MasukGelap menutup dunia. Sorak, hujan, suara runtuhnya tubuh Kael, semua hilang seolah ditelan ruang lain.
Kael berdiri di sebuah dimensi yang tidak memiliki warna selain hitam. Lantainya seperti kaca gelap yang memantulkan tubuhnya, wajah pucat, darah mengalir dari dada, mata setengah terpejam. Namun darah itu … hitam. Bukan darah biasa.
“Pewaris ketujuh,” sebuah suara bergema. Bukan datang dari satu arah, tapi dari seluruh ruangan. Dalam, dingin, dan terdengar puas. “Akhirnya kau membuka celah itu.”
Kael tidak bergerak, namun suaranya tetap tenang. “Kau siapa?”
“Pertanyaanmu salah,” jawab suara itu. “Pertanyaannya bukan ‘siapa aku’, tapi ‘apa kau sebenarnya’.”
Bayangan di lantai bergetar, seperti genangan air yang disentuh angin. “Selama ini, mereka bilang kau gagal. Bahwa darahmu tidak bereaksi. Bahwa kau terlahir lemah.”
Kael menatap jarinya. Ujung kukunya berubah gelap, seolah kegelapan merayap dari dalam tubuhnya.
“Padahal, kenyataannya kau hanya … belum mati.”
Kael mengerut tipis alisnya. “Dan sekarang?”
“Sekarang kau sudah memenuhi syarat. Rasa sakitmu, darahmu, pengkhianatan mereka … semuanya membuka pintu. Pintu menuju darah bayangan.”
Kael diam, menunggu jawaban yang lebih jelas.
“Darah iblis lain menyala,” suara itu lanjut, “Tapi darahmu menyerap. Kau tidak memancarkan kekuatan, kau memakan kekuatan.”
Kael menunduk, dan benar, darah hitam itu bukan menetes. Ia diserap oleh lantai, seolah tanah itu haus.
“Jadi aku dikutuk?” tanya Kael.
“Tidak. Kau dipilih.”
Keheningan turun beberapa detik, keras seperti tembok.
“Aku ingin kekuatan,” Kael berkata pelan. “Bukan untuk hidup … tapi untuk membalas.”
“Dan aku ingin wadah,” suara itu menjawab lembut. “Jadi kita sepakat, kau memberi tubuhmu, aku memberi kekuatan. Tapi ada harga.”
Kael menggeleng samar. “Aku sudah membayar jauh sebelum ini.”
Bayangan di sekelilingnya terangkat, seperti tangan-tangan hitam yang menyambutnya. Suara itu berkata, “Buka pintunya, Kael. Dan dunia yang membuangmu … akan berlutut di bawahmu!”
Dan Kael membuka.
Hujan kembali terdengar, arena eksekusi kembali terlihat. Ribuan murid masih berdiri di tribun, para tetua masih menatap dari kursi tinggi. Tapi sekarang, semuanya sunyi.
Kael berdiri lagi, bukan karena tubuhnya pulih, tapi karena bayangan menopangnya. Mata Kael terbuka, dan kini ada lingkar gelap tipis di sekitar pupilnya.
Darah di dadanya, yang tadi merah kini hitam.
“Dia … bangkit?” bisik salah satu murid.
“Aura itu, bukan darah suci.” Tetua kedua mundur satu langkah.
Darian mengangkat tombak, mencoba mengisi ulang aura darahnya. “Mainan,” katanya keras-keras. “Aku akan menghancurkannya.”
Kael menatapnya. Bukan marah, bukan takut, tapi tenang. “Kau masih tidak mengerti,” katanya pelan. “Sesuatu telah berubah.”
Darian berteriak dan melompat, menebas tombaknya ke arah Kael. Rune merah menyala, dan angin panas menerjang batu arena.
Bayangan di bawah kaki Kael berdiri, membentuk tangan gelap yang menahan tombak itu dalam satu hentakan.
KRANG!
Rune darah di tombak Darian padam, seperti api dilempar ke laut hitam.
“A … apa—!?” Darian mundur. “Kekuatan darahku menghilang?!”
