Bed Of Lies; A Billionaire’s Sinful Desires

Bed Of Lies; A Billionaire’s Sinful Desires

last update최신 업데이트 : 2026-05-13
에:  Luné_ex방금 업데이트되었습니다.
언어: English
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
150챕터
601조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

“Are you married?” I bit my tongue at the question that I have been dreading since I saw him in the boardroom. “Answer me!” His angry yell startled me. I couldn’t fault him for being mad. How do I begin to explain it? If I tell him the truth, we will lose the deal and if I continue with the lies, he will see me as a cheating woman. Either way, I am going to lose so I picked the better choice for me and for my company. “Yes, I am married.” ***** For Maeve Fitzgerald her night with Alessandro Marchesi was pure passion and the best night of her life that can only be one night. For Alessandro, it was so much more. Maeve was sure they will never cross paths again but fate has a different plan and it’s about to change her life forever.

더 보기

1화

1

"Rian, umur kamu itu 22 tahun, masih aja jadi beban buat ibu kita. Uang bulanan yang Kakak kasih, pasti dikasih buat kamu. Kamu laki-laki bukan, sih? Ada otak kan, ga malu apa numpang idup!'" sergah Amran, kakak laki-laki Rian.

"Sudahlah, namanya belum rejeki. Rian juga usaha cari kerja, kok," sahut Rukmini, ibunya Amran dan Rian.

"Ibu jangan bela dia terus. Nanti jadi gak tau diri, mau sampe kapan dibela terus? Liat, dia aja sekarang tidur-tiduran, pegang hp terus, tapi gak kerja," balas Amran.

Rian menarik napas, yang dikatakan kakaknya benar adanya, tetapi dia juga sudah berusaha keras mencari pekerjaan. Namun, selalu saja ditolak dengan alasan kurang pengalaman, wajah kurang menarik padahal termasuk tampan, kurang kemampuan dan berbagai syarat tidak masuk akal lainnya hanya untuk mendapatkan gaji minim.

Bukan rahasia jika tuntutan pekerjaan semakin berat, dengan syarat yang juga tidak ringan. Terkadang persyaratan yang menyeramkan itu hanya diberi upah tidak sepadan, kerap di bawah standar upah.

Bagi pengangguran, asalkan mereka bekerja, tidak masalah gaji rendah. Terutama bagi kaum pria, yang sebagian besar menganggap bahwa pekerjaan adalah harga diri.

"Orang kalo milih-milih kerjaan yah kayak kamu itu. Apa salahnya sih kerjaan apa aja diterima? Ujung-ujungnya jadi beban aja. Aku ini punya anak bini yang harus kunafkahi, tapi liat keadaan Ibu, aku gak tega gak ngasih uang bulanan. Kamu tuh benalu, tau gak," lontar Amran kesal.

Rian merasa sakit hati karena kakaknya mengungkit semua yang pernah dia beri, mulai dari hal kecil hingga yang besar.

“Tiga bulan yang lalu sok-sokan ikut kelas programmer, beli e-book segala. Hasilnya apa? Nol, tetap aja pengangguran!” teriak Amran marah.

"Cukup, Kak! Apa salahnya cari ilmu? Lagian itu tuh menjanjikan, Kakak tau kan aku udah usaha cari kerja apa aja, jadi tukang sampah, dagang bakso keliling, teknisi di konter hp, kuli bangunan, ngumpulin botol bekas juga pernah, Kak!”

“Apa kakak puji aku waktu aku kerjakan itu? Yang ada malah aku diejek, disepelekan. Maunya Kakak apa sih? Nuntut terus taunya." Rian meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.

“Gak usah banyak bacot, mending cari kerja sana. Biar gak jadi sampah di rumah ini!” hardik Amran tidak mau kalah.

Di dalam kamar, Rian membuka sebuah aplikasi yang menyediakan berbagai lowongan pekerjaan, sebuah notifikasi dari perusahaan yang dia lamar dua minggu yang lalu, memintanya untuk datang untuk wawancara satu jam lagi.

Tanpa membuang waktu, Rian bergegas mandi dan memakai kemeja serta celana kain, lalu membersihkan sepatu hitam yang sedikit lusuh. Ibunya heran melihat putra bungsunya yang tampak tergesa-gesa.

"Aku ada interview, Bu. Di daerah Kemangi di perusahaan mainan dewasa," kata Rian.

“Mainan dewasa? Itu yang alat bantu itu, kan? Kamu itu apa gak bisa cari yang bener? Jijik banget kerja di tempat begituan,” celetuk Amran.

“Nganggur salah, dapet kerjaan juga salah. Lagian ini pasti bukan alat bantu gitu lah, kan mainan dewasa itu kayak robot-robot mainan orang kaya gitu. Posisi aku jadi QC kalo diterima, aku cabut dulu,” balas Rian santai.

Rukmini melerai keduanya, lalu memberikan sejumlah uang kepada Rian dengan senyum tulus.

"Makasih, Bu. Doain, ya. Ini gajinya UMR, lumayan kalo langsung diterima, ada mess." Rian mencium punggung tangan ibunya.

