LOGINSesuai permintaan Nara sebelumnya, saat ini, Bastian sedang mengantarkannya pulang ke rumah kost miliknya.
Tak ada obrolan diantara mereka. Keadaan dalam mobil hening. Nara diam begitu juga dengan Bastian. Dirinya hanya fokus mengemudikan mobil agar selamat sampai tujuan. "Rumah kamu di mana?" Tanya Bastian tiba-tiba. "Gang depan dekat lampu merah." Jawab Nara menoleh sejenak. "Oh." Sahut Bastian fokus kembali dengan kemudinya. Dan tak berselang lama, mobil pun berhenti sesuai yang diinginkan Nara tadi. Gang kecil dekat lampu merah perempatan. Memperbaiki tas jinjing miliknya dan hodie yang dipakainya, Nara segera turun dari mobil Bastian. "Bastian, terimakasih." Ucapnya sebelum turun. "Hati-hati. Jika terjadi sesuatu, kabari saya." Pesannya. Nara mengangguk menanggapi. Rasa canggung terjadi diantara mereka. Membuat Nara malu dan ingin segera pergi dari hadapan Bastian. Setelah turun dan jalan di gang kecil menuju kost tempatnya tinggal, Nara akhirnya bisa bernapas lega setelah lepas dari Bastian. Jalan seperti siput, Nara benar-benar masih merasakan ngilu dibagian bawah sana. "Semua ini gara-gara Bastian." Gerutunya kesal. Membuka kunci pintu rumahnya, Nara melangkah masuk dan ... "Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah juga." Ucap Nara lega. Lega bisa terbebas dari Bastian. Dia juga bisa istirahat nyenyak di rumah sendiri tanpa canggung dengan siapapun. * Sementara Bastian, dia baru saja sampai di apartemen dan melepas jas yang dipakainya tadi saat akad. Ponsel bergetar di saku celananya. Bastian yang penasaran siapa orang yang sudah menghubungi dirinya seketika langsung melihat ponsel. Ternyata, dari Bara asisten pribadinya. "Ya hallo?" "Bos, apa anda sudah melihat berita viral hari ini?" Tanyanya menggebu dari seberang telepon. "Tidak. Kenapa?" Tanya Bastian sembari berjalan ke dekat jendela. "Bella sedang membuat sayembara untuk anda." Ungkapnya. "Maksudnya?" "Ya, Bella tidak terima pernikahannya dengan anda batal. Dia melakukan jumpa pers dan membuat sayembara untuk siapa saja yang bisa menemukan keberadaan anda," "Siapapun yang memberikan informasi benar dan valid, Bella akan membayarnya dengan uang." "Dan anda tahu bos, 50 juta untuk orang yang berhasil mendapatkan informasi benar tentang anda." "Kamu tidak berbohong?" "Tidak." "Kalau begitu, biarkan saja. Tidak usah pedulikan mereka. Kunci saja orang-orang yang tadi hadir pada pernikahanku. Serta para pegawai apartemen dan hotel." Pesan Bastian. "Sudah bos, itu aman." Jawab Bara dari seberang telepon. "Makasih." Bastian mematikan sambungan teleponnya ingin segera melihat berita yang ada. Setelah dicari tahu dan dilihat, ternyata benar. Baru saja tiga jam yang lalu video jumpa pers Bella diunggah, kini sudah ramai dan bahkan sangat viral beritanya. Bella, wanita yang dijodohkan orang tuanya untuk dia (Bastian). "Dasar wanita licik!" Gumam Bastian dengan senyum sinis melihatnya. Dia benci, tidak suka dengan wanita hasil perjodohan orang tuanya itu. Bella pintar merayu, bersilat lidah dan suka menghasut orang lain. Terutama menghasut orang tuanya. Apapun yang di ingin harus tercapai. Terlalu banyak mengatur dan mengekangnya. Pintar membalikkan