Getaran dari kaki Makhluk Hutan yang Marah semakin menggelegar, menggoyangkan batu bata lantai koridor istana dan membuat tirai sutra di jendela bergoyang hebat. Raden merasakan denyut nadi di dahinya berdetak kencang, sementara kekuatan hangat yang pernah muncul di dadanya saat di Desa Tengger kini mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, seperti aliran air hangat yang menghangatkan setiap urat dan tulangnya.
“Yang Mulia harus pergi ke tempat yang aman!” teriak Raden sambil menjaga pandangan pada makhluk-makhluk yang kini sudah mencapai gerbang utama istana. Gerbang kayu besar yang berdiri kokoh selama berabad-abad mulai bergetar ketika salah satu makhluk dengan tinggi hampir tiga meter menendangnya dengan kaki yang kasar seperti batang pohon.
Raja Jayawardhana menggeleng dengan tegas, mengambil tombak pusaka yang terletak di sudut teras. “Saya adalah raja dari kerajaan ini – saya tidak akan berlari sementara rakyat saya dalam bahaya. Kita akan menghadapinya bersama, anakku.”
Sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, sosok tipis Shinta Sari tiba-tiba muncul di sisi mereka, membawa dengan diri aroma daun segar dan tanah basah setelah hujan. Di tangannya kanan, dia memegang ranting pohon beringin yang masih basah, sementara tangannya kiri memegang sebuah kantong kulit kecil yang terisi dedaunan kering dari berbagai jenis pohon.
“Mereka bukan musuh yang bisa dikalahkan dengan senjata baja,” ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan, meskipun tubuhnya juga sedikit bergetar melihat skala kerusakan yang terjadi. “Makhluk Hutan ini adalah perwujudan kemarahan alam – mereka marah karena perjanjian yang dilanggar dan kehilangan hubungan dengan kerajaan yang dulunya menjadi sahabat mereka. Hanya kekuatan alam yang sama yang bisa membendung mereka.”
Dari arah pelabuhan, suara teriakan semakin keras. Raden melihat beberapa warga yang tidak sempat melarikan diri terjepit di sudut pasar yang terletak dekat dermaga, sementara makhluk-makhluk dengan tangan yang seperti ranting pohon mulai merobek atap rumah-rumah kayu yang ada di sekitarnya. Asap hitam mulai menjulang ke langit, mencampur dengan awan kemarau yang sudah melayang sejak lama.
“Kamu harus memimpin saya ke tempat di mana kekuatan alam paling kuat di kerajaan ini,” kata Raden kepada Shinta Sari, matanya tidak pernah menyimpang dari gerbang istana yang kini mulai retak-retak. “Jika darah leluhur saya benar-benar bisa berkomunikasi dengan alam, maka saya harus membuktikannya sekarang. Saya tidak bisa berdiri diam sementara rakyat saya menderita.”
Shinta Sari mengangguk, kemudian membimbing mereka melalui koridor belakang yang mengarah ke kebun kerajaan – sebuah kawasan yang dulunya dirawat dengan cermat sebagai tempat perjanjian antara raja dan pemimpin alam. Namun sekarang, kebun itu juga menunjukkan tanda-tanda kemarau yang parah – bunga-bunga yang biasanya mekar indah kini layu, dan kolam ikan yang dulunya jernih kini mengering hanya menyisakan genangan air keruh di bagian tengahnya.
Di tengah kebun terdapat sebuah pohon beringin tua yang sudah berusia lebih dari lima ratus tahun – batangnya begitu besar sehingga diperlukan sepuluh orang untuk mengelilinginya, dan akarnya yang besar menjulang ke atas permukaan tanah seperti tangan besar yang meraih langit. Di pangkal pohon tersebut terdapat sebuah nisan kecil yang tidak tercatat dalam sejarah kerajaan, dengan ukiran pola akar pohon yang sama dengan yang ada pada Batu Akar Raja.
“Ini adalah Pohon Perjanjian,” jelas Shinta Sari saat mereka berhenti di depan pohon tua tersebut. “Di sinilah Raja Jayaputra pertama kali membuat kesepakatan dengan Ratu Bumi Akar. Kekuatan alam yang mengalir di dalam tanah sekitar sini masih kuat, bahkan meskipun telah terlupakan selama bertahun-tahun.”
Raden merasakan getaran yang lebih kuat saat dia mendekati pohon tersebut. Ketika tangannya menyentuh kulit pohon yang kasar dan bergelombang, dia mendengar suara bisikan yang lembut – bukan suara yang terdengar di telinga, melainkan suara yang dirasakan di dalam hati, seperti suara ribuan daun yang berbisik bersama-sama.
Kita telah menunggu lama, pemegang darah Raja Jayaputra, suara itu berkata, penuh dengan kesedihan namun juga harapan. Kemarau yang kamu rasakan bukan hanya akibat pelanggaran masa lalu, melainkan juga karena kita telah kehilangan suara pemimpin yang bisa berbicara dengan kita. Makhluk-makhluk yang menyerang sekarang adalah saudara kita yang tersesat – mereka tidak menginginkan kehancuran, melainkan hanya ingin diperhatikan.
