LOGINPagi, Nara bersiap untuk berangkat bekerja. Dalam hati, dia sangat berharap jika hari ini dirinya tidak akan ketemu Bastian. Dia enggan juga malu.
Walaupun ada rasa kesal dan marah terhadap Bastian orang yang sudah merenggut kesuciannya, tetap saja dia tidak bisa marah berkepanjangan. Apalagi, Bastian adalah CEO hotel tempatnya bekerja, membuat Nara was-was saat berhadapan dengannya. Takut juga dipecat oleh Bastian. Menunggu angkot dipinggiran jalan, Nara siap bertemu dengan semua rekan kerjanya yang ada di hotel Grand Saka Harmony. Namun baru saja dirinya sampai di depan gang kos tempatnya tinggal, tiba-tiba saja nada pesan di ponsel miliknya berbunyi. Setelah dilihat, Nara sangat terkejut dengan nama yang tertera di sana. "My husband? Siapa? Bastian maksudnya?" "Sejak kapan dia memasukkan nomer ponselnya di handphone ku?" Nara mengingat-ingat kembali kebersamaannya bersama Bastian sebelum akhirnya dirinya pulang. Karena setahunya, dia tidak pernah meminta nomer ponsel Bastian apalagi menyimpannya. Tidak pernah. Nara yakin, ini adalah ulah Bastian suaminya. "Ada aja kelakuan dia," gumam Nara yang kemudian membaca pesan singkat yang dikirim Bastian untuknya. "Nara, aku izinkan kamu buat libur seminggu kedepan. Tidak usah khawatir, aku tidak akan memecatmu." Tulisnya dalam aplikasi chat warna hijau. Sementara Nara,... "Enak aja dia bicara seperti itu." Gerutunya saat menanggapi pesan Bastian. "Dikira aku gak tahu, peraturan kerja di hotelnya itu seperti apa!? Emang gak dipecat, tapi dipotong gaji dan ini sangat banyak dipotongnya." "Kamu pikir aku gak tahu, huh!!" Kesal Nara. Sangat-sangat kesal. Kesal dengan pernyataan Bastian yang menurutnya seenak jidat. Padahal tanpa ia (Nara) tahu, niat Bastian sangatlah baik. Tidak akan ada potongan gaji apalagi pemecatan. Bastian hanya ingin memberi keringanan sebab diri tahu, barang berharga milik Nara masih sakit. Jalan saja, Nara masih ngangkang kemarin, membuat Bastian iba. "Bastian-Bastian, sorry, ... aku tidak akan ambil tawaranmu." Ujarnya menolak. "Biarpun milikku masih sakit, akan ku paksakan buat jalan dan kerja. Biar saat aku pulang kampung nanti, aku sudah bisa membayar lunas utang ibuku." Ucapnya bersemangat. Kembali menyimpan ponselnya, Nara siap menaiki angkot yang biasa sering ia tumpangi saat berangkat kerja. Sampai di hotel Grand Saka Harmony, Nara langsung menuju belakang dan menyimpan tas jinjingnya di loker yang tersedia. "Dorr!!" "Astaghfirullah... Hana!?" Nara kaget bukan main saat Hana tiba-tiba muncul dari balik pintu dan mengagetkan dirinya. "Kemana aja Lo, kemarin? Libur gak kabar-kabar." Tanya sang sahabat. "Istirahat Han, capek." Jawabnya berbohong. "Serius Loh?" "Iya. Di rumah banyak kerjaan, aku ambil libur buat ngeberesin dan istirahat." "Kemarin aku lewat kos kamu, sepi? Pintu tertutup terus?" Kata Hana. "Mungkin pas lagi di dalam, Han." "Oh,... Aku kira kemana. Dua hari gak ada datang. Kalau sakit, biar aku jenguk sore nanti. Tahunya udah berangkat." Celoteh Hana dengan kekehan kecil. "Jangan sampai sakit Han, nanti aku gak bisa makan." "Astaga Nara, jangan pelit-pelit amat napa, sama diri sendiri." "Enggak pelit, tapi hemat," sahut Hana meringis. "Udah yuk, kita ke dapur aja. Udah jam tujuh nih," ajaknya pergi dari ruangan loker itu. Sesampainya di dapur,.... Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Beberapa temannya ada yang belum berangkat ada juga yang lagi beberes diruangan lain. "Han, ada permintaan minuman dari kamar 101. Bisa kamu antar?" Tanya chef Juna. "Bisa chef," jawabnya sigap. "Silahkan!" Chef Juna menyodorkan nampan dan segelas jus alpukat di atasnya. "Nara?" Panggil chef satunya. "Ya, chef?" "Bisa kamu antar sarapan untuk tamu di kamar 207?" "Bisa chef!" Nara tak kalah sigapnya dengan Hana sang sahabat. "Good," puji chef Farhan mengulas senyum. Nampan Nara terima, dirinya siap pergi ke lantai 8 mengantar sarapan buat tamu dikamar 207. Tapi, baru saja kakinya menapaki lantai 8, Nara seolah berat untuk melangkah menuju kamar tujuan. Sebab salah satu dari barisan kamar yang berjejer di sana, ada kamar yang menyisakan luka ditubuh Nara hingga sekarang. Kamar dengan nomor 208 dilantai yang sama itu, adalah kamar milik Bastian yang masih menyisakan kekhawatiran dan penyesalan bagi seorang Nara. Kamar yang menjadi saksi bisu panasnya malam itu bersama Bastian tepat tiga hari yang lalu. Nara gugup, gemetar, sampai keringat dingin bercucuran halus di keningnya. Dia enggan ketemu Bastian. Juga masih terbayang-bayang dengan kejadian malam itu. Malam yang memilukan. "Bismillah, kuat Nara, kuat!" Ucapnya di dalam hati menyemangati dirinya sendiri. Satu, dua, tiga, dengan langkah pelan, Nara bertekad ingin menyelesaikan tanggung jawabnya atas amanah yang diberikan chef Farhan tadi. Jangan sampai karena rasa traumanya, Nara mengecewakan tamu di hotel tersebut dan mencoreng nama baik hotel ini. Tok, tok! Nara mengetuk pintu setelah ia tekan bel tadi. Tak berselang lama, tamu yang ada dikamar itu langsung membuka pintunya dan mengambil makanan yang dipesannya. "Terimakasih," ucapnya. "Sama-sama, pak," Nara menanggapinya dengan senyum. Ternyata, seseorang yang menginap dikamar hotel Grand Saka Harmony tepat sebelah kamar Bastian adalah seorang bapak paruh baya. Nara lega. Sebab bukan om-om nakal yang ditakutinya. Setelah pintu ditutup, Nara segera pergi dari sana dan tak ingin berhenti atau melihat kamar Bastian. Dia buru-buru, ingin segera sampai di lantai 1 kembali. Ting! Pintu lift terbuka. Nara segera keluar dan pergi ke dapur tempatnya bekerja jadi pelayan hotel tersebut. Namun, langkah itu tetiba berhenti saat seseorang berdiri di depan lift yang sama dengan dirinya ini. Menunduk, Nara tak ingin mengetahui siapa orang didepannya ini. Memakai masker, topi, serta jaket kulit berwarna hitam pekat membungkus setengah tubuhnya, Nara diam ingin segera pergi dari sana. Namun,.... "Ikutlah denganku!" Perintah itu tegas ditujukan pada Nara. Walau tak terlihat jelas wajah orang tersebut, tapi Nara sangat yakin siapa pemilik suara itu. Bastian, suaminya. Terdiam dan mematung seluruh tubuhnya, kaki Nara serasa lemas saat akan digerakkan untuk melangkah. Yang dihindari sudah terjadi. Pada akhirnya, dia kembali bertemu Bastian. Ting! Nara tersadar saat bunyi pesan dalam ponselnya terdengar. Disaat itulah, dirinya celingukan kesana kemari melihat orang disana. Ternyata tidak ada orang. Dan Bastian, pasti sudah pergi ke kamar pribadinya dilantai 8. Melihat pintu lift dibelakangnya, ternyata benar pintu itu sudah tertutup kembali. "Syukurlah, Bastian sudah pergi." Gumamnya pelan. Berjalan menuju dapur, Nara berhenti sejenak di lorong dapur dan membaca pesan yang dikirim dari seseorang tadi. "My husband?" "Huh!" Nara membuang