Home / Historical / Becoming Duchess / BAB 1 - Nama yang Menggema

Share

Becoming Duchess
Becoming Duchess
Author: Rose Solace

BAB 1 - Nama yang Menggema

Author: Rose Solace
last update publish date: 2026-07-15 19:43:13

"Duke Rosenstein sedang mencari Duchess."

Bisikan itu terdengar pelan, hampir seperti lelucon. Namun di aula istana, tidak ada hal yang benar-benar ringan.

Sore itu, aula istana dipenuhi kemewahan yang gemerlap. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer putih yang berkilau.

Gaun-gaun mahal berdesir lembut setiap kali para bangsawan wanita bergerak, sementara jubah para pria menambah kesan berwibawa.

Namun tidak satu pun percakapan yang benar-benar polos. Dan malam itu, hanya ada satu hal yang menjadi pusat perhatian.

Sebuah rumor mengenai Duke Rosenstein.

Awalnya hanya terdengar di sudut-sudut kecil percakapan. Namun seperti api yang menjalar di atas jerami kering, kabar itu menyebar dengan cepat.

Semakin banyak yang membicarakan nya, semakin banyak pula yang menunggu.

Karena keluarga Rosenstein bukan sekadar bangsawan biasa. Mereka adalah salah satu keluarga bangsawan tertua sekaligus pilar Kerajaan Volkran.

Jika rumor itu benar, maka kursi Duchess Rosenstein bukan sekadar gelar, melainkan posisi yang diinginkan dalam diam.

Para bangsawan paruh baya mulai bergerak. Secara halus dan sopan, mereka mencoba untuk menikahkan putri mereka yang anggun dengan Duke Rosenstein.

Namun yang ada hanya tanggapan dingin dari sang Duke.

"Duke Rosenstein memasuki ruangan!"

Suara penjaga diluar menggema, memotong seluruh percakapan.

Pintu besar aula pun terbuka.

Seorang pria berambut hitam melangkah masuk dengan tenang. Langkahnya tegap, tanpa tergesa, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menahan napas sejenak.

Ialah Leander Rosenstein, Duke Rosenstein, yang namanya sedang menggema di aula istana.

Dalam sekejap, suasana berubah. Bisikan-bisikan terhenti. Gelas-gelas yang terangkat tertahan di udara.

Tatapan yang tadinya tersembunyi kini mengarah terang-terangan padanya. Namun tidak ada satu pun yang berani mendekat.

Leander tidak menoleh. Seolah seluruh perhatian itu tidak berarti apa pun. Ia berjalan lurus, seakan ia telah terbiasa menjadi pusat perhatian.

Leander mengambil secangkir teh. Gerakan nya sederhana, namun tetap menarik perhatian.

Saat itulah pandangan nya berhenti. Di dekat perapian, seorang gadis berdiri mengenakan gaun merah muda.

Cahaya api memantul lembut di wajahnya, memperhalus senyum yang perlahan terukir.

Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tatapan Leander mengeras.

Tanpa mengatakan apa pun, ia meletakkan kembali cangkir tehnya. Kemudian berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan aula yang kembali dipenuhi bisikan.

. . . .

Diluar aula, udara taman istana terasa lebih dingin, namun jauh lebih tenang.

Leander melangkah di sepanjang jalan setapak batu, menjauh dari gemerlap aula yang menurutnya terlalu bising.

Ia berhenti, lalu menghela napas panjang.

"Berisik sekali," gumamnya pelan.

Di bawah cahaya lampu taman, seseorang sudah lebih dulu menikmati ketenangan itu.

Leander melihat Arven, sahabatnya, duduk santai di bangku taman, dikelilingi beberapa ksatria. Tawa kecil terdengar di antara mereka.

Begitu Leander mendekat, suasana langsung berubah. Para ksatria itu segera berdiri tegak untuk memberi salam hormat.

"Yang Mulia Duke."

Leander hanya memberi anggukan singkat sebagai jawaban.

