tapi aku tidak ingin matre seperti kebanyakan para wanita di luaran sana. Aku cukup meminta hal itu saja. Tidak lebih." Sahutnya pelan.

"Matre atau tidak, itu tidak berlaku buat istriku nanti."

Nara tersipu. Kata ISTRI, sangat menggelikan baginya. Namun sebisa mungkin, Nara menyembunyikan rasa malunya itu dari Bastian. Jangan sampai, Bastian melihatnya dan jadi besar kepala karena merasa diri paling hebat.

"Tidak usah dipikirkan. Makanlah, Bara sudah membelikan makan untuk kita." Titah Bastian.

"Aku belum lapar." Nara menolaknya dengan halus.

"Aku tahu, kamu sedang lapar Nara. Semalam perutmu berbunyi."

"Tidak." Nara segera menyangkalnya.

"Nara... jangan memancing amar,- ?"

"Baik, aku akan makan." Sahut Nara cepat. Takut Bastian mengamuk. Apalagi, masih ada satu malam lagi yang akan mereka lewati di kamar ini, membuatnya kesal karena tak bisa melakukan apapun. Dengan terpaksa, besok pagi pun ia akan menikah dengan Bastian.

Sebenarnya, dia enggan menikah dengan Bastian. Dia tahu diri sebab dirinya orang tak punya dan kampungan. Kehadirannya juga pasti akan ditolak mentah-mentah oleh keluarga Bastian. Membuatnya sakit hati saja nantinya.

*

Pagi sekali, Nara sudah dalam perjalanan bersama Bastian untuk melaksanakan akad. Entah di mana pelaksanaannya nanti, dia tidak tahu. Dia juga enggan untuk bertanya.

Ternyata, mereka turun disebuah rumah sederhana tak terlalu besar tapi terkesan mewah dan bersih. Cukup sepi seperti tak berpenghuni.

Tapi ... Masa' iya rumah sebagus ini kosong? Itulah yang ada dipikiran Nara. Turun dari mobil, Nara berjalan pelan membuntuti para lelaki di depannya. Bagian bawahnya masih terasa sakit, namun sayang, dia tidak berani untuk berkata.

Tidak ada kebaya juga tak ada dekorasi pengantin yang megah. Semua dilakukan sesederhana itu. Tanpa tukang rias pengantin atau lainnya.

Nara cukup berdandan ala kadarnya seperti saat dia berangkat kerja. Cuman bedanya, hari ini Nara mengenakan hijab putih serta gamis putih yang cantik. Bastian yang memilihkan baju tersebut semalam.

Bugh!!

Nara kaget. Tiba-tiba badannya terpental karena menabrak seseorang. "Ssttff..." dia mendesis sambil memegang keningnya yang teramat sakit.

Tulang orang di depannya seperti tiang besi dipinggiran jalan. Mendongak melihat orang tersebut, Nara terkejut mendapati Bastian yang ada dihadapannya. Beringsut mundur, dia tak berani melihat Bastian lagi.

"Apa perlu aku gendong?" Nara menggelengkan kepalanya cepat saat menunduk.

"Tapi jalanmu?" Bastian menggantung ucapannya tak sampai hati untuk berkata.

"Jalanku seperti ini sebab ulahmu. Pergilah! Aku bisa jalan sendiri. Walau kayak siput," sewot Nara berlalu begitu saja dari hadapan Bastian.

"Astaga nih cewek.....!" Bastian geleng kepala mendengarnya. Diajak omong baik-baik dan pelan, eee ini malah dianya ngomong keras sampai membuat yang lain menoleh ke mereka.

"Cewek emang bikin pusing." Gumam Bastian pelan sembari jalan membuntuti yang lain masuk ke dalam rumah dengan memilih jalan dibelakang Nara. Benar seperti yang dikata tadi, jalannya kayak siput sedikit ngangkang.

Lucu, tapi juga kasihan menurutnya.

Di ruang utama rumah itu, seorang ustadz sudah siap menjabat tangan Bastian untuk melaksanakan Ijab Qabul.

Ustadz pun mulai menanyai mereka tentang persiapan nikah siri ini. Apakah ada paksaan, atau tidak? Ternyata tidak, semua murni dari keinginan masing-masing.

Walaupun nikah siri, tapi Bastian juga diam-diam mendatangkan penghulu di sana untuk menjadi saksi. Selain calon pengantin, mereka berjumlah 6 orang yang akan menjadi saksi pernikahan siri Bastian dan Nara.