napasnya berat. "Bastian lagi, Bastian lagi." Nara kesal. "Kenapa sih, dia gak mau ngertiin keadaan aku juga. Dikiranya main ketemu itu gampang, gak kali...," "Sekali ketahuan, bisa jadi bumerang dan aku, bisa saja digantung hidup-hidup sama pak Saka dan keluarga besar mbak Bella." Pikirnya. "Bener-bener." Melihat kembali ponselnya, Nara membaca sekali lagi pesan yang dikirim Bastian. "Nara, cepatlah datang ke kamarku!" Perintahnya dalam pesan. "Ogah!! Saya sibuk!" Balas Nara. Setelahnya, ia menyimpan kembali ponsel miliknya disaku celana dan pergi dari lorong. Sementara Bastian yang sudah membaca pesan balasan dari Nara, seketika mengepalkan erat-erat tangannya sebab Nara berani menolak inginnya. "Nara, awas aja kamu nanti!" Gumamnya. *** Bersambung...."Tidak usah membelanya Bella, Bastian berhak mendapat kosenkuensi ini." Ucap Bu Devina marah."Maaf mah," sahut Bella pura-pura tertunduk sedih.Padahal dalam hati, dia teramat senang melihat kekhawatiran ibunda Bastian atas ancaman yang diberikan sang mama pada beliau. Sukses membuatnya takut. Kalau seperti ini, pasti akan dilakukan segala cara agar dirinya bisa nikah sama putranya, Bastian."Jeng Devina tenang dulu ya, kita bisa bicarakan baik-baik. Bastian pasti akan bertanggung jawab atas perbuatannya." Sahut Bu Anja menenangkan."Bastian memang wajib melakukan itu jeng Anja, karena semua ini ulahnya." Jawab Bu Devina."Ingat ya Jeng, jika Bastian tak kunjung menyelesaikan kekacauan ini, kita akan tempuh jalur hukum.""Tempuh jalur hukum!" Ucapnya sekali lagi dengan tegas pada mama Bastian."Kami sudah cukup sabar selama ini. Satu minggu kami menahan malu dan kekecewaan karena ulah Bastian, untuk kali ini, kami tidak bisa lagi diam,""Kami harus berikan efek jera buat Bastian. Say
"Bastian!?""Hai?" Bastian menyapa dengan senyum."Apa tadi kamu membohongiku? Kamu tidak sibuk tapi?""Aku baru saja selesai, baru juga duduk di sini. Apa masih perlu aku ambilkan?" Tawar Bastian.Melihat tubuhnya kembali, Nara langsung berkata ... "Tidak perlu! Percuma aku masuk kembali jika kamu sudah melihatnya." Nara cemberut, berjalan cepat ke depan lemari untuk mengambil baju.Bastian yang melihat itu hanya menyembunyikan tawa.*Waktu berlalu... Malam di ruang makan rumah orang tua Bastian, semua orang sedang menikmati jamuan yang disajikan oleh keluarga Sakajaya, ayah Bastian. Mereka adalah Bella dan kedua orang tuanya.Mama Anja berinisiatif mengundang mereka karena Bastian sempat berbalas pesan dengan beliau jika malam ini akan datang. Bella sangat senang dengan kabar ini. Sejak sore tadi, dia bahkan sudah datang di rumah Bastian untuk menunggunya pulang.Namun sampai jam sembilan malam lewat dan mereka sudah pada selesai makan, Bastian belum juga nongol di rumah orang tuan
"Cepat masuk!!" Nara mendorong Bastian ke dalam. Buru-buru ia menutup pintu, agar tak ada orang yang melihatnya."Nara, Nara hei? Tenang dulu sayang?" Bastian menghentikan sikap Nara yang tanpa ampun mendorongnya sangat kenceng. Sampai hampir terjungkal."Bastian, jangan keluar masuk sembarangan! Di luar sana ada orang lalu lalang. Ada Risma juga dan aku tadi berpas-pasan dengannya,""Kamu tahu apa, aku sempat mendengar kabar jika ada karyawanmu di sini yang jadi mata-mata mbak Bella,""Aku khawatir, mereka adalah Risma dan Susan yang paling mendominasi. Nah kalau sampai mereka tahu, bisa ngadu sama mbak Bella nanti. Mampus aku Bastian, dikeroyok sama mereka." Celoteh Nara panjang kali lebar."Terserah mereka saja. Orang dari mereka juga gak ada yang lihat kita." Sahut Bastian tetap tenang."Gak lihat kita gimana? Kamu gak tahu 'kan, bisa saja dia sembunyi dibalik dinding dan kita gak tahu." Ucap Nara masih kekeh dengan kekhawatirannya."Biarin aja sayaangg," Bastian menowel pipi Nara
