Share

Behind the Ring
Behind the Ring
Penulis: AgathaQuiin20

Bab-01

Penulis: AgathaQuiin20
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-07 19:32:24

Dia harus bertindak profesional. Itu yang ada di pikiran Jesslyn sekarang. Wanita itu menarik nafasnya panjang, lalu meraih map biru dan memeluknya sebelum dia harus masuk ke dalam apartemen mewah di ibukota. Sabian baru saja menelponnya dan meminta Jesslyn untuk datang ke apartemen untuk mengantarkan dokumen penting. Karena Sabian tidak bisa datang untuk rapat, dia digantikan oleh orang lain. Dan materi penting dalam rapat ada ditangan Jesslyn.

Memasuki lift dan menekan tombol angka dalam lift. Jantung Jesslyn berdebar kencang, seperti sesuatu akan terjadi dengannya. Kehidupannya akhir-akhir ini cukup berantakan, dan sempat membuat Jesslyn pusing dengan hal itu. Dia mencoba untuk menghibur dirinya dengan belanja banyak barang tapi nyatanya tak mampu membuat moodnya kembali membaik. Dia kacau …. Tapi dia harus bertahan demi hidup. Dia bukan orang kaya yang resign kerja bisa hidup enak. Tapi dia harus banting tulang untuk mencukupi semua kebutuhannya.

Berdiri di depan pintu dengan nomor cantik, Jesslyn pun mengetuk pintu apartemen ini dengan sesopan mungkin. Satu ketukan, dua ketukan tidak ada jawaban. Jesslyn mencoba untuk mengetuk yang terakhir kalinya, jika tidak keluar juga dia akan menelepon Sabian dan meminta pemilik apartemen ini turun menemui Jesslyn. Dia tidak mungkin berdiri di depan pintu layaknya orang bodoh, kerjaan dia juga tidak hanya berdiri disini tapi juga ada yang lain. 

Ketukan tiga tidak ada jawaban. Wanita itu membalik tubuhnya dan hendak pergi. Tapi ucapan seseorang membuat langkah kaki Jesslyn terhenti. Tubuh yang menegang, dan seolah untuk berbalik menatap siapa orang itu tak mampu.

“Maaf, ada perlu apa ya?” Tanya orang itu. Suaranya begitu deep dan membuat tubuh Jesslyn merinding seketika.

Menarik nafasnya panjang, dan menghembuskannya perlahan. Jesslyn membalik badannya dan melihat Christian yang berdiri diambang pintu dengan terkejut. Tak lama seorang wanita berdiri di belakang pria itu dengan senyum yang mengembang sambil menyapa Jesslyn.

“Hai Jes … ayo masuk, setelah acara tunangan aku sama Christian kenapa nggak pernah keliatan lagi sih.” 

Jesslyn hanya diam, dia menatap tangannya yang ditarik paksa oleh Hanna untuk masuk ke apartemennya. Jesslyn ingin menolak tapi dia juga tidak enak dengan Hanna yang sudah menyambutnya dengan hangat.

“Aku sibuk kerja.” Jawab Jesslyn seadanya.

“Terus kamu kesini kenapa?” 

Jesslyn memamerkan map biru yang dia bawa. Dia pergi kesini karena Sabian yang tidak bisa mengantar map ini untuk Christian. Dan menurut Sabian map ini begitu penting, sehingga Jesslyn harus mengantar kesini. Tapi tahu jika tempat ini adalah tempat tinggal Christian dan juga Hanna. Jika saja Jesslyn tahu, mungkin dia akan menolak atau mungkin meminta Rhea atau mungkin Elina untuk mengantar map ini. 

Disini Hanna terlihat bahagia, dia tak henti-hentinya bercerita tentang pertunangannya dengan Christian yang berjalan dengan lancar. Sesekali melirik Christian yang diam saja di hadapan Jesslyn. Pria itu cukup ketara menatap Jesslyn terus-terus. Bahkan untuk berkedip saja tidak mau. Hanna yang tidak sadar dengan hal itu malah meninggalkan Jesslyn dengan Christian berdua. Wanita itu akan membeli sedikit cemilan dan juga minum untuk mereka dibawa. Masa iya tamu datang kesini tidak diberi apapun? Meskipun Jesslyn menolak dan ingin segera pergi, tapi Hanna melarang Jesslyn pergi begitu saja dengan perut kosong. 