Ustadz sudah berjabat tangan dengan Bastian dan ijab, akan segera di mulai. Nara tertunduk sedih, senang dan berdebar sebab ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Semua bercampur menjadi satu perasaannya.

"Bismillah....,"

"Saya kawinkan dan saya nikahkan engkau ananda Bastian Sakajaya bin Prambudi Sakajaya dengan Keynara Amora binti Ahmad Radito almarhum dengan mas kawin uang tunai sebesar $2.510 dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya Keynara Amora binti Ahmad Radito almarhum dengan mas kawin tersebut tunai!"

"Bagaimana saksi... Sah?"

Sah, sah, sah,...

Semua yang datang berseru mengesahkan pernikahan Bastian dan Nara. Lega juga berdebar saat mendengarkan kata keramat yang baru saja Bastian ucapkan. Ternyata lancar dalam satu tarikan napas saja.

"Alhamdulillah..." Ucap pak ustadz dilanjut dengan do'a.

Sesaat kemudian, ustadz serta para saksi yang tadi datang kini sudah pada pulang kembali. Tinggal Nara dan Bastian serta Bara yang menunggu mereka di luar.

"Kita sudah selesai menikah. Sekarang antarkan aku pulang."

"Apa kamu tidak ingin menginap semalam disini?"

"Tidak. Aku mau pulang."

***

Bersambung,...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 16 BPSC

    "Tidak usah membelanya Bella, Bastian berhak mendapat kosenkuensi ini." Ucap Bu Devina marah."Maaf mah," sahut Bella pura-pura tertunduk sedih.Padahal dalam hati, dia teramat senang melihat kekhawatiran ibunda Bastian atas ancaman yang diberikan sang mama pada beliau. Sukses membuatnya takut. Kalau seperti ini, pasti akan dilakukan segala cara agar dirinya bisa nikah sama putranya, Bastian."Jeng Devina tenang dulu ya, kita bisa bicarakan baik-baik. Bastian pasti akan bertanggung jawab atas perbuatannya." Sahut Bu Anja menenangkan."Bastian memang wajib melakukan itu jeng Anja, karena semua ini ulahnya." Jawab Bu Devina."Ingat ya Jeng, jika Bastian tak kunjung menyelesaikan kekacauan ini, kita akan tempuh jalur hukum.""Tempuh jalur hukum!" Ucapnya sekali lagi dengan tegas pada mama Bastian."Kami sudah cukup sabar selama ini. Satu minggu kami menahan malu dan kekecewaan karena ulah Bastian, untuk kali ini, kami tidak bisa lagi diam,""Kami harus berikan efek jera buat Bastian. Say

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 15 BPSC

    "Bastian!?""Hai?" Bastian menyapa dengan senyum."Apa tadi kamu membohongiku? Kamu tidak sibuk tapi?""Aku baru saja selesai, baru juga duduk di sini. Apa masih perlu aku ambilkan?" Tawar Bastian.Melihat tubuhnya kembali, Nara langsung berkata ... "Tidak perlu! Percuma aku masuk kembali jika kamu sudah melihatnya." Nara cemberut, berjalan cepat ke depan lemari untuk mengambil baju.Bastian yang melihat itu hanya menyembunyikan tawa.*Waktu berlalu... Malam di ruang makan rumah orang tua Bastian, semua orang sedang menikmati jamuan yang disajikan oleh keluarga Sakajaya, ayah Bastian. Mereka adalah Bella dan kedua orang tuanya.Mama Anja berinisiatif mengundang mereka karena Bastian sempat berbalas pesan dengan beliau jika malam ini akan datang. Bella sangat senang dengan kabar ini. Sejak sore tadi, dia bahkan sudah datang di rumah Bastian untuk menunggunya pulang.Namun sampai jam sembilan malam lewat dan mereka sudah pada selesai makan, Bastian belum juga nongol di rumah orang tuan