Sementara itu, suara gemuruh dari gerbang istana semakin dekat. Mereka bisa melihat bayangan besar makhluk-makhluk itu sudah memasuki halaman utama istana, menghancurkan taman bunga dan merobek pagar besi yang melindungi wilayah istana. Patih Prabu Kala muncul dari arah kantor pemerintahan, bersama dengan sekelompok prajurit yang membawa tombak dan panah, namun wajah mereka menunjukkan ketakutan yang jelas melihat kekuatan yang mereka hadapi.
“Yang Mulia!” seru Patih Kala saat dia melihat raja dan Raden berdiri di kebun. “Kami harus mengungsi segera! Prajurit saya tidak bisa menghentikan makhluk-makhluk itu – setiap kali mereka terkena senjata, hanya membuat mereka semakin marah!”
Raja Jayawardhana ingin menjawab, namun Shinta Sari mengangkat tangan untuk membantahnya. “Kekerasan hanya akan memperparah masalah, Patih. Makhluk-makhluk ini adalah bagian dari alam yang sama dengan kita – mereka hanya merespons rasa sakit yang mereka rasakan.”
Patih Kala melihatnya dengan mata yang penuh keraguan, bahkan sedikit membenci. “Dan apa yang ingin kamu lakukan, penyihir dari hutan? Biarkan mereka menghancurkan kerajaan kita dan membunuh kita semua?”
Sebelum Shinta Sari bisa menjawab, salah satu makhluk yang paling besar – dengan kulit kayu berwarna coklat tua dan rambut dedaunan yang sudah mulai menguning – memasuki kebun kerajaan. Matanya yang menyala seperti bara api berfokus pada Raden, dan dia mengeluarkan suara seperti guntur jauh yang mengguncang udara sekitarnya. Raden merasakan bahwa makhluk itu sedang berkomunikasi padanya, menyampaikan rasa sakit dan kemarahan yang mendalam akibat kerusakan alam yang telah terjadi selama bertahun-tahun.
Tanpa berpikir panjang, Raden melangkah maju menjauh dari ayahnya dan Shinta Sari, menghadapi makhluk besar tersebut dengan dada terbuka. Kekuatan hangat di dalam dirinya semakin meningkat, dan pola akar pohon yang dulunya hanya muncul saat dia dalam bahaya kini mulai muncul di kulitnya, bersinar dengan cahaya hijau lembut yang menyinari wajahnya.
“Saya mendengarmu,” ucap Raden dengan suara yang jelas dan penuh rasa hormat, meskipun kakinya sedikit gemetar karena ketegangan. “Saya tahu kamu merasa sakit. Kerajaan telah melakukan kesalahan dengan menyembunyikan kebenaran dan melupakan janji yang dibuat dengan alam. Tapi tolong berhentilah – jangan lakukan hal yang akan kamu sesali nanti. Saya berjanji akan memperbaiki kesalahan masa lalu dan membangun hubungan baru yang lebih baik antara manusia dan alam!”
Makhluk itu diam sejenak, matanya yang menyala mulai mereda sedikit. Namun saat itu juga, suara ledakan keras terdengar dari arah pelabuhan – salah satu gudang persediaan makanan yang terbakar menyebabkan ledakan yang besar, membuat beberapa makhluk lain semakin marah. Mereka mulai menyerbu kebun kerajaan dengan lebih ganas, merobek akar pohon kecil dan menghancurkan taman air yang ada di sana.
Raden merasakan kekuatannya mulai keluar dengan sendirinya. Dari tangan kanannya, muncul seberkas cahaya hijau yang menyala terang, menuju ke arah Pohon Perjanjian. Pohon tua tersebut mulai bersinar dengan cahaya yang sama, dan akarnya yang besar mulai bergerak perlahan, membentuk tembok pelindung di sekitar raja, Shinta Sari, dan para prajurit yang ada di sana.
“Kamu harus mengikuti saya!” teriak Raden kepada Shinta Sari sambil berlari menuju arah pelabuhan, di mana kerusakan paling parah terjadi. “Saya merasakan bahwa sumber kemarahan mereka ada di sana – di tempat di mana sungai bermuara ke laut, yang kini sudah mengering dan penuh dengan sampah yang dibuang oleh kerajaan!”
Shinta Sari segera menyertainya, bersama dengan beberapa prajurit yang berani mengikuti mereka. Saat mereka berlari melalui jalan-jalan kerajaan yang penuh dengan reruntuhan, Raden menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan beberapa warga yang terluka, menyentuh tubuh mereka dengan tangan yang bersinar sehingga luka mereka mulai sembuh dengan sendirinya. Warga yang melihatnya mulai berbisik bahwa putra mahkota memiliki kekuatan ajaib yang bisa menyelamatkan kerajaan.
