แชร์

Belenggu Mantannya Mama
Belenggu Mantannya Mama
ผู้แต่ง: Masatha

Bab 1

ผู้เขียน: Masatha
last update วันที่เผยแพร่: 2025-08-21 10:44:07

"Om, ini kan gaun pengantin. Kenapa aku harus memakainya?" tanyaku syok bukan main. Pasalnya hari ini adalah pernikahan mama—bukan aku.

"Mama kamu menghilang tanpa jejak, aku sudah berusaha untuk menghubunginya tapi tidak bisa. Tolong selamatkan nama baikku, Flo. Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan seluruh kota!"

Aku tersentak, pasalnya selama sebulan ini mama sangat effort untuk menyiapkan wedding dream. Karena dulu saat menikah dengan mendiang papaku—mereka hanya menikah sederhana tanpa adanya pesta.

"Mama sangat mencintai kamu, Om. Tidak mungkin mama kabur, tadi mama juga datang ke hotel ini bersamaku!" selaku sembari menghubungi nomor mama tapi tidak aktif. Aku juga menghubungi teman-teman mama tapi hasilnya nihil.

"Kita tidak punya waktu lagi, para tamu sudah mulai berdatangan. Ayo buruan kamu pakai gaun ini dan dirias!" pinta calon papa tiriku itu dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca.

Aku tidak tega, bagaimanapun juga selama ini Om Abimanyu sudah membantu banyak hal untuk keluargaku. Dia benar-benar sudah aku anggap sebagai papa aku sendiri.

"Baiklah, tapi setelah ini kita harus mencari mama. Setelah mama ketemu kita mengurus surat cerai," pintaku memastikan.

"Baiklah, yang penting selesaikan dulu pernikahan ini."

Akupun segera memakai gaun pengantin mama, dibantu MUA aku dirias. Meskipun dalam waktu yang cukup singkat tetapi hasilnya sangat maksimal. Aku nampak begitu cantik, bahkan aku sampai tidak mengira jika bayangan dicermin itu adalah diriku sendiri.

Sayangnya aku tidak merasa bahagia, sebab ini bukan pernikahan aku yang sesungguhnya. Hatiku juga bingung kemana mama menghilang begitu saja tanpa kabar?

Menjelang ijab kabul dadaku mulai bergemuruh, harusnya ini adalah tangis bahagia untuk mama tapi justru menjadi hari yang tak terduga untukku. Anehnya dari pihak keluarga Om Abimanyu tidak kaget dengan pergantian mempelai perempuan, mereka justru menyambutku dengan amat baik.

"Cantik sekali, kamu sangat pandai memilih seorang istri," ucap bu Melinda.

"Iya, pantas saja selama ini dijodohkan dengan bangkit perempuan tidak mau. Ternyata karena sudah memiliki pilihan sendiri," timpal pak Wijaya.

Aku tersipu malu, mereka adalah orang tua Om Abimanyu. Dulu aku pernah bertemu sekali saat diajak makan malam bersama. Tapi saat itu mama tidak ikut karena mama tengah ada dinas di luar kota.

Om Abimanyu hanya merespon dengan senyuman, tapi ada kilatan mata yang susah untuk aku pahami maknanya. Om Abimanyu nampak bahagia meski bibirnya tidak tersenyum.

Usai ijab kabul, akupun menemani Om Abimanyu untuk menemui para tamu. Usia kami terpaut jauh, aku 18 tahun sementara Om Abimanyu 36 tahun. Meskipun jaraknya setengah dari umurku, tapi wajah Om Abimanyu nampak masih muda dan terawat.

Pujian demi pujian kami terima, hingga akhirnya pernikahan selesai dengan lancar.

Akupun diajak ke kamar pengantin yang sudah Om Abimanyu disiapkan sebelumnya.

"Om, aku mau pulang saja."