Arven menoleh, lalu tersenyum lebar.

"Ada apa? Kau kabur lagi?"

Leander tidak langsung menjawab. Tatapan nya mengikuti para ksatria yang satu per satu berpamitan, meninggalkan mereka berdua.

Ketika langkah kaki terakhir menghilang, suasana menjadi sunyi.

Arven bersandar santai.

"Wajahmu lebih murung dari biasanya," katanya ringan. "Apa karena rumor itu?"

Tidak ada jawaban. Arven menggelengkan kepalanya pelan.

"Tapi rumor itu benar, bukan? Kau sedang mencari istri."

Hening. Arven merasa seolah berbicara pada tembok. Ia menyipitkan matanya, dan tetap melanjutkan.

Arven sudah tahu seperti apa sifat sahabatnya, jadi ia melanjutkan saja perkataan nya.

"Rumor itu sudah tersebar dimana-mana. Bahkan para pelayan istana juga membicarakan nya."

Leander tetap diam. Namun Arven tidak tersinggung, ia tahu sahabatnya pasti mendengarkan perkataan nya.

"Kalau begitu kenapa tidak diumumkan saja secara resmi? Atau sebenarnya kau belum siap?"

Leander akhirnya mengangkat pandangan nya.

"Aku belum melihat ada kesempatan yang tepat."

"Kesempatan?" Arven mengernyit.

Leander hanya mengangguk. Arven menghela napas, kali ini lebih berat.

"Tidak sulit bagimu mencari seorang Duchess. Kau hanya membuatnya terlalu rumit."

Leander hanya mengangkat bahu sedikit. Ia tidak membantah.

"Aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian." jawab Leander.

Arven terkekeh pelan. "Kau adalah seorang Duke. Wajar jika semua mata terarah padamu."

Di tengah percakapan mereka, langkah cepat terdengar dari kejauhan.

Seorang gadis muncul di ujung jalan setapak. Gaun nya berayun lembut mengikuti langkahnya, sementara rambut pirang cerahnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu taman.

Gadis itu melangkah tanpa ragu mendekati mereka. Tiga pelayan mengikuti di belakangnya, berusaha menyesuaikan langkah.

Ketika ia berhenti dihadapan Leander dan Arven, matanya bertemu sesaat dengan Leander. Segera ia menundukkan kepala dengan anggun.

Leander membalas menundukkan kepala.

Arven mengamati dengan senyum tipis.

"Kau harus lebih berhati-hati dilingkungan istana," ujarnya ringan, namun jelas menegur. "Jangan berjalan terburu-buru. Terlalu banyak yang mengawasi."

Senyum gadis itu sempat meredup, berubah canggung.

"Maafkan aku, Arven."

Arven memperhatikan gaun yang gadis itu kenakan.

"Gaun itu cocok untukmu."

Wajah gadis itu langsung kembali berbinar.

"Tentu saja! Aku telah mempersiapkan nya sepanjang hari!"

"Bukankah gaun ini hadiah dari Yang Mulia Raja?" Arven mengangkat salah satu alisnya.

Gadis itu mengangguk antusias.

"Benar! Indah, bukan?"

Arven tersenyum kecil.

"Lebih indah saat kau yang memakainya."

Gadis itu tertawa pelan, suasana kembali ringan.

"Aku hanya berjalan-jalan sebentar disekitar sini. Lalu aku melihatmu dari kejauhan, jadi aku ingin menyapa."

"Kalau begitu, sekarang sebaiknya kau kembali ke dalam," kata Arven. "Nikmati hidangan di di aula. Udara di sini semakin dingin."

Gadis itu mengangguk patuh. Kemudian ia dan Leander saling menunduk hormat sebelum gadis itu melangkah pergi.

Langkahnya kini lebih teratur. Dan para pelayan lebih bisa mengikutinya dengan hati-hati.

Ketika gadis itu menghilang di balik pilar, keheningan kembali turun.

