LOGINBerita yang dibawa Arkhavel jatuh seperti palu godam di tengah desa yang baru saja merasakan sedikit kedamaian. Ribuan pasukan void dan sisa-sisa pasukan takdir sedang bergerak menuju titik ini.Mereka adalah badai yang tidak mengenal ampun, bertujuan untuk memadamkan cahaya kebebasan yang baru saja dinyalakan oleh Kael dan Lyra.Kael menatap Arkhavel yang masih bersimpuh di tanah. Pria yang dulu begitu angkuh sebagai utusan dewan perbatasan itu kini tampak sangat rapuh. Jubahnya robek, dan matanya yang dulu dingin kini dipenuhi ketakutan manusiawi."Ribuan?" Lyra berbisik, suaranya sedikit bergetar. Ia menggenggam lengan Kael lebih erat. "Kael, desa ini tidak memiliki benteng. Warga di sini hanya memiliki parang dan kayu. Bagaimana kita bisa menghadapi ribuan pasukan penghancur?"Kael tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah warga desa yang mulai berkerumun. Ia melihat ketakutan yang sama di mata mereka.Namun, ia juga melihat anak kecil yang ia selamatkan kemarin sedang menatapny
Ledakan cahaya ungu dari pedang Kael menyapu sisa-sisa kegelapan Harbinger of Void. Makhluk itu tidak hancur oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh kemurnian niat yang terpancar dari hubungan Kael dan Lyra. Saat kepulan asap hitam terakhir menguap ke langit merah, Kael terhuyung. Pedang besinya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di tanah berbatu. Napasnya tersengal, dan seluruh otot di tubuhnya terasa seperti ditarik paksa."Kael!" Lyra segera menangkap tubuh Kael sebelum pria itu menyentuh tanah.Ia membiarkan Kael bersandar di pundaknya. Meski Lyra juga merasa lemas karena seluruh energinya terkuras untuk resonansi tadi, ia tetap berusaha berdiri tegak demi menjadi sandaran bagi Kael."Kita ... kita berhasil, Lyra," bisik Kael parau. Keringat membanjiri wajahnya, namun matanya memancarkan kepuasan yang belum pernah ia rasakan saat ia masih memiliki kekuatan dewa.Lyra mengangguk, menyeka keringat di dahi Kael dengan lengan bajunya. "Jangan bicara dulu. Kau memaksakan tu
Kael menatap tangannya yang lecet-lecet. Luka itu tidak langsung menutup seperti dulu. Ia merasakan denyut perih yang nyata, sebuah pengingat bahwa ia kini hanyalah seorang pria biasa yang terikat pada hukum alam.Lyra meletakkan mangkuk sup yang sudah kosong ke samping, lalu meraih tangan Kael dengan lembut. Ia mengeluarkan sehelai kain bersih dan botol kecil berisi minyak herbal yang diberikan oleh warga desa.“Biarkan aku mengobatinya,” tawar Lyra.Kael hanya diam, memperhatikan wajah Lyra yang sangat fokus saat mengusapkan minyak herbal itu ke telapak tangannya. Sentuhan Lyra terasa begitu sejuk di atas kulitnya yang panas. Kael menyadari bahwa meskipun ia kehilangan kekuatan untuk menghancurkan dunia, ia justru mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu perhatian yang tulus.“Lyra,” panggil Kael pelan.“Iya?” Lyra mendongak, matanya yang biru-perak kini tampak lebih dalam dan jernih.“A
Sinar matahari pagi yang menerobos celah jendela pondok kayu itu tidak lagi terasa seperti anugerah dewa, melainkan pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kael terbangun dengan rasa kaku di sekujur punggungnya, sebuah sensasi fisik yang sangat nyata.Ia menoleh ke samping dan mendapati Lyra masih terlelap, napasnya teratur dan wajahnya tampak damai di bawah cahaya fajar yang kemerahan.Kael tidak segera bangun. Ia memandangi wajah wanita itu, menyadari bahwa kini ia harus melindungi Lyra bukan dengan kehendak kosmik, melainkan dengan otot, tulang, dan darahnya sendiri.“Selamat pagi, Kael,” bisik Lyra, matanya perlahan terbuka dan langsung bertemu dengan tatapan pria itu. Sebuah senyum kecil namun hangat terukir di bibirnya.“Selamat pagi,” jawab Kael, suaranya sedikit parau. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Lyra dengan lembut. “Bagaimana perasaanmu? Tubuhmu ... apakah terasa berat?”Lyra bangkit perlahan, meregangkan otot-ototnya. “Sedikit pega
Langit yang semula berwarna biru cerah kini seolah bernapas dengan warna merah darah. Ribuan mata merah di balik hutan itu tidak lagi bersembunyi, mereka mengawasi pondok kecil Kael dan Lyra dengan rasa lapar yang hebat.Tanpa belenggu takdir, dunia ini memang bebas, namun kebebasan itu juga melepaskan monster-monster yang seharusnya terkubur selamanya.Kael berdiri di teras pondok, menggenggam gagang pedang besi biasa yang ia temukan di dalam rumah. Tangannya terasa berat. Tidak ada lagi aliran dingin dari Darah Bayangan yang biasanya membuat pedang itu terasa seringan kapas. Ia bukan lagi sang Aksis Dunia yang bisa menghapus konsep, ia kini hanyalah seorang pria dengan luka-luka lama di tubuhnya.“Kael...” Lyra melangkah keluar, menyentuh pundak pria itu. Ia juga tampak pucat, kehilangan cahaya biru-perak Arsitek Memori yang biasanya menyelimutinya seperti jubah suci.Kael menoleh, menatap mata Lyra. Meski kekuatannya hilang, kecantikan dan
Fajar di Domain Aksis tidak pernah tampak seindah ini. Langit yang biasanya hanya berwarna abu-abu kini dipenuhi semburat ungu dan emas, seolah-olah seluruh alam semesta sedang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Kael dan Lyra berdiri berdampingan di depan pondok kayu mereka, tangan mereka tertaut erat, tidak membiarkan satu inci pun jarak memisahkan.“Kau merasakannya, Kael?” tanya Lyra, menatap ke arah Gerbang Keheningan yang kini memancarkan energi yang luar biasa besar.Kael mengangguk pelan. “Ya. Inti Cahaya dan Inti Kegelapan. Mereka sedang memanggil kita. Ini adalah ujian terakhir bagi aturan yang kita bangun.”Kael menarik napas panjang, menoleh ke arah wanita di sampingnya. Di bawah cahaya fajar itu, Lyra tampak sangat cantik. Tidak ada lagi rasa takut di matanya, hanya ada kepercayaan mutlak pada pria yang ada di sampingnya. Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya sejenak, mencium keningnya dengan lemb







