登入Rumor mengenai Duke Rosenstein, sudah cukup membuat sebagian besar keluarga bangsawan di ibu kota mulai bergerak.
Undangan mulai berdatangan tanpa henti. Bukan sekadar undangan pesta, tetapi juga pesan-pesan halus dari para ibu bangsawan. Memperkenalkan putri mereka dengan cara yang sopan, terselubung, namun sangat jelas maksudnya. Di samping Leander berdiri kepala pelayan pria dan seorang sekretaris pribadinya. Mereka berdua yang mengurus hampir seluruh permasalahan kastil Rosenstein. Alaric Varrow, sekretaris pribadi yang duduk di samping meja kerja Leander. Ia mencatat, memilah, dan memastikan setiap urusan berjalan tanpa cela. Balasan suratpun dikirim satu per satu. Sopan, terstruktur, namun dengan penolakan jelas. Seolah Leander sedang menjaga seluruh dunianya tetap berada pada batas yang tidak boleh dilampaui orang lain. Hingga sebuah surat datang dengan amplop yang berbeda. Amplop itu terbuat dari kertas tebal berkualitas tinggi, dengan tekstur halus yang terasa mahal bahkan sebelum disentuh. Warnanya putih gading pucat, bersih dan indah. Seperti susu yang memudar oleh waktu, memberi kesan elegan tanpa berlebihan. Namun yang membuat surat itu berbeda dari yang lain, pada bagian tengah amplop tersegel lilin merah tua keemasan. Dengan lambang keluarga yang pasti dikenal oleh seluruh rakyat ibu kota kerajaan. Leander menatap amplop itu sejenak. Tidak ada perubahan di wajahnya, tetapi udara di ruangan itu terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya. Tanpa membuka surat tersebut, ia menyerahkan nya kembali kepada Alaric. "Sampaikan pada Marquess Halcourt jika aku akan datang," ucap Leander tenang. Alaric membungkuk ringan, menerima kembali amplop itu dengan hati-hati, lalu menunggu instruksi berikutnya. Leander menghela nafas panjang. "Aku lelah sekali." Kepala pelayan menuangkan teh ke cangkir kosong Leander. "Surat hari ini datang lebih banyak dari biasanya, Yang Mulia. Jika anda lelah sebaiknya anda beristirahat sebentar." ucap kepala pelayan. Leander menyesap tehnya perlahan. "Kau benar, Edgar. Aku akan berjalan-jalan sebentar di taman." . . . . . Taman belakang kastil Rosenstein sore itu tidak terlalu ramai. Tidak banyak pelayan yang berlalu lalang. Leander awalnya hanya ingin beristirahat sejenak. Sekadar menjauh dari tumpukan dokumen dan surat, menikmati udara ditempat yang tidak menuntut keputusan apapun darinya. Namun langkahnya terhenti. Di meja taman yang berada di bawah naungan pohon besar, ia melihat kedua saudarinya. Dan bukan hanya berdua. Mereka sedang duduk dengan santai, menikmati hidangan bersama seorang gadis lain yang tampak tenang dan anggun. Percakapan mereka terlihat ringan, nyaris seperti orang yang sudah lama saling mengenal. Leander dengan cepat berbalik. Ia berniat pergi sebelum dirinya disadari oleh para gadis itu. Namun sebelum ia benar-benar melangkah jauh, suara Odellise, saudari bungsunya, terdengar lebih dulu. "Leander! Kau kah itu?" Leander berhenti. Sebelum ia sempat menolak, Zeryna berdiri dan langsung menariknya mendekat tanpa basa-basi. "Duduklah di sini," ucap Zeryna tegas. Leander akhirnya duduk di kursi kosong di sisi meja itu, tatapannya datar seperti biasa. Zeryna tersenyum puas, lalu menunjuk gadis yang duduk di hadapannya. "Kau mengenalnya, bukan?" Leander menatap sekilas. Gadis itu menunduk dengan anggun, gerakannya lembut dan teratur. Seperti seseorang yang terbiasa dengan tata krama bangsawan sejak kecil. "Nona Viremont, putri dari Count Viremont." Gadis itu kembali menunduk, lebih dalam kali ini. "Merupakan suatu kehormatan bertemu dengan anda, Yang Mulia Duke." Suaranya lembut, tidak berlebihan, namun jelas terlatih dengan baik. Leander membalas dengan anggukan kecil. Tidak ada senyum, tidak ada kata tambahan. Hanya pengakuan singkat bahwa ia menerima salam itu. Zeryna menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi, lalu mencondongkan tubuh ke arah Leander, suaranya turun menjadi bisikan. "Dialah yang kumaksud. Gadis yang cocok menjadi istrimu, menjadi Duchess Rosenstein." Leander tidak bereaksi. Ia justru mengalihkan pandangannya dari Zeryna, lalu tanpa banyak kata ia berdiri dan menghampiri saudari bungsunya. Leander