Udara pagi di sekitar istana masih terasa hangat dan sedikit berasap dari sisa kebakaran kemarin malam. Suara rakyat yang sibuk membersihkan reruntuhan dan merawat tanaman yang baru tumbuh kembali menggema di setiap sudut jalan, menyatu dengan suara gemericik sungai Bengawan yang kini sudah kembali mengalir jernih seperti dulu. Raden masih merasakan getaran lembut dari kekuatan alam yang sempat mengalir dalam dirinya – kulitnya masih menyimpan sedikit kilau hijau yang muncul setiap kali dia menyentuh tanaman atau menyentuh tanah basah.
“Kamu harus beristirahat, anakku,” ujar Raja Jayawardhana sambil menepuk bahu Raden. Mereka berdiri di teras istana, melihat rakyat yang bekerja dengan semangat baru. “Kekuatan yang kamu gunakan kemarin bukanlah hal yang bisa kamu gunakan setiap hari – itu akan menyita banyak tenaga dan energi darimu.”
Raden mengangguk, meskipun matanya sudah mencari sosok Shinta Sari yang kini sedang berbicara dengan beberapa Makhluk Hutan di tepi kebun kerajaan. Makhluk-makhluk itu sudah mulai bersiap untuk kembali ke hutan belantara, setelah memberikan janji akan menjaga kerajaan selama mereka berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu.
“Yang Mulia,” ujar Shinta Sari saat mendekati mereka, membawa dengan diri seikat ranting pohon trembesi yang masih segar. “Makhluk-makhluk itu telah pergi, namun mereka menyampaikan pesan bahwa kerja sama kita baru saja dimulai. Untuk memastikan hubungan ini tetap kuat dan untuk benar-benar memahami kekuatan yang kamu miliki, kamu harus bertemu dengan seseorang yang lebih tahu tentang sejarah kerajaan dan hubungan kita dengan alam.”
“Siapa yang kamu maksud?” tanya Raja Jayawardhana dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu.
“Mbah Ki Semar,” jawab Shinta Sari dengan suara penuh rasa hormat. “Dia adalah satu-satunya orang yang masih hidup yang menyaksikan bagaimana perjanjian antara kerajaan dan alam dibuat secara langsung. Dia juga yang menyimpan buku-buku kuno yang berisi pengetahuan tentang Batu Akar Raja dan kekuatan yang terkait dengannya. Jika ada orang yang bisa mengajarkan kamu tentang kekuatan yang kamu miliki, itu dia.”
Patih Prabu Kala yang berdiri di kejauhan mendengar nama tersebut dan mengerutkan kening. “Mbah Ki Semar? Orang tua itu tinggal di kuil yang terlupakan di tepi hutan. Beberapa orang mengatakan dia sudah gila dan sering berbicara dengan pohon dan batu. Mengapa kita harus mempercayainya?”
“Karena dia adalah satu-satunya harapan kita untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu,” jawab Shinta Sari dengan tegas, menatap Patih Kala tanpa rasa takut. “Tanpa pengetahuan yang dia miliki, kekuatan yang kamu miliki, Raden, bisa menjadi senjata yang berbahaya – baik bagi kerajaan maupun bagi alam itu sendiri.”
Setelah mendapatkan izin dari raja, Raden dan Shinta Sari segera berangkat menuju kuil yang terletak sekitar tiga jam berkuda dari kerajaan. Jalan yang mereka tempuh dulunya adalah jalan raya yang ramai digunakan oleh pedagang, namun kini sudah mulai tertutup oleh rumput tinggi dan akar pohon yang tumbuh liar – bukti lagi bahwa hubungan antara kerajaan dan alam telah terputus selama bertahun-tahun.
Setelah sampai di lokasi, mereka menemukan sebuah kuil kecil yang tersembunyi di balik rerimbunan pepohonan tinggi. Kuil tersebut tidak memiliki tembok atau pagar yang megah – hanya sebuah bangunan kayu yang sederhana dengan atap dari dedaunan ijuk, dikelilingi oleh taman yang penuh dengan berbagai jenis tanaman obat dan pohon buah yang tumbuh subur meskipun kemarau panjang baru saja berlalu. Udara di sekitar kuil terasa segar dan sejuk, berbeda dengan udara panas yang mereka rasakan di kerajaan.
Sebelum mereka bisa mengetuk pintu, sebuah suara lembut terdengar dari dalam kuil. “Datanglah masuk, anak-anakku. Saya sudah menunggu kedatanganmu.”
Mereka memasuki ruangan yang kecil namun nyaman, di mana dindingnya dipenuhi dengan buku-buku tua yang disimpan dalam kotak kayu dan gulungan pergamena yang digulung rapi. Di tengah ruangan terdapat sebuah tatakan kayu yang di atasnya diletakkan sebuah mangkuk tanah berisi air dan beberapa jenis bunga segar. Duduk di atas tikar bambu adalah seorang lelaki tua dengan rambut dan janggut putih yang panjang, namun matanya yang cerah menunjukkan bahwa dia masih memiliki kekuatan dan kejernihan pikiran yang luar biasa.
