Home / Historical / Becoming Duchess / BAB 3 - Surat Undangan

Share

BAB 3 - Surat Undangan

Author: Rose Solace
last update publish date: 2026-07-15 20:33:22

Rumor mengenai Duke Rosenstein sudah cukup membuat sebagian besar keluarga bangsawan di ibu kota mulai bergerak.

Undangan mulai berdatangan tanpa henti. Bukan sekadar undangan pesta, tetapi juga pesan-pesan halus dari para ibu bangsawan.

Memperkenalkan putri mereka dengan cara yang sopan, terselubung, namun sangat jelas maksudnya.

Di samping Leander, berdiri kepala pelayan pria dan seorang sekretaris pribadinya. Mereka berdua yang mengurus hampir seluruh permasalahan di kastil Rosenstein.

Alaric Varrow, sekretaris pribadi yang duduk di samping meja kerja Leander. Ia mencatat, memilah, dan memastikan setiap urusan berjalan tanpa cela.

Balasan surat pun dikirim satu persatu. Sopan, terstruktur, namun dengan penolakan jelas.

Seolah Leander sedang menjaga seluruh dunianya tetap berada pada batas yang tidak boleh dilampaui orang lain.

Hingga sebuah surat datang dengan amplop yang berbeda.

Amplop itu terbuat dari kertas tebal berkualitas tinggi, dengan tekstur halus yang terasa mahal bahkan sebelum disentuh.

Warnanya putih gading pucat, bersih dan indah. Seperti susu yang memudar oleh waktu, memberi kesan elegan tanpa berlebihan.

Namun yang membuat surat itu berbeda dari yang lain, pada bagian tengah amplop tersegel lilin merah tua keemasan. Dengan lambang keluarga yang pasti dikenal oleh seluruh rakyat ibu kota kerajaan.

Leander menatap amplop itu sejenak. Tidak ada perubahan di wajahnya, tetapi udara di ruangan itu terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Tanpa membuka surat tersebut, ia menyerahkan nya kembali kepada Alaric.

"Sampaikan pada Marquess Halcourt jika aku akan datang," ucap Leander tenang.

Alaric membungkuk ringan, menerima kembali amplop itu dengan hati-hati, lalu menunggu instruksi berikutnya.

Leander menghela nafas panjang.

"Aku lelah sekali."

Kepala pelayan menuangkan teh ke cangkir kosong Leander.

"Surat hari ini datang lebih banyak dari biasanya, Yang Mulia. Anda bisa beristirahat sejenak," ucap kepala pelayan.

Leander menyesap tehnya perlahan.

"Kau benar, Edgar. Aku akan berjalan-jalan sebentar di taman."

. . . . .

Taman belakang kastil Rosenstein sore itu tidak terlalu ramai. Tidak banyak pelayan yang berlalu lalang.

Leander awalnya hanya ingin beristirahat sejenak. Sekadar menjauh dari tumpukan dokumen dan surat, menikmati udara ditempat yang tidak menuntut keputusan apapun darinya.

Namun langkahnya terhenti. Di meja taman yang berada di bawah naungan pohon besar, ia melihat kedua saudarinya.

Dan bukan hanya berdua. Mereka sedang duduk dengan santai, menikmati hidangan bersama seorang gadis lain yang tampak tenang dan anggun.

Percakapan mereka terlihat ringan, nyaris seperti orang yang sudah lama saling mengenal.

Leander dengan cepat berbalik. Ia berniat pergi sebelum dirinya disadari oleh para gadis itu.

Namun sebelum ia benar-benar melangkah jauh, suara Odellise, saudari bungsunya, terdengar lebih dulu.

"Leander! Kau kah itu?"

Leander berhenti. Sebelum ia sempat menolak, Zeryna berdiri dan langsung menariknya mendekat tanpa basa-basi.

"Duduklah di sini!" ucap Zeryna tegas.

