登入Usai melihat keadaan Arina aku tidak langsung pulang tetapi aku terus melajukan mobilku ke sebuah club' malam.
Sudah lama aku tidak minum, selama di Surabaya aku berubah menjadi lelaki baik-baik yang bekerja keras dan tidak suka keluyuran malam demi menarik perhatian Arina—lebih tepatnya Florina. Di ruang VIP aku langsung disambut oleh kedua teman dekatku. Abbas dan Tian. "Akhirnya muncul juga," sapa Tian. "Hai," balasku malas-malasan. Aku duduk di sofa dan memijat pelipisku sendiri yang terasa berdenyut. Sementara Abbas segera menuangkan bir ke gelas dan memberikannya padaku. Aku meminumnya seteguk demi seteguk. Lidahku seorang terbakar, tetapi membuat pikiran aku sedikit melayang jauh lebih baik dari sebelumnya. "Setelah menikah baru datang, pasti siang malam terus menghajar sang istri ya?" goda Tian. Aku hanya memutar bola mata dengan malas, fokus menikmati minuman beralkohol agar diriku bisa tenang. "Maaf aku tidak bisa datang, saat itu aku demam. Aku ucapkan selamat ya, akhirnya kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau" sela Abbas. "Tidak apa-apa. Oh iya, nanti kamu aku angkat sebagai sekertaris aku ya? Besok aku sudah ganti profesi, menggantikan posisi papa!" pintaku pada Abbas. "Siap, Bos!" jawab Abbas sangat senang. "Dan Tian, istriku nanti akan masuk kuliah. Kamu tolong pantau dia ya, jangan biarkan ada lelaki yang mendekatinya!" titahku. "Beres, aku akan menjaga kakak ipar dengan baik!" jawab Tian." Aku tidak sabar bertemu dengan istrimu, aku sudah melihat di foto, cantik sekali." "Lusa ada acara penyambutanku, aku akan mengajaknya!" ucapku. Di antara kami, Tian yang paling muda sendiri, baru berusia 30 tahun dan menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Jakarta. Sementara Abbas sama sepertiku, berusia 36 tahun. Abbas menjalani kehidupan bebas, tidak mau menikah. Makanya tidak heran sudah jam tiga malam masih keluyuran di club' malam dengan bebas. Mereka berdua saudara sepupu, sejak kecil memang Tian terbiasa mengekori aku dan Abbas saat main, hal itu terbawa hingga sekarang. "Bagaimana keadaan Arina?" tanya Abbas. "Sesuai yang aku harapkan," jawabku tersenyum puas. "Sampai kapan kamu akan menyekap Arina?" tanyanya lagi. "Entahlah. Aku takut kalau dia aku lepaskan, nanti dia akan membongkar semuanya ke Florina. Aku tidak siap kehilangan Florina!" tegasku. "Kamu tidak berniat untuk menyingkirkan nyawa Arina bukan?" sela Tian. "Aku tidak sekeji itu," sergahku. " Menurut kalian aku harus bagaimana? Aku tidak mau Florina sampai tahu tentang semua ini?" tanyaku meminta pendapat. "Aku juga bingung. Andaikan aku jadi Arina, begitu dilepaskan juga akan membawa Florina pergi jauh darimu!" jawab Abbas. "Kalau gitu biarlah Arina terkurung di sana saja." Itu satu-satunya agar keadaan aman terkendali pikirku. "Apakah mengurungnya selamanya? Kurasa itu tidak manusiawi." "Terus mau bagaimana lagi? Kalau aku lepaskan apakah Arina akan diam saja? Dia tentu akan melaporkan aku ke kantor polisi. Dari yang aku perhatikan dia tidak begitu mementingkan perasaannya, melainkan dia lebih khawatir dengan Florina," tegasku. Dari sepemahamanku memang begitu, Arina jauh lebih realistis. Dia hanya memikirkan uang dan hidup enak. Tak heran tanpa rasa malu mendekatiku karena tahu aku kaya raya. "Udah jangan bahas ini lagi, sebaiknya ayo kita minum!" ajak Abbas kembali membuka sebotol bir. "Aku tidak mau minum lagi, besok aku sudah mulai ke kantor. Terlebih lagi jangan sampai Florina tahu kalau aku mabuk!" tuturku. Aku tidak mau citra yang sudah susah payah aku bangun selama ini hancur. Aku harus membuat Florina jatuh cinta padaku. Aku pun segera berpamitan pulang. Sesampainya di rumah aku meminum obat anti mabuk, aku juga membersihkan tubuhku dan berganti pakaian agar saat Florina terbangun dia tidak mencium alkohol dari tubuhku. Sebelum tidur, aku memandangi wajah Florina untuk sejenak. Manis sekali, wajah teduh yang menenangkan jiwaku. Ku kecup lagi bibirnya, sama sekali tidak