แชร์

Batalnya Pernikahan Sang CEO
Batalnya Pernikahan Sang CEO
ผู้แต่ง: NH_berkah

bab 1 (BPSC)

ผู้เขียน: NH_berkah
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-25 07:16:13

"Batalkan pernikahan ini! Aku tidak bisa datang!" Suara Bastian memecah keheningan dalam kamar tersebut.

Ponsel seketika ia matikan dan ia simpan kembali di atas meja. Berbalik belakang, dirinya mendapati gadis yang baru saja ia nodai semalam sedang menatapnya tajam.

Bastian yang paham dengan tatapan gadis itu cukup menanggapinya dengan keadaan diri yang tenang dan santai.

"Bastian, seenaknya kamu batalkan acara sakral itu?! Kamu benar-benar keterlaluan!"

"Itu pernikahanmu. Dan kamu tahu, kamu telah memalukan seluruh keluarga besarmu di sana." Nara marah. Berapi-api menatap Bastian. Pria semalam yang dengan keadaan setengah sadar telah merenggut kesuciannya.

"Ada apa denganmu, gadis kecil? Kurasa, aku tak melakukan kesalahan apapun." Ucapnya santai sambil melihat wanita yang sedang duduk di atas ranjang itu.

"Kamu masih saja tak mengerti letak kesalahanmu dimana? Dengarkan aku baik-baik, akan ku beritahu,"

"Pertama, kamu sudah menodai ku semalam. Kedua,- ?" Nara sejenak melengos kala Bastian menyahut.

"Hum... Lalu?" Ucapnya pelan tanpa amarah saat melihat Keynara.

"Kedua, kamu sudah membatalkan pernikahanmu sesuka hati,"

"Itu artinya, di saat yang sama, kamu sudah menyakiti perasaan dua wanita, Bastian."

"Kamu brengsek. Benar-benar brengsek kamu Bastian! Kurang ajar!" Umpat Nara menggebu.

Bastian menarik napasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. "Ada lagi yang ingin disampaikan?" Tanyanya sambil berjalan lebih dekat dengan ranjang Nara.

"Kamu bajingan!" Sekali lagi, Nara mengumpatnya dengan kata-kata kasar.

Menurutnya, kata-kata kasar itu tidaklah cukup untuk Bastian. Kalau perlu dan boleh, dia ingin sekali menghajar Bastian saat ini juga. Terlampau kesal dan marah dengan ulah Bastian semalam.

Membungkuk sedikit menatap Nara, Bastian langsung mengusap lembut kepalanya sambil berkata, "Pergilah mandi, bersihkan tubuhmu. Setelah itu kita sarapan." Tuturnya lembut.

"Jangan sok perhatian, Bastian! Pikirkan perasaan calon istri dan keluarga besarmu sekarang!"

"Mereka pasti akan kecewa dan marah besar karena kau permalukan!"

"Satu lagi, kita tidak saling kenal sebelumnya. Jadi jangan sok menjadi bagian penting dalam hidupku!"

"Untuk ke depannya nanti, aku tidak ingin mengenalmu lagi! Anggap saja, kita tidak pernah melakukan hal apapun sebelumnya,"

"Lupakan! Pokoknya lupakan. Titik!" Ucap Nara penuh penekanan. Tatapannya pun tajam mengarah Bastian.

"Aku tidak akan lupa, Nara. Dan ke depannya nanti, kita akan sering komunikasi dan bertemu." Ujar Bastian tak ingin kalah.

"Seperti janjiku yang akan bertanggung jawab seratus persen atas dirimu. Jangan lupakan itu!" Bastian tetap mengingatkan lagi akan janjinya semalam dan tadi jika ia ingin bertanggung jawab sepenuhnya atas Nara.

"Aku tidak mau. Dan aku tidak sudi menerima tanggung jawab darimu." Nara kekeh menolaknya.

"Baik, kita lihat saja nanti." Bastian mengalah dari perdebatan mereka. Namun dibalik itu, ada senyum tipis tersungging dalam hatinya.