Arven melirik Leander, senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menepuk pundak Leander lalu berkata pelan,

"Bagaimana jika dia saja yang menjadi Duchess Rosenstein?"

Leander langsung menoleh tajam. "Apa!"

Untuk pertama kalinya di malam itu, ekspresi Leander tidak lagi datar. Ada keterkejutan yang nyata dan tak bisa disembunyikan.

******

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Becoming Duchess   BAB 14 - Tak Tik Sang Putri

    Renard menyetujui permintaan Putra Mahkota yang meminta Serenne memandunya berkeliling istana. Namun dengan syarat Arven dan Leander ikut menemani.Sambil berjalan Serenne menjelaskan sejarah beberapa bangunan yang mereka lewati.Putra Mahkota mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengajukan pertanyaan mengenai tata letak istana dan kebiasaan keluarga kerajaan.Beberapa pelayan yang sedang bekerja segera menundukkan kepala ketika melihat mereka.Sang putri membalas dengan senyum hangat.Dan Putra Mahkota memperhatikan pemandangan itu."Semua pelayan tampaknya sangat menghormati anda."Serrene menoleh kepada Putra Mahkota."Aku hanya berusaha memperlakukan mereka sebagaimana mestinya."Putra Mahkota mengangguk perlahan."Tak heran rakyat Volkran begitu mencintai Tuan Putri mereka."Leander yang berjalan di belakang mendengar kalimat itu. Ia mengangkat pandangan nya sejenak ke arah Putra Mahkota.Namun ia sulit menebak apa yang dipikirkan pria itu. Entah benar-benar tulus ata

  • Becoming Duchess   BAB 13 - Sang Putra Mahkota

    Hari itu, Volkran menyambut pewaris takhta dari kerajaan tetangganya. Sekaligus musuh bebuyutan.Di halaman utama istana, Renard berdiri di barisan paling depan dengan jubah kebesaran kerajaan.Di sisi kanan nya berdiri Serenne, mengenakan gaun berwarna biru muda yang anggun. Rambut keemasan nya disanggul sederhana, sementara sebuah bros berlambang keluarga kerajaan menghiasi gaun nya.Di sisi kiri Renard berdiri Arven.Tak jauh di belakang mereka tampak Duke Everhart bersama beberapa pejabat tinggi kerajaan.Sementara di barisan para bangsawan berdiri Leander, dengan pakaian resmi keluarga Rosenstein.Suasana begitu tenang. Hanya embusan angin yang sesekali menggoyangkan panji-panji Volkran.Hingga suara terompet dari gerbang luar terdengar nyaring."Rombongan Kerajaan Valtheris telah tiba!"Gerbang utama perlahan terbuka.Puluhan kesatria berkuda memasuki halaman istana dengan langkah teratur.Di belakang mereka melaju sebuah kereta megah berhiaskan lambang kerajaan Valtheris.Keret

  • Becoming Duchess   BAB 12 - Kedatangan

    Sebuah kereta berhiaskan lambang keluarga Rosenstein memasuki halaman istana.Seorang pelayan segera membukakan pintu.Leander turun lebih dahulu, disusul saudarinya, Odellise.Wajah ceria gadis itu tampak kontras dengan ekspresi saudaranya yang selalu tenang."Aku akan menemui Yang Mulia Raja terlebih dahulu," ujar Leander.Odellise mengangguk. "Kalau begitu aku boleh pergi ke taman istana?""Tentu. Tetapi jangan pergi terlalu jauh."Odellise tersenyum lebar. "Aku bukan anak kecil lagi."Leander tersenyum tipis kemudian mengusap kepala Odellise.Hari ini Renard memanggil Leander secara resmi. Dan Odellise mengatakan jika ia ingin melihat istana, jadi Leander membawanya.Leander seolah memiliki tiket keluar masuk istana secara bebas.• • • •Taman istana dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran.Di bawah sebuah gazebo putih, ternyata Serenne duduk sambil menikmati teh. Kemudian ia mengajak Odellise untuk bergabung.Tak jauh dari mereka, beberapa pelayan berdiri dengan tenang."Nona

