LOGINRumah lantai tiga ini memiliki banyak kamar, lalu kenapa Om Abimanyu memintaku satu kamar dengannya? Meskipun kami sudah menikah tapi hubungan itu hanya sebatas di atas kertas.
"Jangan salah paham, Flo. Tentu aku tahu batasan. Tapi orang tuaku sering ke sini, dan Pak Rasyid adalah orang kepercayaan mama. Akan aneh jika kita pisah kamar," sela Om Abimanyu. Aku merenung untuk beberapa saat, tetap saja aku tidak bisa untuk tidur dengan seseorang yang seharusnya menjadi calon papa tiriku. "Aku akan tidur di sofa, kita tidak perlu seranjang, Flo. Yang penting tidak menimbulkan kecurigaan saja," timpal Om Abimanyu dengan wajah memelas. Pada akhirnya aku menganggukkan kepala, memangnya bisa apa aku? Sudah diberi tempat tinggal dan dicukupi biaya kebutuhan serta pendidikan saja harusnya aku sudah bersyukur. Toh yang penting Om Abimanyu orang yang bisa dipercaya. "Kamu bisa meletakkan pakaian kamu di sana." "Iya, Om—eh Abi." "Bagus. Aku mau mandi dulu, kamu bisa bereskan barang-barangmu!" Usai Om Abimanyu masuk ke kamar mandi, akupun bergegas membuka koper dan meletakkan barang-barang milikku ke walk in closet. Sungguh besar sekali kamar ini, bahkan kamar mandi saja lebih besar dari kamar aku. Mana balkonnya juga menghadap ke arah taman. Sepertinya jika pagi hari atau malam hari duduk di sini akan sangat menenangkan. Andai mama tidak menghilang secara tiba-tiba, sudah pasti mama akan bahagia karena tingal di sini. Ma ... Sebenarnya apa yang terjadi? Mengingat mama membuat pikiran aku terkuras dan tubuh aku lelah, akupun rebahan diranjang berniat untuk istirahat sejenak. Tapi siapa sangka jika aku akan tertidur. Saat terbangun langit sudah gelap, akupun segera mandi lalu keluar dari kamar. Rumah sebesar ini terasa begitu sepi. Karena para pelayan selesai bersih-bersih akan berada di rumah khusus yang berada di belakang rumah utama. Mereka muncul jika dipanggil saja. Apakah Om Abimanyu menjalani hari-harinya seperti ini? "Flo, kamu sudah bangun? Aku baru saja ingin membangunkanmu, ayo kita makan! Sebentar lagi mama dan papa akan ke sini!" ajak Om Abimanyu dengan senyuman manisnya. "Iya," jawabku patuh. Tak lama kemudian Mama Melinda dan Papa Wijaya datang, mereka membawakan banyak hadiah untukku. Aku sungkan untuk menerima, tapi Om Abimanyu memberi isyarat agar aku menerimanya. "Terima kasih, Ma, Pa," ucapku canggung. "Sama-sama, kamu tidak perlu sungkan begitu. Kamu adalah menantu kami, seperti anak kami sendiri," jawab Papa Wijaya dengan ramah. "Besok ada acara arisan di rumah mama, kamu harus datang ya? Pokoknya mama mau memamerkan menantuku yang cantik ini pada teman-teman," timpal Mama Melinda bangga. "I—iya, Ma," jawabku semakin gugup. Usai makan malam bersama, kami mulai mengobrol santai di ruang keluarga. Mereka mendukung penuh jika aku akan melanjutkan pendidikan. Disaat aku merasa duniaku gelap, ada setitik cahaya yang menyinariku. Seolah aku memiliki keluarga utuh setelah sekian lama aku selalu hidup kesepian. Pukul sepuluh malam kedua mertuaku pamitan untuk pulang. Lalu Om Abimanyu mengajak aku untuk istirahat Ke kamar. "Kamu bisa tidur di ranjang, Flo. Aku akan tidur di sofa," tutur Om Abimanyu. Aku merasa tidak enak, di sini aku hanya pendatang sementara tuan rumah adalah Om Abimanyu. Mana mungkin aku membiarkan sang pemilik rumah malah tidur di sofa. "Om, tidak apa-apa tidur ranjang toh ukurannya juga besar. Tinggal taruh bantal guling di tengah-tengah seperti saat kita di hotel Surabaya." "Kamu yakin?" tanya Om Abimanyu nampak terkejut. "Iya. Aku tidak tega kalau Om Abimanyu tidak nyaman tidurnya, sementara besok Om Abimanyu mulai bekerja," jawabku sungguh-sungguh. "Oke, terima kasih." "Kenapa harus terima kasih? Seharusnya