Setelah kepergian Hanna, Christian langsung mendekati Jesslyn duduk di hadapan wanita itu dengan tatapan sayu. Detik berikutnya dia pun memeluk tubuh Jesslyn dengan erat dan menangis. Wanita itu sudah menahannya untuk tidak ikut menangis tapi yang terjadi …

“Tian lepasin gak? Gue nggak mau Hanna salah paham sama kita.” kata Jesslyn setenang mungkin, meskipun jantungnya bereaksi berbeda begitu juga dengan tubuhnya. Hanya membeli minum tidak harus membutuhkan waktu satu atau lima jam ke depan kan? 

“Apa peduli gue, kalau dia tau bagus dong. Gue nggak perlu lagi pura-pura di depan dia kalau kita nggak kenal.”

Jesslyn menarik nafasnya panjang, melepas pelukan itu dan mendorong tubuh Christian untuk menjauh. Tapi yang terjadi, pria itu seolah marah dengan sikap Jesslyn dan mendorong tubuh wanita itu hingga terlentang diatas sofa. Sorot matanya begitu tajam, dia marah, Jesslyn tahu hal itu. Tapi untuk sekarang tidak ada yang bisa Jesslyn lakukan selain berontak 

“Jangan gila!! Lo itu tunangan temen gue.” 

Peduli setan dengan hal itu, Christian malah melahap habis bibir Jesslyn dan menindih tubuh mungil itu di bawahnya. Tak memberinya space apapun, bahkan untuk bernafas saja tidak. Christian benar-benar menghukum wanita itu yang terus menolaknya sedangkan yang terjadi Jesslyn cukup sakit hati dengan sikap Christian yang tidak bisa tegas dengan keputusannya. Seharusnya dia bahagia dengan Hanna kenapa juga dia masih mengganggu Jesslyn dalam hal ini?

Jesslyn berontak, sesekali mendorong tubuh pria itu untuk menjauh darinya. Tapi yang terjadi Christian malam semakin menindihnya dan membuat wanita itu sesak napas. Menaikkan satu tangannya yang bebas untuk membuat tubuh Jesslyn menggeliat di bawah Kungkungan pria itu. 

Sekuat tenaga Jesslyn pun berontak, sampai akhirnya dia bisa melepaskan diri dari pria itu. Merapikan penampilannya wanita itu bangkit dari duduknya, mengatur nafasnya sambil mengusap bibirnya yang basah karena ulah Christian. 

“Gue kesini atas permintaan Sabian. Kalau gue tahu tempat ini milik Lo, guepastiin gue nggak akan mau datang kesini hanya untuk nganterin map. Permisi.”

Dengan cepat Jesslyn meninggalkan tempat ini, baru juga beberapa langkah dan memegang knop pintu apartemen ini. Pintu terbuka dengan lebarnya, menunjukkan Hanna yang datang dengan membawa banyak belanjaan. Wanita itu cukup terkejut melihat Jesslyn yang buru-buru pergi. Tapi yang ada, Jesslyn nyelonong pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Dia tidak peduli jika setelah ini Hanna menganggap jika Jesslyn tahu tidak tau diri. 

“Apa ada? Kenapa dia pergi dengan keadaan marah, Tian?” Tanya Hanna heran.

Christian tak menjawab, dia pergi begini saja dan masuk ke kamarnya mengganti bajunya yang baru dan pergi meeting. Sejujurnya hal ini dia lakukan untuk bisa bertemu dengan Jesslyn, beberapa hari lalu wanita itu sempat mengundurkan diri. Tapi Sabian menolak karena permintaan Christian. Dia sudah kecintaan dengan Jesslyn, tapi ibunya malah meminta menikah dengan Hanna. Wanita yang hanya menemani Christian selama di luar negeri saja. Entah apa yang Hanna lakukan sehingga ibunya begitu percaya dengan apa yang Hanna katakan. 