fakta. Bastian benci dengan tipe wanita sepertinya. Sangat licik. Ting, tong..! Bel pintu terdengar. Bastian menoleh dan segera melihat siapa yang datang. Ternyata setelah diintip dari lobang kecil di pintu, Bastian melihat orang tuanya ada di sana. "Mama?!" "Papa?!" Dia kaget dan bingung. Kenapa bisa orang tuanya tahu jika dirinya ada di sini. "Siapa yang memberitahu keberadaanku disini?" Bastian bertanya-tanya sambil mondar-mandir di dekat pintu. Karena tak kunjung dibuka, ponsel pun ikut berdering yang ternyata dari sang mama. Pilihannya hanya dua, mengangkat telepon, atau membuka pintu. Akhirnya, Bastian milih mengangkat telepon dari pada membuka pintu. "Ya, hallo mah?" Sapanya terlebih dahulu. "Bastian, kamu dimana?! Cepat buka pintunya!" Suara kenceng sang mama dari seberang telepon. "Pintu yang mana, mah? Bastian diluar kota." "Apa!!" "Jangan coba-coba membohongi mama, Bastian. Kamu harus pulang dan selesaikan masalah kamu." Mama Anja marah. "Besok saja mah, lusa baru Bastian pulang." Bohongnya. "Tidak bisa. Kamu harus pulang sekarang! Kamu sudah keterlaluan Bastian, sudah mempermalukan keluarga kita." "Bukan hanya keluarga kita, tapi kamu juga sudah membuat keluarga Bella malu dan kecewa." "Kamu juga sudah membuat Bella menangis siang malam karena memikirkan pernikahan kalian yang batal. Apa kamu tidak memiliki hati nurani, Bastian?" "Bella wanita cantik, lembut, baik dan penyayang, harusnya kamu bisa melindungi dan menjaganya. Bukan malah menghancurkan perasaannya." "Kamu jahat Bastian. Kamu sudah membuat mama kecewa." "Mama minta, kamu pulang sekarang! Pokoknya mama tidak mau tahu, kamu harus pulang dan selesaikan masalah ini secepatnya!" Pinta sang mama dari luar kamar apartemennya lewat sambungan telepon. "Maaf mah, gak bisa. Lusa baru Bastian pulang," "Assalamualaikum." Bastian memutus sambungan teleponnya. Melangkah menuju ranjang, Bastian meletak ponselnya begitu saja di sana. Daripada berdebat dengan sang mama yang tak kunjung ada titik temu, lebih baik Bastian hentikan. Sementara diluar kamar apartemen,... "Bastian hallo! Bastian!" Teriak sang mama saat panggilan telepon dengan putranya terputus. Gelisah, Bu Anja melihat sang suami,... "Bastian mematikan teleponnya pah. Gimana ini?" Bu Anja cemas. Takut tak bisa menghubungi putranya lagi seperti kemarin saat hari batalnya pernikahan putranya. Sebab baru kali ini, telepon Bastian aktif. "Apa yang dia katakan, mah?" Tanya pak Saka ingin mencari jalan tengahnya. Agar sang istri tidak terus kepikiran dan cemas. "Bastian tidak ada disini, pah. Dia ada diluar kota. Katanya, lusa baru pulang." "Astaghfirullah... Anak ini bener-bener," pak Saka tak habis pikir dengan jalan pikiran putranya. Kenapa bisa di hari penting seperti kemarin dia pergi dan tak pulang hingga sekarang. Padahal, ada tanggung jawab besar yang harus ia lakukan. "Terus bagaimana ini pah? Apa yang harus kita lakukan. Lukman sama Devina pasti menagih janji kita yang akan membawa Bastian pulang hari ini." Mama Anja tak tenang. Khawatir orang tua Bella akan semakin kecewa pada keluarga mereka. "Sabar mah, kita tunggu saja sampai Bastian datang. Jika tidak pulang, papa sendiri yang akan turun tangan