Home / Historical / Becoming Duchess / BAB 2 - Sebuah Tawaran

Share

BAB 2 - Sebuah Tawaran

Author: Rose Solace
last update publish date: 2026-07-15 19:48:07

Aroma bunga segar memenuhi ruangan, berasal dari rangkaian kecil di meja dekat jendela.

Serenne duduk dengan tenang, jemarinya sibuk merapikan pita halus di ujung gaunnya, ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu.

"Masuk!" ucapnya lembut.

Pintu terbuka, dan sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana.

Wajah Serenne seketika berubah cerah.

"Arven!"

Ia bangkit hampir tanpa berpikir, langkahnya ringan saat menghampiri. Senyumnya tulus, hangat, dan berbeda dari senyum sopan yang biasa ia berikan di luar.

"Aku merindukanmu," Serenne memeluk Arven tanpa ragu.

Arven tersenyum tipis, sedikit lelah, tapi tetap membalas pelukan hangat saudarinya.

"Bukankah dua hari lalu kita baru saja bertemu ditaman?", ucap Arven ringan.

Serenne melepaskan pelukannya dengan sedikit cemberut manja.

"Aku bisa mengerti jika Renard jarang berkunjung karena ia sibuk mengurus kerajaan," Serenne berhenti sejenak, lalu menatap Arven lebih tajam, "tapi bagaimana denganmu? Aku rasa kau tidak terlalu sibuk."

Arven hanya mengangkat alis, tidak terlihat tersinggung.

"Aku juga sibuk membantu pekerjaan saudara kita, Yang Mulia Raja."

Serenne tertawa pelan, suasana di antara mereka terasa ringan dan akrab. Jauh dari formalitas dunia luar.

Seorang pelayan masuk tanpa suara, meletakkan teh hangat di atas meja kecil, lalu mundur dengan sopan.

Arven mengambil tempat duduk di dekat jendela, sementara Serenne kembali duduk berhadapan dengannya.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Arven membuka percakapan.

"Serenne, apa pendapatmu mengenai Duke Rosenstein?"

Serenne sedikit terkejut, namun tidak menunjukkannya secara berlebihan. Ia terdiam sejenak, berpikir.

"Duke Rosenstein…" ulangnya pelan.

Ia menunduk sedikit, seolah mengumpulkan ingatan.

"Aku tidak benar-benar mengenal beliau," lanjut Serenne jujur. "Aku hanya tahu jika beliau adalah temanmu dan Renard."

Ia mengangkat pandangan, menatap Arven.

"Aku bahkan tidak cukup mengenal para wanita di keluarga Rosenstein."

Lalu sedikit ragu, ia menambahkan,

"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"

Arven tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sejenak, seolah menimbang sesuatu, lalu berkata santai,

"Tidak ada yang terjadi. Aku hanya ingin tahu pendapatmu."

Serenne menarik napas kecil, lalu berkata dengan hati-hati,

"Kalau dari yang kudengar, Duke Rosenstein adalah seorang pria yang cerdas namun tertutup."

Ia tersenyum tipis, hampir seperti meminta maaf pada penilaiannya sendiri.

"Bukankah keluarga Rosenstein memang terkenal sulit dijangkau?"

Ruangan kembali sunyi.

Arven hanya mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah cukup. Ia mengambil cangkir teh di depannya, menyesapnya tanpa tergesa.

Serenne memperhatikannya, ada sesuatu yang terasa berbeda. Biasanya Arven tidak akan datang hanya untuk berbasa-basi seperti ini.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya mengenai Duke Rosenstein?" tanya Serenne akhirnya.

Nada suaranya masih lembut, tapi kini penuh rasa ingin tahu.

Arven meletakkan cangkirnya dengan pelan, lalu menatap Serenne, lebih serius dari sebelumnya.

"Serenne."

Cara ia memanggil namanya membuat gadis itu tanpa sadar menegakkan tubuh.

"Jika suatu hari," lanjut Arven tenang, "kau diminta memasuki keluarga Rosenstein. Apa kau bersedia?"