aku yang berterima kasih karena sudah mau menampung aku." "Hm. Memang itu kewajiban aku. Oh iya, kenapa kamu panggil aku Om lagi? Bukankah kita sudah sepakat panggil aku Abi?" "Maaf ya, Om. Aku sungguh tidak bisa. Bagaimana kalau aku panggil Abi saat ada orang lain. Jika hanya kita berdua aku tetap panggil Om?" pintaku memelas. "Terserah kamu," jawab Om Abimanyu langsung tiduran. "Selamat malam, Om," ucapku sebelum memejamkan mata. "Iya, selamat malam, Flo." Suara Om Abimanyu terdengar merdu di telinga, dewasa dan juga lembut. Jika berbicara selalu menggunakan nada rendah, tapi penuh wibawa dan sorot mata yang tegas. Akupun mulai memejamkan mata, besok sesuai jadwal aku akan ke rumah mertua aku. Bagi orang introvert sepertiku butuh tenaga lebih untuk berhadapan dengan orang banyak. Saat aku terlelap, aku mendengar suara mama yang terus menyebut namaku. Aku juga melihat mama tengah disekap di gedung kosong. Mama ketakutan, mama menangis putus asa. "Mama!" Aku terbangun, rupanya aku bermimpi. Tapi mimpi itu seolah nyata sampai aku menangis histeris. "Flo, tenanglah. Kamu cuma mimpi," ucap Om Abimanyu yang sudah berada di sisiku. "Hiks ... Om, aku mimpi mama disekap, mama menangis dan meminta tolong ..." rengekku reflek memeluk Om Abimanyu saking takutnya. "Jangan menangis, besok aku akan menyuruh orang untuk melacak mama kamu lagi ya," bujuk Om Abimanyu sembari mengusap punggungku. Sudah sejak lama aku tidak merasakan sebuah pelukan. Mamaku tipe wanita yang tidak suka menunjukkan kasih sayang lewat pelukan. Terakhir aku dipeluk oleh papaku saat papa masih hidup. Pelukan Om Abimanyu begitu hangat, memberikan sebuah ketenangan yang tidak bisa aku ungkapkan. Seperti pelukan almarhum papa.Suami dan Papa mertuaku tiba-tiba masuk kembali ke ruangan. Wajah mereka pucat, cemas... dan ada kegelisahan yang tidak bisa mereka sembunyikan. Aku langsung merasa ada yang tidak beres.Om Abimanyu—suamiku—langsung menghampiriku, tanpa berkata-kata, dia memelukku erat. Sangat erat, seakan mencoba menahan tubuhku agar tidak runtuh. Pelukannya begitu kuat, penuh kegelisahan yang sulit dijelaskan.“Aku mohon... sabar ya, Sayang,” bisiknya lirih di telingaku. “Kamu harus kuat.”Jantungku berdetak tak karuan. Tanganku refleks mencengkeram bahunya.“Ada apa, Om?” suaraku bergetar. “Kenapa... kenapa kalian begini? Om... bilang!”Dia menunduk. Matanya memerah.“Mama...” Suaranya terputus. “Mama kamu... beliau enggak bertahan, Florina.”Dunia seketika runtuh di sekelilingku. Kepalaku seperti dipukul palu godam. Mataku membelalak, tubuhku terasa ringan, dingin, seperti tak bernyawa.“T-tidak...” bibirku gemetar. “Om bohong... Mama masih di ICU! Om bohong!”Aku mendorong tubuh suamiku, berusaha
Ketukan pintu membuat kami berdua tersentak.“Permisi…” suara tenang itu milik seorang pria paruh baya—dokter jaga yang biasa memeriksa pasien di ruang ini. Aku buru-buru mendorong dada Abimanyu, dan dia cepat-cepat menjauh, berdiri seolah tak terjadi apa-apa.Wajahku panas.Astaga... Apa yang barusan terjadi? Bibirku masih bergetar. Ciumannya barusan... hangat. Meski aku marah, meski aku sakit hati, tapi... aku tidak bisa membohongi diri sendiri.Aku merindukan pelukan itu. Aku mendambakan belaian itu. Dan celakanya, aku... menikmati ciuman suamiku.Kupalingkan wajah, mencoba menyembunyikan rona yang membakar pipiku.“Aku masih marah,” desisku pelan, tanpa menatapnya.Abimanyu tidak menjawab. Tapi dari sudut mataku, kulihat ia tersenyum kecil. Tersenyum... seolah tahu bahwa dinding yang kubangun dengan susah payah mulai retak. Dan senyum itu membuatku makin kesal—dan makin kacau.“Selamat pagi, Bu Florina,” sapa dokter sambil membaca catatan di tablet kecilnya. “Kondisi Ibu mulai mem
POV Florina.Aku benci dia...Benci pada cara dia menyebut namaku seolah tak ada yang salah di antara kami. Benci pada ketenangan suaranya, saat jiwaku adalah badai tak bernama. Benci pada kelembutannya, yang kini mulai meretas celah-celah hatiku yang retak.Aku benci Om Abimanyu. Tapi... mengapa di dalam dekapannya, aku merasa damai?Mengapa di tengah gelapnya malam yang tak kukenal, dekapan pria itu justru terasa seperti rumah? Entah ini suara hatiku, atau suara halus dari kehidupan mungil yang kini kutitipkan di rahimku.Mungkin ini cinta. Atau sekadar bias dari rasa lelah yang tak pernah kutumpahkan.Atau mungkin... aku hanya terlalu rindu, terlalu rapuh, terlalu ingin dimengerti.Dia mendekatiku, membawa semangkuk bubur yang mulai hangat dengan uap kesabaran.“Pelan-pelan makannya,” katanya, dengan suara serupa gumaman angin sore yang membelai ubun-ubun.Tangannya menggenggam sendok, lalu menyuapik
POV FlorinaAku kira dengan rasa benci bisa melupakannya, tetapi ketika aku mendapat kabar dari Kak Putra jika Om Abimanyu baru saja keluar dari kamar hotel dengan seorang perempuan hatiku terasa sakit. Ternyata cintaku padanya tak sedangkal itu.Dengan penuh tekat, akupun mengirim pesan untuk bercerai.Bahkan tanganku sampai gemetar, ponsel yang aku pegang terjatuh ke lantai. Begini saja aku sudah tidak mampu menanggungnya, apakah selemah ini diriku? Tiba-tiba terdengar bunyi teriakan dari tetangga, aku yang panik segera menghapus air mata dan keluar dari rumah. "Ada apa?" tanyaku heran. Tapi perasaan aku sudah tidak enak. "Mama kamu—masuk rumah sakit!" "Hah? Kok bisa?" pekikku syok."Tadi katanya di warung ada orang yang menghina kamu, mama kamu nggak terima dan akhirnya mereka berantem. Mama kamu lawan tiga loh, walau menang tapi akhirnya pingsan dan banyak luka."Aku langsung meminta bantuan tet
Aku bukan tipe laki-laki yang senang menghabiskan malam di tempat bising dengan lampu kelap-kelip dan dentuman musik. Tapi malam ini, aku membiarkan diriku hanyut dalam kebodohan yang dirancang oleh dua sahabatku—Tian dan Abbas.Abbas akan segera menikah dan pindah ke Bandung bersama istrinya. Sebuah babak baru dalam hidupnya yang seharusnya dirayakan. Dan Tian, seperti biasa, menyarankan sesuatu yang tidak pernah aku setujui sejak dulu, tapi kali ini aku tak punya tenaga untuk menolak."Ayo, sekali ini aja, Bi. Mumpung kita masih bisa ngumpul bertiga. Nanti kalau kamu sudah punya anak, makin susah kita ketemu," ujar Tian sambil tertawa, menepuk bahu Abbas.Aku hanya mengangguk pelan, mengangkat gelas tanpa semangat. Tenggorokanku terasa pahit, bahkan sebelum alkohol itu menyentuh lidahku.Jujur saja, aku masih belum pulih sepenuhnya dari demam. Tubuhku lelah. Tapi lebih lelah lagi hati ini. Di antara ribuan langkah kaki orang-orang asing malam it
Tubuhku masih belum benar-benar pulih. Tapi berdiam diri di rumah justru membuatku lebih sakit dari sekadar demam.Tiap sudut rumah ini penuh dengan bayang-bayangnya. Bayang seorang perempuan yang masih memanggilku “Om” dengan suara lembut tapi menohok, yang diam-diam mengisi seluruh isi hidupku tanpa izin, dan sekarang memilih pergi, meninggalkanku dengan sunyi yang mencekik.Aku duduk di belakang kemudi, menatap kaca spion.Wajahku pucat. Mata sayu. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dari dada ini yang makin hari makin sesak karena tidak bisa memeluknya.Florina.Aku tahu aku brengsek.Aku tahu aku menyakitimu.Tapi... aku juga manusia. Yang pada akhirnya mencintai lebih dalam daripada yang kuprediksi.Sampai di kantor, semua terasa datar. Lobi yang biasanya aku lewati tanpa pikir sekarang terasa seperti lorong panjang penjara. Senyum para staf tidak menyentuhku hari ini. Tidak ada yang bisa menyentuhku har