Kael menatap tombak yang kini setengah mati. “Cahaya tidak bisa hidup di tempat yang tidak mengizinkannya.”
Para murid mulai panik. “Itu … kemampuan menelan energi!”
“Seperti teknik pemakan aura!”
“Tidak mungkin, itu terlarang!”
Tetua ketiga bangkit, menunjuk Kael. “Itu bukan bakat! Itu kekuatan iblis bayangan! Hancurkan dia sebelum—”
Bayangan di tribun melesat, menutup mulut tetua itu, memaksanya terdiam dengan mata membelalak.
Kael tidak melihat tetua itu. Ia hanya berjalan ke depan, langkahnya lambat, namun setiap langkah membuat bayangan di tanah ikut bergerak.
Darian mencoba lagi, menciptakan tiga tombak aura. Bayangan Kael menyapu udara, dan ketiganya lenyap, seperti ditelan lubang hitam.
“Tidak…” Darian gemetar. “Tidak mungkin kau—”
“Aku sudah mati sekali.” Kael menyela. “Sekarang aku meminjam hidup untuk memungut hutang.”
Ia mengangkat tangan. Bayangan di sekitar arena bergetar menjadi seperti ribuan jarum hitam yang menunggu perintah.
Seluruh arena membeku.
Kael menoleh sedikit ke kursi tertinggi, ke ayahnya.
Lord Varyon berdiri. “Berhenti di situ, Kael.”
Kael tidak berhenti. “Mengapa?” Suaranya datar.
“Karena jika kau melangkah lagi,” kata Varyon pelan, “Kau tidak akan bisa kembali ke siapa pun. Bahkan ibumu tidak akan mengenalmu.”
Kael memejam sebentar. Sekilas, wajah lembut ibunya muncul dalam ingatannya, diikuti darah, hinaan, dan pembuangan.
Dengan napas yang terdengar seperti keputusan, Kael membuka mata lagi.
“Aku tidak pernah punya tempat untuk kembali,” ujarnya. “Kau membuatnya jelas sejak awal.”
Ia menurunkan tangan hanya sedikit, dan jarum bayangan menegang, siap ditembakkan.
Semua orang menahan napas.
Darian mundur, kakinya goyah. “Kael … Kael, dengar aku. Kau tetap sampah!”
Kael menoleh dan menatapnya. Tatapan yang dulu kosong kini seperti pisau.
“Diam,” katanya, ringan tapi memaksa.
Darian terdiam. Bukan karena takut, tapi karena suara Kael menekan udara.
Kael memandang ke seluruh arena dan berkata pelan, namun terdengar ke setiap sudut, “Aku tidak akan menghabisi kalian hari ini.”
Ada yang lega. Ada yang bingung.
“Tapi seseorang,” Kael menoleh pada tribun kanan, “Harus menjadi peringatan.”
Bayangan di lantai bergerak dan melilit seorang tetua, orang pertama yang pernah meludahi ibunya saat diusir. Ia terseret ke depan seperti binatang, tubuhnya membentur batu.
“Kael, jangan!” teriak seseorang.
Kael hanya menatap. “Ini bukan pembalasan. Ini perkenalan.”
Bayangan menggigit.
Jeritannya pecah. Murid-murid menutup mulut, para tetua bangkit dari kursi, Varyon mempersempit mata.
Dan Kael berdiri di tengah semua itu, wajah tampan, tubuh berdarah, tapi kini memancarkan sesuatu yang lebih gelap dari sekte itu sendiri.
Ketenangan seorang iblis yang baru saja lahir.
Ia menatap mereka, suaranya datar, tak terguncang. “Kalian mengira aku mati? Yang salah bukan dugaannya, hanya waktunya.”
Hujan turun lebih deras, bayangan menyebar seperti kabut.
Dan bisikan dari kekuatan dalam dirinya terdengar lagi, “Selamat datang, pewaris bayangan. Mari lihat berapa lama dunia bisa bertahan sebelum lututnya menyentuh lantai.”
Hening itu tidak bertahan lama. Dari kursi singgasana, Lord Varyon turun satu langkah, seperti raja yang berjalan menuju tepi jurang yang baru saja terbuka. Wajahnya tidak marah, melainkan tenteram dengan ancaman yang baru ia hitung.
