LOGINRaka dikhianati istrinya yang muak hidup sederhana. Saat rumah tangganya hancur, dua perempuan justru hadir membantunya bangkit: atasannya yang kaya dan adik iparnya yang selama ini melihat penderitaannya. Perhatian mereka membuat Raka kembali percaya diri, tetapi juga memunculkan persaingan yang tak pernah dia duga. Ketika mantan istrinya mengetahui kehidupan baru Raka, apa yang harus Raka lakukan dengan adik dan bosnya?
View More“Nghh… enak banget, Ka,” ucap Amara dengan sedikit mengeluarkan desahan kecil.
“Beneran enak, Bu?” tanya Raka pelan. “Em, ah… beneran, Ka. Enak banget ini nggh…” jawab Amara diselingi lenguhan pelan yang lolos dari bibirnya. “Sudah pas, Bu Amara? Nggak berlebihan, kan tenaga saya?” tanya Raka, memastikan kenyamanan dari bosnya. “Tidak kok, pas banget ini tenaga kamu, Ka. Enak banget, Ka” jawab Amara lirih. Matanya terpejam, merasakan kenikmatan setiap sentuhan dari asisten pribadi yang baru seminggu ini bekerja padanya. Dengan telaten Raka memijat Amara. Dimulai dari pundaknya, hingga kepala bagian belakang. “Ini uratnya tegang banget, Bu. Bu Amara kecapean banget ini, ya,” kata Raka saat merasakan urat bagian pundak dan tubuh belakang Amara yang kencang. “Mpphh, iya. Beberapa hari ini saya banyak kerjaan. Susah tidur juga. Lanjut lagi, Ka. Pinter banget kamu mijitnya,” puji Amara. Raka yang dipuji hanya tersenyum tipis. Jujur sebenarnya ini adalah pertama kalinya ia memijat seseorang yang bukan keluarganya. Entah karena merasa nyaman atau memang sengaja ingin menggoda Raka, Amara memundurkan posisi duduknya hingga menyentuh tubuh pria itu. Kebetulan sofa tersebut tidak memiliki sandaran, sehingga punggungnya langsung bersentuhan dengan dada Raka. Gerakan pelan Amara yang sengaja menggesekkan punggungnya mulai membuat Raka gelisah. Pria itu semakin yakin sang bos sedang menggodanya, terutama saat gesekan itu perlahan menyentuh area intimnya yang kini mulai berdenyut tegang. “Gila si bos sengaja banget ini," batin Raka panik. "Lagian ngapain pakai mendesah segala? Kayak lagi diapain aja. Gimana kalau ada yang dengar?" Pria yang bernama lengkap Raka Aryasena itu menarik napas dengan kuat, dan menghembuskannya kasar untuk menenangkan diri. Ia tidak mau terpancing, apalagi dirinya baru dua minggu bekerja sebagai asisten sekaligus sopir pribadi dari bos wanitanya ini. Jangan sampai dirinya kembali kehilangan pekerjaan. Raka sebelumnya bekerja seorang ahli IT di sebuah perusahaan start up. Namun perusahaan itu mendadak gulung tikar karena penipuan dari orang terdekat sang owner hingga dirinya bersama ratusan karyawan lain harus mengalami yang namanya PHK. Demi menyambung hidup bersama sang istri, Raka menerima tawaran dari iklan media sosial untuk menjadi asisten pribadi sekaligus sopir seorang bos wanita yang cantik dan seksi. Walaupun penghasilannya tidak seberapa, setidaknya ia masih bisa menafkahi istrinya untuk sementara waktu, menjelang seluruh aset miliknya kembali. Kini Raka mulai merasa situasi semakin berbahaya. Demi menghentikan kegilaan itu, ia memutuskan untuk menyudahi sesi pijat punggungnya. "Bagaimana, Bu? Sudah mendingan?" tanya Raka, mencoba terdengar biasa saja. "Eh—iya, Ka. Badan saya sudah enakan sekarang," sahut Amara, sedikit gelagapan. "Mpph, Raka, kamu kalau mijat bagian yang lain, mau?" Raka yang sudah tidak kuasa menahan suara-suara laknat dari Amara, hanya bisa dia, sampai akhirnya Amara memegang tangan Raka. “Di sini, Ka di bagian ini. Pijatanmu enak banget, sayang kalau mijat bagian punggung aja.” Amara yang sudah mengangkat kedua kakinya ke atas meja menarik tangan Raka untuk segera melakukan pijatan. Raka semakin gelisah, apalagi rok ketat di atas lutut yang dipakai Amara kini semakin naik ke atas hingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus. “Cepat