تسجيل الدخول
"Duke Rosenstein sedang mencari Duchess."
Bisikan itu terdengar pelan, hampir seperti lelucon. Namun di aula istana, tidak ada hal yang benar-benar ringan. Sore itu, aula istana dipenuhi kemewahan yang gemerlap. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer putih yang berkilau. Gaun-gaun mahal berdesir lembut setiap kali para bangsawan wanita bergerak, sementara jubah para pria menambah kesan berwibawa. Namun tidak satu pun percakapan yang benar-benar polos. Dan malam itu, hanya ada satu hal yang menjadi pusat perhatian. Sebuah rumor mengenai Duke Rosenstein. Awalnya hanya terdengar di sudut-sudut kecil percakapan. Namun seperti api yang menjalar di atas jerami kering, kabar itu menyebar dengan cepat. Semakin banyak yang membicarakan nya, semakin banyak pula yang menunggu. Karena keluarga Rosenstein bukan sekadar bangsawan biasa. Mereka adalah salah satu keluarga bangsawan tertua sekaligus pilar Kerajaan Volkran. Jika rumor itu benar, maka kursi Duchess Rosenstein bukan sekadar gelar, melainkan posisi yang diinginkan dalam diam. Para bangsawan paruh baya mulai bergerak. Secara halus dan sopan, mereka mencoba untuk menikahkan putri mereka yang anggun dengan Duke Rosenstein. Namun yang ada hanya tanggapan dingin dari sang Duke. "Duke Rosenstein memasuki ruangan!" Suara penjaga diluar menggema, memotong seluruh percakapan. Pintu besar aula pun terbuka. Seorang pria berambut hitam melangkah masuk dengan tenang. Langkahnya tegap, tanpa tergesa, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menahan napas sejenak. Ialah Leander Rosenstein, Duke Rosenstein, yang namanya sedang menggema di aula istana. Dalam sekejap, suasana berubah. Bisikan-bisikan terhenti. Gelas-gelas yang terangkat tertahan di udara. Tatapan yang tadinya tersembunyi kini mengarah terang-terangan padanya. Namun tidak ada satu pun yang berani mendekat. Leander tidak menoleh. Seolah seluruh perhatian itu tidak berarti apa pun. Ia berjalan lurus, seakan ia telah terbiasa menjadi pusat perhatian. Leander mengambil secangkir teh. Gerakan nya sederhana, namun tetap menarik perhatian. Saat itulah pandangan nya berhenti. Di dekat perapian, seorang gadis berdiri mengenakan gaun merah muda. Cahaya api memantul lembut di wajahnya, memperhalus senyum yang perlahan terukir. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tatapan Leander mengeras. Tanpa mengatakan apa pun, ia meletakkan kembali cangkir tehnya. Kemudian berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan aula yang kembali dipenuhi bisikan. . . . . Diluar aula, udara taman istana terasa lebih dingin, namun jauh lebih tenang. Leander melangkah di sepanjang jalan setapak batu, menjauh dari gemerlap aula yang menurutnya terlalu bising. Ia berhenti, lalu menghela napas panjang. "Berisik sekali," gumamnya pelan. Di bawah cahaya lampu taman, seseorang sudah lebih dulu menikmati ketenangan itu. Leander melihat Arven, sahabatnya, duduk santai di bangku taman, dikelilingi beberapa ksatria. Tawa kecil terdengar di antara mereka. Begitu Leander mendekat, suasana langsung berubah. Para ksatria itu segera berdiri tegak untuk memberi salam hormat. "Yang Mulia Duke." Leander hanya memberi anggukan singkat sebagai jawaban. Arven menoleh, lalu tersenyum lebar. "Ada apa? Kau kabur lagi?" Leander tidak langsung menjawab. Tatapan nya mengikuti para ksatria yang satu per satu berpamitan, meninggalkan mereka berdua. Ketika langkah kaki terakhir menghilang, suasana menjadi sunyi. Arven bersandar santai. "Wajahmu lebih murung dari biasanya," katanya ringan. "Apa karena rumor itu?" Tidak ada jawaban. Arven menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi rumor itu benar, bukan? Kau sedang mencari istri." Hening. Arven merasa seolah berbicara pada tembok. Ia menyipitkan matanya, dan tetap melanjutkan. Arven sudah tahu seperti apa sifat sahabatnya, jadi ia melanjutkan saja perkataan nya. "Rumor itu sudah tersebar dimana-mana. Bahkan para pelayan istana juga membicarakan nya." Leander tetap diam. Namun Arven tidak tersinggung, ia tahu sahabatnya pasti mendengarkan perkataan nya. "Kalau begitu kenapa tidak diumumkan saja secara resmi? Atau sebenarnya kau belum siap?" Leander akhirnya mengangkat pandangan nya. "Aku belum melihat