MasukIrene Filonwy Ester, satu-satunya ratu yang mengalami kematian paling tidak terhormat sepanjang sejarah Kerajaan Eldoria. Tuduhan yang telah direncanakan oleh sang suami membuat pengabdian panjangnya selama sepuluh tahun berakhir dengan penuh kepahitan. Terkuaknya kebenaran di balik kehancuran keluarga Ester, yang ternyata telah direncanakan oleh keluarga kerajaan. Membuat Irene terkurung dalam amarah serta dendam yang membara, tepat sehari sebelum pedang menyentuh lehernya. Alih-alih mati, Irene justru terbangun di masa lalu, saat usianya delapan belas tahun, tepat sehari sebelum upacara pendewasaannya digelar. Tekad Irene untuk membalaskan dendam sangat kuat. Kali ini ia tidak akan menjadi pion, melainkan pemain utama dalam permainan yang telah menghancurkan hidupnya.
Lihat lebih banyak“Brengsek kau Erald!”
Pria yang dituju berdecih melihat tatapan tajam penuh dendam yang menyambut kedatangannya di penjara bawah tanah itu. “Sudah ku berikan dua pilihan bukan? Antara kematian terhormat atau dengan kehilangan kehormatanmu. Dan kau tetap bertahan pada pilihan kedua.” kata Erald dingin. “Terhormat? Aku lebih memilih mati di hadapan semua orang dari pada harus mengaku sebagai pembunuh para bayi!” Irene Filonwy Ester menjerit. Mata Irene masih menyala tajam dalam kegelapan penjara, tubuh lemah dan penuh lukanya tidak bisa menutupi amarah yang sudah tak terbendung. Dengan raut wajah datar, Erald berjongkok, mengapit erat kedua pipi tirus sang istri dengan satu tangannya. Irene semakin memberontak sekuat tenaga, walaupun usahanya terlihat sia sia. “Yah, memang seperti inilah keluarga Ester. Tak heran kau dan keluargamu hancur di bawah kaki kami.” Tatapan Irene semakin menajam. Dengan bermodalkan sebuah perhiasan usang di genggaman, ia meludahi tangan yang mengapit pipinya, kemudian menusukkan perhiasan itu ke paha Erald dengan menumpahkan seluruh kekuatan dan kemarahannya. “Argh!!” Pekikan Erald memenuhi tempat temaram itu, membuat para penjaga segera berlari dan menjauhkan mantan Ratu mereka yang sedang kesetanan. “Yang Mulia!” Nafas Irene memburu melihat cairan merah yang terus mengalir dari luka goresan panjang ciptaannya, ia belum puas. “Setidaknya kami tidak pernah menjadi anjing bagi keluarga pembunuh, pengkhianat, dan pengecut seperti kalian!” Erald terkekeh pelan, kemudian menendang penjaga yang sedang membalut luka di pahanya. “Ternyata Alicia kemarin sudah memberitahukan semuanya kepadamu. Baguslah.” Ucap Erald. Ia berjalan mendekati Irene yang sedang dipegangi oleh tiga orang penjaga. Irene membenci ketika ia mendengar nama itu. Alicia. Itu adalah selir Erald. Dengan santai, pria itu mengelus leher Irene, tepatnya pada goresan luka panjang yang mulai mengering. Kemudian menekannya hingga luka itu kembali mengeluarkan darah. “Aku tau niatmu, kau ingin membuatku kehilangan kaki seperti Sion, adik bodohmu itu bukan…? Ah, sepertinya kau bahkan belum tau nasib adikmu sekarang.” Mata Irene membulat, tubuhnya memberontak hebat, “Apa yang kau lakukan dengan Sion, sialan!” “Kau menyebutku sebagai pengkhianat, dan aku benar menjadi pengkhianat dengan melupakan perjanjian kita.” Tangan Erald mulai mencekik leher Irene, dengan senyuman mengerikan. “Adikmu yang bodoh dan gila itu telah mati dua bulan yang lalu. Aku membunuhnya karna dia mengamuk saat tau kau ditangkap.” lanjut Earld santai. Gerakan memberontak Irene terhenti seketika, cekikan dari Erald tak dihiraukannya. Sang adik, satu satunya keluarga yang masih ia perjuangkan telah tiada dua bulan yang lalu tanpa dia ketahui. Setetes air mata mengalir dari netra hazel itu. Tangan Erald yang bertengger semakin mengeratkan membuatnya terbatuk batuk dan hampir kehilangan kesadaran. Bruk! Tubuh ringkih Irene terlempar, nafasnya tidak beraturan dengan pandangan mata kosong. Ini benar benar melewati batas kemarahannya, hingga membuat ia seperti kehilangan seluruh jiwanya. “Seret dia ke balai kota! Semua orang sudah menunggu kepala mantan Ratu kita.” Titah Erald sebelum keluar dari tempat itu. Irene hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret kasar, dengan borgol rantai yang masih mengikat tangan dan satu kakinya. Kini ia dibawa menuju balai kota, tempat eksekusi para pengkhianat kerajaan dan