untuk mencarinya." "Sekarang, ayo kita pulang!" Ajak pak Saka pergi dari sana. Sementara Bastian, mengintip dan mendengarkan obrolan orang tuanya dari lubang kecil yang ada di pintu apartemen. "Maafin Bastian mah, untuk kali ini, Bastian tidak bisa mengabulkan permintaan mama." "Tapi untuk menikah, Bastian sudah kabulkan. Bukan dengan Bella, melainkan dengan Nara." *** Bersambung,...."Tidak usah membelanya Bella, Bastian berhak mendapat kosenkuensi ini." Ucap Bu Devina marah."Maaf mah," sahut Bella pura-pura tertunduk sedih.Padahal dalam hati, dia teramat senang melihat kekhawatiran ibunda Bastian atas ancaman yang diberikan sang mama pada beliau. Sukses membuatnya takut. Kalau seperti ini, pasti akan dilakukan segala cara agar dirinya bisa nikah sama putranya, Bastian."Jeng Devina tenang dulu ya, kita bisa bicarakan baik-baik. Bastian pasti akan bertanggung jawab atas perbuatannya." Sahut Bu Anja menenangkan."Bastian memang wajib melakukan itu jeng Anja, karena semua ini ulahnya." Jawab Bu Devina."Ingat ya Jeng, jika Bastian tak kunjung menyelesaikan kekacauan ini, kita akan tempuh jalur hukum.""Tempuh jalur hukum!" Ucapnya sekali lagi dengan tegas pada mama Bastian."Kami sudah cukup sabar selama ini. Satu minggu kami menahan malu dan kekecewaan karena ulah Bastian, untuk kali ini, kami tidak bisa lagi diam,""Kami harus berikan efek jera buat Bastian. Say
"Bastian!?""Hai?" Bastian menyapa dengan senyum."Apa tadi kamu membohongiku? Kamu tidak sibuk tapi?""Aku baru saja selesai, baru juga duduk di sini. Apa masih perlu aku ambilkan?" Tawar Bastian.Melihat tubuhnya kembali, Nara langsung berkata ... "Tidak perlu! Percuma aku masuk kembali jika kamu sudah melihatnya." Nara cemberut, berjalan cepat ke depan lemari untuk mengambil baju.Bastian yang melihat itu hanya menyembunyikan tawa.*Waktu berlalu... Malam di ruang makan rumah orang tua Bastian, semua orang sedang menikmati jamuan yang disajikan oleh keluarga Sakajaya, ayah Bastian. Mereka adalah Bella dan kedua orang tuanya.Mama Anja berinisiatif mengundang mereka karena Bastian sempat berbalas pesan dengan beliau jika malam ini akan datang. Bella sangat senang dengan kabar ini. Sejak sore tadi, dia bahkan sudah datang di rumah Bastian untuk menunggunya pulang.Namun sampai jam sembilan malam lewat dan mereka sudah pada selesai makan, Bastian belum juga nongol di rumah orang tuan
"Cepat masuk!!" Nara mendorong Bastian ke dalam. Buru-buru ia menutup pintu, agar tak ada orang yang melihatnya."Nara, Nara hei? Tenang dulu sayang?" Bastian menghentikan sikap Nara yang tanpa ampun mendorongnya sangat kenceng. Sampai hampir terjungkal."Bastian, jangan keluar masuk sembarangan! Di luar sana ada orang lalu lalang. Ada Risma juga dan aku tadi berpas-pasan dengannya,""Kamu tahu apa, aku sempat mendengar kabar jika ada karyawanmu di sini yang jadi mata-mata mbak Bella,""Aku khawatir, mereka adalah Risma dan Susan yang paling mendominasi. Nah kalau sampai mereka tahu, bisa ngadu sama mbak Bella nanti. Mampus aku Bastian, dikeroyok sama mereka." Celoteh Nara panjang kali lebar."Terserah mereka saja. Orang dari mereka juga gak ada yang lihat kita." Sahut Bastian tetap tenang."Gak lihat kita gimana? Kamu gak tahu 'kan, bisa saja dia sembunyi dibalik dinding dan kita gak tahu." Ucap Nara masih kekeh dengan kekhawatirannya."Biarin aja sayaangg," Bastian menowel pipi Nara