Nara yang seperti bisa membaca pikiran orang seketika memakinya kembali. "Brengsek kamu, Bastian." Katanya dengan wajah merah padam karena marah. Diri merasa sedang dipermainkan oleh Bastian.

Mereka saling beradu tatap kali ini. Tak ada yang ingin mengalah dari salah satunya. Kobaran api terlihat jelas dimata Nara sejak tadi.

Sementara Bastian, tetap santai dan terlihat tenang seperti tak terjadi masalah besar diantara mereka sebelumnya.

"Nara, sebab diri lelaki brengsek, maka izinkan aku menjadi lelaki baik di hadapanmu," ucap Bastian serius.

"Aku tidak peduli. Minggir lah!" Nara ogah menanggapi omong kosong Bastian yang menurutnya cuma rayuan semata.

Sekarang, bukan tangis lagi yang Nara tunjukkan seperti semalam, melainkan wajah super kesal, marah serta kecewa teramat dalam terhadap Bastian yang sudah menodainya.

Kesal dan juga nyesal sebab kebaikan dirinya justru membawa petaka untuk masa depannya kelak. Semua terjadi gara-gara dirinya mengantar minuman ke kamar Bastian semalam.

Andai tahu akan terjadi seperti ini, maka akan ia biarkan teman seprofesinya itu yang mengantar minuman ke kamar Bastian. Tidak perlu repot diri ini menawarkan bantuan.

Waktu berlalu,...

Nara sudah selesai mandi dan memakai baju seadanya milik Bastian di kamar tersebut. Hanya kaos oblong berukuran big size dan celana panjang yang super besar kedodoran untuknya.

Suara bel pintu memecah keheningan yang ada di kamar tersebut. Nara menoleh, tapi tidak ingin beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu. Dia takut jika yang datang teman seprofesinya.

Jangan sampai, mereka melihat dirinya satu kamar dengan Bastian. Bisa jadi bumerang untuknya nanti.

Bastian yang paham dengan keadaan ini tak banyak suara cukup dengan tindakan ia bangkit membuka pintu. Karena dia tahu, yang datang itu asisten pribadinya yang ia suruh membeli makanan.

Benar saja setelah pintu dibuka, ada Bara di sana. "Pagi, bos?"

"Ya, pagi. Apa kamu sudah membawanya?" Tanya Bastian diambang pintu.

"Sudah bos, semua lengkap di dalam sini," jawab Bara menyerahkan beberapa paper bag yang ia bawa kepada Bastian.

"Terimakasih."

"Jika ada yang dibutuhkan lagi, kabari saya bos." Pesan Bara.

"Ya."

"Oh ya, Om Saka dan tante Anja terus menghubungiku sejak pagi tadi. Menanyakan keberadaan anda sekarang." Bara memberitahu.

"Lakukan saja seperti yang kukatakan sebelumnya. Abaikan kalau perlu matikan atau blokir kontak mereka sementara." Saran Bastian yang tak peduli dengan kepanikan orang tuanya.

"Sudah saya lakukan sesuai keinginan anda, bos."

"Bagus." Bastian memujinya.

"Kalau begitu, saya permisi."

"Ya. Jangan lupa ambil kunci duplikat kamar ini di resepsionis."

"Dan ingat, jangan beritahu siapapun tentang keberadaanku di sini!"

"Baik bos, permisi." Pamitnya pergi.

Mengunci kembali pintunya, Bastian berjalan mendekat ke arah Nara menyodorkan satu paper bag yang berisi pakaian wanita.

"Tidak perlu khawatir, yang datang tadi Bara."

"Dia membawa pakaian untukmu. Kamu bisa menggantinya dengan yang baru." Tutur Bastian di hadapan Nara.

"Terimakasih," tanpa basa-basi, Nara menerima paper bag tersebut.

"Jika kamu nyaman dengan milikku, pakailah! Tak perlu diganti. Aku tidak keberatan." Ujar Bastian memberi pilihan.

"Aku akan memakai yang baru," sahut Nara cepat kemudian berlalu dari hadapan Bastian. Dia pergi ke kamar mandi guna mengganti bajunya.