"Urusan kita cukup perbaiki hubungan ini sebaik-baiknya. Kamu paham?""Kalau tidak baik?""Tidak baik? Memangnya siapa yang ingin jadi manusia tidak baik? Hidup bermasalah dann... tidak bermanfaat? Apa ada orang yang ingin hidup seperti itu?" Tanya Bastian, Nara hanya mengendikkan bahu saja."Nasehatku, jadilah orang bermanfaat, Nara. Berlaku baik pada siapapun. Terutama pada suamimu ini." Ucap Bastian menunjuk dirinya sendiri."Tapi kamu cuma suami siriku, Bastian." Sahut Nara."Apa hanya karena suami siri gak perlu dihormati, dilayani dan mungkin harus diabaikan, dilupakan, apa begitu Nara?""Kalau benar pikiranmu seperti itu, baik, biar aku resmikan saja pernikahan kita di pengadilan. Sejak hari itu, pernikahan kita sah di mata hukum dan agama. Dan kamu, harus siap melayaniku 1x24 jam. Gimana, kamu setuju?"Nara segera menggeleng. "Jangan! Aku tidak mau. Aku belum siap!" Jawabnya."Kenapa? Bukankah itu yang diinginkan semua wanita?""Benar, tapi bukan aku." Nara masih terus mengela
Melihat pesan dari Bastian, lagi-lagi Nara menghela napas pasrah. Ternyata benar dugaannya tadi, jika semua ini adalah ulah Bastian suami sirinya itu, bukan Bara sang asisten."291025." Gumam Nara saat menekan tombol pasword kamar Bastian."Eh, kok tidak bisa?" Nara bingung, seingat dia, itu benar angkanya."Duh, gimana ini? Berapa yang benar ya, angkanya?" Ucap Nara mulai mengingatnya baik-baik."281025, duh, kok salah lagi, sih? Gimana dong?""Jika diulang terus, bakalan aman gak ya? Kena blokir gak ya, itu password nya?" Nara mulai cemas. Takut ketidaktahuannya ini akan jadi masalah."Coba lagi deh, bismillah," ucapnya sambil menekan angka-angka yang ada di tombol pintu tersebut."Yah ... gagal lagi. Gimana ini?" Nara mulai putus asa. Kakinya sudah capek berdiri lama di sana."Padahal seingat aku, itu benar deh, pasword nya. Kenapa masih gagal terus, ya? Ingat banget kalau depannya itu awalannya angka dua, lalu ada sepuluh dan angka dua limanya,""Kenapa masih salah? Kira-kira, di
Tepat selesai Nara melaksanakan sholat dhuhur saat jam istirahat tiba, dia melihat pesan dari Bastian yang lagi-lagi harus membuatnya menghembuskan nafas berat.Ada aja kelakuan yang dilakukan dia untuknya. Selalu menganggu jam kerja dan cari-cari alasan agar bisa bertemu.Entah apa maunya Bastian ini, Nara sendiri juga bingung. Toh tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, kenapa minta selalu pengen ketemu. Kan aneh? Pikir Nara.Cukup ingin tahu saja isi pesan itu, Nara mengabaikannya. Tidak ada niatan buatnya untuk membalas pesan tersebut yang isinya hanya untuk, menyuruhnya datang mengantar makan siang buat Bastian. Nara ogah, tidak mau bertemu Bastian lagi.Segera melipat mukena dan sajadah yang sudah digunakannya, Nara keluar dari ruang ibadah atau mushalla mini yang tersedia di hotel tersebut. Khusus untuk para karyawan yang tempatnya ada di belakang."Nara, apa kamu sudah selesai?" Tanya Hana yang baru saja datang."Sudah Han, kenapa?""Pak Bara tadi mencari mu." Ucap Hana