Di sekeliling, tetua bergeming, beberapa menunduk, beberapa menutup mulut, tapi semua merasakan satu hal yang sama, dunia mereka berubah dalam satu napas.
“Apa yang kau inginkan?” Varyon bertanya, suaranya dingin namun jelas terdengar. “Apakah kau menuntut hakmu sebagai pewaris, atau kau berniat menghancurkan keluarga ini?”
Kael menatapnya lama, hujan menetes di tepi bibirnya. “Keduanya,” jawab Kael. “Aku menuntut pengakuan. Dan bila kau menolak, aku akan menuntut nyawa yang pernah meremehkanku.”
Darian mengaum, berusaha mendekat kembali, namun kakinya gemetar. Di benak tiap murid, gambaran yang dulu hanya berupa cerita buruk kini nyata. Seorang putra terbuang yang bangkit bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk mengubah aturan permainan.
Varyon menutup mata sekejap, lalu membuka kembali. “Kau punya satu kesempatan, Kael. Tunjukkan bahwa ini bukan sekadar kekuatan liar. Tunjukkan bahwa kau bisa memerintah, bukan sekadar merusak.”
Kael mengangguk tipis, penerimaan sekaligus ancaman. Di luar arena, bayangan gelap merayap seperti tinta menyebar, menandai awal babak baru.
Dan ketika tribun gemetar oleh bisik-bisik ketakutan, satu pesan jelas mengalun ke seluruh sekte, permainan telah dimulai dan para penonton kini berada di atas papan catur yang sedang runtuh.
Ledakan cahaya ungu dari pedang Kael menyapu sisa-sisa kegelapan Harbinger of Void. Makhluk itu tidak hancur oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh kemurnian niat yang terpancar dari hubungan Kael dan Lyra. Saat kepulan asap hitam terakhir menguap ke langit merah, Kael terhuyung. Pedang besinya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di tanah berbatu. Napasnya tersengal, dan seluruh otot di tubuhnya terasa seperti ditarik paksa."Kael!" Lyra segera menangkap tubuh Kael sebelum pria itu menyentuh tanah.Ia membiarkan Kael bersandar di pundaknya. Meski Lyra juga merasa lemas karena seluruh energinya terkuras untuk resonansi tadi, ia tetap berusaha berdiri tegak demi menjadi sandaran bagi Kael."Kita ... kita berhasil, Lyra," bisik Kael parau. Keringat membanjiri wajahnya, namun matanya memancarkan kepuasan yang belum pernah ia rasakan saat ia masih memiliki kekuatan dewa.Lyra mengangguk, menyeka keringat di dahi Kael dengan lengan bajunya. "Jangan bicara dulu. Kau memaksakan tu
Kael menatap tangannya yang lecet-lecet. Luka itu tidak langsung menutup seperti dulu. Ia merasakan denyut perih yang nyata, sebuah pengingat bahwa ia kini hanyalah seorang pria biasa yang terikat pada hukum alam.Lyra meletakkan mangkuk sup yang sudah kosong ke samping, lalu meraih tangan Kael dengan lembut. Ia mengeluarkan sehelai kain bersih dan botol kecil berisi minyak herbal yang diberikan oleh warga desa.“Biarkan aku mengobatinya,” tawar Lyra.Kael hanya diam, memperhatikan wajah Lyra yang sangat fokus saat mengusapkan minyak herbal itu ke telapak tangannya. Sentuhan Lyra terasa begitu sejuk di atas kulitnya yang panas. Kael menyadari bahwa meskipun ia kehilangan kekuatan untuk menghancurkan dunia, ia justru mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu perhatian yang tulus.“Lyra,” panggil Kael pelan.“Iya?” Lyra mendongak, matanya yang biru-perak kini tampak lebih dalam dan jernih.“A