  • Becoming Duchess   BAB 11 - Kembalinya Sang Nyonya

    Sudah bertahun-tahun, Esmirae, ibu Leander, tidak menghadiri pertemuan para wanita bangsawan.Bukan karena ia tidak diundang. Sebaliknya, undangan dari berbagai keluarga bangsawan selalu berdatangan ke Kediaman Rosenstein.Namun hampir semuanya ditolak dengan sopan.Esmirae tidak pernah menyukai percakapan yang dipenuhi pujian kosong, gosip, maupun persaingan terselubung di antara para bangsawan.Baginya waktu jauh lebih berharga digunakan untuk mengurus wilayah Rosenstein.Karena itulah, ketika kereta keluarga Rosenstein berhenti di depan kediaman seorang Marchioness terpandang pagi itu, hampir seluruh tamu yang telah lebih dahulu hadir dibuat terkejut."Beliau datang?""Sudah lama sekali."Bisikan-bisikan pelan terdengar di berbagai sudut ruangan.Esmirae melangkah masuk dengan gaun berwarna biru tua yang sederhana namun anggun.Ia tidak mengenakan perhiasan berlebihan. Hanya kalung pemberian Lavien yang menghiasi lehernya.Sikapnya tetap tenang. Tatapan nya lurus.Tanpa perlu berus

  • Becoming Duchess   BAB 10 - Langkah Putra Mahkota

    Pagi itu, suasana di Kediaman Rosenstein tetap setenang biasanya.Ketukan pelan terdengar."Masuk."Pintu terbuka, Lavien melangkah masuk ke ruang kerja ibunya, dengan senyum khasnya."Ibu."Esmirae mengangkat pandangan nya dari dokumen."Kau akan berangkat lagi?"Lavien mengangguk."Aku berniat mengunjungi wilayah selatan. Kudengar pelabuhan di sana sedang berkembang pesat. Aku ingin melihatnya sendiri."Wanita itu menatap putra bungsunya beberapa saat. Ia sudah terbiasa mendengar putranya itu meminta izin berkelana di luar.Sejak menginjak usia dewasa, Lavien memang lebih sering berada di luar kediaman daripada menetap di rumah."Pergilah."Lavien tersenyum lebar. "Terima kasih, Ibu.""Tetapi jangan terlalu lama."Senyum Lavien sedikit memudar. Ia mengangkat sebelah alis."Dalam waktu dekat, aku akan kembali menghadiri pertemuan para bangsawan."Lavien tampak penasaran. "Bukankah ibu membenci perkumpulan bangsawan?""Ada sesuatu yang harus kuselesaikan." Jawaban Esmirae tetap datar.

  • Becoming Duchess   BAB 9 - Kakak dan Adik

    Leander berada di ruang baca keluarga, duduk di dekat jendela sambil menelusuri laporan mengenai keadaan wilayah kekuasaan Rosenstein. Sesekali ia mencatat beberapa hal penting di atas selembar kertas.Pintu ruangan terbuka begitu saja, tanpa sebuah ketukan.Arven melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih serius daripada biasanya.Leander mengangkat pandangan. Tak heran pintu terbuka tanpa ketukan, karena sang pangeran lah yang datang."Ada apa?"Leander paham ada sesuatu yang terjadi terlihat dari raut sahabatnya yang lesu tak seperti biasanya.Arven mengembuskan napas panjang sebelum menjatuhkan dirinya ke kursi di hadapan Leander."Aku membawa kabar buruk."Leander menutup dokumen di tangan nya."Apa yang terjadi?"Arven terdiam beberapa saat, seolah memilih kata-kata yang tepat."Beberapa hari yang lalu, istana menerima surat dari Kerajaan Valtheris."Leander menunggu kelanjutan nya dengan tenang. Meski dalam hatinya waspada pada musuh kerajaan tersebut."Mereka mengajukan per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status