LOGIN
“Lihat dia. Wajah tampan, tubuh bagus, tapi tetap saja sampah.”
“Apa, darah iblis murni? Jangan bercanda. Yang mengalir di tubuhnya cuma kegagalan.”
“Kalau bukan putra Pemimpin Sekte, dia sudah mati sejak lahir.”
Ejekan datang dari segala arah, bergulung seperti badai yang menubruk satu titik, seorang pemuda berdiri sendirian di tengah arena eksekusi Sekte Iblis Suci Langit.
Kael Astaroth. Putra ketujuh, pewaris darah ibli yang menurut seluruh sekte tidak layak disebut pewaris apa pun.
Ia berdiri tegak, meskipun tubuhnya sudah babak belur. Jubah hitamnya robek, darah kering menodai tepi kain, namun wajahnya tetap tenang. Bukan kosong, melainkan tenang. Seolah semua hinaan yang ditujukan padanya hanya udara yang lewat.
Kael tampan, terlalu tampan untuk tempat ini. Rahangnya tajam, kulitnya pucat bersih, sorot matanya gelap dan dalam, seperti malam yang tidak memantulkan bulan. Tubuhnya terlatih, ototnya terdefinisi jelas meski ia tak pernah diberi sumber daya pelatihan layak.
Di mata orang luar, ia bisa saja terlihat sebagai putra terkuat sekte. Tapi dunia di sini hanya menghargai satu hal, kekuatan yang terbukti.
Dan Kael … tidak pernah dianggap memilikinya.
Di tribun atas, Darian Astaroth—saudara sulung, sang pewaris utama melangkah sambil membawa tombak berhiaskan rune darah. Senyum di bibirnya tipis, kejam, dan sangat menikmati keadaan.
“Kael,” katanya lantang, agar seluruh arena mendengar. “Kau tahu apa yang paling lucu darimu?”
Kael menatapnya, diam, tidak membalas, tidak melarikan diri, tidak memohon.
Darian menunduk sedikit, seolah berbagi rahasia. “Kau tidak lemah karena tak punya kekuatan. Kau lemah karena tidak berguna. Setidaknya orang lemah bisa mati tanpa menyusahkan siapa pun. Tapi kau? Kau sudah hidup delapan belas tahun hanya untuk mempermalukan keluarga.”
Sorak-sorai meledak.
“BUNUH DIA!”
“JANGAN BUANG WAKTU!”
Darian menepuk bahunya sendiri sambil tertawa. “Lihat tubuhmu, terawatt, rapi, bahkan tampan. Kau tahu kenapa? Karena kau diberikan kesempatan hidup sebagai putra sekte, sementara kau tak pernah memberi apa pun sebagai balasannya.”
Kael masih tak merespons, hanya tatapannya yang berubah sedikit, dari datar menjadi dingin.
Dan itu membuat Darian semakin senang. “Lihat? Bahkan sekarang kau diam. Karena jauh di dalam hati, kau akhirnya sadar… bahwa kau memang sampah.”
Tawa menggema, hinaan menari di udara, Kael tetap diam.
Lalu matanya mengangkat sedikit, bertemu dengan singgasana tertinggi. Di sana duduk lelaki berusia separuh baya dengan mata dingin, Lord Varyon Astaroth. Ayahnya. Penguasa sekte. Kekasih dari ratusan selir, termasuk seorang wanita manusia yang kini telah dibuang, yaitu ibunya.
Varyon tidak berbicara, tidak marah, tidak membela, tidak peduli.
Kael menunduk sebentar, hanya sebentar. Cukup untuk menyadari, ia memang sendirian di dunia ini.
Darian mengangkat tombaknya. “Sebelum aku membunuhmu, jawab satu hal, adik kecil.”
Ia mendekat, wajah hanya sejengkal dari Kael. “Lalu apa gunamu lahir?”
Kael akhirnya berbicara. “Untuk mengingat,” katanya pelan. “Wajah orang-orang yang harus mati.”