Namun, alangkah terkejutnya saat diri melihat pakaian yang dibawakan asisten pribadi Bastian itu. "Astaghfirullah... Pakaian apa ini?!" Nara membelalak melihatnya.

Sebuah dress teramat mini dan ketat dengan belahan bawah yang teramat tinggi sampai di paha, membuatnya gemetar sendiri saat melihat.

"Sebenarnya, mereka ini niat membelikan baju untukku apa tidak sih? Kalau niat, kenapa harus modelan begini?"

"Ini jelas bukan pakaianku. Tapi pakaian seorang LC."

"Keterlaluan sekali mereka. Bos dan asisten sama-sama gila!" Gerutu Nara kesal.

Sebuah ketukan dan panggilan membuyarkan fokusnya dari pakaian menjijikkan ini. Pakaian yang sangat tidak pantas untuk dipakai.

"Nara, apa kamu baik-baik saja di dalam?" Bastian mengetuk pintu kamar mandi sambil bertanya.

"Ya, aku baik."

"Kenapa lama sekali? Cepat keluar!" Perintahnya.

"Ak-aku...?"

"Keluar Nara!" Perintah Bastian sekali lagi.

Tak ingin berlama-lama dikamar mandi takut Bastian menggila, Nara akhirnya memasukkan dress tersebut sembarangan yang penting asal masuk saja ke tempatnya.

Ceklek!!

Pintu dibuka. Bastian menyipitkan mata saat melihat pakaiannya masih menempel ditubuh Nara.

"Apa kamu tidak menggantinya?" Bastian spontan bertanya.

"Ini bukan pakaianku. Kamu bisa memberikannya pada wanita lain. Maaf, aku pinjam yang kupakai." Nara acuh.

"Apa Bara salah membelikan pakaian untukmu?" Nara cuma mengendikkan bahunya saja dengan berjalan santai melewati Bastian.

"Nara, ayo jawab!" Bastian tidak puas dengan tanggapan tersebut. Dia membuntuti Nara dibelakang.

"Lihat aja sendiri." Ucap Nara setelah duduk di ujung tempat tidur.

Mendengar jawaban ketus itu, Bastian langsung saja membuka isi dari paper bag itu. "Astaghfirullah?!" Dia sama terkejutnya seperti Nara.

"Kenapa istighfar? Bukankah itu bukti jika selama ini kamu sering gonta-ganti wanita?"

"Pakaian seperti itu 'kan, yang sering kau pesan dari asisten pribadimu untuk diberikan pada wanita-wanita yang sudah kau pakai?"

"Nara, jangan memfitnah! Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun. Kecuali kamu."

"Aku tidak percaya. Untung mbak Bella tidak jadi menikah denganmu."

"Walau pahit dijalani di awal dan sangat memalukan karena batal menikah, seenggaknya mbak Bella sudah selamat dan terbebas dari lelaki bren**ek pemain wanita sepertimu!" Cibir Nara.

"Allahu'Akbar Nara!! Jangan keterlaluan."

"Aku hanya mengungkapkan sesuai fakta Bastian, tidak memfitnah."

***

Bersambung,...

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 16 BPSC

    "Tidak usah membelanya Bella, Bastian berhak mendapat kosenkuensi ini." Ucap Bu Devina marah."Maaf mah," sahut Bella pura-pura tertunduk sedih.Padahal dalam hati, dia teramat senang melihat kekhawatiran ibunda Bastian atas ancaman yang diberikan sang mama pada beliau. Sukses membuatnya takut. Kalau seperti ini, pasti akan dilakukan segala cara agar dirinya bisa nikah sama putranya, Bastian."Jeng Devina tenang dulu ya, kita bisa bicarakan baik-baik. Bastian pasti akan bertanggung jawab atas perbuatannya." Sahut Bu Anja menenangkan."Bastian memang wajib melakukan itu jeng Anja, karena semua ini ulahnya." Jawab Bu Devina."Ingat ya Jeng, jika Bastian tak kunjung menyelesaikan kekacauan ini, kita akan tempuh jalur hukum.""Tempuh jalur hukum!" Ucapnya sekali lagi dengan tegas pada mama Bastian."Kami sudah cukup sabar selama ini. Satu minggu kami menahan malu dan kekecewaan karena ulah Bastian, untuk kali ini, kami tidak bisa lagi diam,""Kami harus berikan efek jera buat Bastian. Say