“Selamat datang, Raden Jayaningrat – keturunan Raja Jayaputra yang terakhir,” ujar Mbah Ki Semar dengan senyum hangat. “Dan kamu juga, Dewi Shinta Sari – putri dari dua dunia yang telah menjalankan tugasmu dengan baik.”
Shinta Sari sedikit terkejut mendengar kata-kata itu, namun segera menundukkan kepala sebagai tanda rasa hormat. “Kamu tahu tentang saya, Mbah?”
“Saya tahu tentang semua orang yang memiliki hubungan dengan Bumi Akar dan Batu Akar Raja,” jawab Mbah Ki Semar sambil menggeser salah satu buku tua di tatakannya. “Saya telah menunggu generasi yang benar untuk datang – generasi yang tidak melihat kekuatan alam sebagai sesuatu yang harus dikuasai, melainkan sebagai teman yang harus dijaga dan dihormati.”
Raden duduk di depan Mbah Ki Semar, merasa bahwa dia bisa mempercayai lelaki tua ini dengan segala rahasianya. “Kemarin malam, saya menggunakan kekuatan yang tidak saya mengerti sepenuhnya untuk menghentikan serangan Makhluk Hutan. Saya merasa bahwa kekuatan itu bisa menyelamatkan kerajaan, namun saya juga takut bahwa saya bisa menyalahgunakannya tanpa sadar. Tolong ajari saya, Mbah – apa sebenarnya kekuatan yang saya miliki, dan apa hubungannya dengan Batu Akar Raja?”
Mbah Ki Semar mengangguk perlahan, kemudian membuka salah satu buku tua yang kulitnya sudah menguning akibat usia. Di dalamnya terdapat gambar batu dengan pola akar pohon yang sama dengan yang muncul di tubuh Raden, serta tulisan tangan yang indah menggunakan huruf kuno Jawa.
“Batu Akar Raja bukanlah benda yang dibuat oleh manusia atau bahkan oleh makhluk gaib,” mulai Mbah Ki Semar dengan suara yang penuh makna. “Ia adalah inti dari Pohon Dunia yang tumbuh di tengah Bumi Akar ribuan tahun yang lalu. Ketika Pohon Dunia mulai mati karena perubahan besar di alam semesta, Ratu Bumi Akar pada masa itu mengambil intinya dan membentuknya menjadi batu – sebuah wadah untuk kekuatan alam yang paling murni.”
Dia menoleh ke arah jendela kuil, di mana sinar matahari pagi menerangi dedaunan pepohonan di luar. “Pada abad kelima Masehi, ketika kerajaan ini baru saja berdiri, tanah ini menghadapi bencana alam yang jauh lebih besar dari kemarau yang kamu alami sekarang. Gunung berapi meletus, sungai-sungai meluap, dan banyak orang yang kehilangan nyawa. Raja Jayaputra, raja pertama kerajaan ini, pergi ke Bumi Akar dan membuat perjanjian dengan Ratu Bumi Akar pada masa itu – dia akan menjaga keseimbangan alam dan memastikan bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam secara damai, dan sebagai balasannya, Batu Akar Raja akan memberikan kekuatan untuk menyelamatkan kerajaan dari bahaya.”
“Namun mengapa hubungan itu terputus?” tanya Raden dengan rasa penasaran yang besar.
“Karena ambisi manusia,” jawab Mbah Ki Semar dengan suara yang penuh kesedihan. “Beberapa generasi kemudian, seorang raja yang ingin membuat kerajaan menjadi yang terkuat di seluruh Nusantara mencoba menggunakan kekuatan Batu Akar Raja untuk mengalahkan kerajaan tetangga. Ketika dia mencoba menyalahgunakan kekuatan itu, batu tersebut menghilang dengan sendirinya dan kembali ke Bumi Akar, sementara alam memberikan balasan dengan menghantui kerajaan dengan bencana alam yang berkepanjangan. Sejak saat itu, raja-raja berikutnya memutuskan untuk menyembunyikan keberadaan batu agar tidak ada yang lagi mencoba menggunakannya dengan cara yang salah.”
Shinta Sari mendekat, melihat gambar di buku dengan seksama. “Jadi kekuatan yang dimiliki oleh Raden bukan hanya berasal dari darahnya sebagai keturunan raja, melainkan juga karena dia memiliki hati yang mampu merasakan rasa sakit dan kebutuhan alam?”
“Betul sekali,” jawab Mbah Ki Semar sambil menatap Raden dengan tatapan yang penuh harapan. “Kekuatan yang kamu miliki bukanlah milikmu sendiri, Raden. Ia adalah pinjaman dari alam, yang diberikan kepada mereka yang memiliki niat yang benar dan hati yang bersih. Kamu telah menunjukkan kemarin malam bahwa kamu layak untuk memiliki kekuatan itu – kamu menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan, bukan untuk menghancurkan.”
Mbah Ki Semar kemudian berdiri dan membawa mereka ke bagian belakang kuil, di mana terdapat sebuah taman rahasia yang penuh dengan tanaman langka dan kolam kecil yang airnya bersinar seperti permata. Di tengah taman terdapat sebuah batu kecil yang menyerupai Batu Akar Raja namun jauh lebih kecil dan tidak memiliki kekuatan khusus.
“Ini adalah batu peringatan,” jelas Mbah Ki Semar sambil menyentuh batu tersebut. “Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan alam bisa menjadi sumber kehidupan atau kehancuran, tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Untuk benar-benar menguasai kekuatan yang kamu miliki dan untuk menemukan Batu Akar Raja yang sebenarnya, kamu harus mempelajari ciri-ciri batu tersebut dan memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan kekuatannya – bukan hanya sebagai pemimpin yang menguasai, melainkan sebagai teman yang bekerja sama.”
Dia memberikan sebuah buku kecil yang terbuat dari kulit pohon kepada Raden. “Di dalam buku ini tertulis semua yang kamu butuhkan untuk mengetahui tentang Batu Akar Raja – ciri-ciri khasnya, lokasi-lokasi yang mungkin menjadi tempat persembunyiannya, dan cara untuk menghubungkan diri dengan kekuatannya tanpa menyalahgunakannya. Namun ingat, pengetahuan ini hanya berguna jika kamu tetap menjaga niat yang benar dan tidak tergoda oleh hasrat akan kekuasaan.”
Saat mereka bersiap untuk kembali ke kerajaan, Mbah Ki Semar menarik Raden ke samping dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dia. “Ada orang di dalam kerajaan yang melihat kekuatanmu bukan sebagai berkah melainkan sebagai ancaman. Mereka akan mencoba mengambil kekuatan itu darimu atau menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Kamu harus berhati-hati dan hanya mempercayai orang-orang yang benar-benar kamu kenal.”
Raden mengangguk, menyadari bahwa Mbah Ki Semar sedang merujuk pada Patih Prabu Kala yang sudah menunjukkan ketidakpuasan beberapa kali. “Saya akan ingat nasihatmu, Mbah. Saya berjanji akan menggunakan kekuatan ini untuk kebaikan kerajaan dan alam yang kita cintai.”
Perjalanan kembali ke kerajaan terasa lebih cepat, dengan pikiran Raden penuh dengan pengetahuan baru yang dia terima dari Mbah Ki Semar. Shinta Sari berjalan di sisinya, kadang-kadang menjelaskan hal-hal tertentu dari buku yang diberikan Mbah Ki Semar dan memberitahu dia tentang ciri-ciri khusus Batu Akar Raja yang mungkin tidak tertulis dalam buku tersebut – bagaimana batu tersebut bisa berubah warna sesuai dengan kondisi alam sekitarnya, bagaimana ia bisa berbicara dengan cara yang unik kepada pemegangnya, dan bagaimana kekuatannya bisa menyuburkan tanah yang paling tandus namun juga bisa menghancurkan jika jatuh ke tangan yang salah.
Ketika mereka tiba di kerajaan, matahari sudah mulai menyembur tinggi di langit. Raden melihat bahwa rakyat sudah berhasil membersihkan sebagian besar reruntuhan, dan beberapa tanaman yang baru ditanam sudah mulai menunjukkan tunas hijau yang harum. Raja Jayawardhana segera datang menemui mereka, bersama dengan Patih Prabu Kala yang wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya.
“Bagaimana perjalananmu, anakku?” tanya Raja Jayawardhana dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu.
“Mbah Ki Semar telah mengajarkan saya banyak hal, Yang Mulia,” jawab Raden sambil menunjukkan buku yang diberikan kepadanya. “Dia juga memberi tahu saya tentang ciri-ciri Batu Akar Raja dan bagaimana kita bisa menemukan dan menggunakannya dengan benar untuk memulihkan keseimbangan yang sebenarnya antara kerajaan dan alam.”
Patih Prabu Kala mendekat, melihat buku itu dengan mata yang menyala. “Ciri-ciri Batu Akar Raja? Apakah ada informasi tentang lokasinya di dalam buku itu?”
“Informasi tersebut hanya berguna bagi mereka yang memiliki niat yang benar, Patih,” jawab Shinta Sari dengan nada yang jelas menunjukkan peringatan. “Batu Akar Raja tidak akan muncul bagi mereka yang hanya ingin menguasainya untuk kekuasaan pribadi.”
Patih Kala mengerutkan kening namun segera menyembunyikan ekspresinya dengan senyum yang tidak tulus. “Tentu saja, penyihir. Kita semua hanya ingin yang terbaik untuk kerajaan.”
Raden merasakan getaran lembut dari kekuatannya, seolah alam sedang memperingatkannya akan sesuatu yang tidak baik. Dia menyimpan buku dengan aman dan menatap ke arah arah hutan, mengetahui bahwa perjalanan mereka untuk menemukan Batu Akar Raja akan segera dimulai – dan bahwa mereka akan menghadapi banyak rintangan, baik dari alam maupun dari manusia yang tersesat dalam hasrat akan kekuasaan.
--- AKHIR BAB 7 ---