Arena membeku sejenak. Beberapa orang mengerutkan kening, tak yakin apakah Kael baru saja mengancam atau … berhalusinasi sebelum mati.
Darian tertawa pelan, bahunya naik turun. “Mengancam? Kau? Yang bahkan tidak bisa mengaktifkan inti energi sendiri?”
Kael tidak menjawab, karena ia merasa itu tidak perlu.
Darian menutup jarak, menekan tombak ke dada Kael. “Kau tahu apa yang akan terjadi setelah kau mati? Namamu akan dihapus, ibuku akan tertawa. Para murid akan merayakan. Dan ayah—” Ia menoleh sedikit ke singgasana. “Akan tidur nyenyak tanpa pernah mengingat bahwa kau pernah lahir.”
Satu tusukan.
Tombak itu menembus kulit Kael. Tidak dalam, tapi belum. Darian ingin perlahan, ingin memahat rasa sakit menjadi tontonan. Suara napas Kael goyah sebentar, tapi ia tetap berdiri.
“Ah, benar,” Darian tersenyum lagi. “Kau tetap tenang bahkan ketika aku menusukmu. Tapi kau tahu hal lain yang lucu?”
Tombak berputar, runenya menyala merah pekat. “Tak ada yang akan menangisi kematianmu.”
Dan tombak itu menusuk lagi, kini lebih keras, lebih dalam, menembus daging dada Kael. Darah meleleh, jatuh ke batu arena. Teriakan sorak membuncah.
Kael jatuh berlutut.
Napasnya hilang, tenaganya hilang. Suara di arena memudar menjadi dengung kabur.
Untuk pertama kalinya ia merasakan tubuhnya benar-benar mati.
Namun, tidak ada ketakutan.
Yang ada adalah keheningan aneh, seperti suara air yang jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam. Dan di dalam sumur itu … sesuatu seperti terbuka.
Sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah tersentuh, tidak pernah dipanggil, tidak pernah terbangun, karena dunia menyebutnya kutukan iblis purba.
Darah Kael yang mengalir di lantai mulai menghitam. Bukan cokelat merah gelap, bukan darah beku. Hitam, seperti tinta bayangan.
Aura dingin menyusup ke udara, bukan dingin angin. Dingin seperti tanah kuburan yang menunggu penghuni baru.
Tetua di tribun berdiri. Salah satu berbisik, “Itu … bukan darah biasa.”
Darian berhenti tertawa. Ia menatap darah hitam itu, lalu menatap mata Kael yang kini perlahan terbuka lagi.
Dan iris yang dulu hitam polos itu … kini berubah. Ada garis tipis gelap berputar di sekeliling pupilnya, seperti cincin bayangan hidup.
Kael mengangkat kepalanya perlahan. Bukan dengan tenaga otot, tapi seolah ada sesuatu yang mengangkatnya dari dalam.
“Aku akan ingat ini,” katanya pelan.
Darian mundur satu langkah tanpa sadar. “Kau … kau sudah mati. Kau seharusnya mati.”
Kael berdiri. Bayangan di bawah kakinya terangkat bersama tubuhnya, seperti sesuatu yang memiliki napas sendiri.
“Aku memang mati,” ujarnya tenang. “Tapi kau salah jika mengira itu akhir.”
Sorak ejekan berhenti.
Hujan mulai turun.
Kael menatap seluruh arena, para murid yang menertawakannya, para tetua yang menyebutnya aib, para pelayan yang melihatnya seperti kotoran, sang ayah yang bahkan tak menganggapnya layak untuk dibunuh dengan tangan sendiri.
Lalu ia menatap Darian, dan berkata pelan, seperti membacakan vonis, “Kalian seharusnya membunuhku sebelum darahku bangun.”
Bayangan di tanah bergerak. Tidak seperti cahaya yang datang dari atas, tapi dari bawah. Seperti sesuatu di dalam bumi merespons keberadaannya.
