LOGINPeti mati kristal hitam itu mengapung dengan tenang di tengah Danau Bayangan. Cahayanya redup, namun memancarkan aura kerinduan yang sangat dalam. Kael berdiri di tepi danau, tubuhnya kaku dan matanya tidak berkedip. Di dalam peti itu, tersimpan satu-satunya alasan mengapa ia pernah merasa menjadi manusia, ibunya.
“Kael...” Lyra berbisik, menyentuh lengan Kael yang gemetar. Ia bisa merasakan badai emosi yang berkecamuk di dalam diri pria itu. “Jika kau belum siap, kita tidak perlu melakukannya sekarang.”
Kael menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. “Aku harus melakukannya, Lyra. Suara itu benar. Aku tidak bisa membangun masa depan yang benar-benar bersih jika aku masih menyimpan luka yang bernanah di masa lalu.”
Kael melangkah masuk ke dalam air danau. Anehnya, air itu tidak membasahinya, melainkan membelah diri seolah memberi jalan bagi sang penguasa. Lyra mengikuti di belakangnya, memegang juba
Malam di pos penjaga yang runtuh itu terasa lebih panjang dari biasanya. Api unggun kecil di tengah ruangan memberikan bayangan yang menari-nari di dinding batu yang retak.Di sekitar api itu, belasan pengungsi duduk dengan bahu yang merosot, mata mereka kosong, mencerminkan ketakutan akan dunia yang perlahan-latih menghilang dari ingatan mereka sendiri.Kael duduk di dekat pintu masuk yang terbuka, pedang besinya bersandar di pangkuannya. Ia tidak lagi memiliki mata yang bisa melihat menembus dimensi, namun insting bertarungnya tetap tajam. Ia bisa merasakan angin dingin yang membawa aroma hampa, aroma ketiadaan yang sedang mengintai di kegelapan luar.Lyra mendekatinya, membawa sebuah kain yang telah dibasahi air hangat. Ia duduk di samping Kael dan mulai menyeka debu dari wajah pria itu."Mereka mulai tenang," bisik Lyra, melirik ke arah para pengungsi. "Tapi ketakutan mereka masih sangat besar, Kael. Mereka merasa seolah-olah besok pagi, mereka tidak akan lagi ingat siapa diri mer
Kael menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah kegelapan hutan di depan mereka. "Ya. Ia tidak menyerang dengan pasukan. Ia menyerang dengan keraguan. Tapi selama aku memegang tanganmu, ketiadaan itu tidak akan pernah memiliki ruang di duniaku."Kael menarik Lyra ke dalam dekapan samping, merangkul bahunya erat. Mereka berjalan menembus malam, bukan sebagai dewa yang sombong, melainkan sebagai sepasang manusia yang memiliki satu sama lain sebagai kompas.Perjalanan menyebarkan resonansi jiwabaru saja dimulai. Di depan mereka, ribuan rintangan menanti, namun di dalam hati mereka, sebuah janji telah terpatri,Selama ada cinta, sejarah tidak akan pernah bisa dihapus.Setelah berjalan cukup jauh dari batas desa, Kael memutuskan untuk berhenti. Tubuh manusianya mulai merasakan letih yang nyata. Napasnya sedikit berat, dan pundaknya yang dulu kokoh memikul beban dunia, kini terasa pegal karena membawa tas perbekalan."Kita istirahat di sini," u
Fajar benar-benar telah menyapa desa kecil itu dengan warna emas yang murni. Sisa-sisa kabut hitam dari pasukan void telah menguap, meninggalkan tanah yang lembap namun terasa jauh lebih ringan. Di tengah puing-puing kereta perang yang hancur, Kael masih merasakan hangatnya pelukan Lyra. Detak jantung wanita itu adalah satu-satunya melodi yang ingin ia dengar selamanya."Kael," bisik Lyra, melepaskan pelukannya perlahan namun tangannya tetap menggenggam jemari Kael. "Ayo, kita kembali ke gubuk. Tubuhmu butuh istirahat, dan luka-lukamu harus segera dibersihkan."Kael mencoba berdiri, namun rasa sakit di punggungnya membuatnya meringis.Lyra dengan sigap merangkul pinggang Kael, membiarkan pria itu menyandarkan sebagian berat tubuhnya pada pundaknya yang kecil. Arkhavel mendekat, membantu memapah Kael dari sisi lain."Biar aku bantu, Kael," ucap Arkhavel. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup untuk hari ini."Kael hanya mengangguk lemah. Matanya melirik ke arah tubuh Elara yang sedang d