Meskipun aku sudah menjadi istri dari om Abimanyu, tapi bagaimana mungkin aku tidur dengannya satu kamar? Aku tidak mau terjadi salah paham, karena calon istri sesungguhnya adalah mamaku. Aku tidak mau melukai perasaan mama.

"Flo, orang tuaku juga ada di hotel ini. Kalau mereka tahu kita pisah kamar aku harus menjelaskan bagaimana?" tanya Om Abimanyu dengan nada lembut.

"Tapi kan keluarga Om Abimanyu tau kalau calon istrimu adalah mama, bukan aku."

"Mereka belum tahu, karena saat melamar mamamu aku merahasiakannya. Tahu-tahu aku memberikan mereka undangan pernikahan sebagai kejutan."

Aku semakin heran, padahal aku saja pernah diajak makan malam dengan mereka kenapa mama malah belum? Selama ini aku sibuk kuliah, mama sibuk kerja. Kami hanya bertemu saat makan malam dan sarapan. Sehingga aku dan mama jarang mengobrol. Yang kutahu sejak mama memutuskan mau menikah lagi mama nampak bahagia. Setelah itupun aku malah lebih dengan dengan Om Abimanyu, dia menganggap aku seperti anak sendiri.

"Meski kita sekamar, aku akan tidur si sofa. Kamu tidak perlu takut, Flo!" ucap Om Abimanyu memasang wajah datar.

Ketika seperti itu entah kenapa aku menjadi takut dan tidak berani membantah.

"Baiklah," jawabku patuh. "Om, apakah mama sudah ada kabar?" tanyaku cemas.

"Belum, tapi aku sudah menyuruh orang untuk melaporkan ke kantor polisi. Kamu segeralah ganti pakaian dulu dan mandi, setelah itu kita makan malam dan cari mama kamu!"

"Iya, Om."

Ternyata di kamar ini sudah disiapkan baju ganti, peralatan make up dan lengkap dengan kebutuhan aku sebagai perempuan.

Om Abimanyu memang lelaki yang bisa diandalkan. Pantas saja bisa menaklukkan hati mama yang dulunya sudah tidak minat untuk menikah lagi.

Usai mandi dan memakai pakaian, akupun keluar dari kamar mandi. Tetapi kamar kosong, Om Abimanyu tidak ada. Akupun segera menyisir rambut lalu memakai skincare.

Hari ini aku lelah sekali, tak hanya capek secara fisik tapi juga mental. Aku memutuskan untuk menghubungi nomor mama lagi, tapi masih tidak aktif. Akupun mulai meneteskan air mata, di dunia ini aku hanya memiliki mama. Karena sejak kecil papa aku meninggal. Meski mama adalah orang yang tidak suka banyak bicara dan tegas, tapi aku tahu mama sangat menyayangiku dan bekerja keras demi masa depanku.

Saking lelahnya, aku tidur dengan sendirinya. Tetapi antara sadar dan tidak sadar aku mendengar suara Om Abimanyu.

"Serupa, tapi tak sama ..."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 60

    "Aku mencintai kamu. Bahkan mungkin lebih dari itu."Kalimat itu bergema di kepalaku, terus-menerus, seperti gema azan di tengah kesunyian. Tak peduli seberapa keras aku mencoba fokus pada materi kuliah atau obrolan teman-teman, semuanya hanya kabur.Begitu sampai di parkiran, aku melihat mobil Kak Dipta sudah terparkir rapi seperti biasa. Dia turun dan membukakan pintu untukku, sesuatu yang selalu kulihat biasa saja... tapi entah kenapa sore ini terasa berbeda. Ada getaran kecil di dada yang sulit dijelaskan.“Ada yang mau kamu ceritain?” tanyanya setelah kami duduk di dalam mobil, suaranya tetap lembut tapi matanya... mengamatiku dengan cermat. Terlalu cermat.Aku menggeleng pelan, sambil menatap keluar jendela.“Capek aja, Kak,” jawabku pendek.Mobil melaju perlahan menyusuri jalan yang masih lengang. Hujan belum turun, tapi udara sudah sangat lembap, menyesakkan dada.“Ra,” panggilnya lagi, nada suaranya lebih serius