Darian membuka mulut, ingin menyerang, namun tubuhnya menegang. Tombaknya terasa berat, seolah cahaya di dalamnya padam dilahap sesuatu.
“Kael …” Darian bergumam. “Apa … apa yang kau lakukan?”
Kael tidak menjawab. Karena itu bukan lagi kael yang berdiri di sana sepenuhnya.
Yang berdiri adalah warisan yang telah tidur selama delapan belas tahun.
Dan ketika ia membuka telapak tangannya, bayangan merespons seperti binatang lapar yang baru diberi perintah.
Arena bergetar.
Tribun terdiam.
Dan Kael mengucapkan kalimat yang kelak akan menjadi awal dari kehancuran sekte itu, “Jika dunia menolak keberadaanku … maka aku akan menelan dunia itu.”
Lalu bayangan pertama menyerang.
Lyra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya terus menyeka luka di kaki Kael, membiarkan air matanya jatuh bebas. Baginya, setiap tetes darah yang keluar dari tubuh Kael adalah pengingat betapa egoisnya dunia ini.Mereka telah memberikan segalanya, kekuatan, keabadian, bahkan status dewa, hanya untuk memberikan kebebasan pada manusia. Namun sekarang, manusia-manusia itu justru lupa pada mereka, dan alam semesta yang mencoba menghapus jejak mereka.Kael perlahan turun dari tempat tidur, duduk di lantai di depan Lyra. Ia memegang kedua tangan Lyra, menghentikan gerakan kain basah itu. Ia memaksa Lyra untuk mendongak dan menatap matanya.“Aku menangis karena aku takut kehilanganmu, Kael,” bisik Lyra akhirnya. Suaranya bergetar hebat. “Dulu, kau adalah iblis bayangan yang tak bisa mati. Tapi sekarang ... kau hanyalah Kael. Seorang pria yang bisa terluka oleh seberkas cahaya. Aku tidak sanggup membayangkan jika besok aku terbangun dan dunia ini benar-benar telah melupakanmu, termasuk hat
Fajar menyingsing dengan warna biru yang jernih, seolah-olah alam semesta sedang mencoba membersihkan sisa-sisa kegelapan dari pertempuran semalam. Kael dan Lyra berdiri di gerbang pos penjaga, menatap ke arah pegunungan di utara. Di sana, Menara Hitam berdiri dengan angkuh, ujungnya seolah menusuk langit, dan mata perak di puncaknya terus berkedip, mengawasi setiap gerak-gerik di dunia bawah.Aris dan para pengungsi melepas kepergian mereka dengan tatapan penuh rasa syukur sekaligus cemas. Di tangan Aris, buku catatan memori itu didekap erat, seolah-olah itu adalah jantung dari keberadaan mereka."Berhati-hatilah, Tuan Kael, Nona Lyra," ucap Aris dengan suara parau. "Dunia di depan sana tidak lagi seperti yang kita kenal. Tanah itu tidak lagi mengingat siapa yang menginjaknya."Kael mengangguk singkat. Ia memanggul tas perbekalannya yang kini terasa lebih berat karena tubuh manusianya mulai merasakan efek kelelahan yang nyata. Namun, saat ia merasakan jemari Lyra menyelinap ke sela-s
Malam di pos penjaga yang runtuh itu terasa lebih panjang dari biasanya. Api unggun kecil di tengah ruangan memberikan bayangan yang menari-nari di dinding batu yang retak.Di sekitar api itu, belasan pengungsi duduk dengan bahu yang merosot, mata mereka kosong, mencerminkan ketakutan akan dunia yang perlahan-latih menghilang dari ingatan mereka sendiri.Kael duduk di dekat pintu masuk yang terbuka, pedang besinya bersandar di pangkuannya. Ia tidak lagi memiliki mata yang bisa melihat menembus dimensi, namun insting bertarungnya tetap tajam. Ia bisa merasakan angin dingin yang membawa aroma hampa, aroma ketiadaan yang sedang mengintai di kegelapan luar.Lyra mendekatinya, membawa sebuah kain yang telah dibasahi air hangat. Ia duduk di samping Kael dan mulai menyeka debu dari wajah pria itu."Mereka mulai tenang," bisik Lyra, melirik ke arah para pengungsi. "Tapi ketakutan mereka masih sangat besar, Kael. Mereka merasa seolah-olah besok pagi, mereka tidak akan lagi ingat siapa diri mer