Mengendarai mobilnya dengan cepat, Christian memilih di salah satu restoran dekat dengan apartemennya. Matanya menatap Jesslyn yang ternyata ada disini juga bersama dengan pria lain. Christian yang tidak terima pun menghampiri mereka dan mengetuk meja mereka sebanyak dua kali.

“Jadi … ini yang Lo lakuin di belakang Gue, Jesslyn Gretta?” ucapnya penuh dengan penekanan, dan membuat wanita itu menelan salivanya dengan kesulitan. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Behind the Ring   Bab-104

    Christian duduk diam di ruang kerjanya yang luas, cahaya dari jendela hanya menyinari sebagian wajahnya. Di meja, layar tablet masih menampilkan berita pembatalan pertunangan dengan keluarga Hwang. Gambar dirinya dan Hanna terpampang jelas — formal, kaku, dan dingin seperti kisah yang seharusnya sudah berakhir.Pintu terbuka tanpa ketukan. Elina dan Rhea masuk hampir bersamaan, membawa kegelisahan di wajah masing-masing. Tak ada sapaan, tak ada basa-basi.“Lo beneran ngumumin pembatalan itu sendiri?” Elina meletakkan tasnya di sofa, suaranya menahan emosi. “Tanpa kasih tahu siapapun?”Christian hanya menatap layar di depannya. “Harus ada yang ngelakuin sesuatu. Gue capek liat semuanya pura-pura normal.”Elina ingin membalas, tapi Rhea sudah duduk lebih dulu. Wajahnya canggung, tapi ada sesuatu di matanya — seperti orang yang menyimpan rahasia yang terlalu lama.“Christian,” ucapnya pelan. “Gue harus ngomong sesuatu sebelum semuanya makin jauh.”Pria itu menatapnya singkat, tanpa ekspr

  • Behind the Ring   Bab-103

    Pagi itu terlalu tenang untuk sesuatu yang sebentar lagi akan pecah. Cahaya matahari menembus jendela besar mansion keluarga Tian, memantul di lantai marmer yang mengkilap, menciptakan pantulan yang indah — tapi dingin. Di tengah ruang tamu megah itu, Yoora duduk di kursi utama, dengan wajah tegang dan tangan menggenggam secangkir teh yang sudah lama tak disentuh.Di depannya, keluarga Hanna — ayah, ibu, dan Hanna sendiri — tampak berusaha menjaga wibawa, meski ketegangan di udara bisa dipotong dengan pisau. Hanna mengenakan dress pastel rapi, tapi matanya sembab.Lalu terdengar langkah tegas dari arah tangga.Christian Tian muncul dengan jas abu muda, rambut sedikit acak, tapi ekspresinya begitu tenang hingga terasa berbahaya. Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu sebelum membuka suara.“Terima kasih sudah datang pagi-pagi,” ucapnya datar. “Aku ingin bicara langsung bia

  • Behind the Ring   Bab-102

    “Lo serius El?” Rhea nampak ragu dengan cerita itu, tapi dari cara bicara Elina dan raut wajah yang serius membuat Rhea mempertimbangkan cerita itu.“Demi Tuhan Mbak Rhea. Gue rela jomblo seumur hidup kalau gue bohong sama Lo.” Rhea mengangguk kecil. “Masa iya sejahat itu dia, El?” “Heh Mbak Rhea Lo yang setelah ini bakalan jadi sepupuan sama dia, masa iya nggak tau sikapnya macam mana?”Masalahnya selama ini Hanna menunjukkan diri yang cukup baik. Hanna juga mengenal Rhea meskipun tidak sedekat Elina dan juga Jesslyn. Mereka hanya bertemu jika Hanna main ke kantor Sabian, atau mungkin dalam acara keluarga Miller yang mengharuskan Hanna datang. Dan selama ini yang dia tunjukkan sikap baik, manis dan perhatiannya pada keluarga Miller. Tidak ada yang aneh, bahkan jika di bilang curiga jika dia orang jahat tidak akan terlintas dipikiran Rhea dan yang lain. Wanita itu cukup baik, topengnya cukup baik sehingga Rhea ragu dengan apa yang dibicarakan oleh Elina barusan. Tidak mungkin rasany