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 59

    Aku tidak tahu cinta itu apa.Dan mungkin, aku belum pernah benar-benar merasakannya.Tapi yang pasti… aku juga tidak membenci Kak Dipta, meski pernikahan ini terjadi karena keadaan yang memaksaku memilih. Aku tidak pernah membencinya. Justru sebaliknya—aku menghormatinya, sama seperti dulu. Seperti saat aku masih kecil dan dia adalah sosok kakak yang dewasa, tenang, dan selalu bisa diandalkan.Pagi itu, ketika aku masih terlelap, suara lembutnya membangunkanku.“Ra,” panggilnya dari luar kamar. “Subuh, yuk. Aku tunggu di ruang tengah.”Butuh beberapa detik bagiku untuk benar-benar terjaga. Tapi suara itu... begitu akrab dan menenangkan. Suara yang sudah lama tak kudengar dalam jarak sedekat ini. Aku bangkit pelan, mengenakan mukena, lalu berjalan ke ruang tengah dengan langkah ragu.Kak Dipta sudah berdiri di sana, mengenakan sarung dan kaus panjang berwarna abu. Cahaya lampu yang temaram membuat bayangan tubuhnya jatuh ke arah

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 61

    Kali ini aku terbangun lebih dulu, masih pukul dua dini hari.Cahaya lampu tidur menyinari wajah Kak Dipta yang terlelap di sampingku. Napasnya tenang, dan aku bisa melihat garis rahangnya yang kokoh, alis yang teratur, dan bulu mata yang panjang.Aku memeluk bantal sambil tetap menatapnya. Wajah itu... terlalu dekat. Terlalu nyata. Terlalu hangat.Seseorang yang dulu kupanggil “Kakak”, kini adalah laki-laki yang halal untuk kupeluk setiap malam. Kadang rasanya masih seperti mimpi.Tiba-tiba, mata itu terbuka.Aku tersentak kecil, buru-buru membuang muka. Tapi terlambat. Dia sudah melihatku.“Lihat-lihat apa?” tanyanya pelan, suaranya berat dan serak karena baru bangun.Aku menggigit bibir. “Nggak... cuma kebangun aja.”Dia tersenyum setengah. “Kebangun sambil mandangin aku?”Aku mendengus pelan, pura-pura memunggunginya. “Sok tahu.”Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa tubuhnya bergerak, mendekat. Tangan hangatnya menyentuh lenganku, membuat jantungku berdebar lebih cepat.“Ra,”

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 61

    Kali ini aku terbangun lebih dulu, masih pukul dua dini hari.Cahaya lampu tidur menyinari wajah Kak Dipta yang terlelap di sampingku. Napasnya tenang, dan aku bisa melihat garis rahangnya yang kokoh, alis yang teratur, dan bulu mata yang panjang.Aku memeluk bantal sambil tetap menatapnya. Wajah itu... terlalu dekat. Terlalu nyata. Terlalu hangat.Seseorang yang dulu kupanggil “Kakak”, kini adalah laki-laki yang halal untuk kupeluk setiap malam. Kadang rasanya masih seperti mimpi.Tiba-tiba, mata itu terbuka.Aku tersentak kecil, buru-buru membuang muka. Tapi terlambat. Dia sudah melihatku.“Lihat-lihat apa?” tanyanya pelan, suaranya berat dan serak karena baru bangun.Aku menggigit bibir. “Nggak... cuma kebangun aja.”Dia tersenyum setengah. “Kebangun sambil mandangin aku?”Aku mendengus pelan, pura-pura memunggunginya. “Sok tahu.”Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa tubuhnya bergerak, mendekat. Tangan hangatnya menyentuh lenganku, membuat jantungku berdebar lebih cepat.“Ra,”