Serenne membeku. Pertanyaan itu terasa terlalu tiba-tiba, dan terlalu mengejutkan.

. . .

Leander duduk di meja besar yang dipenuhi dokumen. Sementara cahaya pagi masuk dari jendela tinggi, membentuk bayangan panjang di lantai.

Suasana seharusnya sunyi, namun kehadiran seseorang di hadapannya membuat udara terasa lebih berat dari biasanya.

"Aku akan bertanya sekali lagi."

Suara Zeryna terdengar tegas, nyaris tanpa basa-basi.

"Bagaimana perkembanganmu mencari calon Duchess?"

Leander tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap lembar dokumen di tangannya, seolah pertanyaan itu tidak cukup penting untuk segera ditanggapi.

Zeryna mengetukkan telunjuknya ke atas meja, meminta jawaban.

"Masih dalam pertimbangan," jawab Leander akhirnya, singkat.

Zeryna mengernyit.

"Itu jawaban yang sama seperti bulan lalu. Dan bulan sebelumnya."

Leander tidak mengangkat kepala.

"Karena pertanyaanmu juga tidak berubah."

Nada datar Leander justru semakin memancing kekesalan. Zeryna melangkah mendekat, sepatu haknya berdetak pelan di lantai marmer.

"Sudah lebih dari lima bulan, Leander."

Nada suaranya sedikit meninggi, tidak lagi sepenuhnya terkendali.

"Sudah terlalu lama dan belum juga ada hasil."

Leander akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya dingin, tapi tidak meledak.

"Aku tidak akan memilih sembarang orang hanya untuk mempercepat waktu."

"Kau hanya ingin mengulur waktu!" potong Zeryna cepat.

Ia menarik napas, berusaha menahan emosinya, namun gagal sepenuhnya.

"Aku tidak mau terus menunggu. Jika bulan depan kau masih belum menikah..."

Ia berhenti sejenak, menatap Leander lurus-lurus.

"Aku akan membujuk Ibu agar memberiku izin untuk menikahi Viscount Ardelion."

Nama itu jatuh di ruangan seperti ancaman yang halus namun jelas.

Leander hampir saja bereaksi. Rahangnya menegang, dan untuk sepersekian detik, kemarahan itu terlihat. Namun sebisa mungkin ia menahannya.

Setelah tenang, Leander melanjutkan perkataannya.

"Aku tidak pernah melarangmu melakukan apapun yang kau sukai. Tapi selama aku masih memimpin Rosenstein, semua keputusan mengenai keluarga ini tetap di tanganku."

Zeryna mengepalkan tangannya. Namun kali ini, alih-alih terus mendesak, ia justru tersenyum tipis.

"Kalau begitu, kau tidak perlu khawatir."

Zeryna sedikit memiringkan kepala.

"Aku sudah menemukan calon Duchess yang tepat untukmu."

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Leander tidak langsung menanggapi. Ia menghela napas pelan.

Dan tanpa bisa dicegah, sebuah bayangan melintas di benaknya. Seorang gadis bergaun merah muda di pesta tadi malam, yang memiliki tatapan tajam serta senyuman licik.

Leander memejamkan mata sejenak. Sekarang ia mengerti, dari mana rumor mengenai dirinya berasal. Dari gadis bergaun merah muda itu, yang tak lain adalah saudarinya, Zeryna Rosenstein.

Leander menatap Zeryna tajam.

"Kau tidak perlu menyebar rumor seperti itu."

Zeryna tidak menyangkal. Sebaliknya, ia hanya mengangkat bahu ringan.

"Bukankah itu lebih baik? Banyak bangsawan paruh baya yang datang untuk menikahkan putri mereka denganmu."

Leander menahan napasnya sejenak. Ia tidak menyukai perhatian seperti itu. Ia tidak menyukai orang-orang yang tiba-tiba mendekat dengan niat yang terlalu jelas.

Leander hanya ingin memilih seorang Duchess dengan tenang.