Leander akhirnya duduk di kursi kosong di sisi meja itu, tatapan nya datar seperti biasa.

Zeryna tersenyum puas, lalu menunjuk gadis yang duduk di hadapan nya.

"Kau mengenalnya, bukan?"

Leander menatap sekilas. Gadis itu menunduk dengan anggun, gerakan nya lembut dan teratur. Seperti seseorang yang terbiasa dengan tata krama bangsawan sejak kecil.

"Nona Viremont, putri dari Count Viremont."

Gadis itu kembali menunduk, lebih dalam kali ini.

"Merupakan suatu kehormatan bertemu dengan anda, Yang Mulia Duke."

Suaranya lembut, tidak berlebihan, namun jelas terlatih dengan baik.

Leander membalas dengan anggukan kecil. Tidak ada senyum, tidak ada kata tambahan. Hanya pengakuan singkat bahwa ia menerima salam itu.

Zeryna menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi, lalu mencondongkan tubuh ke arah Leander, suaranya turun menjadi bisikan.

"Dialah yang kumaksud. Gadis yang cocok menjadi istrimu, menjadi Duchess Rosenstein."

Leander tidak bereaksi. Ia justru mengalihkan pandangan nya dari Zeryna, lalu tanpa banyak kata ia berdiri dan menghampiri saudari bungsunya.

Leander mengusap lembut rambut Odellise yang diikat sederhana.

Odellise tersenyum kecil, tidak terganggu sedikitpun.

"Leander," ucapnya pelan, "nona Viremont banyak membantuku dalam pelajaran debutante. Tanpa beliau mungkin aku akan kesulitan."

Odellise menoleh ke arah Lysandra, lalu menambahkan dengan tulus,

"Beliau adalah gadis paling cantik yang pernah kutemui."

Lysandra hanya menunduk, sedikit malu namun tetap tenang.

Leander menatap mereka berdua sejenak. Lalu sudut bibirnya bergerak. Senyum tipis yang nyaris tidak terlihat, namun cukup untuk mengubah suasana sesaat.

"Terimakasih telah membantu saudari saya, nona Viremont", ucap Leander.

"Saya tidak banyak membantu, Yang Mulia. Nona Rosenstein memang sudah menghapal seluruh pelajaran nya."

Leander hanya mengangguk kecil.

"Saya permisi."

Zeryna langsung mengangkat tangan, setengah berseru di belakangnya.

"Sampai jumpa di pesta minggu depan!"

Leander tidak menoleh. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat Zeryna.

Di tengah suasana yang perlahan kembali tenang, Lysandra tidak langsung menundukkan pandangan nya seperti sebelumnya.

Ia masih menatap punggung Leander yang menjauh. Sudut bibirnya bergerak sedikit, ia berusaha menyembunyikan senyuman nya.

Tak lama. Dari arah jalan utama taman, terdengar langkah kaki yang lebih berat dan teratur. Suasana berubah seketika, bahkan udara terasa sedikit lebih formal.

Ketiga gadis itu dan para pelayan yang berada di sekitar taman segera menegakkan tubuh. Tanpa perlu perintah, mereka semua berdiri dan memberikan hormat dengan rapi.

"Yang Mulia."

Arven mengangkat tangan nya sebagai jawaban singkat. Matanya menyapu taman sejenak. Lalu ia berbicara pada Zeryna.

"Aku mencari Leander, kata Edgar dia ada disini."

"Mohon maaf, Yang Mulia. Tadi Leander memang berada disini, tapi ia baru saja pergi." jawab Zeryna.

Arven mengernyit tipis. "Sudah pergi?"

Arven kemudian mengangguk singkat dan berbalik.

"Kalau begitu, aku permisi."

Dan tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Arven melangkah pergi dengan cepat, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ia tunda lagi.

Meskipun sedari tadi Lysandra hanya diam dan sedikit menundukkan kepalanya, namun begitu Arven berbalik, Lysandra seketika mengangkat kepalanya dengan cepat.