dong, Ka," desak Amara karena melihat Raka hanya diam dan tak kunjung melangkah maju. “I–iya, Bu.” Raka melangkah ke depan, tetapi mendadak bingung harus mengambil posisi di mana. Jika berjongkok di lantai, pandangannya akan langsung berhadapan dengan sepasang kaki mulus bos cantiknya. Namun jika ikut duduk di sofa, ia merasa kurang sopan jika harus berdampingan dengan sang atasan. “Ayo, Ka. Tunggu apa lagi. Kaki saya pegel banget ini, mau merasakan lagi pijatan enak kamu yang tadi.” Amara mulai gelisah Raka tidak juga melakukan perintahnya. Akhirnya dengan tekad yang bulat, Raka memilih untuk duduk jongkok di depan kaki Amara yang panjang. Dengan mencoba bersikap tenang, Raka memulai kembali sesi pijatnya. “Mmph ya… enak banget, Ka.” Amara terus saja mengeluarkan kata-kata yang bisa saja membuat orang salah paham dengan apa yang mereka lakukan di dalam ruangan tertutup itu. Tidak hanya itu, Raka pun semakin dibuat gelisah karena suara-suara desahan yang terdengar manis dan gurih itu berhasil membuat sesuatu di dalam dirinya ingin meledak keluar. “Sialan, harus cepat-cepat keluar dari sini, daripada terjadi sesuatu yang diharapkan,” pikir Raka lagi. Pria itu terus mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaannya di tengah gangguan yang mulai menggoyahkan hatinya. Kini bukan lagi suara desahan saja, namun kedua kaki Amara mulai bergerak dan saling menggesek hingga membuat rok pendeknya semakin tertarik ke atas. Raka terus mencoba menatap ke depan tanpa ingin menoleh ke sesuatu yang seakan-akan mulai melambai-lambai ke arahnya. “Fokus, Raka. Fokus!” Raka terus menyemangati dirinya agar tidak tergoda oleh perbuatan gila Amara. “Tujuanmu untuk bekerja, bukan mau buat skandal dengan atasanmu.” Kata demi kata peneguh terus Raka lontarkan dalam hati. Namun tetap saja dirinya mulai merasa goyah, saat Amara kini kembali memegang lengannya yang kokoh. “Ka…” panggil Amara pelan dan suara yang terdengar menggoda. Merasa cukup, Raka langsung menghentikan pijatan di kaki Amara. “Maaf, Bu, saya harus pulang. Istri saya menunggu di rumah,” ucapnya tegas, seakan ingin mengingatkan Amara kembali jika dirinya sudah menikah. Wajah Amara tampak tidak senang saat Raka menghentikan sepihak pijatan itu, apalagi Raka berkata harus pulang karena ada istrinya yang menunggu di rumah. “Ya sudah, pulanglah,” ucapnya pasrah dengan nada tidak senang. “Besok jemput aku di rumah jam tujuh pagi.” “Baik, Bu. Saya permisi dulu.” Raka bergegas keluar dari ruangan mewah yang mendadak terasa menyesakkan itu. Ia berjalan cepat menuju lobi untuk mengambil mobil Amara. Sang bos memang sudah mengizinkannya membawa pulang mobilnya malam ini, karena Amara sendiri akan dijemput oleh temannya. Tiba di dalam mobil, Raka membuka kancing kemejanya bagian atas, dan melonggarkan celananya yang terasa sesak. “Sial. Aku harus cepat sampai di rumah. Semoga Vanessa sudah pulang.” Raka ingin sesegera mungkin tiba di rumah, menuntaskan hasrat yang bangkit akibat godaan bos cantik nan seksinya. Namun baru saja mobil menyala, ponsel miliknya yang ada di dalam saku bergetar singkat. Raka merogohnya, melihat sebuah pesan singkat yang dikirim oleh teman lamanya. Tubuh Raka seketika membeku dengan napas memburu begitu pesan itu terbuka. Tangannya mengepal kuat menahan gejolak amarah yang mendadak membakar dada. “I-ini… Ini foto istriku? Istriku sama pria lain?” Meski foto tersebut agak buram, Raka sangat yakin wanita yang sedang dirangkul mesra oleh seorang pria di lobi hotel mewah itu adalah istrinya.Pagi harinya setelah selesai mandi, ponsel Raka bergetar hebat di atas meja nakas kamarnya. Begitu melihat nama Bianca berkedip di layar, Raka langsung menggeser tombol hijau dengan firasat yang mulai tidak enak. "Halo, Bi? Ada apa?""Kak Raka… hiks… Kakak di