penjahat kelas berat. Sorak sorakan para rakyat mulai terdengar saat mereka keluar dari penjara, umpatan dan sumpah serapah ditujukan untuk mantan Ratu mereka. Suara teriakan semakin terdengar keras ketika gerbang istana terbuka. Tak hanya itu, beberapa orang juga melempari Irene dengan sampah dan air kotor. “Dasar wanita pembunuh!” “Hukuman kematian terlalu mudah bagimu!!” “Kau bahkan tidak bisa disebut sebagai wanita!” “Bagaimana dia bisa menjabat sebagai Ratu selama ini dengan sikap seperti itu!!” “Pantas saja dia tidak bisa menjadi ibu selama ini.” “Membusuklah kau di neraka!!” Irene berjalan tertatih dengan seretan kasar dari para pengawal kerajaan. Tubuhnya ringkih serta penuh luka dengan pakaian kotor nan lusuh, kini semakin kotor dengan segala lemparan sampah dari rakyat yang selama ini ia perjuangkan kemakmurannya. Tuduhan yang menimpa dirinya bukanlah kasus ringan, Erald dan keluarga kerajaan yang lain telah menjebaknya agar menjadi pelaku pembunuhan para bayi yang merajalela selama beberapa bulan belakangan. Puncaknya saat bayi dari Erald dan selirnya, Alicia, turut menjadi korban dalam kasus tersebut. Bayi yang telah ditunggu kehadirannya selama bertahun tahun itu pun menjadi titik ledakan dari kemarahan rakyat. Kematian tragis sang bayi membuat tuduhan terhadap Irene semakin meyakinkan di mata publik. Ia dijadikan kambing hitam sempurna, mantan Ratu yang kini dituding sebagai dalang pembunuhan para bayi bangsawan dan rakyat biasa. Semua rekayasa itu dilakukan dengan rapi oleh Erald bersama Alicia, selir tercintanya yang manis di luar namun penuh racun di dalam. Langkah-langkah Irene semakin berat. Di tengah sorakan yang memekakkan telinga dan aroma busuk dari sisa makanan busuk yang dilemparkan padanya, ia mendongakkan kepala. Wajahnya penuh luka dan kotoran, namun sorot matanya masih menyimpan sisa-sisa nyala. Bukan rasa takut. Tapi luka yang dalam. Pengkhianatan, kehilangan dan juga dendam yang membara. Mereka tiba di balai kota, di sana sudah terdapat Erald, Alicia, dan keluarga kerajaan yang lain. Tatapan mereka seolah mengejek titik akhir penghapusan keluarga Ester, keluarga yang memiliki kekuasaan hampir sama dengan keluarga kerajaan bertahun tahun yang lalu. "Irene Filonwy Ester." Suara tegas sang juru bicara kerajaan membuat para rakyat diam. Hanya suara tangisan palsu Alicia yang masih terdengar dalam kesunyian itu. “Kau telah dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan puluhan bayi selama beberapa bulan terakhir, pembunuhan terhadap putra mahkota, serta penyalahgunaan kekuasaan sebagai Ratu selama menjabat.” Napas Irene terengah mendengarnya. “Dengan ini kerajaan memberikan hukuman penggal, pencabutan gelar serta penghapusan keluarga Ester secara tidak terhormat dalam sejarah kerajaan Eldoria.” lanjut sang juru bicara. Rakyat bersorak gembira, seolah keluarga Ester tak pernah berjasa pada mereka. Di tengah semua suara, Irene mengangkat wajahnya, lalu menatap lurus ke arah Erald dan Alicia. Matanya tidak lagi berkaca kaca, tidak pula gemetar. Sebaliknya, ada keteguhan yang menyeruak dari balik luka lukanya. “Aku akan mati hari ini, Erald,” ucapnya pelan namun cukup jelas hingga terdengar oleh banyak orang. “Tapi aku bersumpah akan membuat kalian merasakan seluruh penderitaan keluarga Ester di tujuh kehidupan sekalipun!” Erald tampak terdiam sesaat, kemudian bibirnya menyunggingkan senyum tipis, “Lakukan sekarang, kita selesaikan ini secepatnya.” Dengan sorot mata tegas, Irene mengikuti tarikan para pengawal untuk menempatkan diri. Ia siap mati, tentu dengan membawa semua dendam dan amarahnya. Tepat satu detik sebelum pedang menggores lehernya, pandangan Irene menggelap. Tubuhnya seolah terlempar dalam kegelapan tak berujung selama waktu yang cukup lama. Setelah seluruh kegelapan itu, muncul secercah cahaya menyilaukan yang semakin lama semakin membesar, dan menghantam kepalanya. Sesak mulai memenuhi rongga dadanya. Irene meringis saat merasakan beban puluhan ton seolah menyerang kepalanya. Pandangannya yang gelap perlahan memburam dan menjadi jelas dalam beberapa waktu. Bersamaan dengan rasa sakitnya yang perlahan menghilang. Perasaan bingung menyergap dirinya saat terbangun tersengal sengal di sebuah kamar asing yang entah mengapa terasa sangat familiar. Nafasnya mulai teratur, Ia kemudian mengangkat dan menggerakkan tangannya yang terlihat lebih kecil daripada sebelumnya. “Apa yang terjadi…?”Mereka berdua terus berjalan dengan santai. Namun tiba tiba Irene merasakan sesuatu yang aneh saat melewati sebuah pintu. Ada sebuah aura aneh yang membuatnya seketika menghentikan langkah.