"Urusan kita cukup perbaiki hubungan ini sebaik-baiknya. Kamu paham?""Kalau tidak baik?""Tidak baik? Memangnya siapa yang ingin jadi manusia tidak baik? Hidup bermasalah dann... tidak bermanfaat? Apa ada orang yang ingin hidup seperti itu?" Tanya Bastian, Nara hanya mengendikkan bahu saja."Nasehatku, jadilah orang bermanfaat, Nara. Berlaku baik pada siapapun. Terutama pada suamimu ini." Ucap Bastian menunjuk dirinya sendiri."Tapi kamu cuma suami siriku, Bastian." Sahut Nara."Apa hanya karena suami siri gak perlu dihormati, dilayani dan mungkin harus diabaikan, dilupakan, apa begitu Nara?""Kalau benar pikiranmu seperti itu, baik, biar aku resmikan saja pernikahan kita di pengadilan. Sejak hari itu, pernikahan kita sah di mata hukum dan agama. Dan kamu, harus siap melayaniku 1x24 jam. Gimana, kamu setuju?"Nara segera menggeleng. "Jangan! Aku tidak mau. Aku belum siap!" Jawabnya."Kenapa? Bukankah itu yang diinginkan semua wanita?""Benar, tapi bukan aku." Nara masih terus mengela
Melihat pesan dari Bastian, lagi-lagi Nara menghela napas pasrah. Ternyata benar dugaannya tadi, jika semua ini adalah ulah Bastian suami sirinya itu, bukan Bara sang asisten."291025." Gumam Nara saat menekan tombol pasword kamar Bastian."Eh, kok tidak bisa?" Nara bingung, seingat dia, itu benar angkanya."Duh, gimana ini? Berapa yang benar ya, angkanya?" Ucap Nara mulai mengingatnya baik-baik."281025, duh, kok salah lagi, sih? Gimana dong?""Jika diulang terus, bakalan aman gak ya? Kena blokir gak ya, itu password nya?" Nara mulai cemas. Takut ketidaktahuannya ini akan jadi masalah."Coba lagi deh, bismillah," ucapnya sambil menekan angka-angka yang ada di tombol pintu tersebut."Yah ... gagal lagi. Gimana ini?" Nara mulai putus asa. Kakinya sudah capek berdiri lama di sana."Padahal seingat aku, itu benar deh, pasword nya. Kenapa masih gagal terus, ya? Ingat banget kalau depannya itu awalannya angka dua, lalu ada sepuluh dan angka dua limanya,""Kenapa masih salah? Kira-kira, di
Tepat selesai Nara melaksanakan sholat dhuhur saat jam istirahat tiba, dia melihat pesan dari Bastian yang lagi-lagi harus membuatnya menghembuskan nafas berat.Ada aja kelakuan yang dilakukan dia untuknya. Selalu menganggu jam kerja dan cari-cari alasan agar bisa bertemu.Entah apa maunya Bastian ini, Nara sendiri juga bingung. Toh tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, kenapa minta selalu pengen ketemu. Kan aneh? Pikir Nara.Cukup ingin tahu saja isi pesan itu, Nara mengabaikannya. Tidak ada niatan buatnya untuk membalas pesan tersebut yang isinya hanya untuk, menyuruhnya datang mengantar makan siang buat Bastian. Nara ogah, tidak mau bertemu Bastian lagi.Segera melipat mukena dan sajadah yang sudah digunakannya, Nara keluar dari ruang ibadah atau mushalla mini yang tersedia di hotel tersebut. Khusus untuk para karyawan yang tempatnya ada di belakang."Nara, apa kamu sudah selesai?" Tanya Hana yang baru saja datang."Sudah Han, kenapa?""Pak Bara tadi mencari mu." Ucap Hana







