Masuk“Hah, tapi Pak Jo yakin gak apa-apa kalo aku mulai menyetir di jalan raya langsung?” Bayu agak ragu dengan kemampuan ya meski dia cukup lancar.
“Bukankah beberap kali kita juga sudah berlatih di jalan raya? Cukup ikuti saja seperti itu. Lagian kamu udah lancar ko.”“Okedeh, ayo kita jemput Nona di kantornya!”Mobil berbelok dari lapangan kosong menuju jalan raya yang ramai. Melaju mulus dengan kecepatan sedang.Mereka tiba tepat waktu di area parkir kantor“Jadi kamu mau tidur langsung?” Selvi bergeleng pelan. “Nggak kok, aku masih mau belajar dulu. Kan Tante yang nyuruh aku rajin belajar.”“Ah iya, benar juga. Jadi pergilah naik sekarang aku tidak akan menghentikanmu di sini lama-lama.” Stevia menarik kursi di meja makan lalu mendudukkan dirinya.Sementara Selvi mulai menaiki tangga, sedangkan Sek mulai menata makan malam yang disukai Stevia bahkan lengkap dengan rujak mangga yang sering dimakannya.Sri perlahan mundur ke belakang setelah menyajikan makanan di meja. “Silahkan dinikmati Nom!” ucapnya.“Ya, makasih Mbak,” sahut Sri.Suara di ruang makan sangat hening hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling berdentingan. Rasa yang pas dengan selera Stevia membuatnya makan lebih banyak. Porsinya bertambah lebih banyak dari biasanya dan begitu juga dengan nafsu makannya.Sementara Bayu yang baru saja keluar lewat pintu belakang tadinya hendak menemui Ari
“Ah, benar juga bagaimana bisa aku lupa itu!” Pegangan Bayu semakin kuat pada stir mobil. Hal yang selama berhari-hari ini selalu dipikirkannya bagaimana bisa ia lupa.“Jadi aku harap nanti kita bersama-sama ke rumah sakit. Tapi seandainya ini benar-benar anakmu apa kamu tidak masalah?” Mobil berhenti di depan rumah tanpa disadari Stevia mereka telah sampai. Bayu belum sempat menjawab dia sudah keluar dari mobil untuk membukakan pintu.Di sekeliling sepi hanya ada Bayu dan Stevia yang berada di depan rumah. Tubuh Bayu masih berdiri di tempat saat Stevia berbalik hampir melanjutkan langkah.Bayu mulai bersuara, “Aku tidak mempermasalahkannya. Justru aku akan sangat merasa senang atas kelahirannya sebagai anakku. Hanya saja …”Wajah Bayu menunduk dengan tangan yang mengepal di kedua sisi. “Seperti yang kamu ketahui kalau hubungan kita sangat tidak menguntungkan bagimu. Ditambah lagi kamu akan segera menikahi pria lain, aku hanya
Pandangan Bayu langsung kembali ke pintu masuk persidangan, dengan langkah cepat ia segera berdiri di samping pintu masu lalu melihat ke arah jam.Tidak lama pintu dibuka dan persidangan akhirnya selesai. Stevia dan Clara berjalan keluar sedangkan Bayu langsung menghampiri keduanya.“Bayu, kamu bikin kaget aja!” Clara memukul pelan bahu Bayu.“Ah, maaf! Aku cuma mau jalan bareng. Kamu kan tahu tiga Minggu lalu Nona Stevia sudah pernah ditikam oleh seseorang jadi sebagai pengawalnya aku harus ekstra hati-hati menjaganya.” Bayu langsung bergeser ke samping Stevia, ia berjalan sambil mengikuti kelambatan langkah kaki mereka. “Bayu benar, dia harus ekstra menjagaku setidaknya untuk saat ini,” bela Stevia ikut menambahkan.Apa yang dikatakan Stevia dan Bayu itu benar jadi Clara pun mengangguk. “Hmm … ya, aku juga berpikiran sama. Dia emang harus lindungin Kak Stevia. Kejadian waktu itu juga benar-benar tidak terduga banget
“Kamu yakin nona dia mau yang itu?” tanya Arif kembali memastikan. “Justru itu nona mau yang masih belum matang. Ngomong-ngomong apa aku harus memanjat ke atas?” Bayu mulai menyentuh pohong mendongak ke atas. “Tidak, sini biar aku saja yang panjat. Sekarang kamu tunggu aku di bawah.” Arif mulai memanjat pohon mangga. Bayu masih mendongak ke atas menunggu Arif memetik buahnya. Tidak lama Arif akhir menjatuhkannya ke bawah. Sedangkan Bayu yang menunggu tadi segera menangkap buah yang sengaja dijatuhkan. Kemudian memasukkan buah mangga yang masih muda itu ke dalam keranjang buah. Dari atas pohon Arif bisa melihat keranjang kecil tempat buah mangga. “Mangganya masih mau berapa buah lagi?” tanya Arif dengan suara nyaring. “Sudah segini aja kayaknya sudah cukup. Nanti kalau sudah habis tinggal datang ke sini ambil lagi,” seru Bayu dari bawah. “Jadi kamu udah bisa turun sekarang!” “Aku
“Jadi apa yang perlu kamu cemaskan?” tanya Stevia sambil meraih lengan Bayu. Berpegang pada Bayu lalu berjalan menuju ranjang. Stevia duduk di tepi ranjangnya dengan Bayu yang ikut duduk di sampingnya. “Apa kamu yakin tidak masalah jika melahirkan bayi itu nanti? Aku hanya merasa mungkin saja kamu ingin menggugurkannya atau bagaimanapun tadinya aku berpikir seperti itu.” “Seminggu lagi aku akan membawamu ke rumah sakit untuk tes DNA nanti. Karena hari ini sudah malam jadi aku ingin istirahat lebih awal.” Stevia pun akhirnya membaringkan tubuhnya. “Kalau begitu selamat malam. Aku akan keluar dari sini kembali ke kamarku dulu,” balas Bayu. Dengan langkah pelan Bayu meninggalkan kamar Stevia lalu tidak lupa ia menutup kembali pintu kamar. Di luar Bayu menuju dapur karena harus meletakkan gelas kosong yang dibawa Sri untuk membawa air minum tadi. Sedangkan Sri yang juga berada di dapur melihat Bayu berjalan mendekati area dapur. “Bayu, gimana non Stevia udah mendingan mualnya? Ma
“Huuf … antarkan aku ke tempat tidur lagi,” pinta Stevia.Bayu pun langsung mengikuti perkataan Stevia dengan membawanya naik ke ranjang. Tangan Selvi merah tangan Bayu. “Bayu, tolong belikan aku obat ke apotik.” “Obat apa yang kamu inginkan?” “Aku punya firasat, jadi tolong berikan aku tespek sekaligus obat mual-mual.”“Baiklah, aku akan segera pergi sekarang. Aku akan segera kembali jadi tunggu sebentar.” Bayu bergegas kembali keluar dari kamar lalu turun menuju ke lantai satu.“Bayu malam-malam begini kamu mau kemana?” Rini yang sedang mengepel lantai terkejut saat melihat Bayu yang baru saja menuruni anak tangga.“Aku mau pergi keluar sebentar untuk membeli obat ke apotik,” jawab Bayu cepat sambil melebarkan langkahnya keluar.“Ah gitu, hati-hati ini udah malam soalnya.” Rini melambaikan tangannya sembari masih menatap punggung Bayu yang perlahan menjauh keluar pintu. Sesampainya Bayu di dalam garasi mobil ia masuk ke dalam mobil. Mulai menyalakan mesin mobilnya dan dengan cep