mengusap lembut rambut Odellise yang diikat sederhana. Odellise tersenyum kecil, tidak terganggu sedikitpun. "Leander," ucapnya pelan, "nona Viremont banyak membantuku dalam pelajaran debutante. Tanpa beliau mungkin aku akan kesulitan." Odellise menoleh ke arah Lysandra, lalu menambahkan dengan tulus, "Beliau adalah gadis paling anggun yang pernah kutemui." Lysandra hanya menunduk, sedikit malu namun tetap tenang. Leander menatap mereka berdua sejenak. Lalu sudut bibirnya bergerak. Senyum tipis yang nyaris tidak terlihat, namun cukup untuk mengubah suasana sesaat. "Terimakasih telah membantu saudari saya, nona Viremont", ucap Leander. "Saya tidak banyak membantu, Yang Mulia. Nona Rosenstein memang sudah menghapal seluruh pelajarannya." Leander hanya mengangguk kecil. "Saya permisi." Zeryna langsung mengangkat tangan, setengah berseru di belakangnya. "Sampai jumpa di pesta minggu depan!" Leander tidak menoleh. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat Zeryna. Di tengah suasana yang perlahan kembali tenang, Lysandra tidak langsung menundukkan pandangannya seperti sebelumnya. Ia masih menatap punggung Leander yang menjauh. Sudut bibirnya bergerak sedikit, ia berusaha menyembunyikan senyumannya. Dari arah jalan utama taman, terdengar langkah kaki yang lebih berat dan teratur. Suasana berubah seketika, bahkan udara terasa sedikit lebih formal. Ketiga gadis itu dan para pelayan yang berada di sekitar taman segera menegakkan tubuh. Tanpa perlu perintah, mereka semua berdiri dan memberikan hormat dengan rapi. "Yang Mulia." Arven mengangkat tangannya sebagai jawaban singkat. Matanya menyapu taman sejenak. Lalu ia berbicara pada Zeryna. "Aku mencari Leander, kata Edgar dia ada disini." "Mohon maaf, Yang Mulia. Tadi Leander memang berada disini, tapi ia baru saja pergi." jawab Zeryna. Arven mengernyit tipis. "Sudah pergi?" Arven kemudian mengangguk singkat dan berbalik. "Kalau begitu, aku permisi." Dan tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Arven melangkah pergi dengan cepat, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ia tunda lagi. Meskipun sedar tadi Lysandra hanya diam dan sedikit menundukkan kepalanya, namun begitu Arven berbalik, Lysandra mengangkat kepalanya dengan cepat. Sorot matanya berubah. Tatapannya tetap tenang namun senyumnya lebih lebar. ***"Yang Mulia Tuan Putri telah tiba!"Tak lama kemudian, Serenne turun dari kereta dengan anggun. Di belakangnya, dua pelayan membawa beberapa peti kayu berukuran sedang.Kepala Tabib menundukkan kepala memberi hormat. "Selamat datang, Yang Mulia Tuan Putri."Serenne tersenyum hangat. "Aku membawa beberapa ramuan obat, kain perban baru, dan buku-buku untuk anak-anak."Para tabib menatap isi peti itu dengan rasa penuh syukur."Terima kasih atas perhatian anda, Yang Mulia."Setelah berbincang sejenak, Serenne berjalan menyusuri lorong-lorong Rumah Penyembuhan.Hampir setiap orang yang berpapasan dengan nya tersenyum hormat. Serenne pun membalas setiap sapaan dengan senyum yang sama hangatnya.Serenne tanpa risih dan malu mulai berbaur dengan anak-anak, kemudian membacakan mereka buku cerita. Bahkan beberapa tabib yang melintas ikut berhenti sejenak untuk mendengarkan."Terima kasih, Yang Mulia." Ucapan anak-anak itu.Serenne menggeleng pelan."Ucapan terima kasih seharusnya diberikan kep
Pagi itu, pasar di ibu kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk para pedagang. Aroma roti yang baru dipanggang bercampur dengan wangi bunga segar memenuhi udara. Kereta kuda para bangsawan sesekali melintas di jalan utama, sementara masyarakat dari berbagai kalangan memenuhi setiap sudut pasar.Di antara keramaian itu, Serenne berjalan santai ditemani seorang pelayan dan beberapa pengawal yang menjaga dari kejauhan. Alih-alih menaiki kereta, ia lebih memilih menikmati suasana pasar dengan berjalan kaki.Sebuah topi bertepi lebar berwarna kuning menutupi sebagian wajahnya.Serenne berhenti di sebuah kios roti."Tolong bungkuskan roti yang baru matang itu," ujarnya lembut.Setelah menerima roti tersebut, ia tidak membawanya untuk dirinya sendiri. Ia justru melambaikan tangan, memanggil beberapa anak yang sedang membantu orang tua mereka berdagang di pasar."Ini untuk kalian. Jangan lupa berbagi."Anak-anak itu menerima roti tersebut dengan wajah berbinar."Terima kasih, nona."Serenne hanya mem