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 58

    Malam itu, selepas akad nikah yang sunyi dan tergesa, aku pulang sendirian. Bukan ke rumah orang tua atau hotel bulan madu. Tapi ke rumah tempat seharusnya aku dan Naraya memulai kehidupan baru sebagai suami istri.Namun tidak ada Naraya di sana.Dia masih di rumah sakit. Bersikeras ingin menemani Papanya yang belum juga sepenuhnya pulih. Berkali-kali aku menatap ponsel, ingin meneleponnya, mengajaknya bicara, tapi kuketahui sejak lama: aku bukan orang yang bisa memaksa Naraya. Apalagi sekarang, setelah semua luka dan kebekuan ini tumbuh begitu kuat di antara kami.Keesokan paginya, aku menjalani rapat besar pertamaku sebagai CEO pengganti Om Abimanyu. Semua beban tiba-tiba menumpuk di atas pundakku. Mulai dari perubahan strategi hingga proyek ekspansi yang harus kutandatangani. Hari itu aku bicara lebih banyak dengan para direktur daripada dengan istriku sendiri.Dan saat semuanya usai… langkahku tak membawaku pulang.Aku kembali ke rumah sakit. Karena hanya itu satu-satunya tempat y

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 57

    Ruangan ICU itu dingin. Bau alkohol medis dan desinfektan menusuk hidung. Tapi yang membuatku menggigil bukan suhu udara, melainkan kenyataan bahwa pria yang selama ini kupanggil Om Abimanyu—sosok yang lebih dari sekadar ayah angkat bagiku—terbaring lemah dengan selang infus dan monitor detak jantung di sisi ranjangnya.Naraya duduk di sisi kanan, menggenggam tangan papanya yang dingin. Matanya sembab, napasnya gemetar. Aku berdiri di sisi lain, diam. Tak berani menatap Naraya terlalu lama karena rasa bersalahku jauh lebih besar dari rasa sedih yang kupunya.Tante Florina berdiri di belakang kami, tangannya terus mengelus punggung Naraya. Tapi matanya berkaca-kaca melirik ke arahku,“Tadi kata dokter kena liver. Karena kebiasaan buruk semasa muda yang terlalu banyak mengonsumsi alkohol, ” katanya lirih.Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa tercekat.Lalu tiba-tiba, Om Abimanyu membuka matanya perlahan. Sadar. Walau lemah, matanya masih tajam menatap kami satu per satu. Seolah sedang me

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 7

    Usai melihat keadaan Arina aku tidak langsung pulang tetapi aku terus melajukan mobilku ke sebuah club' malam.Sudah lama aku tidak minum, selama di Surabaya aku berubah menjadi lelaki baik-baik yang bekerja keras dan tidak suka keluyuran malam demi menarik perhatian Arina—lebih tepatnya Florina.D

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 6

    POV AbimanyuGadis manja! Itu adalah sebutan bagiku untuk gadis yang saat ini berada di dalam dekapanku. Florina—putri dari mantan kekasihku. Sebenarnya dari awal aku tidak pernah berniat untuk menikahi Arina. Aku hanya ingin balas dendam padanya.Arina adalah cinta pertamaku, aku mengaguminya sej

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 5

    Rumah lantai tiga ini memiliki banyak kamar, lalu kenapa Om Abimanyu memintaku satu kamar dengannya? Meskipun kami sudah menikah tapi hubungan itu hanya sebatas di atas kertas."Jangan salah paham, Flo. Tentu aku tahu batasan. Tapi orang tuaku sering ke sini, dan Pak Rasyid adalah orang kepercayaan

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 4

    Seminggu setelah mama menghilang, tidak ada kabar sama sekali dari pihak kepolisian. Mama seperti hilang ditelan bumi. Sementara Om Abimanyu katanya harus kembali ke Jakarta, mendapat panggilan kerja dari papanya. Karena orang tua Om Abimanyu ingin pensiun, makanya Om Abimanyu berhenti bekerja seb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status