LOGINArman sadar bekerja menjadi office boy saja mungkin tidak cukup menyenangkan istrinya. Tapi apapun ia akan lakukan demi Keysha sampai setiap hari diam-diam istrinya sering pulang larut malam membawa pulang barang mewah, bahkan pulang dalam bekas kecupan di lehernya. Kecurigaannya membawa Arman ke tempat rahasia istrinya yang terungkap. Namun bukannya menemukan istrinya, ia malah dianggap talent film biru. Awalnya, Arman hanya ingin membongkar kebohongan Keysha. Namun, ketika pekerjaan itu menawarkan uang besar sekaligus jalan menuju kehidupan yang tak pernah bisa diraihnya. Mengapa ia tak mencoba? Jika Keysha ternyata berani bermain api di belakangnya, mengapa Arman harus terus menjadi suami setia?
View MoreArman sadar bekerja menjadi office boy saja mungkin tidak cukup menyenangkan istrinya.
Bahkan malam ini ia mengurungkan niatnya membeli sebungkus rokok demi membeli martabak kesukaan Keysha. Tidak masalah. Malam ini ia membawa kabar baik yang jauh lebih berharga untuk Keysha. Setelah bertahun-tahun menjadi pekerja alih daya, akhirnya ia diangkat sebagai pegawai tetap. Arman sudah membayangkan wajah Keysha ketika mendengar kabar itu. Mulai bulan depan, pendapatannya akan bertambah lima ratus ribu rupiah. Langkah Arman mendadak terhenti ketika lampu motornya menyorot lima kardus yang bertumpuk di depan pintu kontrakan. “Paket lagi?” bisik Arman pelan. Arman mematikan mesin motor, lalu berjongkok. Jemarinya meraba resi di salah satu kardus untuk memeriksa nama penerima. Keysha Amanda. Alamatnya benar. Nomor telepon istrinya juga tercetak jelas di sana. Dada Arman bergemuruh pelan. Kemarin Keysha baru saja membawa pulang dua kantong pakaian baru. Sebelumnya, ia membelikan ponsel untuk adiknya dan mengirim satu dus besar peralatan dapur mahal kepada ibunya. Arman tidak pernah mempermasalahkan Keysha membantu keluarganya. Namun, selama tiga bulan terakhir, seluruh gaji Arman selalu diserahkan utuh kepada Keysha. Setelah membayar sewa kontrakan, tagihan listrik, dan kebutuhan makan harian, uang yang tersisa di rekening bahkan tidak mencapai satu juta rupiah. Dari mana uang untuk membeli semua kemewahan ini? Arman mengangkat kardus-kardus berat itu ke dalam rumah. Kontrakannya kosong, dingin, dan gelap. Nasi di dalam penanak sudah dingin dan mengeras, sementara lauk di dalam tudung saji tidak tersentuh sedikit pun sejak pagi. Sekarang sudah lewat pukul sepuluh malam. Arman meletakkan kantong martabak di atas meja makan. Keinginan hangat untuk memberikan kejutan bahagia perlahan hilang. Hampir pukul sebelas malam ketika irama ketukan sepatu hak tinggi terdengar menyapu semen lorong luar. Keysha melangkah masuk, dengan balutan blus putih rapi dan rok hitam selutut. Rambutnya ditata halus. Persis seperti orang pekerjaan. Tapi.. sejak kapan istrinya bekerja kantoran? Seketika, aroma parfum mahal yang pekat segera memenuhi ruang kontrakan sempit dan lembab itu. “Mas? Kenapa lampunya enggak dinyalain?” tanya Keysha, suaranya sedikit tersentak. Arman tidak menjawab. Ia mengulurkan tangan, menekan sakelar dan menyalakan lampu meja. Cahaya kuning yang menyala langsung jatuh pada tas kulit kecil berwarna merah yang menggantung di bahu Keysha. Tas itu pun baru. “Kamu dari mana?” tanya Arman datar. Keysha membetulkan posisi tali tasnya dengan gerakan agak canggung. “Acara.” “Acara siapa?” Arman menatap lurus ke matanya. Keysha terdiam. Hanya sesaat, tetapi jeda singkat itu sudah cukup bagi Arman untuk menangkap adanya keraguan dan kebohongan di sana. “Tempat teman aku kamu gak kenal.” lanjut Keysha cepat, mencoba terdengar santai. “Aku bantu-bantu kalau ada acara.” “Dibayar?” tanya Arman lagi. Keysha mendengkus pelan. “Ya dibayar, lah.” “Berapa?” Raut wajah Keysha langsung berubah keruh, tatapannya menajam. “Kenapa jadi interogasi begini?” Arman mengulurkan