"Kau membuat semuanya menjadi lebih sulit," Leander meletakkan dokumennya, dan menyandarkan punggungnya.

Zeryna menatap Leander tanpa gentar.

"Aku hanya berusaha mempercepat kedatangan Duchess Rosenstein."

Leander tidak ingin Zeryna menikah terlebih dahulu darinya. Namun ia tidak serta-merta menolak dengan kemarahan terbuka.

Bagi Leander ini bukan semata soal pernikahan, melainkan tentang tatanan dan martabat keluarga.

Ia berpikir bahwa seorang Duchess seharusnya menjadi yang pertama melangkah masuk, hadir dengan segala kebesaran yang pantas menyertainya.

Ia tak ingin seorang Viscount mendahului Duchess yang ia anggap memiliki martabat lebih tinggi. Ia ingin semuanya berjalan selaras dengan prinsip yang ia pegang.

Leander tidak meremehkan pilihan Zeryna, tetapi dalam pandangannya, ada batas yang tak seharusnya dilanggar.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Becoming Duchess   BAB 6 - Gadis di Balik Topi

    Pagi itu, pasar di ibu kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk para pedagang. Aroma roti yang baru dipanggang bercampur dengan wangi bunga segar memenuhi udara. Kereta kuda para bangsawan sesekali melintas di jalan utama, sementara masyarakat dari berbagai kalangan memenuhi setiap sudut pasar.Di antara keramaian itu, Serenne berjalan santai ditemani seorang pelayan dan beberapa pengawal yang menjaga dari kejauhan. Alih-alih menaiki kereta, ia lebih memilih menikmati suasana pasar dengan berjalan kaki.Sebuah topi bertepi lebar berwarna kuning menutupi sebagian wajahnya.Serenne berhenti di sebuah kios roti."Tolong bungkuskan roti yang baru matang itu," ujarnya lembut.Setelah menerima roti tersebut, ia tidak membawanya untuk dirinya sendiri. Ia justru melambaikan tangan, memanggil beberapa anak yang sedang membantu orang tua mereka berdagang di pasar."Ini untuk kalian. Jangan lupa berbagi."Anak-anak itu menerima roti tersebut dengan wajah berbinar."Terima kasih, nona."Serenne hanya mem

  • Becoming Duchess   BAB 5 - Percakapan Singkat

    Arven tidak membawa Leander dan Serenne terlalu jauh dari aula. Hanya ke sebuah balkon luas yang menghadap taman belakang. Namun cukup jauh dari keramaian. Begitu mereka berhenti, Serenne langsung menarik tangannya kembali. "Aku masih tidak mengerti kenapa aku ikut dibawa ke sini," gerutunya pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Arven. "Aku ingin berbicara dengan teman-temanku mengenai kompetisi berkuda bulan depan." Arven menghela napas kecil. "Kau bisa membicarakannya nanti." "Tidak bisa," balas Serenne cepat. "Setelah pesta ini mereka semua akan sibuk. Dan saat ini adalah kesempatan terbaik." Leander berdiri tidak jauh dari mereka, diam seperti biasa. Ia tidak menyela, hanya mengamati seolah percakapan itu bukan urusannya. Namun Serenne tetap sadar akan kehadirannya. Dan justru itu yang membuatnya lebih kesal. Arven menatap Serenne sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang, "Kalau begitu, kau bisa membicarakannya disini." Serene mengernyit. "Berbicara dengan

  • Becoming Duchess   BAB 4 - Kediaman Halcourt

    Zeryna berdiri di depan cermin besar, sementara beberapa pelayan merapikan bagian terakhir pada gaunnya. Suasana tidak terlalu formal, justru lebih ringan. Ia sedang bersenda gurau pelan dengan Odellise yang duduk tidak jauh darinya. "Meskipun Lysandra mengatakan gaun ini terlalu mencolok, aku akan tetap memakainya," ujar Zeryna santai. Odellise tersenyum kecil. "Kau selalu mengatakan itu setiap kali pergi ke pesta, Zeryna." Zeryna terkekeh pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamar Zeryna terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya langsung membuat suasana berubah sedikit lebih kaku. Zeryna menoleh dan menyambut dengan sikap sopan. "Ada apa, ibu?" Sang ibu melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zeryna sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Kau akan menghadiri pesta ulang tahun putri Marquess Halcourt?" Zeryna mengangguk ringan. "Ya. Saya mengenal putri beliau." Ada jeda singkat sebelum terdengar sebuah pertanya