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 15 BPSC

    "Bastian!?""Hai?" Bastian menyapa dengan senyum."Apa tadi kamu membohongiku? Kamu tidak sibuk tapi?""Aku baru saja selesai, baru juga duduk di sini. Apa masih perlu aku ambilkan?" Tawar Bastian.Melihat tubuhnya kembali, Nara langsung berkata ... "Tidak perlu! Percuma aku masuk kembali jika kamu sudah melihatnya." Nara cemberut, berjalan cepat ke depan lemari untuk mengambil baju.Bastian yang melihat itu hanya menyembunyikan tawa.*Waktu berlalu... Malam di ruang makan rumah orang tua Bastian, semua orang sedang menikmati jamuan yang disajikan oleh keluarga Sakajaya, ayah Bastian. Mereka adalah Bella dan kedua orang tuanya.Mama Anja berinisiatif mengundang mereka karena Bastian sempat berbalas pesan dengan beliau jika malam ini akan datang. Bella sangat senang dengan kabar ini. Sejak sore tadi, dia bahkan sudah datang di rumah Bastian untuk menunggunya pulang.Namun sampai jam sembilan malam lewat dan mereka sudah pada selesai makan, Bastian belum juga nongol di rumah orang tuan

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 14 BPSC

    "Cepat masuk!!" Nara mendorong Bastian ke dalam. Buru-buru ia menutup pintu, agar tak ada orang yang melihatnya."Nara, Nara hei? Tenang dulu sayang?" Bastian menghentikan sikap Nara yang tanpa ampun mendorongnya sangat kenceng. Sampai hampir terjungkal."Bastian, jangan keluar masuk sembarangan! Di luar sana ada orang lalu lalang. Ada Risma juga dan aku tadi berpas-pasan dengannya,""Kamu tahu apa, aku sempat mendengar kabar jika ada karyawanmu di sini yang jadi mata-mata mbak Bella,""Aku khawatir, mereka adalah Risma dan Susan yang paling mendominasi. Nah kalau sampai mereka tahu, bisa ngadu sama mbak Bella nanti. Mampus aku Bastian, dikeroyok sama mereka." Celoteh Nara panjang kali lebar."Terserah mereka saja. Orang dari mereka juga gak ada yang lihat kita." Sahut Bastian tetap tenang."Gak lihat kita gimana? Kamu gak tahu 'kan, bisa saja dia sembunyi dibalik dinding dan kita gak tahu." Ucap Nara masih kekeh dengan kekhawatirannya."Biarin aja sayaangg," Bastian menowel pipi Nara

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 13 BPSC

    "Urusan kita cukup perbaiki hubungan ini sebaik-baiknya. Kamu paham?""Kalau tidak baik?""Tidak baik? Memangnya siapa yang ingin jadi manusia tidak baik? Hidup bermasalah dann... tidak bermanfaat? Apa ada orang yang ingin hidup seperti itu?" Tanya Bastian, Nara hanya mengendikkan bahu saja."Nasehatku, jadilah orang bermanfaat, Nara. Berlaku baik pada siapapun. Terutama pada suamimu ini." Ucap Bastian menunjuk dirinya sendiri."Tapi kamu cuma suami siriku, Bastian." Sahut Nara."Apa hanya karena suami siri gak perlu dihormati, dilayani dan mungkin harus diabaikan, dilupakan, apa begitu Nara?""Kalau benar pikiranmu seperti itu, baik, biar aku resmikan saja pernikahan kita di pengadilan. Sejak hari itu, pernikahan kita sah di mata hukum dan agama. Dan kamu, harus siap melayaniku 1x24 jam. Gimana, kamu setuju?"Nara segera menggeleng. "Jangan! Aku tidak mau. Aku belum siap!" Jawabnya."Kenapa? Bukankah itu yang diinginkan semua wanita?""Benar, tapi bukan aku." Nara masih terus mengela

