เข้าสู่ระบบ“Are you married?” I bit my tongue at the question that I have been dreading since I saw him in the boardroom. “Answer me!” His angry yell startled me. I couldn’t fault him for being mad. How do I begin to explain it? If I tell him the truth, we will lose the deal and if I continue with the lies, he will see me as a cheating woman. Either way, I am going to lose so I picked the better choice for me and for my company. “Yes, I am married.” ***** For Maeve Fitzgerald her night with Alessandro Marchesi was pure passion and the best night of her life that can only be one night. For Alessandro, it was so much more. Maeve was sure they will never cross paths again but fate has a different plan and it’s about to change her life forever.
ดูเพิ่มเติมBagian 1
Suasana mencekam di gelapnya Hutan Larangan sudah cukup menggambarkan kengerian di dalamnya. Sosok arwah wanita cantik yang terpaku di sana, menatap jasadnya yang dikubur secara tidak layak di dalam hutan itu.
Begitu banyak mitos, takhayul dan pantangan bagi manusia yang menjejakkan kaki di hutan tersebut. Belum lagi aturan gaib yang wajib dipatuhi oleh manusia ketika berpetualang di rimbunan tempat di mana segala macam mahluk gaib dengan segala rupa tinggal.
Hanya orang yang kehilangan akal sehat yang berani melanggar aturan untuk mengubur jasad tak bernama di sana. Merasa tidak adil, seseorang yang telah lama menghuni hutan itu datang dan membangkitkan arwah wanita itu untuk membalaskan dendam.
***
"Secepat ini kita pulang?" Kirana memeluk tubuh tinggi Raka dari belakang. Raka balas menggenggam tangan halus Kirana."Iya, Ana, dua hari lagi, kan, aku harus kembali bekerja. Kalau nambah libur lagi aku bisa dipecat sama bos." Raka berbalik kemudian menarik hidung mancung Ana.
"Kan, bosmu itu Papa aku, jadi santai aja kenapa, sih? Aku masih belum puas bulan madu selama seminggu, ya, ya, ya?" Kirana mengerjapkan mata coklatnya dengan cepat mencoba merayu suaminya.
Raka tetap kukuh pada keputusannya. Kembali sekarang juga karena tidak ingin mangkir dari kewajiban di kantor. Lagi pula anak gadisnya yang berusia lima tahun pasti sangat merindukan kehadirannya di rumah. Amy nama bidadari kecil Raka. Nasib ayah dan anak itu tidak beruntung. Di usia Amy yang baru saja genap tiga tahun, ia sudah ditinggal pergi oleh ibunya.
Wanita yang melahirkan Amy pergi bersama lelaki lain mencari kehidupan yang lebih baik. Beruntung pasca ditinggal istri tercinta, Kirana yang tidak lain adalah sahabat masa kecil Raka datang mengisi kekosongan di hati mereka. Dua sahabat baik itu menjalin hubungan yang lebih serius selama dua tahun, hingga mereka akhirnya memutuskan untuk melabuhkan cinta dalam ikatan pernikahan.
Seminggu setelah bulan madu di villa mewah, kini mereka harus kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Tidak ingin kemalaman di jalan, Raka memutuskan untuk berangkat setelah makan siang. Dua buah koper berukuran sedang sudah selesai di kemas oleh Kirana. Lelaki itu, kemudian memasukkan koper mereka ke bagasi mobil.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Raka lalu menghidupkan dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sementara itu, Ana yang nampak kelelahan mulai tertidur karena cuaca yang juga mulai terlihat mendung.
Tiga jam lebih menyetir, membuat Raka diserang kantuk. Saat matanya hendak memejam, ia dikejutkan oleh suara benda berat yang jatuh di atap mobil sedan hitam miliknya. Ia menepikan mobilnya untuk memeriksa keadaan sekitar. Tidak ada yang terjadi, bahkan mobilnya tidak penyok atau lecet sama sekali. Padahal jelas-jelas ada benda berat yang menimpa mobilnya.
"Ada apa, Ka, kenapa berhenti di sini?” Ana yang baru saja bangun, langsung membuka kaca jendela mobil.
"N--nggak ada apa-apa, mungkin aku salah dengar aja tadi, ya?" Raka memegang tengkuk yang tiba-tiba ditiup oleh angin dingin.
"Kita sekarang di mana?" Kirana keluar dari mobil dengan mata sayunya.
"Di wilayah Hutan Larangan, tadi aku baca petunjuk jalannya gitu," jawab Raka singkat
"Ooh," balas Ana, "yaudah nggak ada apa-apa, kan? Kita lanjut lagi, ya. Takut kemalaman di hutan, seram." Ana bergidik ngeri.
Tanpa basa basi Raka segera masuk mobil dan mencoba mengabaikan kejadian tadi. Ia memutar lagu untuk mengusir rasa takut yang menyusup ke dalam hati. Baru saja jam empat sore tapi hari sudah terlihat hampir gelap, sebab pengaruh pohon-pohon besar yang mengelilingi hutan yang mereka lewati.