  • Behind the Ring   Bab-101

    Suasana kantor tampak biasa — rapat, tumpukan berkas, aroma kopi pagi. Tapi di ruang HRD, Jesslyn menatap surat di tangannya dengan alis berkerut.Kertas putih dengan kop resmi, tanda tangan dewan direksi, dan tulisan jelas:Penempatan sementara ke cabang Sabian Asia (Singapore Division)Sebagai bentuk pengembangan profesional dan tanggung jawab baru.“Singapore?” gumam Jesslyn pelan. “Gue bahkan nggak pernah apply untuk overseas post…”Elina yang duduk di meja seberang ikut menatap kertas itu, wajahnya kaget. “Gila, itu posisi tinggi, tapi… tiba-tiba banget, Jess. Lo yakin bukan ada yang salah sistem?”Jesslyn tidak menjawab. Di dadanya ada sesuatu yang tidak tenang, meski di permukaan ia berusaha tersenyum. “Ya mungkin keberuntungan aja kali…” katanya lemah. Tapi ada untungnya juga dia harus pergi ke Singapore, setidaknya dia bisa menenangkan diri apalagi adegan semalHari itu langit mendung. Jesslyn turun ke basement dengan langkah cepat, membawa berkas penting untuk rapat sore. I

  • Behind the Ring   Bab-100

    “Apa yang kamu lihat kemarin belum cukup untuk membuatmu sadar, Nona Jesslyn?”Langkah kaki Jesslyn terhenti langsung, tanpa menoleh pun dia tahu siapa yang berbicara padanya siang ini. Noah? Yang melihat hal itu hanya mengintip dari kejauhan dan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.Dengan telat dan keberanian yang mendalam. Wanita itu membalik badannya dan tersenyum kecil. “Jadi anda sudah tau Nyonya Yoora?”“Ya … aku tahu segala hal, Jesslyn.” Katanya dengan elegant.Jesslyn tertawa kecil. “Segitunya ya Anda ingin saya hancur?”Dengan perkataan itu Yoora tidak suka. Dia melemparkan tatapan tajam dan menusuk untuk Jesslyn. Seolah tatapan itu sebuah peringatan kalau Jesslyn tidak akan memiliki celah untuk kembali pada Christian. Wanita itu hanya ingin yang terbaik untuk Christian, tidak ada

  • Behind the Ring   Bab-99

    Udara malam itu berat. Langit Ibukota gelap tapi tak hujan, hanya kelam dan pengap seperti menyimpan sesuatu yang ingin meledak. Jesslyn memandangi pesan singkat dari Christian di layar ponselnya — hanya satu baris.“Datang ke apartemen dulu, aku perlu bicara.” ucap Jesslyn membuka pesan masuk dari Christian.“Kenapa Jess?” Tanya Rhea yang melihat wajah Jesslyn berubah total.“Gue harus pergi, nanti gue balik lagi.” Tidak ada emoji, tidak ada nada lembut seperti biasanya. Datar, dingin. Tapi justru itu yang membuat dada Jesslyn bergetar hebat. Ia tak tahu kenapa, tapi langkah kakinya terasa berat menuju lift rumah Rhea. Seakan setiap detik mendekatkan dirinya pada sesuatu yang tidak siap dihadapi.Begitu pintu apartemen itu terbuka, aroma ruangan langsung memukul memorinya. Dulu, tempat ini menjadi rumah Christian bersama Hanna — sebelum semuanya berantakan, sebelum Christian memilih tinggal bersamanya. Jesslyn menatap dinding yang masih menyimpan bingkai foto lama yang belum dicopot

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status