Kael menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah kegelapan hutan di depan mereka. "Ya. Ia tidak menyerang dengan pasukan. Ia menyerang dengan keraguan. Tapi selama aku memegang tanganmu, ketiadaan itu tidak akan pernah memiliki ruang di duniaku."Kael menarik Lyra ke dalam dekapan samping, merangkul bahunya erat. Mereka berjalan menembus malam, bukan sebagai dewa yang sombong, melainkan sebagai sepasang manusia yang memiliki satu sama lain sebagai kompas.Perjalanan menyebarkan resonansi jiwabaru saja dimulai. Di depan mereka, ribuan rintangan menanti, namun di dalam hati mereka, sebuah janji telah terpatri,Selama ada cinta, sejarah tidak akan pernah bisa dihapus.Setelah berjalan cukup jauh dari batas desa, Kael memutuskan untuk berhenti. Tubuh manusianya mulai merasakan letih yang nyata. Napasnya sedikit berat, dan pundaknya yang dulu kokoh memikul beban dunia, kini terasa pegal karena membawa tas perbekalan."Kita istirahat di sini," u
Fajar benar-benar telah menyapa desa kecil itu dengan warna emas yang murni. Sisa-sisa kabut hitam dari pasukan void telah menguap, meninggalkan tanah yang lembap namun terasa jauh lebih ringan. Di tengah puing-puing kereta perang yang hancur, Kael masih merasakan hangatnya pelukan Lyra. Detak jantung wanita itu adalah satu-satunya melodi yang ingin ia dengar selamanya."Kael," bisik Lyra, melepaskan pelukannya perlahan namun tangannya tetap menggenggam jemari Kael. "Ayo, kita kembali ke gubuk. Tubuhmu butuh istirahat, dan luka-lukamu harus segera dibersihkan."Kael mencoba berdiri, namun rasa sakit di punggungnya membuatnya meringis.Lyra dengan sigap merangkul pinggang Kael, membiarkan pria itu menyandarkan sebagian berat tubuhnya pada pundaknya yang kecil. Arkhavel mendekat, membantu memapah Kael dari sisi lain."Biar aku bantu, Kael," ucap Arkhavel. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup untuk hari ini."Kael hanya mengangguk lemah. Matanya melirik ke arah tubuh Elara yang sedang d
Serangan gelap yang dilepaskan Elara melesat seperti kilat hitam, merobek udara dengan suara mendesis yang mematikan. Targetnya bukan Kael, melainkan Lyra, titik lemah sekaligus jantung dari seluruh pertahanan desa ini. Ia tahu, tanpa dukungan emosional Lyra, Kael hanyalah seorang pria dengan pedang besi."Lyra!" raungan Kael membelah riuh rendah pertempuran.Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat bayangan maut itu mendekat ke arah wanita yang ia cintai. Di dunia lama, Kael bisa berpindah tempat dalam sekejap mata menggunakan bayangan. Namun sekarang, ia harus mengandalkan otot dan tulang manusianya.Kael melompat. Ia tidak peduli pada ksatria void yang sedang menebas punggungnya. Ia hanya peduli pada satu hal, keselamatan Lyra.BUM!Ledakan energi kegelapan menghantam tepat saat Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya dan memutar tubuh mereka di udara. Ia menjadikan punggungnya sebagai perisai hidup. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari saraf tulang belakangnya, seolah-ol







