MIDNIGHT TRANSFER

MIDNIGHT TRANSFER

last updateLast Updated : 2026-05-16
By:  AzkaihzaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
10Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sinopsis — MIDNIGHT TRANSFER Pada pukul 02:13 dini hari, hidup Azka berubah hanya karena satu notifikasi. Sebuah transfer USDT bernilai kecil masuk ke wallet pribadinya dari akun asing tanpa identitas. Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah pesan singkat: “Kalau suatu hari aku hilang, cari aku di Tokyo.” Sebagai broker transaksi digital internasional yang terbiasa menghadapi dunia gelap crypto dan private deal miliaran dolar, Azka mengira itu hanyalah pesan aneh biasa. Sampai ia mengenal pengirimnya. Elena Huang. Wanita misterius yang selalu online tengah malam, berbicara seolah sedang melarikan diri dari sesuatu. Cantik, elegan, cerdas, namun penuh rahasia. Semakin sering mereka berbicara, semakin Azka merasa Elena bukan sekadar wanita biasa. Ia hidup menggunakan identitas palsu. Selalu berpindah negara. Dan selalu takut diikuti seseorang. Hubungan mereka berkembang menjadi kedekatan yang intens, obsesif, sekaligus berbahaya. Di balik hotel-hotel mewah, transaksi crypto rahasia, dan dunia elite internasional, Azka perlahan menemukan organisasi gelap bernama EDEN—kelompok yang mampu menghapus identitas, memanipulasi ingatan manusia, dan mengendalikan kehidupan seseorang dari balik layar. Namun semakin dalam Azka mencari kebenaran tentang Elena, semakin besar fakta yang mulai menghancurkan dirinya sendiri. Karena mungkin… ia pernah menjadi bagian dari organisasi itu. Dan mungkin… seluruh hidup yang ia ingat hanyalah ingatan yang sengaja diciptakan. Di dunia tempat cinta dan kebohongan berjalan berdampingan, Azka harus memilih: menyelamatkan Elena… atau menyelamatkan dirinya sendiri sebelum semuanya terlambat.

View More

Chapter 1

02:13

CHAPTER 1

02:13

Jam di pojok kanan layar laptop menunjukkan 02:13 pagi ketika notifikasi itu muncul.

1 USDT RECEIVED

Aku mengangkat sebelah alis.

Satu dolar.

Jumlah yang terlalu kecil untuk dianggap penting, tapi terlalu aneh untuk dikirim pada jam seperti ini.

Di dunia tempatku hidup, orang tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Terutama transaksi.

Aku bersandar di kursi apartemen sambil memutar pelan gelas kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Di luar jendela, Jakarta masih hidup dalam warna-warna neon dan suara hujan tipis yang membasahi kaca gedung.

Kota ini aneh.

Siang hari semua orang pura-pura normal.

Malam hari, semua rahasia mulai bekerja.

Aku hampir menutup wallet dashboard itu sebelum mataku menangkap sebuah memo kecil di bawah detail transaksi.

Kalimat pendek.

Tidak lebih dari satu baris.

Namun cukup untuk membuat jemariku berhenti bergerak.

“Kalau suatu hari aku hilang, cari aku di Tokyo.”

Aku diam.

Ruangan apartemen mendadak terasa lebih sunyi daripada biasanya.

AC tua di sudut ruangan berdengung pelan. Lampu meja memantulkan warna kekuningan ke layar laptop. Di ashtray, dua batang rokok habis terbakar sendiri.

Tapi pikiranku tertahan di satu kalimat itu.

Tokyo.

Aku membaca ulang memo tersebut.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu tertawa kecil sambil menggeleng.

“Siapa sih yang ngirim beginian jam dua pagi…”

Namun anehnya aku belum menutup transaksi itu.

Instingku mengatakan ada sesuatu yang salah.

Aku membuka detail wallet pengirim.

Address baru.

Tidak ada riwayat berarti.

Tidak ada pola transaksi besar.

Tidak ada hubungan dengan jaringan OTC yang kukenal.

Bersih.

Terlalu bersih.

Dan dalam dunia transaksi digital, sesuatu yang terlalu bersih biasanya justru paling kotor.

Aku mengetik cepat di keyboard, membuka beberapa tools tracking dan explorer yang biasa kupakai untuk membaca pola perpindahan aset.

Tetap nihil.

Wallet itu seperti muncul dari kehampaan hanya untuk mengirim satu dolar kepadaku.

Satu dolar dan satu pesan aneh.

Aku menyandarkan kepala sambil menatap langit-langit apartemen.

Sudah hampir lima tahun aku hidup di dunia ini.

Dunia private deal. Broker transaksi. Middleman internasional. Orang-orang yang menyembunyikan wajah mereka di balik angka dan password.

Aku sudah bertemu banyak manusia aneh.

Scammer. Investor gila. Orang kaya yang paranoid. Sampai pria-pria elite yang membeli identitas baru hanya untuk menghilang dari negara asal mereka.

Tapi malam ini terasa berbeda.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

aku merasa sedang diawasi.

Notifikasi Telegram masuk tepat ketika rokok ketigaku menyala.

Aku melirik layar ponsel.

Nomor anonim.

Tidak ada foto profil.

Tidak ada bio.

Tidak ada username.

Hanya satu simbol kecil:

“ . ”

Aku terkekeh pelan.

“Dramatis juga…”

Pesan masuk.

Unknown:

Jangan balas pesan ini kalau kamu ingin hidupmu tetap tenang.

Aku tersenyum tipis.

Sudah lama tidak ada yang mencoba mengancamku dengan cara menarik.

Jariku mulai mengetik.

Aku:

Terlambat. Aku penasaran sekarang.

Typing…

Berhenti.

Typing lagi…

Lalu sebuah foto masuk.