Serangan gelap yang dilepaskan Elara melesat seperti kilat hitam, merobek udara dengan suara mendesis yang mematikan. Targetnya bukan Kael, melainkan Lyra, titik lemah sekaligus jantung dari seluruh pertahanan desa ini. Ia tahu, tanpa dukungan emosional Lyra, Kael hanyalah seorang pria dengan pedang besi."Lyra!" raungan Kael membelah riuh rendah pertempuran.Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat bayangan maut itu mendekat ke arah wanita yang ia cintai. Di dunia lama, Kael bisa berpindah tempat dalam sekejap mata menggunakan bayangan. Namun sekarang, ia harus mengandalkan otot dan tulang manusianya.Kael melompat. Ia tidak peduli pada ksatria void yang sedang menebas punggungnya. Ia hanya peduli pada satu hal, keselamatan Lyra.BUM!Ledakan energi kegelapan menghantam tepat saat Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya dan memutar tubuh mereka di udara. Ia menjadikan punggungnya sebagai perisai hidup. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari saraf tulang belakangnya, seolah-ol
Berita yang dibawa Arkhavel jatuh seperti palu godam di tengah desa yang baru saja merasakan sedikit kedamaian. Ribuan pasukan void dan sisa-sisa pasukan takdir sedang bergerak menuju titik ini.Mereka adalah badai yang tidak mengenal ampun, bertujuan untuk memadamkan cahaya kebebasan yang baru saja dinyalakan oleh Kael dan Lyra.Kael menatap Arkhavel yang masih bersimpuh di tanah. Pria yang dulu begitu angkuh sebagai utusan dewan perbatasan itu kini tampak sangat rapuh. Jubahnya robek, dan matanya yang dulu dingin kini dipenuhi ketakutan manusiawi."Ribuan?" Lyra berbisik, suaranya sedikit bergetar. Ia menggenggam lengan Kael lebih erat. "Kael, desa ini tidak memiliki benteng. Warga di sini hanya memiliki parang dan kayu. Bagaimana kita bisa menghadapi ribuan pasukan penghancur?"Kael tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah warga desa yang mulai berkerumun. Ia melihat ketakutan yang sama di mata mereka.Namun, ia juga melihat anak kecil yang ia selamatkan kemarin sedang menatapny
Ledakan cahaya ungu dari pedang Kael menyapu sisa-sisa kegelapan Harbinger of Void. Makhluk itu tidak hancur oleh kekuatan fisik semata, melainkan oleh kemurnian niat yang terpancar dari hubungan Kael dan Lyra. Saat kepulan asap hitam terakhir menguap ke langit merah, Kael terhuyung. Pedang besinya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di tanah berbatu. Napasnya tersengal, dan seluruh otot di tubuhnya terasa seperti ditarik paksa."Kael!" Lyra segera menangkap tubuh Kael sebelum pria itu menyentuh tanah.Ia membiarkan Kael bersandar di pundaknya. Meski Lyra juga merasa lemas karena seluruh energinya terkuras untuk resonansi tadi, ia tetap berusaha berdiri tegak demi menjadi sandaran bagi Kael."Kita ... kita berhasil, Lyra," bisik Kael parau. Keringat membanjiri wajahnya, namun matanya memancarkan kepuasan yang belum pernah ia rasakan saat ia masih memiliki kekuatan dewa.Lyra mengangguk, menyeka keringat di dahi Kael dengan lengan bajunya. "Jangan bicara dulu. Kau memaksakan tu