ada rasa bosan. Sebenarnya kalau aku mau, bisa saja aku memaksa Florina untuk memberikan aku hak sebagai suami. Tapi yang aku inginkan adalah cinta tulus, dengan begitu Florina akan menyerahkan dirinya sendiri dengan suka rela. "Ahh, aku mengaku kalah. Aku benar-benar jatuh cinta dengan gadis kecil yang usianya separuh dari usiaku. Tapi aku tidak akan menyerah, aku yakin Florina suatu saat bisa mencintaiku." Beberapa bulan mengenal Florina, aku tahu apa yang gadis ini butuhkan. Tidak cukup sekedar uang, melainkan kasih sayang. Karena sejak kecil Florina haus akan kasih sayang. Aku hanya perlu memposisikan diri sebagai ayah, suami dan juga sahabat baginya. Florina gadis lembut, tidak boleh mendengar suara nada tinggi. Florina juga gadis yang tidak enakan, kalau mau apa-apa jangan dipaksa melainkan dibujuk dengan ekspresi memelas."Aku mencintai kamu. Bahkan mungkin lebih dari itu."Kalimat itu bergema di kepalaku, terus-menerus, seperti gema azan di tengah kesunyian. Tak peduli seberapa keras aku mencoba fokus pada materi kuliah atau obrolan teman-teman, semuanya hanya kabur.Begitu sampai di parkiran, aku melihat mobil Kak Dipta sudah terparkir rapi seperti biasa. Dia turun dan membukakan pintu untukku, sesuatu yang selalu kulihat biasa saja... tapi entah kenapa sore ini terasa berbeda. Ada getaran kecil di dada yang sulit dijelaskan.“Ada yang mau kamu ceritain?” tanyanya setelah kami duduk di dalam mobil, suaranya tetap lembut tapi matanya... mengamatiku dengan cermat. Terlalu cermat.Aku menggeleng pelan, sambil menatap keluar jendela.“Capek aja, Kak,” jawabku pendek.Mobil melaju perlahan menyusuri jalan yang masih lengang. Hujan belum turun, tapi udara sudah sangat lembap, menyesakkan dada.“Ra,” panggilnya lagi, nada suaranya lebih serius
Aku tidak tahu cinta itu apa.Dan mungkin, aku belum pernah benar-benar merasakannya.Tapi yang pasti… aku juga tidak membenci Kak Dipta, meski pernikahan ini terjadi karena keadaan yang memaksaku memilih. Aku tidak pernah membencinya. Justru sebaliknya—aku menghormatinya, sama seperti dulu. Seperti saat aku masih kecil dan dia adalah sosok kakak yang dewasa, tenang, dan selalu bisa diandalkan.Pagi itu, ketika aku masih terlelap, suara lembutnya membangunkanku.“Ra,” panggilnya dari luar kamar. “Subuh, yuk. Aku tunggu di ruang tengah.”Butuh beberapa detik bagiku untuk benar-benar terjaga. Tapi suara itu... begitu akrab dan menenangkan. Suara yang sudah lama tak kudengar dalam jarak sedekat ini. Aku bangkit pelan, mengenakan mukena, lalu berjalan ke ruang tengah dengan langkah ragu.Kak Dipta sudah berdiri di sana, mengenakan sarung dan kaus panjang berwarna abu. Cahaya lampu yang temaram membuat bayangan tubuhnya jatuh ke arah
Kali ini aku terbangun lebih dulu, masih pukul dua dini hari.Cahaya lampu tidur menyinari wajah Kak Dipta yang terlelap di sampingku. Napasnya tenang, dan aku bisa melihat garis rahangnya yang kokoh, alis yang teratur, dan bulu mata yang panjang.Aku memeluk bantal sambil tetap menatapnya. Wajah itu... terlalu dekat. Terlalu nyata. Terlalu hangat.Seseorang yang dulu kupanggil “Kakak”, kini adalah laki-laki yang halal untuk kupeluk setiap malam. Kadang rasanya masih seperti mimpi.Tiba-tiba, mata itu terbuka.Aku tersentak kecil, buru-buru membuang muka. Tapi terlambat. Dia sudah melihatku.“Lihat-lihat apa?” tanyanya pelan, suaranya berat dan serak karena baru bangun.Aku menggigit bibir. “Nggak... cuma kebangun aja.”Dia tersenyum setengah. “Kebangun sambil mandangin aku?”Aku mendengus pelan, pura-pura memunggunginya. “Sok tahu.”Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa tubuhnya bergerak, mendekat. Tangan hangatnya menyentuh lenganku, membuat jantungku berdebar lebih cepat.“Ra,”