ada kesempatan yang tepat." "Kesempatan?" Arven mengernyit. Leander hanya mengangguk. Arven menghela napas, kali ini lebih berat. "Tidak sulit bagimu mencari seorang Duchess. Kau hanya membuatnya terlalu rumit." Leander hanya mengangkat bahu sedikit. Ia tidak membantah. "Aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian." jawab Leander. Arven terkekeh pelan. "Kau adalah seorang Duke. Wajar jika semua mata terarah padamu." Di tengah percakapan mereka, langkah cepat terdengar dari kejauhan. Seorang gadis muncul di ujung jalan setapak. Gaun nya berayun lembut mengikuti langkahnya, sementara rambut pirang cerahnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu taman. Gadis itu melangkah tanpa ragu mendekati mereka. Tiga pelayan mengikuti di belakangnya, berusaha menyesuaikan langkah. Ketika ia berhenti dihadapan Leander dan Arven, matanya bertemu sesaat dengan Leander. Segera ia menundukkan kepala dengan anggun. Leander membalas menundukkan kepala. Arven mengamati dengan senyum tipis. "Kau harus lebih berhati-hati dilingkungan istana," ujarnya ringan, namun jelas menegur. "Jangan berjalan terburu-buru. Terlalu banyak yang mengawasi." Senyum gadis itu sempat meredup, berubah canggung. "Maafkan aku, Arven." Arven memperhatikan gaun yang gadis itu kenakan. "Gaun itu cocok untukmu." Wajah gadis itu langsung kembali berbinar. "Tentu saja! Aku telah mempersiapkan nya sepanjang hari!" "Bukankah gaun ini hadiah dari Yang Mulia Raja?" Arven mengangkat salah satu alisnya. Gadis itu mengangguk antusias. "Benar! Indah, bukan?" Arven tersenyum kecil. "Lebih indah saat kau yang memakainya." Gadis itu tertawa pelan, suasana kembali ringan. "Aku hanya berjalan-jalan sebentar disekitar sini. Lalu aku melihatmu dari kejauhan, jadi aku ingin menyapa." "Kalau begitu, sekarang sebaiknya kau kembali ke dalam," kata Arven. "Nikmati hidangan di di aula. Udara di sini semakin dingin." Gadis itu mengangguk patuh. Kemudian ia dan Leander saling menunduk hormat sebelum gadis itu melangkah pergi. Langkahnya kini lebih teratur. Dan para pelayan lebih bisa mengikutinya dengan hati-hati. Ketika gadis itu menghilang di balik pilar, keheningan kembali turun. Arven melirik Leander, senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menepuk pundak Leander lalu berkata, "Bagaimana jika dia saja yang menjadi Duchess Rosenstein?" Leander langsung menoleh tajam. "Apa!" Untuk pertama kalinya di malam itu, ekspresi Leander tidak lagi datar. Ada keterkejutan yang nyata dan tak bisa disembunyikan. ******Pagi itu, pasar di ibu kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk para pedagang. Aroma roti yang baru dipanggang bercampur dengan wangi bunga segar memenuhi udara. Kereta kuda para bangsawan sesekali melintas di jalan utama, sementara masyarakat dari berbagai kalangan memenuhi setiap sudut pasar.Di antara keramaian itu, Serenne berjalan santai ditemani seorang pelayan dan beberapa pengawal yang menjaga dari kejauhan. Alih-alih menaiki kereta, ia lebih memilih menikmati suasana pasar dengan berjalan kaki.Sebuah topi bertepi lebar berwarna kuning menutupi sebagian wajahnya.Serenne berhenti di sebuah kios roti."Tolong bungkuskan roti yang baru matang itu," ujarnya lembut.Setelah menerima roti tersebut, ia tidak membawanya untuk dirinya sendiri. Ia justru melambaikan tangan, memanggil beberapa anak yang sedang membantu orang tua mereka berdagang di pasar."Ini untuk kalian. Jangan lupa berbagi."Anak-anak itu menerima roti tersebut dengan wajah berbinar."Terima kasih, nona."Serenne hanya mem
Arven tidak membawa Leander dan Serenne terlalu jauh dari aula. Hanya ke sebuah balkon luas yang menghadap taman belakang. Namun cukup jauh dari keramaian. Begitu mereka berhenti, Serenne langsung menarik tangannya kembali. "Aku masih tidak mengerti kenapa aku ikut dibawa ke sini," gerutunya pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Arven. "Aku ingin berbicara dengan teman-temanku mengenai kompetisi berkuda bulan depan." Arven menghela napas kecil. "Kau bisa membicarakannya nanti." "Tidak bisa," balas Serenne cepat. "Setelah pesta ini mereka semua akan sibuk. Dan saat ini adalah kesempatan terbaik." Leander berdiri tidak jauh dari mereka, diam seperti biasa. Ia tidak menyela, hanya mengamati seolah percakapan itu bukan urusannya. Namun Serenne tetap sadar akan kehadirannya. Dan justru itu yang membuatnya lebih kesal. Arven menatap Serenne sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang, "Kalau begitu, kau bisa membicarakannya disini." Serene mengernyit. "Berbicara dengan