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 14 BPSC

    "Cepat masuk!!" Nara mendorong Bastian ke dalam. Buru-buru ia menutup pintu, agar tak ada orang yang melihatnya."Nara, Nara hei? Tenang dulu sayang?" Bastian menghentikan sikap Nara yang tanpa ampun mendorongnya sangat kenceng. Sampai hampir terjungkal."Bastian, jangan keluar masuk sembarangan! Di luar sana ada orang lalu lalang. Ada Risma juga dan aku tadi berpas-pasan dengannya,""Kamu tahu apa, aku sempat mendengar kabar jika ada karyawanmu di sini yang jadi mata-mata mbak Bella,""Aku khawatir, mereka adalah Risma dan Susan yang paling mendominasi. Nah kalau sampai mereka tahu, bisa ngadu sama mbak Bella nanti. Mampus aku Bastian, dikeroyok sama mereka." Celoteh Nara panjang kali lebar."Terserah mereka saja. Orang dari mereka juga gak ada yang lihat kita." Sahut Bastian tetap tenang."Gak lihat kita gimana? Kamu gak tahu 'kan, bisa saja dia sembunyi dibalik dinding dan kita gak tahu." Ucap Nara masih kekeh dengan kekhawatirannya."Biarin aja sayaangg," Bastian menowel pipi Nara

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 13 BPSC

    "Urusan kita cukup perbaiki hubungan ini sebaik-baiknya. Kamu paham?""Kalau tidak baik?""Tidak baik? Memangnya siapa yang ingin jadi manusia tidak baik? Hidup bermasalah dann... tidak bermanfaat? Apa ada orang yang ingin hidup seperti itu?" Tanya Bastian, Nara hanya mengendikkan bahu saja."Nasehatku, jadilah orang bermanfaat, Nara. Berlaku baik pada siapapun. Terutama pada suamimu ini." Ucap Bastian menunjuk dirinya sendiri."Tapi kamu cuma suami siriku, Bastian." Sahut Nara."Apa hanya karena suami siri gak perlu dihormati, dilayani dan mungkin harus diabaikan, dilupakan, apa begitu Nara?""Kalau benar pikiranmu seperti itu, baik, biar aku resmikan saja pernikahan kita di pengadilan. Sejak hari itu, pernikahan kita sah di mata hukum dan agama. Dan kamu, harus siap melayaniku 1x24 jam. Gimana, kamu setuju?"Nara segera menggeleng. "Jangan! Aku tidak mau. Aku belum siap!" Jawabnya."Kenapa? Bukankah itu yang diinginkan semua wanita?""Benar, tapi bukan aku." Nara masih terus mengela

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 12 (BPSC)

    Melihat pesan dari Bastian, lagi-lagi Nara menghela napas pasrah. Ternyata benar dugaannya tadi, jika semua ini adalah ulah Bastian suami sirinya itu, bukan Bara sang asisten."291025." Gumam Nara saat menekan tombol pasword kamar Bastian."Eh, kok tidak bisa?" Nara bingung, seingat dia, itu benar angkanya."Duh, gimana ini? Berapa yang benar ya, angkanya?" Ucap Nara mulai mengingatnya baik-baik."281025, duh, kok salah lagi, sih? Gimana dong?""Jika diulang terus, bakalan aman gak ya? Kena blokir gak ya, itu password nya?" Nara mulai cemas. Takut ketidaktahuannya ini akan jadi masalah."Coba lagi deh, bismillah," ucapnya sambil menekan angka-angka yang ada di tombol pintu tersebut."Yah ... gagal lagi. Gimana ini?" Nara mulai putus asa. Kakinya sudah capek berdiri lama di sana."Padahal seingat aku, itu benar deh, pasword nya. Kenapa masih gagal terus, ya? Ingat banget kalau depannya itu awalannya angka dua, lalu ada sepuluh dan angka dua limanya,""Kenapa masih salah? Kira-kira, di

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 11 (BPSC)

    Tepat selesai Nara melaksanakan sholat dhuhur saat jam istirahat tiba, dia melihat pesan dari Bastian yang lagi-lagi harus membuatnya menghembuskan nafas berat.Ada aja kelakuan yang dilakukan dia untuknya. Selalu menganggu jam kerja dan cari-cari alasan agar bisa bertemu.Entah apa maunya Bastian ini, Nara sendiri juga bingung. Toh tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, kenapa minta selalu pengen ketemu. Kan aneh? Pikir Nara.Cukup ingin tahu saja isi pesan itu, Nara mengabaikannya. Tidak ada niatan buatnya untuk membalas pesan tersebut yang isinya hanya untuk, menyuruhnya datang mengantar makan siang buat Bastian. Nara ogah, tidak mau bertemu Bastian lagi.Segera melipat mukena dan sajadah yang sudah digunakannya, Nara keluar dari ruang ibadah atau mushalla mini yang tersedia di hotel tersebut. Khusus untuk para karyawan yang tempatnya ada di belakang."Nara, apa kamu sudah selesai?" Tanya Hana yang baru saja datang."Sudah Han, kenapa?""Pak Bara tadi mencari mu." Ucap Hana

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status