Saat mereka sampai di pelabuhan, mereka menemukan bahwa sungai Bengawan yang dulunya luas dan penuh dengan air kini hanya menyisakan lorong tanah kering yang penuh dengan puing-puing dan sampah dari aktivitas perdagangan kerajaan. Di ujung pelabuhan, sekelompok besar Makhluk Hutan berkumpul di sekitar titik di mana sumber mata air sungai keluar dari tanah – mata air yang kini sudah mengering dan tertutup oleh lapisan lumpur hitam.
“Ini dia – sumber masalah kita,” kata Shinta Sari dengan suara yang penuh kesedihan. “Mata air ini adalah salah satu sumber kehidupan kerajaan, dan kita telah mengotori dan memblokirnya dengan sampah dan limbah. Makhluk-makhluk ini datang untuk membersihkannya dengan cara yang mereka tahu – dengan menghancurkan apa yang menyebabkan kerusakan.”
Raden merasakan tanggung jawab yang luar biasa berat di pundaknya. Dia berjalan maju ke tengah kelompok makhluk tersebut, dan kali ini seluruh tubuhnya bersinar dengan cahaya hijau keemasan yang sama dengan Batu Akar Raja seperti yang dia lihat dalam potret ayahnya. Dia merentangkan tangan ke atas mata air yang kering, dan dengan suara yang kuat namun lembut, dia mulai berbicara dalam bahasa yang tidak dia kenal sebelumnya – bahasa yang terdengar seperti suara angin melalui dedaunan dan ombak yang menyapu pantai.
Kekuatan yang keluar dari dirinya begitu besar sehingga membuat tanah bergetar. Dari bawah tanah, muncul aliran air jernih yang membersihkan lumpur dan sampah yang ada. Pohon-pohon yang layu di sekitar pelabuhan mulai kembali hijau, dan bunga-bunga yang telah mati mulai mekar kembali dengan warna-warni yang cerah. Makhluk-makhluk Hutan yang tadinya marah mulai menenangkan diri, mata mereka yang menyala perlahan padam dan digantikan oleh cahaya lembut yang sama dengan yang ada di tubuh Raden.
Mereka mulai bergerak perlahan, membantu membersihkan reruntuhan dan menyembuhkan tanaman yang rusak. Beberapa dari mereka bahkan mulai menyentuh warga yang terluka dengan tangan yang seperti ranting, dan luka-luka tersebut segera sembuh. Rakyat yang melihat kejadian ini mulai berkumpul, mata mereka penuh kagum dan rasa hormat kepada putra mahkota yang mampu berkomunikasi dengan alam.
Saat matahari mulai merenung di ufuk barat, menyinari pelabuhan dengan cahaya keemasan, kerusakan yang terjadi mulai terlihat jelas – banyak rumah dan bangunan yang rusak, persediaan makanan yang terbakar, dan rakyat yang membutuhkan bantuan. Namun di tengah kehancuran itu, terdapat harapan baru yang mulai tumbuh, seperti tunas baru yang muncul setelah musim kemarau panjang.
Raja Jayawardhana dan Patih Kala tiba di pelabuhan bersama dengan pasukan kerajaan, melihat dengan mata terpana bagaimana makhluk-makhluk yang dulunya menjadi ancaman kini bekerja sama dengan rakyat untuk memperbaiki kerusakan. Patih Kala melihat Raden dengan ekspresi yang sulit ditebak – ada rasa kagum namun juga sedikit keraguan tentang kekuatan yang dimiliki oleh putra mahkota tersebut.
“Anakku,” ujar Raja Jayawardhana dengan suara penuh kebanggaan, mendekati Raden yang kini sedang berbicara dengan salah satu makhluk Hutan yang lebih kecil. “Kamu telah melakukan hal yang tidak bisa saya lakukan selama bertahun-tahun. Kamu telah membuktikan bahwa hubungan antara manusia dan alam bukan hanya tentang perjanjian tulisan, melainkan tentang rasa hormat dan pemahaman yang sesungguhnya.”
Raden mengangguk, kemudian melihat ke arah Shinta Sari yang sedang berdiri di sisi sungai yang kini kembali mengalir dengan jernih. “Namun ini hanya permulaan, Yang Mulia. Kita masih harus memperbaiki banyak hal, dan kita masih harus menemukan Batu Akar Raja untuk memulihkan keseimbangan yang sebenarnya. Selain itu, saya merasa bahwa ada orang yang tidak senang dengan apa yang telah terjadi hari ini – orang yang melihat kekuatan alam bukan sebagai sahabat melainkan sebagai alat untuk kekuasaan.”
Patih Kala menggeram rendah saat mendengar kata-kata itu, namun segera menyembunyikannya dengan ekspresi wajah yang datar. Sementara itu, suara bisikan lembut kembali terdengar di dalam hati Raden, menyampaikan pesan bahwa untuk benar-benar memahami hubungan antara manusia dan alam, dia harus belajar dari mereka yang telah menjaganya selama berabad-abad – seorang pendeta tua yang tinggal di kuil kecil di tepi kerajaan yang dikenal sebagai Mbah Ki Semar.
--- AKHIR BAB 6 ---