MasukSosok perak itu melangkah mendekat, dan setiap tapak kakinya meninggalkan jejak kehampaan di lantai menara. Aura yang dipancarkannya begitu dingin, bukan dingin es yang membekukan kulit, melainkan dingin yang membuat jiwa merasa tidak berarti."Bodoh?" Kael mengulang kata itu dengan suara yang gemetar karena menahan tekanan, namun ada nada tawa getir di sana. Ia menyeka darah yang mengalir dari hidungnya, sebuah bukti bahwa tubuh manusianya hampir mencapai batas."Mungkin. Tapi di dunia yang kau tawarkan, tidak ada rasa sakit, tidak ada air mata, dan juga tidak ada Lyra. Bagiku, itu adalah definisi neraka yang sesungguhnya."Sosok Perak itu berhenti tepat tiga langkah di depan Kael. Matanya yang perak murni menatap Kael dengan rasa ingin tahu yang dingin, seolah sedang membedah sebuah serangga di bawah mikroskop."Kau memilih perih daripada keagungan. Kau memilih kematian daripada keabadian," ucap Sosok Perak itu. Suaranya terdengar seperti ribuan logam yang bergesekan."Aku adalah ba
Lyra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya terus menyeka luka di kaki Kael, membiarkan air matanya jatuh bebas. Baginya, setiap tetes darah yang keluar dari tubuh Kael adalah pengingat betapa egoisnya dunia ini.Mereka telah memberikan segalanya, kekuatan, keabadian, bahkan status dewa, hanya untuk memberikan kebebasan pada manusia. Namun sekarang, manusia-manusia itu justru lupa pada mereka, dan alam semesta yang mencoba menghapus jejak mereka.Kael perlahan turun dari tempat tidur, duduk di lantai di depan Lyra. Ia memegang kedua tangan Lyra, menghentikan gerakan kain basah itu. Ia memaksa Lyra untuk mendongak dan menatap matanya.“Aku menangis karena aku takut kehilanganmu, Kael,” bisik Lyra akhirnya. Suaranya bergetar hebat. “Dulu, kau adalah iblis bayangan yang tak bisa mati. Tapi sekarang ... kau hanyalah Kael. Seorang pria yang bisa terluka oleh seberkas cahaya. Aku tidak sanggup membayangkan jika besok aku terbangun dan dunia ini benar-benar telah melupakanmu, termasuk hat
Fajar menyingsing dengan warna biru yang jernih, seolah-olah alam semesta sedang mencoba membersihkan sisa-sisa kegelapan dari pertempuran semalam. Kael dan Lyra berdiri di gerbang pos penjaga, menatap ke arah pegunungan di utara. Di sana, Menara Hitam berdiri dengan angkuh, ujungnya seolah menusuk langit, dan mata perak di puncaknya terus berkedip, mengawasi setiap gerak-gerik di dunia bawah.Aris dan para pengungsi melepas kepergian mereka dengan tatapan penuh rasa syukur sekaligus cemas. Di tangan Aris, buku catatan memori itu didekap erat, seolah-olah itu adalah jantung dari keberadaan mereka."Berhati-hatilah, Tuan Kael, Nona Lyra," ucap Aris dengan suara parau. "Dunia di depan sana tidak lagi seperti yang kita kenal. Tanah itu tidak lagi mengingat siapa yang menginjaknya."Kael mengangguk singkat. Ia memanggul tas perbekalannya yang kini terasa lebih berat karena tubuh manusianya mulai merasakan efek kelelahan yang nyata. Namun, saat ia merasakan jemari Lyra menyelinap ke sela-s
Malam di pos penjaga yang runtuh itu terasa lebih panjang dari biasanya. Api unggun kecil di tengah ruangan memberikan bayangan yang menari-nari di dinding batu yang retak.Di sekitar api itu, belasan pengungsi duduk dengan bahu yang merosot, mata mereka kosong, mencerminkan ketakutan akan dunia yang perlahan-latih menghilang dari ingatan mereka sendiri.Kael duduk di dekat pintu masuk yang terbuka, pedang besinya bersandar di pangkuannya. Ia tidak lagi memiliki mata yang bisa melihat menembus dimensi, namun insting bertarungnya tetap tajam. Ia bisa merasakan angin dingin yang membawa aroma hampa, aroma ketiadaan yang sedang mengintai di kegelapan luar.Lyra mendekatinya, membawa sebuah kain yang telah dibasahi air hangat. Ia duduk di samping Kael dan mulai menyeka debu dari wajah pria itu."Mereka mulai tenang," bisik Lyra, melirik ke arah para pengungsi. "Tapi ketakutan mereka masih sangat besar, Kael. Mereka merasa seolah-olah besok pagi, mereka tidak akan lagi ingat siapa diri mer
Kael menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah kegelapan hutan di depan mereka. "Ya. Ia tidak menyerang dengan pasukan. Ia menyerang dengan keraguan. Tapi selama aku memegang tanganmu, ketiadaan itu tidak akan pernah memiliki ruang di duniaku."Kael menarik Lyra ke dalam dekapan samping, merangkul bahunya erat. Mereka berjalan menembus malam, bukan sebagai dewa yang sombong, melainkan sebagai sepasang manusia yang memiliki satu sama lain sebagai kompas.Perjalanan menyebarkan resonansi jiwabaru saja dimulai. Di depan mereka, ribuan rintangan menanti, namun di dalam hati mereka, sebuah janji telah terpatri,Selama ada cinta, sejarah tidak akan pernah bisa dihapus.Setelah berjalan cukup jauh dari batas desa, Kael memutuskan untuk berhenti. Tubuh manusianya mulai merasakan letih yang nyata. Napasnya sedikit berat, dan pundaknya yang dulu kokoh memikul beban dunia, kini terasa pegal karena membawa tas perbekalan."Kita istirahat di sini," u
Fajar benar-benar telah menyapa desa kecil itu dengan warna emas yang murni. Sisa-sisa kabut hitam dari pasukan void telah menguap, meninggalkan tanah yang lembap namun terasa jauh lebih ringan. Di tengah puing-puing kereta perang yang hancur, Kael masih merasakan hangatnya pelukan Lyra. Detak jantung wanita itu adalah satu-satunya melodi yang ingin ia dengar selamanya."Kael," bisik Lyra, melepaskan pelukannya perlahan namun tangannya tetap menggenggam jemari Kael. "Ayo, kita kembali ke gubuk. Tubuhmu butuh istirahat, dan luka-lukamu harus segera dibersihkan."Kael mencoba berdiri, namun rasa sakit di punggungnya membuatnya meringis.Lyra dengan sigap merangkul pinggang Kael, membiarkan pria itu menyandarkan sebagian berat tubuhnya pada pundaknya yang kecil. Arkhavel mendekat, membantu memapah Kael dari sisi lain."Biar aku bantu, Kael," ucap Arkhavel. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup untuk hari ini."Kael hanya mengangguk lemah. Matanya melirik ke arah tubuh Elara yang sedang d