Zeryna berdiri di depan cermin besar, sementara beberapa pelayan merapikan bagian terakhir pada gaunnya. Suasana tidak terlalu formal, justru lebih ringan. Ia sedang bersenda gurau pelan dengan Odellise yang duduk tidak jauh darinya. "Meskipun Lysandra mengatakan gaun ini terlalu mencolok, aku akan tetap memakainya," ujar Zeryna santai. Odellise tersenyum kecil. "Kau selalu mengatakan itu setiap kali pergi ke pesta, Zeryna." Zeryna terkekeh pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamar Zeryna terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya langsung membuat suasana berubah sedikit lebih kaku. Zeryna menoleh dan menyambut dengan sikap sopan. "Ada apa, ibu?" Sang ibu melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zeryna sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Kau akan menghadiri pesta ulang tahun putri Marquess Halcourt?" Zeryna mengangguk ringan. "Ya. Saya mengenal putri beliau." Ada jeda singkat sebelum terdengar sebuah pertanya
Rumor mengenai Duke Rosenstein, sudah cukup membuat sebagian besar keluarga bangsawan di ibu kota mulai bergerak. Undangan mulai berdatangan tanpa henti. Bukan sekadar undangan pesta, tetapi juga pesan-pesan halus dari para ibu bangsawan. Memperkenalkan putri mereka dengan cara yang sopan, terselubung, namun sangat jelas maksudnya. Di samping Leander berdiri kepala pelayan pria dan seorang sekretaris pribadinya. Mereka berdua yang mengurus hampir seluruh permasalahan kastil Rosenstein. Alaric Varrow, sekretaris pribadi yang duduk di samping meja kerja Leander. Ia mencatat, memilah, dan memastikan setiap urusan berjalan tanpa cela. Balasan suratpun dikirim satu per satu. Sopan, terstruktur, namun dengan penolakan jelas. Seolah Leander sedang menjaga seluruh dunianya tetap berada pada batas yang tidak boleh dilampaui orang lain. Hingga sebuah surat datang dengan amplop yang berbeda. Amplop itu terbuat dari kertas tebal berkualitas tinggi, dengan tekstur halus yang terasa
Aroma bunga segar memenuhi ruangan, berasal dari rangkaian kecil di meja dekat jendela. Serenne duduk dengan tenang, jemarinya sibuk merapikan pita halus di ujung gaunnya, ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu. "Masuk!" ucapnya lembut. Pintu terbuka, dan sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana. Wajah Serenne seketika berubah cerah. "Arven!" Ia bangkit hampir tanpa berpikir, langkahnya ringan saat menghampiri. Senyumnya tulus, hangat, dan berbeda dari senyum sopan yang biasa ia berikan di luar. "Aku merindukanmu," Serenne memeluk Arven tanpa ragu. Arven tersenyum tipis, sedikit lelah, tapi tetap membalas pelukan hangat saudarinya. "Bukankah dua hari lalu kita baru saja bertemu ditaman?", ucap Arven ringan. Serenne melepaskan pelukannya dengan sedikit cemberut manja. "Aku bisa mengerti jika Renard jarang berkunjung karena ia sibuk mengurus kerajaan," Serenne berhenti sejenak, lalu menatap Arven lebih tajam, "tapi bagaimana denganmu? Aku rasa kau tidak
"Duke Rosenstein sedang mencari Duchess." Bisikan itu terdengar pelan, hampir seperti lelucon. Namun di aula istana, tidak ada hal yang benar-benar ringan. Sore itu, aula istana dipenuhi kemewahan yang gemerlap. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer putih yang berkilau. Gaun-gaun mahal berdesir lembut setiap kali para bangsawan wanita bergerak, sementara jubah para pria menambah kesan berwibawa. Namun tidak satu pun percakapan yang benar-benar polos. Dan malam itu, hanya ada satu hal yang menjadi pusat perhatian. Sebuah rumor mengenai Duke Rosenstein. Awalnya hanya terdengar di sudut-sudut kecil percakapan. Namun seperti api yang menjalar di atas jerami kering, kabar itu menyebar dengan cepat. Semakin banyak yang membicarakan nya, semakin banyak pula yang menunggu. Karena keluarga Rosenstein bukan sekadar bangsawan biasa. Mereka adalah salah satu keluarga bangsawan tertua sekaligus pilar Kerajaan Volkran. Jika rumor itu ben