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 12 (BPSC)

    Melihat pesan dari Bastian, lagi-lagi Nara menghela napas pasrah. Ternyata benar dugaannya tadi, jika semua ini adalah ulah Bastian suami sirinya itu, bukan Bara sang asisten."291025." Gumam Nara saat menekan tombol pasword kamar Bastian."Eh, kok tidak bisa?" Nara bingung, seingat dia, itu benar angkanya."Duh, gimana ini? Berapa yang benar ya, angkanya?" Ucap Nara mulai mengingatnya baik-baik."281025, duh, kok salah lagi, sih? Gimana dong?""Jika diulang terus, bakalan aman gak ya? Kena blokir gak ya, itu password nya?" Nara mulai cemas. Takut ketidaktahuannya ini akan jadi masalah."Coba lagi deh, bismillah," ucapnya sambil menekan angka-angka yang ada di tombol pintu tersebut."Yah ... gagal lagi. Gimana ini?" Nara mulai putus asa. Kakinya sudah capek berdiri lama di sana."Padahal seingat aku, itu benar deh, pasword nya. Kenapa masih gagal terus, ya? Ingat banget kalau depannya itu awalannya angka dua, lalu ada sepuluh dan angka dua limanya,""Kenapa masih salah? Kira-kira, di

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 11 (BPSC)

    Tepat selesai Nara melaksanakan sholat dhuhur saat jam istirahat tiba, dia melihat pesan dari Bastian yang lagi-lagi harus membuatnya menghembuskan nafas berat.Ada aja kelakuan yang dilakukan dia untuknya. Selalu menganggu jam kerja dan cari-cari alasan agar bisa bertemu.Entah apa maunya Bastian ini, Nara sendiri juga bingung. Toh tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, kenapa minta selalu pengen ketemu. Kan aneh? Pikir Nara.Cukup ingin tahu saja isi pesan itu, Nara mengabaikannya. Tidak ada niatan buatnya untuk membalas pesan tersebut yang isinya hanya untuk, menyuruhnya datang mengantar makan siang buat Bastian. Nara ogah, tidak mau bertemu Bastian lagi.Segera melipat mukena dan sajadah yang sudah digunakannya, Nara keluar dari ruang ibadah atau mushalla mini yang tersedia di hotel tersebut. Khusus untuk para karyawan yang tempatnya ada di belakang."Nara, apa kamu sudah selesai?" Tanya Hana yang baru saja datang."Sudah Han, kenapa?""Pak Bara tadi mencari mu." Ucap Hana

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 10 (BPSC)

    Tepat selesai Nara menutup pintu kamar Bastian, dirinya terkejut saat mendapati sosok Bella dan Hana temannya tak jauh dari tempatnya berdiri.Nara gugup, namun sebisa mungkin dirinya berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya."Em-mbak Bella?!" Nara menyapan

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 9 (BPSC)

    Di parkiran hotel, Nara yang dipaksa oleh Bastian untuk berangkat kerja bersama sejak dari rumah tadi akhirnya mau tak mau harus mengikuti inginnya. Tapi, benar saja seperti kekhawatirannya tadi, Nara bingung setelah melihat situasi yang ada ditempat parkiran mobil ini. Melihat ke sana kemari, di

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 8 (BPSC)

    Pagi...Seperti biasa, Nara selalu bangun jam 4.40 menit agar tak terlambat datang bekerja.Mandi, hal pertama yang ia lakukan setelah bangun dari tidurnya. Dia juga masih mendapati Bastian tertidur pulas di atas kasur yang sama dengannya saat bangun tadi.Kasihan ... Tapi mau bagaimana lagi, semua

  • Batalnya Pernikahan Sang CEO    bab 7 (BPSC)

    "Aku tidak akan mati sebelum punya anak 12 darimu, Nara. Asal kau tidak curang meracuniku malam ini." Menghela nafasnya panjang, Nara berkata, "Aku tidak sesadis itu, Bastian. Jika aku mau, aku sudah mem**nuhmu malam itu juga." Sahutnya sarkas. "Berarti, rasa belas kasihmu besar terhadapku." Ba

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status