Sorot matanya berubah. Tatapan nya tetap tenang namun senyumnya lebih lebar.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Becoming Duchess   BAB 14 - Tak Tik Sang Putri

    Renard menyetujui permintaan Putra Mahkota yang meminta Serenne memandunya berkeliling istana. Namun dengan syarat Arven dan Leander ikut menemani.Sambil berjalan Serenne menjelaskan sejarah beberapa bangunan yang mereka lewati.Putra Mahkota mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengajukan pertanyaan mengenai tata letak istana dan kebiasaan keluarga kerajaan.Beberapa pelayan yang sedang bekerja segera menundukkan kepala ketika melihat mereka.Sang putri membalas dengan senyum hangat.Dan Putra Mahkota memperhatikan pemandangan itu."Semua pelayan tampaknya sangat menghormati anda."Serrene menoleh kepada Putra Mahkota."Aku hanya berusaha memperlakukan mereka sebagaimana mestinya."Putra Mahkota mengangguk perlahan."Tak heran rakyat Volkran begitu mencintai Tuan Putri mereka."Leander yang berjalan di belakang mendengar kalimat itu. Ia mengangkat pandangan nya sejenak ke arah Putra Mahkota.Namun ia sulit menebak apa yang dipikirkan pria itu. Entah benar-benar tulus ata

  • Becoming Duchess   BAB 13 - Sang Putra Mahkota

    Hari itu, Volkran menyambut pewaris takhta dari kerajaan tetangganya. Sekaligus musuh bebuyutan.Di halaman utama istana, Renard berdiri di barisan paling depan dengan jubah kebesaran kerajaan.Di sisi kanan nya berdiri Serenne, mengenakan gaun berwarna biru muda yang anggun. Rambut keemasan nya disanggul sederhana, sementara sebuah bros berlambang keluarga kerajaan menghiasi gaun nya.Di sisi kiri Renard berdiri Arven.Tak jauh di belakang mereka tampak Duke Everhart bersama beberapa pejabat tinggi kerajaan.Sementara di barisan para bangsawan berdiri Leander, dengan pakaian resmi keluarga Rosenstein.Suasana begitu tenang. Hanya embusan angin yang sesekali menggoyangkan panji-panji Volkran.Hingga suara terompet dari gerbang luar terdengar nyaring."Rombongan Kerajaan Valtheris telah tiba!"Gerbang utama perlahan terbuka.Puluhan kesatria berkuda memasuki halaman istana dengan langkah teratur.Di belakang mereka melaju sebuah kereta megah berhiaskan lambang kerajaan Valtheris.Keret

  • Becoming Duchess   BAB 12 - Kedatangan

    Sebuah kereta berhiaskan lambang keluarga Rosenstein memasuki halaman istana.Seorang pelayan segera membukakan pintu.Leander turun lebih dahulu, disusul saudarinya, Odellise.Wajah ceria gadis itu tampak kontras dengan ekspresi saudaranya yang selalu tenang."Aku akan menemui Yang Mulia Raja terlebih dahulu," ujar Leander.Odellise mengangguk. "Kalau begitu aku boleh pergi ke taman istana?""Tentu. Tetapi jangan pergi terlalu jauh."Odellise tersenyum lebar. "Aku bukan anak kecil lagi."Leander tersenyum tipis kemudian mengusap kepala Odellise.Hari ini Renard memanggil Leander secara resmi. Dan Odellise mengatakan jika ia ingin melihat istana, jadi Leander membawanya.Leander seolah memiliki tiket keluar masuk istana secara bebas.• • • •Taman istana dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran.Di bawah sebuah gazebo putih, ternyata Serenne duduk sambil menikmati teh. Kemudian ia mengajak Odellise untuk bergabung.Tak jauh dari mereka, beberapa pelayan berdiri dengan tenang."Nona

  • Becoming Duchess   BAB 11 - Kembalinya Sang Nyonya

    Sudah bertahun-tahun, Esmirae, ibu Leander, tidak menghadiri pertemuan para wanita bangsawan.Bukan karena ia tidak diundang. Sebaliknya, undangan dari berbagai keluarga bangsawan selalu berdatangan ke Kediaman Rosenstein.Namun hampir semuanya ditolak dengan sopan.Esmirae tidak pernah menyukai percakapan yang dipenuhi pujian kosong, gosip, maupun persaingan terselubung di antara para bangsawan.Baginya waktu jauh lebih berharga digunakan untuk mengurus wilayah Rosenstein.Karena itulah, ketika kereta keluarga Rosenstein berhenti di depan kediaman seorang Marchioness terpandang pagi itu, hampir seluruh tamu yang telah lebih dahulu hadir dibuat terkejut."Beliau datang?""Sudah lama sekali."Bisikan-bisikan pelan terdengar di berbagai sudut ruangan.Esmirae melangkah masuk dengan gaun berwarna biru tua yang sederhana namun anggun.Ia tidak mengenakan perhiasan berlebihan. Hanya kalung pemberian Lavien yang menghiasi lehernya.Sikapnya tetap tenang. Tatapan nya lurus.Tanpa perlu berus

  • Becoming Duchess   BAB 10 - Langkah Putra Mahkota

    Pagi itu, suasana di Kediaman Rosenstein tetap setenang biasanya.Ketukan pelan terdengar."Masuk."Pintu terbuka, Lavien melangkah masuk ke ruang kerja ibunya, dengan senyum khasnya."Ibu."Esmirae mengangkat pandangan nya dari dokumen."Kau akan berangkat lagi?"Lavien mengangguk."Aku berniat mengunjungi wilayah selatan. Kudengar pelabuhan di sana sedang berkembang pesat. Aku ingin melihatnya sendiri."Wanita itu menatap putra bungsunya beberapa saat. Ia sudah terbiasa mendengar putranya itu meminta izin berkelana di luar.Sejak menginjak usia dewasa, Lavien memang lebih sering berada di luar kediaman daripada menetap di rumah."Pergilah."Lavien tersenyum lebar. "Terima kasih, Ibu.""Tetapi jangan terlalu lama."Senyum Lavien sedikit memudar. Ia mengangkat sebelah alis."Dalam waktu dekat, aku akan kembali menghadiri pertemuan para bangsawan."Lavien tampak penasaran. "Bukankah ibu membenci perkumpulan bangsawan?""Ada sesuatu yang harus kuselesaikan." Jawaban Esmirae tetap datar.

  • Becoming Duchess   BAB 9 - Kakak dan Adik

    Leander berada di ruang baca keluarga, duduk di dekat jendela sambil menelusuri laporan mengenai keadaan wilayah kekuasaan Rosenstein. Sesekali ia mencatat beberapa hal penting di atas selembar kertas.Pintu ruangan terbuka begitu saja, tanpa sebuah ketukan.Arven melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih serius daripada biasanya.Leander mengangkat pandangan. Tak heran pintu terbuka tanpa ketukan, karena sang pangeran lah yang datang."Ada apa?"Leander paham ada sesuatu yang terjadi terlihat dari raut sahabatnya yang lesu tak seperti biasanya.Arven mengembuskan napas panjang sebelum menjatuhkan dirinya ke kursi di hadapan Leander."Aku membawa kabar buruk."Leander menutup dokumen di tangan nya."Apa yang terjadi?"Arven terdiam beberapa saat, seolah memilih kata-kata yang tepat."Beberapa hari yang lalu, istana menerima surat dari Kerajaan Valtheris."Leander menunggu kelanjutan nya dengan tenang. Meski dalam hatinya waspada pada musuh kerajaan tersebut."Mereka mengajukan per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status