“Ada apa Nona Ester?”Mata Irene menyisir pintu tersebut dengan teliti. Dari tampilan sebenarnya tidak ada yang aneh. Namun, tempat tersebut seolah menariknya untuk mendekat.“Ruangan apa itu?”Zoey menggaruk pelipisnya sebelum menjawab, “Itu adalah ruangan pribadi Tuan Duke Nona. Selama ini hanya beberapa orang saja yang diizinkan masuk ke dalam sana, saya juga tidak tahu pasti tentang isi ruangan tersebut.”Irene tampak terdiam sebentar, kemudian kembali berjalan menuju taman.Jarak antara taman dan ruangan tadi tidaklah jauh, hanya menghabiskan waktu tak sampai satu menit, kini keduanya telah sampai.Begitu masuk, mereka langsung disambut dengan ratusan, atau bahkan mungkin ribuan tangkai mawar berwarna merah. Tanpa adanya satupun tumbuhan atau bunga lain.Dapat Irene rasakan, aroma manis sepert
Irene memandangi sekeliling kamar tempatnya terbangun. Sebuah ruangan asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya.Interiornya tampak mewah, dipenuhi sentuhan hitam elegan yang menciptakan kesan dingin namun anggun. Tak ada satupun sudut ruangan ini yang terasa familiar, seolah ia dilemparkan ke dalam dunia baru.Ia masih mengingat dengan jelas kejadian semalam, saat penyerangan itu terjadi dan dirinya pingsan di pinggiran hutan.Mungkinkah ada seseorang yang menolongnya, atau ia telah tertangkap oleh pasukan hitam semalam. Namun sepertinya mustahil jika seorang bangsawan secara kebetulan menemukannya di jalur hutan, karena tempat itu tak pernah dilewati oleh kereta maupun patroli keamanan.Irene menurunkan kakinya dari ranjang mewah, ia baru menyadari jika gaun yang dikenakannya semalam sudah berganti dengan gaun sederhana berwarna putih.Tidak ada prasangka apapun mengenai gaun tersebut, karena dia yakin jika pelayan di sinilah yang menggantikannya.Langkah Irene pelan, namun pasti, m
Suara siulan pendek terdengar seolah menjadi sinyal, dan seketika hujan panah melesat dari berbagai arah.Dentingan pedang beradu memenuhi udara. Dion dengan sigap melompat turun dari kudanya dan berlari ke arah kereta, tubuhnya menghalangi Irene yang hendak keluar.“Anda harus segera pergi dari sini Nona. Kita telah kalah jumlah.”Wajah Dion telah dipenuhi keringat dan debu, namun sorot matanya tak goyah. “Setidaknya tiga kali lipat dari jumlah pasukan kita!”Kereta Irene dikepung dari semua arah. Jalan depan diblokir, jalan belakang dipasangi paku paku besi yang membuat roda kereta sulit bergerak. Di sisi-sisi hutan, puluhan pemanah bayangan muncul satu per satu.Sebuah panah melesat ke arah Dion.Braak!ditangkis oleh pengawal di belakangnya, namun lelaki itu tetap terguncang mundur.“Jangan turun!” serunya ke arah Irene yang hendak membuka pintu. “Terlalu berbahaya!”Irene menahan diri. Ia meraih busur kecil dari peti senjata di bawah tempat duduknya, membuka jendela hanya sedikit
Kendrick mengangkat sebelah alis, wajahnya dipenuhi ekspresi heran sekaligus geli. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi reot dengan gerakan malas, kedua kakinya disilangkan santai di atas meja, tepat di hadapan Irene.“Begitu cepat? Biasanya wanita minta makan malam dulu sebelum mengajukan permintaan semacam itu.”Irene mengerutkan dahi, namun tetap tenang. “Aku sedang tidak dalam suasana bercanda.”Kendrick menyeringai, memperlihatkan lesung pipi samar yang tak sesuai dengan reputasinya sebagai pembunuh bayaran.“Justru itu masalahnya. Kau terlalu serius. Dunia ini sudah cukup suram, Lady Irene. Sedikit humor tak akan membunuhmu.”“Aku bisa membunuhmu, kalau kau terlalu banyak bicara.” Balas Irene dingin.Ia tertawa kecil, geleng-geleng kepala. “Kau menarik juga, ya. Biasanya para bangsawan yang datang padaku menggigil ketakutan. Tapi kau? Kau mengancamku seperti sedang memarahi pelayan.”“Aku bukan bangsawan biasa.”“Ya, ya. Sudah kudengar.” Kendrick menurunkan kakinya dari meja, akhir
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.