mana?" Suara Bianca terdengar bergetar hebat, disusul suara tangisan yang tertahan. "Mama sama Kak Vanessa udah pulang semalam. Mereka… mereka berdua kayak orang gila, Kak!"Raka langsung bangkit dari posisi duduknya dengan rahangnya yang mengeras. "Mereka ngapain kamu, Bi? Jawab yang jelas.""Mereka marah-marah ke aku, Kak! Kak Vanessa teriak-teriak nanyain aku ngomong apa ke kak Raka, terus Mama ikut-ikutan bentak aku. Mereka bilang kalau Kak Raka itu sopir kurang ajar yang nggak tahu diri. Terus… terus Mama ancam mau ngusir aku dari rumah ini kalau sampai Kak Raka buat Kak Vanes hancur! Kak, ini kan rumah Ayah… hiks… kenapa mereka jahat banget?"Amarah di dada Raka kembali tersulut, namun kali ini ia menanggapi situasi dengan
Malam itu, gerbang besi megah di kediaman Valerine baru saja ditutup rapat setelah mobil sedan yang membawa Amara dan Raka masuk ke area carport. Setelah seharian penuh menjalani pekerjaan yang melelahkan, Amara langsung melangkah menuju bangunan utama untuk mandi dan beristirahat.Sementara Raka memilih berjalan menuju paviliun belakang untuk mandi dan mengistirahatkan tubuhnya.Baru saja Raka selesai mandi dan memakai kaos santai rumahan, ponselnya di atas meja nakas mendadak bergetar hebat. Nama Bu Sri berkedip-kedip di layar.Raka mengernyitkan dahi lalu mengangkatnya. "Halo, Bu Sri? Ada apa?""Pak Raka! Duh, tolong ke depan gerbang utama sekarang, Pak!" suara Bu Sri terdengar panik dan berbisik dari ujung telepon. "Ada perempuan ngamuk di luar pagar. Dia teriak-teriak manggil nama Pak Raka sampai satpam kewalahan menahannya. Katanya dia istri Pak Raka!"Rahang Raka seketika mengeras. Matanya berkilat dingin. "Vanessa…" desisnya parau. "Iya, Bu Sri. Saya langsung ke depan sekarang
Tepat pukul dua belas siang, Raka melangkah keluar dari ruangan driver di lantai bawah. Ia menaiki lift eksekutif menuju lantai teratas, menepati janjinya pada Amara.Ketika pintu lift terbuka di lantai paling atas, Raka berjalan tenang melewati meja sekretaris. Emma yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung mendongak dan tersenyum penuh arti. "Siang, Pak Raka. Wah, tepat waktu banget ya. Bu Amara udah menunggu di dalam dari sepuluh menit yang lalu. Masuk aja, Pak, makan siangnya sudah diantarkan ke dalam.""Siang, Bu Emma. Terima kasih ya," jawab Raka ramah dan dengan dahi yang sedikit berkerut melihat senyuman aneh di wajah wanita muda itu. Tak mau berpikir lama, Raka mengetuk pintu kayu besar itu dua kali sebelum memutar kenopnya.Begitu pintu terbuka dan Raka melangkah masuk, suara pintu yang terkunci otomatis langsung berbunyi di belakangnya. Di dalam ruangan yang sejuk dan wangi itu, Amara rupanya sudah melepaskan blazer kerjanya, dan menyisakan kemeja putih sutra yang mel
Mobil putih mewah milik Amara akhirnya berbelok memasuki area pelataran lobi kantor. Sebelum Amara sempat meraih gagang pintu belakang untuk turun, Raka memutar tubuhnya sedikit dari balik kemudi, menatap wanitanya lewat celah kursi dengan tatapan serius."Ra, sebelum kamu turun, aku mau minta izin sesuatu," ujar Raka pelan.Amara menghentikan gerakannya, menatap Raka bingung. "Izin apa, Ka? Kamu mau ke mana?""Aku mau izin untuk menunggu di ruangan khusus para driver aja hari ini. Tempat biasa aku nongkrong sebelum hubungan kita sedekat sekarang," jelas Raka. "Pekerjaan kamu hari ini padat, dan kalau aku terus-terusan di ruangan kamu seharian kayak kemarin, aku takut staf kantor atau bahkan sekretaris kamu, mulai curiga yang nggak-nggak. Kita harus tetap jaga profesionalitas di depan mereka."Mendengar penuturan Raka, Amara langsung mendesah berat. Wajah cantiknya cemberut, enggan dipisahkan dari pria tegap itu walau hanya beberapa jam.Namun, setelah menimbang sejenak dan logikanya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews