مشاركة

Bab 2

مؤلف: Masatha
last update تاريخ النشر: 2025-08-21 10:44:41

Saat terbangun, Om Abimanyu sudah berada di sisiku. Di antara kami ada pembatas bantal guling sehingga membuat aku merasa tenang. Ternyata Om Abimanyu memang dapat dipercaya.

Aku termenung untuk sejenak, Om Abimanyu benar-benar tampan. Aura dominan dan wibawanya sangat kuat. Tidak heran jika mamaku sangat mencintai Om Abimanyu, tapi kenapa mama tiba-tiba pergi di hari pernikahan yang begitu penting? Pertanyaan yang membuat aku bingung dan heran.

Meskipun mamaku adalah sosok wanita tangguh dan kuat, tapi aku khawatir terjadi sesuatu.

Bertepatan aku selesai mandi, Om Abimanyu sudah bangun.

"Bagaimana tidurmu malam ini, apakah nyenyak?"

"Nyenyak, Om. Mungkin karena aku kelelahan makanya sampai bangun kesiangan," jawabku malu-malu.

"Tak masalah, kau tak perlu canggung denganku. Aku akan mandi, setelah itu kita sarapan bersama."

Aku mengangguk patuh, usai Om Abimanyu masuk ke kamar mandi akupun memakai skincare dan make up natural. Sembari menunggu aku kembali menghubungi ponsel mama, tapi nomor mama masih tidak aktif. Aku sangat sedih, cemas dan juga takut. Aku khawatir, bagaimana dengan kondisi mama sekarang?

Saat Om Abimanyu selesai mandi, sepertinya lelaki itu tahu akan kesedihanku. Om Abimanyu mengusap lembut puncak kepalaku. Membuatku merasa sedikit tenang.

"Setelah sarapan kita akan mencari mamamu."

"Iya, Om. Terima kasih."

Dari yang aku tahu, Om Abimanyu adalah mantan kekasih mama saat SMA. Kisah mereka begitu mengharukan karena akhirnya bersatu lagi di masa kini. Pastinya Om Abimanyu sangat sedih karena mama tiba-tiba menghilang di hari pernikahan.

Di restoran, Om Abimanyu memesankan makanan kesukaan aku. Pasti Om Abimanyu tahu dari mamaku. Saat kami mulai makan tiba-tiba muncul seorang wanita dewasa yang berpakaian glamour dan berkelas bak model.

"Abimanyu—dia istrimu?"

"Iya. Kamu kenapa datang kemari?" tanya Om Abimanyu datar.

"Sebagai teman, aku merasa sedih karena kamu tidak mengundang aku."

"Kamu di Jakarta, yang aku undang hanya teman di Surabaya."

"Bagaimana kamu bisa berspekulasi begitu jika kamu tanya saja tidak?" sela wanita itu lalu duduk di antara kami tanpa segan.

Aku menatap Om Abimanyu, sepertinya dia paham akan dari tatapan aku.

"Dia Intan, teman kerjaku saat di Jakarta," ucap Om Abimanyu.

"Salam kenal, aku Florina," sapaku ramah.

"Aku intan, oh iya usia kita sepantaran tapi kamu masih terlihat seperti anak muda. Tidak heran selama ini Abimanyu tidak bisa move on dariku," sela Intan dengan tatapan iri.

"Sepertinya Tante Intan salah paham, mungkin yang kamu maksud adalah mamaku. Kalau aku memang baru berusia 18 tahun," selalu mencoba meluruskan.

"Apa? Jadi—kamu putrinya Arina?" pekik Intan syok, lalu menatap Om Abimanyu penuh tanda tanya. Tapi Om Abimanyu acuh tak acuh.

Aku hanya mengangguk, tidak heran jika bisa salah mengenali karena aku dan mama memiliki wajah yang hampir mirip. Bedanya jika kulitku lebih putih dan tubuhku lebih tinggi sedikit sedikit.

"Tadi kamu bilang dia istrimu, kok kamu malah menikahi putrinya Arina?" tanya Intan menatap heran, tapi Om Abimanyu hanya memberikan ekspresi datar.

"Tante Intan mengenal mama?" tanyaku penasaran.

"Tidak, tapi aku pernah melihat foto mama di kamar Abimanyu."

Sepertinya hubungan pertemanan mereka begitu dekat, sampai membuat Tante Intan masuk ke kamar Om Abimanyu.

"Terus mama kamu dimana? Kok kalian hanya berdua?" tanya Tante Intan nampak semakin penasaran.

"Intan, kami sedang makan. Tolong jangan ganggu kami," sela Om Abimanyu dengan wajah datar.

Tante Intan terdiam, bahkan akupun takut jika Om Abimanyu sedang mode serius.

"Maaf, kalau gitu selamat makan. Oh iya, aku juga pindah kerja di Surabaya dan satu rumah sakit denganmu. Nanti tolong bimbing aku ya?" pinta Tante Intan sembari mengedipkan sebelah matanya.

Om Abimanyu nampak panik lalu menatap ke arahku, sementara aku pura-pura tidak melihat apa-apa.

Usai Tante Intan pergi, akupun memberanikan diri untuk bertanya.

"Tante Intan dan Om Abimanyu sangat dekat ya? Apakah kalian kenal sejak lama?"

"Cukup lama, kami dulu kuliah bersama dan kebetulan kerja di satu rumah sakit yang sama."

"Tante Intan sepertinya menyukai Om Abimanyu," ujarku iseng.

"Kami cuma teman. Dan aku tidak punya perasaan apapun padanya!" tegas Om Abimanyu.

"Yah, aku percaya. Karena pastinya hati Om Abimanyu hanya untuk mama. Kalau tidak sudah pasti sejak dulu Om Abimanyu menikahi tante Intan."

Om Abimanyu sama sekali tidak bereaksi, tapi tatapannya begitu dalam sehingga membuat aku tidak tahan untuk saling bertemu mata dalam waktu yang lama.

"Flo, lain kali jangan bahas tentang wanita lain!"

Aku mengangguk, aku paham mungkin takut jika kelak membuat mama salah paham.

"Jadi kita kapan mengurus perceraian kita, Om?" tanyaku kemudian.

"Saat ini fokus kita adalah mencari mama kamu, dan selama kamu mencari istriku maka kamu adalah tanggung jawabku. Lusa kita pindah ke rumahku!"

Lagi-lagi aku hanya mengangguk patuh, sebab di rumah kalau tidak ada mama aku sendirian. Dan aku takut. Selama ini saat mama tidak pulang, maka aku akan meminta teman untuk menemaniku.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 50

    Tujuh tahun telah berlalu sejak badai besar dalam hidup kami reda. Waktu seperti berlari, membawa banyak perubahan—tapi satu yang tak pernah berubah adalah kehangatan yang diciptakan oleh keluarga kecil kami. Kini, rumah ini tidak lagi hanya berisi kenangan, tapi juga harapan yang perlahan tumbuh dengan manis.Naraya kini berusia tujuh belas tahun. Gadis kecil kami telah tumbuh menjadi sosok muda yang memikat—tidak hanya karena kecantikannya yang alami, tapi juga karena kepintarannya yang luar biasa. Sejak usia belia, Naraya sudah menunjukkan bakat besar di dunia seni. Kini, karya-karyanya sebagai pelukis muda dikenal luas, bahkan beberapa dipamerkan di galeri nasional. Orang-orang menyebutnya pelukis jenius.Tapi bagiku dan Florina, dia tetap Naraya kecil kami. Anak perempuan yang suka mencoret-coret tembok dengan krayon, dan dengan polosnya bilang itu "lukisan langit".Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Aku dan Florina bersiap menjemput Dipta di bandara. Bukan anak kandun

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 49

    Sudah seminggu sejak Deni pergi.Rumah ini kembali tenang. Bahkan bisa dibilang... terlalu tenang. Tidak ada suara ribut-ribut di pagi hari, tidak ada rebutan remote TV, tidak ada piring pecah karena tangan kecil yang belum terlatih. Tapi ketenangan ini, anehnya, tidak membawa kedamaian.Aku tahu Florina masih menyimpan kecewa. Meskipun ia tidak lagi melontarkan protes secara langsung, ada jeda yang terasa di antara kami. Keheningan yang seolah berkata: kamu membuat keputusan sendiri, Abi. Tanpa aku.Dan Naraya...Anak itu... berubah.Biasanya, bangun tidur Naraya akan langsung berlari ke dapur untuk memeluk Florina. Ayau bermain bersama Devan.Sekarang, dia hanya duduk termenung di tepi tempat tidurnya, memeluk boneka kelinci putih kesayangannya—yang selama ini dia namai Mimi.Mimi yang dulu selalu ia ajak bicara, kini hanya jadi teman diam yang dipeluk erat. Matanya yang biasanya ceria berubah sayu. Suaranya menjadi lirih, dan cara dia menatapku… membuat dadaku terasa berat.Pagi it

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 48

    "Aku akan melaporkan Warni ke polisi,” ucapnya pelan, nyaris dingin.Aku mendongak dari meja, tubuhku langsung menegang. “Apa?”“Aku serius.” Ia melangkah masuk. “Dia mencuri kondom bekas kita, Abi. Dia memperkosamu secara biologis. Dia membuat hidup kita jungkir balik tanpa izin.”“Flo...” Aku berdiri, mencoba mendekat. “Aku tahu Warni salah. Tapi... menyeretnya ke penjara? Itu keputusan berat.”“Bukan berat. Tapi adil.” Dia menatapku lurus. “Apa yang dia lakukan bukan hanya menjijikkan, tapi kriminal. Dia harus bertanggung jawab. Kita nggak bisa membiarkan perempuan kayak dia lepas tanpa hukuman.”Aku menelan ludah. Paru-paruku terasa sesak.“Dan soal Deni…” lanjutnya, nada suaranya melunak. “Aku akan merawatnya.”Jantungku mencelos.“Apa maksudmu?”“Aku sudah bicara dengan pengacara. Warni akan ditahan sementara penyidikan berjalan. Dan Deni... akan dititipkan ke kita.”“Tidak!” suaraku langsung naik satu oktaf. “Aku nggak setuju. Aku nggak mau dia tinggal di sini, Flo. Aku takut..

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 47

    Malam itu seharusnya menjadi malam tenang. Aku sudah menyiapkan kopi hangat kesukaan Florina. Kami duduk di beranda belakang rumah, menghadap taman kecil yang kini menjadi tempat favorit Naraya melukis. Bocah perempuan kecil itu terlihat begitu serius dengan kanvas dan cat air di depannya. Sesekali dia memandang kami, tersenyum malu-malu, lalu kembali menorehkan warna.Florina bersandar di pundakku. Tangannya menggenggam mug berisi kopi, aroma hazelnut menyatu dengan udara malam yang lembut. Kami tidak banyak bicara. Hanya saling menatap, saling menikmati keheningan dan rasa damai yang jarang kami dapatkan belakangan ini sejak bisnis makin sibuk.Namun kedamaian itu hancur dalam sekejap.Pintu depan rumah diketuk. Awalnya kupikir tetangga atau petugas keamanan komplek. Tapi ketika aku membuka pintu, napasku tercekat.Dia berdiri di sana. Perempuan itu.Warni.Mantan asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumahku beberapa tahun lalu. Wajahnya masih sama meski lebih tirus, lebih le

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 46

    Pada akhirnya aku tidak jadi ke kantor, usai percintaan yang hebat dengan istriku aku memilih mengerjakan pekerjaan aku di rumah. Toh hari ini tidak ada jadwal pertemuan sebab dibatalkan oleh pihak klienku sebab istrinya masuk rumah sakit. Sementara istriku? Dia tidur. Yah, dia kelelahan. Walau usia kami berjarak 18 tahun tapi aku rajin olah raga. Sbil istirahat, aku menelpon Dipta. Perbedaan jam, di sana malam hari. Dipta baru saja pulang dari kegiatan belajarnya. Siang harinya, istriku terburu-buru masuk ke ruang kerjaku. Katanya ada pemberitahuan Naraya pulang lebih awal sebab ada rapat guru dadakan.Akupun bergegas meraih kunci mobil, mengajak istriku untuk segera berangkat.Matahari belum terlalu terik saat aku mematikan mesin mobil di pelataran sekolah Naraya. Florina duduk di sebelahku, mengenakan blus warna krem lembut yang membuat wajahnya terlihat semakin teduh. Ia menoleh ke arah pagar sekolah, mengedarkan pandangan mencari sosok mungil yang kami cintai.“Belum keluar ju

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 45

    Malam itu hujan baru saja reda.Tetes air masih menggantung di ujung daun palem depan rumah. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu taman. Aku baru saja selesai menutup laptop ketika terdengar suara bel dari arah pagar.Florina berjalan ke arah pintu. Aku menyusul, dan bersama-sama kami membuka.Di hadapan kami berdiri sepasang suami-istri berwajah ramah. Perempuan itu memeluk bingkisan berbalut kain batik, sementara suaminya tersenyum sopan sambil memegangi tangan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.“Permisi, maaf mengganggu malam-malam begini,” kata si pria dengan logat Sunda yang halus. “Kami tetangga baru. Baru tadi sore pindahan dari Bandung.”“Oh, selamat datang,” aku segera menyambut dan membukakan pintu pagar lebih lebar. “Silakan masuk. Nama saya Abimanyu. Ini istri saya, Florina.”Florina tersenyum hangat. “Senang sekali bisa kenalan. Ayo, jangan sungkan.”“Kami cuma mampir sebentar,” ujar istrinya. “Ini oleh-oleh kecil, ada bolen pisang dan peuyeum Bandung. E

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status