Arven tidak membawa Leander dan Serenne terlalu jauh dari aula. Hanya ke sebuah balkon luas yang menghadap taman belakang. Namun cukup jauh dari keramaian. Begitu mereka berhenti, Serenne langsung menarik tangannya kembali. "Aku masih tidak mengerti kenapa aku ikut dibawa ke sini," gerutunya pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Arven. "Aku ingin berbicara dengan teman-temanku mengenai kompetisi berkuda bulan depan." Arven menghela napas kecil. "Kau bisa membicarakannya nanti." "Tidak bisa," balas Serenne cepat. "Setelah pesta ini mereka semua akan sibuk. Dan saat ini adalah kesempatan terbaik." Leander berdiri tidak jauh dari mereka, diam seperti biasa. Ia tidak menyela, hanya mengamati seolah percakapan itu bukan urusannya. Namun Serenne tetap sadar akan kehadirannya. Dan justru itu yang membuatnya lebih kesal. Arven menatap Serenne sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang, "Kalau begitu, kau bisa membicarakannya disini." Serene mengernyit. "Berbicara dengan
Zeryna berdiri di depan cermin besar, sementara beberapa pelayan merapikan bagian terakhir pada gaunnya. Suasana tidak terlalu formal, justru lebih ringan. Ia sedang bersenda gurau pelan dengan Odellise yang duduk tidak jauh darinya. "Meskipun Lysandra mengatakan gaun ini terlalu mencolok, aku akan tetap memakainya," ujar Zeryna santai. Odellise tersenyum kecil. "Kau selalu mengatakan itu setiap kali pergi ke pesta, Zeryna." Zeryna terkekeh pelan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamar Zeryna terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah tenang namun berwibawa. Tatapannya langsung membuat suasana berubah sedikit lebih kaku. Zeryna menoleh dan menyambut dengan sikap sopan. "Ada apa, ibu?" Sang ibu melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Zeryna sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Kau akan menghadiri pesta ulang tahun putri Marquess Halcourt?" Zeryna mengangguk ringan. "Ya. Saya mengenal putri beliau." Ada jeda singkat sebelum terdengar sebuah pertanya
Rumor mengenai Duke Rosenstein, sudah cukup membuat sebagian besar keluarga bangsawan di ibu kota mulai bergerak. Undangan mulai berdatangan tanpa henti. Bukan sekadar undangan pesta, tetapi juga pesan-pesan halus dari para ibu bangsawan. Memperkenalkan putri mereka dengan cara yang sopan, terselubung, namun sangat jelas maksudnya. Di samping Leander berdiri kepala pelayan pria dan seorang sekretaris pribadinya. Mereka berdua yang mengurus hampir seluruh permasalahan kastil Rosenstein. Alaric Varrow, sekretaris pribadi yang duduk di samping meja kerja Leander. Ia mencatat, memilah, dan memastikan setiap urusan berjalan tanpa cela. Balasan suratpun dikirim satu per satu. Sopan, terstruktur, namun dengan penolakan jelas. Seolah Leander sedang menjaga seluruh dunianya tetap berada pada batas yang tidak boleh dilampaui orang lain. Hingga sebuah surat datang dengan amplop yang berbeda. Amplop itu terbuat dari kertas tebal berkualitas tinggi, dengan tekstur halus yang terasa
Aroma bunga segar memenuhi ruangan, berasal dari rangkaian kecil di meja dekat jendela. Serenne duduk dengan tenang, jemarinya sibuk merapikan pita halus di ujung gaunnya, ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu. "Masuk!" ucapnya lembut. Pintu terbuka, dan sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana. Wajah Serenne seketika berubah cerah. "Arven!" Ia bangkit hampir tanpa berpikir, langkahnya ringan saat menghampiri. Senyumnya tulus, hangat, dan berbeda dari senyum sopan yang biasa ia berikan di luar. "Aku merindukanmu," Serenne memeluk Arven tanpa ragu. Arven tersenyum tipis, sedikit lelah, tapi tetap membalas pelukan hangat saudarinya. "Bukankah dua hari lalu kita baru saja bertemu ditaman?", ucap Arven ringan. Serenne melepaskan pelukannya dengan sedikit cemberut manja. "Aku bisa mengerti jika Renard jarang berkunjung karena ia sibuk mengurus kerajaan," Serenne berhenti sejenak, lalu menatap Arven lebih tajam, "tapi bagaimana denganmu? Aku rasa kau tidak