tangan, menunjuk tumpukan paket yang berjejer di lantai dekat pintu. “Karena gajiku enggak cukup buat beli semua itu.” Keysha membuang muka. “Aku enggak pakai uang kamu.” “Makanya aku tanya berapa kamu dibayar sampe bisa belanja sebanyak ini.” Suara Keysha memantul keras di dinding kontrakan. “Aku capek harus mikir dua kali cuma buat beli baju. Aku capek lihat teman-temanku bisa jalan-jalan, punya rumah, punya mobil, sementara aku masih tinggal di kontrakan sempit!” “Aku sedang mengusahakan semuanya.” “Sampai kapan?” Keysha menunjuk seragam biru muda yang masih melekat di tubuh Arman. “Aku capek hidup begini terus. Masa sampai tua suamiku cuma jadi OB?” Arman menghela napas berat, mencoba menetralkan rasa sesak di dadanya seraya melangkah pelan berniat nyusul Keysha ke kamar. Namun, tepat saat jemarinya baru mau menyentuh gagang pintu, Arman menghentikan langkahnya seketika. Dari balik pintu kamar yang sedikit renggang, terdengar suara Keysha sedang menerima panggilan telepon. "Halo Kakak..." suara Keysha terdengar samar, tapi kali ini nadanya berubah sangat manja dan penurut. Arman perlahan memiringkan posisinya, lalu mengintip melalui celah pintu kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia melihat Keysha duduk di tepi kasur sambil mengusap rambutnya, terkekeh pelan dengan senyum yang terus mengembang lebar di wajahnya saat mengobrol di telepon. "Aman kok, Kak... Tadi aku udah dikasih sama si Bunga, katanya harus diminum malam ini sama besok pas sebelum mulai," tutur Keysha renyah seraya tersenyum manis ke arah cermin. Obat? Arman membeku kaku di depan celah pintu. Pekerjaan apa yang mengharuskan Keysha menyembunyikannya dari suami? * Arman berdiri kaku di dekat pintu kamar seraya merapikan seragam kerjanya. Jarum jam dinding sudah menunjukkan waktu yang mengharuskannya segera berangkat, tetapi pikirannya masih tertahan pada pertengkaran semalam. Di depan meja rias, Keysha tampak santai mengoleskan lipstik merah muda ke bibirnya. Gerakannya begitu tenang seolah pertengkaran dan kebohongan semalam tidak pernah terjadi di antara mereka. Arman menghela napas pelan, berusaha meredam gejolak di dadanya sebelum melangkah mendekati istrinya. "Key, kamu pergi lagi hari ini?" tanya Arman pelan, menatap pantulan wajah Keysha dari cermin. Keysha menghentikan gerakan jemarinya sejenak tanpa menoleh sedikit pun. "Iya." Jawaban singkat dan dingin itu membuat Arman terdiam sejenak di tempatnya. Ia ingin bertanya lebih lanjut tentang siapa teman yang dimaksud atau ke mana tujuan Keysha hari ini. Namun, bayangan pertengkaran hebat semalam membuatnya ragu dan memilih menahan diri. “Aku berangkat kerja dulu," ucap Arman singkat. "Iya," sahut Keysha seadanya, kembali fokus merapikan rambutnya di depan cermin. Arman meraih tas kerjanya di atas meja lalu melangkah keluar rumah dengan dada yang terasa sesak. Ia memacu motor matiknya membelah kemacetan pagi, berusaha mengalihkan pikiran dari sikap dingin istrinya. Setibanya di kantor, Arman langsung mengambil peralatan kebersihan dan menyibukkan diri dengan rutinitas. Saat ia sedang menyapu koridor utama, nada dering ponsel di saku celananya bergetar nyaring. Arman merogoh saku, mendapati nama Budi—teman dekatnya yang bekerja sebagai driver ojol—terpampang di layar. "Kenapa, Bud?" sapa Arman santai seraya menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya. "Man, Bini lu kerja di gedung ya sekarang? Bohay bener sekarang.” Kerja? “Liat dimana, Bud?” Suara dari seberang bersamaan suara deru jalanan bising membuatnya terdiam. “Nih gue liat di Gedung Altama. Pinter juga lo cari bini.”Dada Arman masih naik turun teratur, irama napasnya beradu dengan deru tipis angin malam yang bertiup di gang sempit itu. Layar ponsel di genggamannya baru saja meredup, menyisakan jejak percakapan dengan Fony yang terus menari-nari di ruang matanya.Lima juta rupiah untuk satu kali produksi.Angka itu terus berputar di dalam kepalanya, memukul mundur seluruh prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Sebagai seorang pekerja biasa di bagian kebersihan, gaji pokok Arman bahkan tidak mencapai empat juta rupiah dalam sebulan penuh. Uang itu harus ia peras lewat cucuran keringat dari pagi hingga malam, menggosok lantai dan membersihkan sisa kotoran orang-orang elite."Lima juta..." bisik Arman pelan.Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang tak pernah absen menyapa setiap awal bulan. Sewa kontrakan sempit ini, biaya listrik, belanja harian, hingga cicilan motor tua yang kerap menyerap sisa gajinya tanpa ampun. Jika ia memegang lima juta rupiah setiap beberapa hari sekali, ia
“Saya tidak tertarik.”Arman mengembalikan kartu nama Fony, lalu menekan tombol lift. Pengalaman beberapa menit di dalam studio tadi sudah cukup membuatnya memahami jenis produksi yang dijalankan perempuan tersebut.Fony menerima kartunya tanpa terlihat tersinggung.“Tidak masalah.” Ia menyelipkan kartu itu kembali ke saku kemeja Arman. “Simpan saja. Siapa tahu kebutuhan membuatmu berubah pikiran.”Arman mengeluarkan kartu itu lagi. “Saya datang untuk mencari istri saya, bukan pekerjaan.”“Dan saya sudah menjawab bahwa Keysha bukan talent kami.” Fony melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu ingin menemukan jawabannya, cari tahu siapa yang mengantarnya ke gedung ini.”Pink Swan jelas menjalankan jenis produksi yang tidak pernah dibayangkan Arman. Namun, Fony tidak mengenal Keysha sebagai talent. Nama istrinya juga tidak terdaftar di perusahaan tersebut.Artinya, selama ini Arman mengejar arah yang salah.Keysha memang datang ke Gedung Altama, tetapi bukan untuk bekerja di Pin
“Mas baru pertama, ya?”“Pertama apaan?” Arman makin tidak yakin bahwa perusahaan ini perusahaan aneh!“Sudah, jangan banyak tanya.” Perempuan pembawa obat menekan tablet itu ke telapak tangan Arman. “Obatnya aman. Semua talent pria juga pakai kalau diperlukan.”Arman mengembalikan tablet tersebut. “Saya enggak akan minum obat yang enggak jelas.”“Kalau nanti susah berdiri bagaimana?”“Saya bisa berdiri sendiri.” Tawa kecil kembali terdengar di ruangan itu. Namun, tidak satu pun dari mereka menjelaskan maksud perkataan tersebut kepada Arman.Seorang staf datang membawa celana berbahan tipis dan menyerahkannya kepadanya. “Ganti pakai ini.”Arman membentangkan pakaian tersebut. Bentuknya menyerupai celana pendek, tetapi ukurannya terlalu kecil dan bahannya begitu tipis. “Saya disuruh pakai ini?”“Iya. Kemeja sama celananya dilepas semua.”“Memangnya saya mau melakukan apa?”“Kok banyak tanya, sih?” Staf itu melihat jam tangannya. “Naskah dan arahannya nanti dijelaskan sutradara. Sekaran
Semalaman Arman tidak berhasil memejamkan mata.Setelah Keysha masuk kamar, ia kembali duduk di sofa dan membuka mesin pencarian melalui ponselnya. Nama suplemen yang ditemukan di antara barang-barang istrinya dimasukkan ke kolom pencarian.Beberapa hasil segera muncul.Produk tersebut memang suplemen impor untuk menjaga stamina. Komposisi, izin edar, serta toko yang menjualnya tercantum dengan jelas. Tidak ada kandungan aneh seperti yang sempat dicurigainya.Arman kemudian mengambil kartu nama yang ditemukan di dalam tas Keysha.Kartu hitam itu hanya memuat sebuah logo angsa berwarna merah muda, nama Fony Allister, nomor kontak perusahaan, dan tulisan Pink Swan Production.Arman mencari nama perusahaan tersebut.Situs resmi Pink Swan muncul di halaman pertama. Mereka menangani iklan, video musik, pemotretan model, hingga produksi film untuk pasar luar negeri. Portofolionya terlihat cukup besar dan profesional.Alamat kantornya tercantum di Gedung Altama.Semuanya terlihat legal.Namu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.