Kali ini aku terbangun lebih dulu, masih pukul dua dini hari.Cahaya lampu tidur menyinari wajah Kak Dipta yang terlelap di sampingku. Napasnya tenang, dan aku bisa melihat garis rahangnya yang kokoh, alis yang teratur, dan bulu mata yang panjang.Aku memeluk bantal sambil tetap menatapnya. Wajah itu... terlalu dekat. Terlalu nyata. Terlalu hangat.Seseorang yang dulu kupanggil “Kakak”, kini adalah laki-laki yang halal untuk kupeluk setiap malam. Kadang rasanya masih seperti mimpi.Tiba-tiba, mata itu terbuka.Aku tersentak kecil, buru-buru membuang muka. Tapi terlambat. Dia sudah melihatku.“Lihat-lihat apa?” tanyanya pelan, suaranya berat dan serak karena baru bangun.Aku menggigit bibir. “Nggak... cuma kebangun aja.”Dia tersenyum setengah. “Kebangun sambil mandangin aku?”Aku mendengus pelan, pura-pura memunggunginya. “Sok tahu.”Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa tubuhnya bergerak, mendekat. Tangan hangatnya menyentuh lenganku, membuat jantungku berdebar lebih cepat.“Ra,”
Malam itu, selepas akad nikah yang sunyi dan tergesa, aku pulang sendirian. Bukan ke rumah orang tua atau hotel bulan madu. Tapi ke rumah tempat seharusnya aku dan Naraya memulai kehidupan baru sebagai suami istri.Namun tidak ada Naraya di sana.Dia masih di rumah sakit. Bersikeras ingin menemani Papanya yang belum juga sepenuhnya pulih. Berkali-kali aku menatap ponsel, ingin meneleponnya, mengajaknya bicara, tapi kuketahui sejak lama: aku bukan orang yang bisa memaksa Naraya. Apalagi sekarang, setelah semua luka dan kebekuan ini tumbuh begitu kuat di antara kami.Keesokan paginya, aku menjalani rapat besar pertamaku sebagai CEO pengganti Om Abimanyu. Semua beban tiba-tiba menumpuk di atas pundakku. Mulai dari perubahan strategi hingga proyek ekspansi yang harus kutandatangani. Hari itu aku bicara lebih banyak dengan para direktur daripada dengan istriku sendiri.Dan saat semuanya usai… langkahku tak membawaku pulang.Aku kembali ke rumah sakit. Karena hanya itu satu-satunya tempat y
Ruangan ICU itu dingin. Bau alkohol medis dan desinfektan menusuk hidung. Tapi yang membuatku menggigil bukan suhu udara, melainkan kenyataan bahwa pria yang selama ini kupanggil Om Abimanyu—sosok yang lebih dari sekadar ayah angkat bagiku—terbaring lemah dengan selang infus dan monitor detak jantung di sisi ranjangnya.Naraya duduk di sisi kanan, menggenggam tangan papanya yang dingin. Matanya sembab, napasnya gemetar. Aku berdiri di sisi lain, diam. Tak berani menatap Naraya terlalu lama karena rasa bersalahku jauh lebih besar dari rasa sedih yang kupunya.Tante Florina berdiri di belakang kami, tangannya terus mengelus punggung Naraya. Tapi matanya berkaca-kaca melirik ke arahku,“Tadi kata dokter kena liver. Karena kebiasaan buruk semasa muda yang terlalu banyak mengonsumsi alkohol, ” katanya lirih.Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa tercekat.Lalu tiba-tiba, Om Abimanyu membuka matanya perlahan. Sadar. Walau lemah, matanya masih tajam menatap kami satu per satu. Seolah sedang me
Usai sarapan di restoran, Om Abimanyu mengajak aku untuk mencari mama. Tempat pertama yang kita tuju adalah kantor tempat mama bekerja. Tetapi sesampainya di sana mama tidak ada, malah katanya mama sudah mengundurkan diri lima hari yang lalu dengan alasan ingin fokus menjadi IRT setelah menikah. "
Saat terbangun, Om Abimanyu sudah berada di sisiku. Di antara kami ada pembatas bantal guling sehingga membuat aku merasa tenang. Ternyata Om Abimanyu memang dapat dipercaya.Aku termenung untuk sejenak, Om Abimanyu benar-benar tampan. Aura dominan dan wibawanya sangat kuat. Tidak heran jika mamaku
Rumah lantai tiga ini memiliki banyak kamar, lalu kenapa Om Abimanyu memintaku satu kamar dengannya? Meskipun kami sudah menikah tapi hubungan itu hanya sebatas di atas kertas."Jangan salah paham, Flo. Tentu aku tahu batasan. Tapi orang tuaku sering ke sini, dan Pak Rasyid adalah orang kepercayaan
Seminggu setelah mama menghilang, tidak ada kabar sama sekali dari pihak kepolisian. Mama seperti hilang ditelan bumi. Sementara Om Abimanyu katanya harus kembali ke Jakarta, mendapat panggilan kerja dari papanya. Karena orang tua Om Abimanyu ingin pensiun, makanya Om Abimanyu berhenti bekerja seb







