LOGIN“Apaan sih, gitu aja udah gawat banget kayak dia mau mati aja!” gerutu Rini sambil kembali melanjutkan bersih-bersih.
Sementara itu di dalam kamar Bayu baru saja mengantarkan obat untuk Selvi lalu meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur.“Mbak Sri, obatnya udah aku siapin di sini ya. Nanti kalau Nona bangun tolong kasih minum kalau dia sudah makan.”“Kamu mau balik lagi sih ke kantornya Nona Stevia ya?” tanya Sri.“Iya nih, aku harus balik lagi naMatanya terus menangkap pergerakan dan menyimak seperti biasa yang ia lakukan selama ini. Setiap kali sebelum bertarung Bayu selalu mempelajari beberapa trik di atas arena yang sedang berlangsung. “Bentar lagi aku dengar kamu yang naik ke sana.” Basri menoleh pada Arjuna. Mendengar itu Arjuna langsung mengangguk. “Benar aku akan bertarung habis ini. Sekarang kamu nggak lihat aku sedang mempersiapkan diri?” “Ya … lihat kok, dari tadi kamu diam di sampingku,” singgung Basri sambil menatap malas. “Hehehe … ini juga lagi bersiap kok.” Arjuna sambil tertawa lalu menoleh ke samping. “Bayu kamu giliran kamu kapan?” “Aku nggak tahu, ini cuma lagi nunggu dipanggil ajalah. Males tanya,” jawab Bayu. Basri langsung mengusulkan, “Kalau begitu biar aku yang tanyakan dulu ke tempat boss Soma.” “Tapi Bang—” “Nggak apa lagian aku ada urusan juga di sana,” potong Basri.
“Apa kamu masih takut?” tanya Bayu saat melihat wajah Rara. “Ya … aku hanya takut jika anak buahnya datang ke sini. Dan …” “Sudah tenang saja, tidak perlu takut. Aku tidak akan membiarkan mereka dengan mudah mendekatimu.” Sekali lagi Bayu menenangkannya. Dengan wajah tertunduk sambil menutupi sisi lain dari pipinya. Rara mengikuti Bayu masuk ke dalam. Bayu berbicara dengan seorang pria yang bekerja sebagai staff di depannya. Tidak lama kemudian kunci kamar tadi diberikan kepala mereka. Setelah berjalan sebentar di lorong akhirnya sampai di depan pintu kamar yang dituju. Sesuai dengan nomor kamar dan ketika kunci dimasukkan pintu langsung terbuka tanpa menunggu lama. “Ayo masuk! Untuk sementara kamu hanya perlu menungguku di sini sebentar. Karena nanti malam aku pasti akan datang lagi.” Bayu melangkah masuk lebih dulu. Mendengar itu Rara hanya mengangguk lalu mengikuti Bayu denga
Namun, sayangnya karena harus melarikan diri bersama seorang anak kecil membuat ibunya tidak bisa pergi lebih cepat hingga akhirnya ditangkap oleh anak buah mami Riska.Hukumannya sangatlah berat setelah mereka menemukan Sari (ibu Bayu). Kala itu mereka mengurung Sari di dalam sebuah gudang dan Sari diperkosa dan digilir oleh pria-pria bejat dan anak buah mami Riska dan para pelanggan yang membayar murah.Sejak itu Bayu jarang melihat ibunya selama berbulan-bulan hingga akhirnya Sari kembali pulang. Mami Riska membebaskannya setelah Sari menjadi gila dan ternyata dia juga sudah terkena penyakit kelamin.Itu sangat mengguncang hidup Bayu setelah ia perlahan jadi dewasa dan mengingat apa yang terjadi. Bukan berarti Bayu tidak marah atau menyimpan dendam terhadap Mami Riska. Namun, belum cukup saatnya untuk membalaskan itu ia hanya menunggu waktu dan memperkuat diri.Kembali mengingat itu membuat kedua tangan Bayu mengepal di kedua sisi. “
Melihat suapan terakhir itu Selvi tidak menolak, ia tetap melahapnya lagi hingga kedua pipinya terlihat besar karena dipenuhi oleh makanan.“Eumm … minhum!” Selvi mencoba meraih kembali gelas air.“Ini minum pelan-pelan.” Bayu membatu Selvi mengambilkan gelas dan langsung memberikannya ke mulut gadis itu. Mulut Selvi melepaskan gelas yang sudah kosong. “Ahh … kenyang banget. Aku rasa perutku benar-benar penuh.”Dengan mengusap perutnya Selvi kembali bersandar ke sisi sandaran ranjang. Berbeda dengan Bayu yang sedang meletakkan piring dan gelas ke atas nampan kecil yang dibawa Sri tadi.“Kalau gitu malam ini kamu sebaiknya tidur lebih awal. Aku tidak akan mengganggumu lagi untuk malam ini. Sekarang aku akan keluar untuk mengantarkan ini ke dapur, kalau begitu selamat malam, Selvi!” Sebelum keluar Bayu sempat mengusap pucuk kepala Selvi dengan lembut. Setelah itu barulah ia keluar.Dengan hati-hati Bayu yang akhirnya men
Bab 198 “Aku hnggh … tidak tahan. Bayu, ayo masukkan saja!” Selvi sampai akhirnya ia terus mengeluarkan cairannya. Rasa lengket dan basah dirasakan Bayu. “Ini aku rasa sudah mulai melebar, sekarang saatnya aku mulai memasukinya!” Selvi merasakan kedua jari Bayu yang sudah dicabutnya dan digantikan oleh batang berukuran pergelangan tangannya sedang menggesek, karena licin berlendir gesekannya semakin intens. “Bayu, aku baru saja keluar akkh … di bagian sana masih terasa sensitif!” Kedua tangan Selvi berpegangan pada pundak Bayu. Penampilan Selvi yang terlihat berantakan karena dirinya membuat Bayu semakin bergairah. Ia juga sudah tidak bisa menahannya lagi. “Kamu baru saja merasakan nikmat lalu bagaimana denganku?” Bayu akhirnya mulai mengarahkan benda pusakanya untuk masuk. Jleb! “Aahh … akhh! Hnggh … aahh dalam banget!” Selvi merasakan batang Bayu mulai menghujan
“Jadi kamu mau tidur langsung?” Selvi bergeleng pelan. “Nggak kok, aku masih mau belajar dulu. Kan Tante yang nyuruh aku rajin belajar.”“Ah iya, benar juga. Jadi pergilah naik sekarang aku tidak akan menghentikanmu di sini lama-lama.” Stevia menarik kursi di meja makan lalu mendudukkan dirinya.Sementara Selvi mulai menaiki tangga, sedangkan Sek mulai menata makan malam yang disukai Stevia bahkan lengkap dengan rujak mangga yang sering dimakannya.Sri perlahan mundur ke belakang setelah menyajikan makanan di meja. “Silahkan dinikmati Nom!” ucapnya.“Ya, makasih Mbak,” sahut Sri.Suara di ruang makan sangat hening hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling berdentingan. Rasa yang pas dengan selera Stevia membuatnya makan lebih banyak. Porsinya bertambah lebih banyak dari biasanya dan begitu juga dengan nafsu makannya.Sementara Bayu yang baru saja keluar lewat pintu belakang tadinya hendak menemui Ari