  • Becoming Duchess   BAB 3 - Surat Undangan

    Rumor mengenai Duke Rosenstein, sudah cukup membuat sebagian besar keluarga bangsawan di ibu kota mulai bergerak. Undangan mulai berdatangan tanpa henti. Bukan sekadar undangan pesta, tetapi juga pesan-pesan halus dari para ibu bangsawan. Memperkenalkan putri mereka dengan cara yang sopan, terselubung, namun sangat jelas maksudnya. Di samping Leander berdiri kepala pelayan pria dan seorang sekretaris pribadinya. Mereka berdua yang mengurus hampir seluruh permasalahan kastil Rosenstein. Alaric Varrow, sekretaris pribadi yang duduk di samping meja kerja Leander. Ia mencatat, memilah, dan memastikan setiap urusan berjalan tanpa cela. Balasan suratpun dikirim satu per satu. Sopan, terstruktur, namun dengan penolakan jelas. Seolah Leander sedang menjaga seluruh dunianya tetap berada pada batas yang tidak boleh dilampaui orang lain. Hingga sebuah surat datang dengan amplop yang berbeda. Amplop itu terbuat dari kertas tebal berkualitas tinggi, dengan tekstur halus yang terasa

  • Becoming Duchess   BAB 2 - Sebuah Tawaran

    Aroma bunga segar memenuhi ruangan, berasal dari rangkaian kecil di meja dekat jendela. Serenne duduk dengan tenang, jemarinya sibuk merapikan pita halus di ujung gaunnya, ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu. "Masuk!" ucapnya lembut. Pintu terbuka, dan sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana. Wajah Serenne seketika berubah cerah. "Arven!" Ia bangkit hampir tanpa berpikir, langkahnya ringan saat menghampiri. Senyumnya tulus, hangat, dan berbeda dari senyum sopan yang biasa ia berikan di luar. "Aku merindukanmu," Serenne memeluk Arven tanpa ragu. Arven tersenyum tipis, sedikit lelah, tapi tetap membalas pelukan hangat saudarinya. "Bukankah dua hari lalu kita baru saja bertemu ditaman?", ucap Arven ringan. Serenne melepaskan pelukannya dengan sedikit cemberut manja. "Aku bisa mengerti jika Renard jarang berkunjung karena ia sibuk mengurus kerajaan," Serenne berhenti sejenak, lalu menatap Arven lebih tajam, "tapi bagaimana denganmu? Aku rasa kau tidak

  • Becoming Duchess   BAB 1 - Nama yang Menggema

    "Duke Rosenstein sedang mencari Duchess." Bisikan itu terdengar pelan, hampir seperti lelucon. Namun di aula istana, tidak ada hal yang benar-benar ringan. Sore itu, aula istana dipenuhi kemewahan yang gemerlap. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer putih yang berkilau. Gaun-gaun mahal berdesir lembut setiap kali para bangsawan wanita bergerak, sementara jubah para pria menambah kesan berwibawa. Namun tidak satu pun percakapan yang benar-benar polos. Dan malam itu, hanya ada satu hal yang menjadi pusat perhatian. Sebuah rumor mengenai Duke Rosenstein. Awalnya hanya terdengar di sudut-sudut kecil percakapan. Namun seperti api yang menjalar di atas jerami kering, kabar itu menyebar dengan cepat. Semakin banyak yang membicarakan nya, semakin banyak pula yang menunggu. Karena keluarga Rosenstein bukan sekadar bangsawan biasa. Mereka adalah salah satu keluarga bangsawan tertua sekaligus pilar Kerajaan Volkran. Jika rumor itu ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status