Rian tiba di alamat yang diberikan kepadanya, langkah penuh percaya diri terayun, masuk ke dalam ruangan sejuk disambut dengan dua gadis cantik sebagai reception.

"Maaf, Kak. Saya Rian Sanjaya, ada janji interview sama Pak Erlangga," ucap Rian sopan.

"Oh, langung ke lantai tiga, di ruangan paling ujung yang tulisannya HRD Manager," sahut reception tersebut.

"Makasih, Kak," balas Rian.

Rian mengikuti petunjuk dan menemukan ruangan yang dicari, proses wawancara dimulai. Tidak banyak pertanyaan, dan menjelaskan tugas sebagai Quality Control yang bertanggung jawab atas produk mainan yang akan mereka pasarkan.

Rian yang senang dengan upah yang ditawarkan, tidak bertanya apa jenis produk mainan tersebut, karena dia yakin tidak seperti dugaan kakaknya.

Kontrak kerja selama enam bulan percobaan pun sudah ditandatangani, Rian diantar menuju mess yang bersebelahan dengan tempat dia bekerja nantinya. Rian mengirim pesan kepada ibunya bahwa dirinya sudah bekerja mulai hari ini, dan tinggal di mess.

Pukul 22:50 seorang supervisor menjemput Rian, dan membawanya ke tempat produksi mainan. Mereka tiba di sebuah tempat seperti gudang yang sangat besar, kemudian masuk ke dalam. Beberapa operator mesin berada di sana, sebagai rekan kerjanya malam ini. Namun, Rian tidak melihat mainan apapun di sana, tidak seperti yang dibayangkan. Dia mulai merasa ragu.

"Maaf, Pak. Mana mainannya? Robot, mobilan atau apa kek gitu?" tanya Rian heran.

Tanpa menjawab, supervisor membuka sebuah pintu, di dalamnya berjajar ratusan prototipe dengan tulisan Smart Toy pada bagian kotak yang terpajang di bagian sudut kanan. Kemudian menjelaskan pekerjaan Rian sebagai QC dari produk dewasa.

"Loh, katanya produk mainan? Ini bukan mainan, Pak. Ih ... jijik bener aku, serasa liat diri sendiri!" protes Rian dengan wajah tidak senang.

Supervisor tersebut menjelaskan bahwa Rian sudah menandatangani kontrak, jika mundur maka akan dikenakan denda sebesar 200 juta.

Rian sangat kesal, dia menatap benda di sana dengan tatapan jijik, dirinya merasa ini adalah pekerjaan yang menginjak harga dirinya. Sebagai QC dari mainan produk dewasa yang tentunya kemungkinan besar diminati wanita, karena prototipe adalah gambaran pria.

"Sinting kali yang beli kayak ginian. Tinggal pesen brondong aja beres. Kan banyak tuh cowok yang jadi lon-thea, hiiy ... jijik," gerundel Rian.

Mau tidak mau, dengan setengah hati Rian menjalani pekerjaan yang baginya menjijikkan, daripada akan dihina oleh kakaknya lagi.

Rian menuju sebuah meja kecil dan membaca catatan serta buku petunjuk yang memuat aturan tentang pekerjaannya, lelaki itu membaca dengan seksama hingga kini pukul satu dini hari, berbekal ilmu dari kursus programmer dan buku elektronik yang dia beli, Rian dengan mudah memahami pekerjaannya tersebut, mencoba untuk memeriksa prototipe yang siap diuji esok hari.

Langkah kakinya terhenti pada sebuah prototipe, yang berdasarkan catatan di mejanya yang memiliki kendala gagal uji sensor. Rian memeriksa dengan seksama, tetapi tidak menemukan ada yang salah pada benda itu. Semuanya sama persis dengan yang lainnya.

"Ini apanya yang salah? Sistem? Aku cek dulu lah, hidupkan sistem," ucap Rian.

Ketika menekan tombol yang berada di bagian leher, suara halus terdengar, Rian segera berdiri di depan prototipe tersebut, sebuah hologram biru muncul di depannya.

Ding!

Sistem Inisialisasi : Processing ...

Sinkronisasi Biometrik: Processing ...

Sinar biru memindai retina Rian yang sedang menatap hologram biru tersebut, dia tampak bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.

Sistem Sinkronisasi Sensor Biometrik : Berhasil.

Sistem Aktif

Sistem Inisiasi : Aktif

Tugas : Ganti produk rusak

Target : Pelanggan setia - Ratu Es

Sistem berjalan, waktu berbatas. Tiga hari.

Kemudian suara dan hologram tersebut menghilang, Rian mengucek matanya untuk menyakinkan apa yang dilihat barusan adalah nyata, tetapi ternyata tidak ada apapun.

"Lah, gak ada apa-apa. Efek stres kerjaan gak bermoral, otakku jadi halu kurang oksigen. Kayaknya hari pertama kerja, mentalku mulai terganggu deh," gumam Rian.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

댓글 없음
150 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status