Aku otomatis memperbesar gambar itu.

Seorang wanita duduk sendiri di dekat jendela hotel.

Lampu kota malam memantul di kaca belakangnya. Wajahnya setengah tertutup bayangan, tapi cukup jelas untuk membuatku terdiam beberapa detik.

Cantik.

Bukan cantik yang ramai dan mudah ditebak.

Bukan tipe perempuan sosialita yang sibuk mencari validasi.

Dia terlihat seperti seseorang yang tahu dirinya menarik… dan tidak peduli tentang itu.

Rambut hitam panjang jatuh rapi melewati bahu. Bibirnya memegang gelas wine merah. Tatapan matanya dingin namun lelah.

Tatapan orang yang terlalu sering kecewa.

Aku memperbesar detail foto.

Di pantulan kaca belakang terlihat tulisan samar:

TOKYO.

Dadaku terasa aneh.

Entah kenapa.

Lalu pesan berikutnya masuk.

Unknown:

Sekarang kamu sudah terlibat.

Aku menghembuskan asap rokok perlahan.

Aku:

Siapa kamu?

Typing…

Cukup lama.

Lalu balasan muncul.

Unknown:

Seseorang yang tidak punya banyak waktu.

Aku memiringkan kepala.

Aku:

Dan kenapa aku?

Tidak ada jawaban.

Sebagai gantinya, panggilan suara masuk tiba-tiba.

Nomor anonim.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

Hening.

Tidak ada suara.

Hanya napas pelan di seberang sana.

Lalu akhirnya suara wanita itu terdengar.

Lembut.

Tenang.

Namun ada kelelahan yang sulit dijelaskan.

“Kamu masih sering insomnia?”

Aku membeku.

Mataku langsung menyipit.

“Kita kenal?”

Tidak ada jawaban langsung.

Hanya suara hujan di seberang telepon.

Dan entah kenapa… suara bandara.

Pengumuman samar.

Langkah kaki manusia.

Lalu wanita itu bicara lagi.

“Aku harap kamu belum berubah terlalu banyak, Azkaihza.”

Jantungku berhenti sepersekian detik.

Sudah lama tidak ada orang yang memanggil nama lengkapku seperti itu.

Orang-orang biasa memanggilku Azka.

Hanya sedikit yang tahu nama lengkapku.

Dan lebih sedikit lagi yang tahu jam-jam di mana aku biasanya terjaga.

Aku duduk tegak.

“Siapa sebenarnya kamu?”

Wanita itu tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Lebih seperti seseorang yang lelah dengan hidupnya sendiri.

“Kalau aku jawab sekarang… kamu mungkin akan menutup telepon.”

“Coba saja.”

Hening beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan:

“Namaku Elena.”

Elena.

Nama itu terdengar asing.

Namun anehnya dadaku terasa seperti pernah mengenalnya.

Aku tidak suka perasaan itu.

Karena biasanya insting seperti ini selalu berakhir buruk.

Di tempat lain.

Tokyo.

Hujan turun lebih deras di balik kaca hotel lantai tiga puluh tujuh.

Elena Huang berdiri sendirian memandangi kota yang dipenuhi cahaya.

Gaun hitamnya jatuh sempurna mengikuti tubuh rampingnya. Di meja belakang, laptop terbuka memperlihatkan deretan data transaksi dan beberapa passport dari negara berbeda.

Tangannya sedikit gemetar ketika memegang ponsel.

Di layar masih terlihat panggilan terakhir:

AZKAIHZA — 12 minutes

Ia menutup mata perlahan.

Seolah menyesali sesuatu.

Pintu suite tiba-tiba terbuka.

Seorang pria masuk dengan langkah tenang dan jas abu gelap yang terlalu rapi untuk jam tiga pagi.

Vincent Laurent.

Tatapan pria itu langsung jatuh pada Elena.

“Kamu menghubunginya lagi.”

Bukan pertanyaan.

Elena tidak menjawab.

Vincent berjalan mendekat sambil menuang wine merah ke gelas kristal.

“Aku pikir kita sudah sepakat untuk tidak melibatkan dia.”

Elena menatap lampu kota Tokyo.

“Dia memang sudah terlibat sejak awal.”

Vincent tersenyum tipis.

Senyum pria yang terlalu tenang untuk dipercaya.

“Dan itu alasan kenapa banyak orang akan mati nanti.”

Elena menggenggam ponselnya lebih erat.

Tatapannya perlahan berubah kosong.

Seolah ia tahu sesuatu yang bahkan lebih mengerikan daripada ancaman Vincent.

Kembali ke Jakarta.

Aku masih menatap layar chat anonim itu.

Panggilan tadi sudah berakhir tiga menit lalu.

Namun pikiranku belum kembali normal.

Ada sesuatu dalam suara Elena yang menggangguku.

Bukan karena dia terdengar takut.

Justru karena dia terdengar seperti seseorang yang sudah terbiasa hidup dalam ketakutan.

Aku membuka profil anonim itu lagi.

Tetap kosong.

Lalu sebuah pesan baru muncul.

Elena:

Jangan percaya siapa pun setelah malam ini.

Belum sempat aku membalas, chat itu langsung hilang.

Deleted account.

Aku terdiam.

Lalu layar laptopku berkedip.

Satu notifikasi baru muncul dari wallet explorer.

Transfer sebelumnya baru saja dipindahkan lagi.

Jumlahnya berubah.

Bukan lagi satu dolar.

Melainkan:

7,000,000 USDT

Mataku langsung membesar.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup di dunia transaksi gelap…

aku merasa benar-benar takut.

Karena aku sadar satu hal.

Wanita bernama Elena Huang baru saja menyeretku ke sesuatu yang jauh lebih besar daripada uang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status