Ana yang tidak bisa tidur menghilangkan kejenuhan dengan bermain game. Saat sedang asyik mengumpulkan nyawa, tiba-tiba Ana menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa di jok belakang mobil. Wanita canti itu kembali melanjutkan permainannya.
"Ana." Lagi suara nyaring itu terdengar di telinga Ana. Suara perempuan dengan desahan panjang.
Wanita berambut panjang itu kembali menoleh tapi tidak ada siapa pun di sana.
"Kamu kenapa?" Raka bertanya tanpa menoleh pada Ana.
"Ada suara perempuan manggil aku dua kali, Ka. Pas aku lihat ke belakang nggak ada siapa-siapa?"
"Suara siapa? Jangan ngaco An, kita ini lagi di tengah hutan, jangan berpikir yang aneh-aneh."
"Beneran, loh, Ka. Suaranya jelas banget si belakang sini." Ana menunjuk ke arah mobil penumpang dengan kesal.
Raka mengabaikan kekesalan Ana dan terus saja mengemudi. Jalan yang mereka tempuh sangat sepi, hanya mobil mereka yang lewat dari tadi. Jalanan juga mulai dihiasi kabut tipis yang memperpendek jarak pandang. Mau tidak mau lelaki berkacamata itu terpaksa membunyikan klakson setiap kali lewat tikungan yang berbatasan langsung dengan jurang terjal.
“Raka.” Terdengar suara lembut wanita berbisik pada Raka. Refleks ia menoleh ke belakang.
“Kamu manggil aku barusan?” tanya Raka.
“Nggak.” Ana memiringkan bibir tipisnya karena masih kesal dengan sikap cuek Raka tadi.
Raka menepikan mobil, melepaskan sabuk pengaman. Tanpa permisi mencium paksa bibir milik Ana. Wanita itu tidak bisa bergerak, tubuhnya yang masih terlilit sabuk pengaman membuatnya tidak bisa melawan sedikit pun. Diam menjadi satu-satunya pilihan.
Raka kemudian menjauh sambil mengerlingkan matanya. Sementara itu, Ana hanya tertunduk malu dengan muka memerah. Lelaki itu mencoba menghidupkan mobil untuk melanjutkan perjalanan. Berkali kali menstarter tetapi tidak juga berhasil. Ia keluar dan membuka kap depan mobilnya mencoba mencari solusi mobilnya yang mogok tiba-tiba.
"Ana." Lagi suara wanita terdengar memanggil Ana.
Ana yang merasa ketakutan kemudian keluar dari mobil dan mendekat pada suaminya. Namun, pandangan matanya tertuju pada gapura tua bertuliskan Pemakaman Keluarga Daendels.
Pikiran wanita cantik itu seakan tersihir untuk mendekat ke sana. Ia terus saja berjalan dengan perlahan tanpa memedulikan Raka yang terus memanggilnya, hingga sebuah tepukan singkat menyadarkannya.
"Kamu ngapain ke sana, hmm?" Raka memegang tangan istrinya dan menuntunnya ke dekat mobil.
"Nggak tahu, tadi seperti ada sesuatu yang mencoba menarik aku ke sana."
"Itu pemakaman, mau lihat apa kamu di sana?" tanya Raka sekali lagi dan Ana hanya menggeleng.
"Kita lanjutkan perjalanan, ya. Hutan ini makin lama makin aneh, hii." Ana hanya mengangguk mengikuti perkataan lelaki tersebut.
Langkah wanita berambut panjang itu, seketika terhenti pada sebuah benda tak bertuan yang tergeletak di tanah. Ia kemudian memungut Boneka yang memiliki ukuran kaki dan tangan yang sangat panjang dan lentur. Bahan boneka tersebut sangat halus. Pakaian yang melekat di tubuh boneka itu mirip seperti gaun noni Belanda zaman dahulu.
Ukiran wajahnya seakan nyata menandakan pemahatnya sangat telaten menciptakan benda mati yang mirip manusia. Bibir boneka itu tersenyum sempurna. Bola mata hitamnya bening dan besar. Rambutnya panjang sebahu dan menggunakan topi bundar berwarna merah dengan pita kecil yang mengelilinginya. Ia jatuh cinta pada boneka itu. Tanpa ragu Ana mengambilnya dan membawa dalam pangkuannya.
"Buat Amy, ya? Bonekanya cantik."
"Terserah kamu aja."
Mobil sudah bisa dihidupkan, tanpa ragu mereka melanjutkan perjalanan. Sesosok anak kecil berusia kira-kira dua belas tahun memperhatikan kepergian mereka. Anak kecil dengan wajah putih pucat dan rambut dijalin dua dan mengenakan pakaian noni Belanda itu melambaikan tangan karena benda miliknya telah dibawa pergi.
"Bonekanya lucu, ya?" Ana membersihkan sisa-sisa daun kering yang menempel di boneka tadi, "Amy pasti suka, iya, kan?"
"Hmmm," jawab Raka malas, sambil memutar bola matanya ke atas.
Ana terus membersihkan baju boneka tersebut, di bagian belakang baju itu ada label kecil bertuliskan 'Martha'.
"Oh, jadi boneka ini bernama Martha." Ana mencoba menyisir rambut boneka dengan jarinya.
"Bonekamu cantik, boleh aku pinjam?" tanya suara tanpa wujud yang terdengar lagi di telinga Ana.
Ana menoleh ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa seperti tadi. Ia mendengkus dan membalikkan wajahnya ke depan. Seketika sosok wanita berambut panjang dan kusut telah menghiasi pandangannya. Pandangan mereka beradu sesaat. Wanita canti itu terdiam, membeku, tidak bisa berkata apa-apa.
"Boleh aku pinjam bonekamu?" Lagi wanita berwajah pucat itu bertanya pada Ana.
Bersambung ...
Maeve“Do you want me to end the call?”Andro whispered to me while rubbing my back and trying to calm me down.“No.”My voice wavered. I managed to pull myself together and spoke again.“Theo?”I could only call Theo’s name because he was the only one I really knew.“Yes, baby.”I almost started sobbing again.“Where are you guys? Who are you with?”I asked him.“I am with James, Thomas, and Charles. Alexander had surgery, so he couldn’t make it.”He told me. I knew Charles was the actor, Alexander must be the doctor, so the other two are my oldest brothers, who were ex-seals.“You told them.”I joked to lift the mood.“I had to. I am sorry that I didn’t keep my word to you.”I chuckled.“That’s okay. I only found out after the results were released. Can I talk to the others?”I asked him.“Sure,”He said, and there was a moment of silence before someone called my name.“Which one are you?”I asked and felt another wave of sadness rush through me.My brother was on the phone, and I
Maeve“That’s okay, I can cook for you.”I smiled.“I love you.”I told him and stuffed my mouth with more food. He handed me a napkin.“What do you want to do after lunch?”He asked me.“I don’t know.”I told him.“We can watch a movie or play video games. There are a lot of things to do around here.”I nodded at his suggestion.After lunch, I chose to watch a movie, so he took me to the cinema at home.I expected it to be a small movie room, but it wasn’t. It had at least ten rows of seats and a huge screen.We spent the rest of the afternoon watching different movies.I skipped dinner because I started to feel nauseous in the evening and by seven pm, the cramp returned as if it never left.This time, rather than send Andro away, I begged him to stay by my side, and he helped ease the pain with both his presence and by massaging me.By Monday morning, I was in hell, but thankfully, I didn’t have to go to work.I sent a message to the group chat and spent the day between crying and s
Maeve“Why do you look so shocked?”I asked him and laughed at the face he made when he realized I threw his words right back at him.“You love me.”It wasn’t a question, but I nodded.“I love you, Alessandro. I saw you watching me earlier and not only realized that you love me but came to terms with the fact that I felt the same.”I voiced.He cradled my face with both hands and looked into my eyes.“You love me.”I chuckled and nodded.“That means you can’t leave me.”He added. Again, I nodded.“I won’t leave you.”I told him.“Good, because I won’t let you go. You are mine, Eve.”“I am yours, and you are mine.”I answered, and when he leaned forward and pressed his lips against mine, it felt the same but also different in a way that I couldn’t really explain with words.“I love you.”He hushed when we pulled apart.“I love you too.”I responded.He kissed me again and then held me close.We stayed in each other's embrace for a while until my legs started to feel cramped due to the
Maeve“I love him.”I whispered to myself and realized just how true those words were.He wasn’t the only one who fell in love at first sight.I did too.Why else would I have gone with him that night to his hotel room? I barely knew him, yet I trusted him so much.Why didn’t I realize it?Or maybe I did, but I just didn’t think it was what it was.“The pilot is on the way. Are you guys coming with us?”I looked at Theo, who spoke, then my eyes turned to Andro, who had already told me we weren’t leaving with the others.“No, Eve and I are staying for another day. We will leave tomorrow morning.”Andro answered for both of us.“Okay, you can tell the pilot when to come get you tomorrow.”Andro nodded.“The rest of us will go get ready and be out of your space.”Theo said, and everyone laughed.It didn’t take long for the helicopter to arrive.“I will call you.”Theo told me as we escorted them out.“I will be expecting your call.”I told him, and we shared a hug again before I watched
Maeve“Maeve? Are you still there?” I cleared my throat before I answered.“I am still here, Nonno, I am just surprised at the request. Is it that he doesn’t trust us to do our job properly from our respective offices?” I asked him.“Not really, he just thinks everything will go more smoothly if
Maeve“Give me my phone.”I told him again, but instead of handing me the phone, he took the call and put it on the loudspeaker.“Are you aware that your wife is currently in my office?”My eyes widened when I realized who was calling, and that made me want to take the phone from him again.“MY wif
Maeve“Well, one of us has to leave, and it can’t be me!” I scoffed.“Oh yes, it can be you! You are the one who is throwing tantrums! I don’t mind working with you!”I told him.Okay, that’s a lie, but I can pretend. It’s not like we will be working together forever.After the project ends, we wi
MaeveI froze for a moment, trying to process what was going on and why he decided to respond by kissing me but that didn’t last as his tongue demanded entrance into my mouth and I had no choice but to open for himI lost my senses when his tongue captured mine and the heat of our mouths merged.Th






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.