Share

48. KOTA TANPA NAMA

Penulis: Aleena Tan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 21:28:04

Fajar menyingsing dengan warna biru yang jernih, seolah-olah alam semesta sedang mencoba membersihkan sisa-sisa kegelapan dari pertempuran semalam. Kael dan Lyra berdiri di gerbang pos penjaga, menatap ke arah pegunungan di utara. Di sana, Menara Hitam berdiri dengan angkuh, ujungnya seolah menusuk langit, dan mata perak di puncaknya terus berkedip, mengawasi setiap gerak-gerik di dunia bawah.

Aris dan para pengungsi melepas kepergian mereka dengan tatapan penuh rasa syukur sekaligus cemas. Di tangan Aris, buku catatan memori itu didekap erat, seolah-olah itu adalah jantung dari keberadaan mereka.

"Berhati-hatilah, Tuan Kael, Nona Lyra," ucap Aris dengan suara parau. "Dunia di depan sana tidak lagi seperti yang kita kenal. Tanah itu tidak lagi mengingat siapa yang menginjaknya."

Kael mengangguk singkat. Ia memanggul tas perbekalannya yang kini terasa lebih berat karena tubuh manusianya mulai merasakan efek kelelahan yang nyata. Namun, saat ia merasakan jemari Lyra menyelinap ke sela-s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   49. PUNCAK KEHAMPAAN

    Lyra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya terus menyeka luka di kaki Kael, membiarkan air matanya jatuh bebas. Baginya, setiap tetes darah yang keluar dari tubuh Kael adalah pengingat betapa egoisnya dunia ini.Mereka telah memberikan segalanya, kekuatan, keabadian, bahkan status dewa, hanya untuk memberikan kebebasan pada manusia. Namun sekarang, manusia-manusia itu justru lupa pada mereka, dan alam semesta yang mencoba menghapus jejak mereka.Kael perlahan turun dari tempat tidur, duduk di lantai di depan Lyra. Ia memegang kedua tangan Lyra, menghentikan gerakan kain basah itu. Ia memaksa Lyra untuk mendongak dan menatap matanya.“Aku menangis karena aku takut kehilanganmu, Kael,” bisik Lyra akhirnya. Suaranya bergetar hebat. “Dulu, kau adalah iblis bayangan yang tak bisa mati. Tapi sekarang ... kau hanyalah Kael. Seorang pria yang bisa terluka oleh seberkas cahaya. Aku tidak sanggup membayangkan jika besok aku terbangun dan dunia ini benar-benar telah melupakanmu, termasuk hat

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   48. KOTA TANPA NAMA

    Fajar menyingsing dengan warna biru yang jernih, seolah-olah alam semesta sedang mencoba membersihkan sisa-sisa kegelapan dari pertempuran semalam. Kael dan Lyra berdiri di gerbang pos penjaga, menatap ke arah pegunungan di utara. Di sana, Menara Hitam berdiri dengan angkuh, ujungnya seolah menusuk langit, dan mata perak di puncaknya terus berkedip, mengawasi setiap gerak-gerik di dunia bawah.Aris dan para pengungsi melepas kepergian mereka dengan tatapan penuh rasa syukur sekaligus cemas. Di tangan Aris, buku catatan memori itu didekap erat, seolah-olah itu adalah jantung dari keberadaan mereka."Berhati-hatilah, Tuan Kael, Nona Lyra," ucap Aris dengan suara parau. "Dunia di depan sana tidak lagi seperti yang kita kenal. Tanah itu tidak lagi mengingat siapa yang menginjaknya."Kael mengangguk singkat. Ia memanggul tas perbekalannya yang kini terasa lebih berat karena tubuh manusianya mulai merasakan efek kelelahan yang nyata. Namun, saat ia merasakan jemari Lyra menyelinap ke sela-s