Sinar matahari pagi yang menerobos celah jendela pondok kayu itu tidak lagi terasa seperti anugerah dewa, melainkan pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kael terbangun dengan rasa kaku di sekujur punggungnya, sebuah sensasi fisik yang sangat nyata.Ia menoleh ke samping dan mendapati Lyra masih terlelap, napasnya teratur dan wajahnya tampak damai di bawah cahaya fajar yang kemerahan.Kael tidak segera bangun. Ia memandangi wajah wanita itu, menyadari bahwa kini ia harus melindungi Lyra bukan dengan kehendak kosmik, melainkan dengan otot, tulang, dan darahnya sendiri.“Selamat pagi, Kael,” bisik Lyra, matanya perlahan terbuka dan langsung bertemu dengan tatapan pria itu. Sebuah senyum kecil namun hangat terukir di bibirnya.“Selamat pagi,” jawab Kael, suaranya sedikit parau. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Lyra dengan lembut. “Bagaimana perasaanmu? Tubuhmu ... apakah terasa berat?”Lyra bangkit perlahan, meregangkan otot-ototnya. “Sedikit pega
Langit yang semula berwarna biru cerah kini seolah bernapas dengan warna merah darah. Ribuan mata merah di balik hutan itu tidak lagi bersembunyi, mereka mengawasi pondok kecil Kael dan Lyra dengan rasa lapar yang hebat.Tanpa belenggu takdir, dunia ini memang bebas, namun kebebasan itu juga melepaskan monster-monster yang seharusnya terkubur selamanya.Kael berdiri di teras pondok, menggenggam gagang pedang besi biasa yang ia temukan di dalam rumah. Tangannya terasa berat. Tidak ada lagi aliran dingin dari Darah Bayangan yang biasanya membuat pedang itu terasa seringan kapas. Ia bukan lagi sang Aksis Dunia yang bisa menghapus konsep, ia kini hanyalah seorang pria dengan luka-luka lama di tubuhnya.“Kael...” Lyra melangkah keluar, menyentuh pundak pria itu. Ia juga tampak pucat, kehilangan cahaya biru-perak Arsitek Memori yang biasanya menyelimutinya seperti jubah suci.Kael menoleh, menatap mata Lyra. Meski kekuatannya hilang, kecantikan dan
Fajar di Domain Aksis tidak pernah tampak seindah ini. Langit yang biasanya hanya berwarna abu-abu kini dipenuhi semburat ungu dan emas, seolah-olah seluruh alam semesta sedang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Kael dan Lyra berdiri berdampingan di depan pondok kayu mereka, tangan mereka tertaut erat, tidak membiarkan satu inci pun jarak memisahkan.“Kau merasakannya, Kael?” tanya Lyra, menatap ke arah Gerbang Keheningan yang kini memancarkan energi yang luar biasa besar.Kael mengangguk pelan. “Ya. Inti Cahaya dan Inti Kegelapan. Mereka sedang memanggil kita. Ini adalah ujian terakhir bagi aturan yang kita bangun.”Kael menarik napas panjang, menoleh ke arah wanita di sampingnya. Di bawah cahaya fajar itu, Lyra tampak sangat cantik. Tidak ada lagi rasa takut di matanya, hanya ada kepercayaan mutlak pada pria yang ada di sampingnya. Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya sejenak, mencium keningnya dengan lemb
Peti mati kristal hitam itu mengapung dengan tenang di tengah Danau Bayangan. Cahayanya redup, namun memancarkan aura kerinduan yang sangat dalam. Kael berdiri di tepi danau, tubuhnya kaku dan matanya tidak berkedip. Di dalam peti itu, tersimpan satu-satunya alasan mengapa ia pernah merasa menjadi manusia, ibunya.“Kael...” Lyra berbisik, menyentuh lengan Kael yang gemetar. Ia bisa merasakan badai emosi yang berkecamuk di dalam diri pria itu. “Jika kau belum siap, kita tidak perlu melakukannya sekarang.”Kael menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. “Aku harus melakukannya, Lyra. Suara itu benar. Aku tidak bisa membangun masa depan yang benar-benar bersih jika aku masih menyimpan luka yang bernanah di masa lalu.”Kael melangkah masuk ke dalam air danau. Anehnya, air itu tidak membasahinya, melainkan membelah diri seolah memberi jalan bagi sang penguasa. Lyra mengikuti di belakangnya, memegang juba