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   47. SIMPUL HARAPAN

    Malam di pos penjaga yang runtuh itu terasa lebih panjang dari biasanya. Api unggun kecil di tengah ruangan memberikan bayangan yang menari-nari di dinding batu yang retak.Di sekitar api itu, belasan pengungsi duduk dengan bahu yang merosot, mata mereka kosong, mencerminkan ketakutan akan dunia yang perlahan-latih menghilang dari ingatan mereka sendiri.Kael duduk di dekat pintu masuk yang terbuka, pedang besinya bersandar di pangkuannya. Ia tidak lagi memiliki mata yang bisa melihat menembus dimensi, namun insting bertarungnya tetap tajam. Ia bisa merasakan angin dingin yang membawa aroma hampa, aroma ketiadaan yang sedang mengintai di kegelapan luar.Lyra mendekatinya, membawa sebuah kain yang telah dibasahi air hangat. Ia duduk di samping Kael dan mulai menyeka debu dari wajah pria itu."Mereka mulai tenang," bisik Lyra, melirik ke arah para pengungsi. "Tapi ketakutan mereka masih sangat besar, Kael. Mereka merasa seolah-olah besok pagi, mereka tidak akan lagi ingat siapa diri mer

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   46. HANGATNYA JANJI

    Kael menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah kegelapan hutan di depan mereka. "Ya. Ia tidak menyerang dengan pasukan. Ia menyerang dengan keraguan. Tapi selama aku memegang tanganmu, ketiadaan itu tidak akan pernah memiliki ruang di duniaku."Kael menarik Lyra ke dalam dekapan samping, merangkul bahunya erat. Mereka berjalan menembus malam, bukan sebagai dewa yang sombong, melainkan sebagai sepasang manusia yang memiliki satu sama lain sebagai kompas.Perjalanan menyebarkan resonansi jiwabaru saja dimulai. Di depan mereka, ribuan rintangan menanti, namun di dalam hati mereka, sebuah janji telah terpatri,Selama ada cinta, sejarah tidak akan pernah bisa dihapus.Setelah berjalan cukup jauh dari batas desa, Kael memutuskan untuk berhenti. Tubuh manusianya mulai merasakan letih yang nyata. Napasnya sedikit berat, dan pundaknya yang dulu kokoh memikul beban dunia, kini terasa pegal karena membawa tas perbekalan."Kita istirahat di sini," u

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   45. CAHAYA FAJAR DAN JANJI BARU

    Fajar benar-benar telah menyapa desa kecil itu dengan warna emas yang murni. Sisa-sisa kabut hitam dari pasukan void telah menguap, meninggalkan tanah yang lembap namun terasa jauh lebih ringan. Di tengah puing-puing kereta perang yang hancur, Kael masih merasakan hangatnya pelukan Lyra. Detak jantung wanita itu adalah satu-satunya melodi yang ingin ia dengar selamanya."Kael," bisik Lyra, melepaskan pelukannya perlahan namun tangannya tetap menggenggam jemari Kael. "Ayo, kita kembali ke gubuk. Tubuhmu butuh istirahat, dan luka-lukamu harus segera dibersihkan."Kael mencoba berdiri, namun rasa sakit di punggungnya membuatnya meringis.Lyra dengan sigap merangkul pinggang Kael, membiarkan pria itu menyandarkan sebagian berat tubuhnya pada pundaknya yang kecil. Arkhavel mendekat, membantu memapah Kael dari sisi lain."Biar aku bantu, Kael," ucap Arkhavel. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup untuk hari ini."Kael hanya mengangguk lemah. Matanya melirik ke arah tubuh Elara yang sedang d

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   44. RESONANSI JIWA

    Serangan gelap yang dilepaskan Elara melesat seperti kilat hitam, merobek udara dengan suara mendesis yang mematikan. Targetnya bukan Kael, melainkan Lyra, titik lemah sekaligus jantung dari seluruh pertahanan desa ini. Ia tahu, tanpa dukungan emosional Lyra, Kael hanyalah seorang pria dengan pedang besi."Lyra!" raungan Kael membelah riuh rendah pertempuran.Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat bayangan maut itu mendekat ke arah wanita yang ia cintai. Di dunia lama, Kael bisa berpindah tempat dalam sekejap mata menggunakan bayangan. Namun sekarang, ia harus mengandalkan otot dan tulang manusianya.Kael melompat. Ia tidak peduli pada ksatria void yang sedang menebas punggungnya. Ia hanya peduli pada satu hal, keselamatan Lyra.BUM!Ledakan energi kegelapan menghantam tepat saat Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya dan memutar tubuh mereka di udara. Ia menjadikan punggungnya sebagai perisai hidup. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari saraf tulang belakangnya, seolah-ol

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status