Masuk
"Om, ini kan gaun pengantin. Kenapa aku harus memakainya?" tanyaku syok bukan main. Pasalnya hari ini adalah pernikahan mama—bukan aku.
"Mama kamu menghilang tanpa jejak, aku sudah berusaha untuk menghubunginya tapi tidak bisa. Tolong selamatkan nama baikku, Flo. Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan seluruh kota!" Aku tersentak, pasalnya selama sebulan ini mama sangat effort untuk menyiapkan wedding dream. Karena dulu saat menikah dengan mendiang papaku—mereka hanya menikah sederhana tanpa adanya pesta. "Mama sangat mencintai kamu, Om. Tidak mungkin mama kabur, tadi mama juga datang ke hotel ini bersamaku!" selaku sembari menghubungi nomor mama tapi tidak aktif. Aku juga menghubungi teman-teman mama tapi hasilnya nihil. "Kita tidak punya waktu lagi, para tamu sudah mulai berdatangan. Ayo buruan kamu pakai gaun ini dan dirias!" pinta calon papa tiriku itu dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca. Aku tidak tega, bagaimanapun juga selama ini Om Abimanyu sudah membantu banyak hal untuk keluargaku. Dia benar-benar sudah aku anggap sebagai papa aku sendiri. "Baiklah, tapi setelah ini kita harus mencari mama. Setelah mama ketemu kita mengurus surat cerai," pintaku memastikan. "Baiklah, yang penting selesaikan dulu pernikahan ini." Akupun segera memakai gaun pengantin mama, dibantu MUA aku dirias. Meskipun dalam waktu yang cukup singkat tetapi hasilnya sangat maksimal. Aku nampak begitu cantik, bahkan aku sampai tidak mengira jika bayangan dicermin itu adalah diriku sendiri. Sayangnya aku tidak merasa bahagia, sebab ini bukan pernikahan aku yang sesungguhnya. Hatiku juga bingung kemana mama menghilang begitu saja tanpa kabar? Menjelang ijab kabul dadaku mulai bergemuruh, harusnya ini adalah tangis bahagia untuk mama tapi justru menjadi hari yang tak terduga untukku. Anehnya dari pihak keluarga Om Abimanyu tidak kaget dengan pergantian mempelai perempuan, mereka justru menyambutku dengan amat baik. "Cantik sekali, kamu sangat pandai memilih seorang istri," ucap bu Melinda. "Iya, pantas saja selama ini dijodohkan dengan bangkit perempuan tidak mau. Ternyata karena sudah memiliki pilihan sendiri," timpal pak Wijaya. Aku tersipu malu, mereka adalah orang tua Om Abimanyu. Dulu aku pernah bertemu sekali saat diajak makan malam bersama. Tapi saat itu mama tidak ikut karena mama tengah ada dinas di luar kota. Om Abimanyu hanya merespon dengan senyuman, tapi ada kilatan mata yang susah untuk aku pahami maknanya. Om Abimanyu nampak bahagia meski bibirnya tidak tersenyum. Usai ijab kabul, akupun menemani Om Abimanyu untuk menemui para tamu. Usia kami terpaut jauh, aku 18 tahun sementara Om Abimanyu 36 tahun. Meskipun jaraknya setengah dari umurku, tapi wajah Om Abimanyu nampak masih muda dan terawat. Pujian demi pujian kami terima, hingga akhirnya pernikahan selesai dengan lancar. Akupun diajak ke kamar pengantin yang sudah Om Abimanyu disiapkan sebelumnya. "Om, aku mau pulang saja." Meskipun aku sudah menjadi istri dari om Abimanyu, tapi bagaimana mungkin aku tidur dengannya satu kamar? Aku tidak mau terjadi salah paham, karena calon istri sesungguhnya adalah mamaku. Aku tidak mau melukai perasaan mama. "Flo, orang tuaku juga ada di hotel ini. Kalau mereka tahu kita pisah kamar aku harus menjelaskan bagaimana?" tanya Om Abimanyu dengan nada lembut. "Tapi kan keluarga Om Abimanyu tau kalau calon istrimu adalah mama, bukan aku." "Mereka belum tahu, karena saat melamar mamamu aku merahasiakannya. Tahu-tahu aku memberikan mereka undangan pernikahan sebagai kejutan." Aku semakin heran, padahal aku saja pernah diajak makan malam dengan mereka kenapa mama malah belum? Selama ini aku sibuk kuliah, mama sibuk kerja. Kami hanya bertemu saat makan malam dan sarapan. Sehingga aku dan mama jarang mengobrol. Yang kutahu sejak mama memutuskan mau menikah lagi mama nampak bahagia. Setelah itupun aku malah lebih dengan dengan Om Abimanyu, dia menganggap aku seperti anak sendiri. "Meski kita sekamar, aku akan tidur si sofa. Kamu tidak perlu takut, Flo!" ucap Om Abimanyu memasang wajah datar. Ketika seperti itu entah kenapa aku menjadi takut dan tidak berani membantah. "Baiklah," jawabku patuh. "Om, apakah mama sudah ada kabar?" tanyaku cemas. "Belum, tapi aku sudah menyuruh orang untuk melaporkan ke kantor polisi. Kamu segeralah ganti pakaian dulu dan mandi, setelah itu kita makan malam dan cari mama kamu!" "Iya, Om." Ternyata di kamar ini sudah disiapkan baju ganti, peralatan make up dan lengkap dengan kebutuhan aku sebagai perempuan. Om Abimanyu memang lelaki yang bisa diandalkan. Pantas saja bisa menaklukkan hati mama yang dulunya sudah tidak minat untuk menikah lagi. Usai mandi dan memakai pakaian, akupun keluar dari kamar mandi. Tetapi kamar kosong, Om Abimanyu tidak ada. Akupun segera menyisir rambut lalu memakai skincare. Hari ini aku lelah sekali, tak hanya capek secara fisik tapi juga mental. Aku memutuskan untuk menghubungi nomor mama lagi, tapi masih tidak aktif. Akupun mulai meneteskan air mata, di dunia ini aku hanya memiliki mama. Karena sejak kecil papa aku meninggal. Meski mama adalah orang yang tidak suka banyak bicara dan tegas, tapi aku tahu mama sangat menyayangiku dan bekerja keras demi masa depanku. Saking lelahnya, aku tidur dengan sendirinya. Tetapi antara sadar dan tidak sadar aku mendengar suara Om Abimanyu. "Serupa, tapi tak sama ..."Tujuh tahun telah berlalu sejak badai besar dalam hidup kami reda. Waktu seperti berlari, membawa banyak perubahan—tapi satu yang tak pernah berubah adalah kehangatan yang diciptakan oleh keluarga kecil kami. Kini, rumah ini tidak lagi hanya berisi kenangan, tapi juga harapan yang perlahan tumbuh dengan manis.Naraya kini berusia tujuh belas tahun. Gadis kecil kami telah tumbuh menjadi sosok muda yang memikat—tidak hanya karena kecantikannya yang alami, tapi juga karena kepintarannya yang luar biasa. Sejak usia belia, Naraya sudah menunjukkan bakat besar di dunia seni. Kini, karya-karyanya sebagai pelukis muda dikenal luas, bahkan beberapa dipamerkan di galeri nasional. Orang-orang menyebutnya pelukis jenius.Tapi bagiku dan Florina, dia tetap Naraya kecil kami. Anak perempuan yang suka mencoret-coret tembok dengan krayon, dan dengan polosnya bilang itu "lukisan langit".Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Aku dan Florina bersiap menjemput Dipta di bandara. Bukan anak kandun
Sudah seminggu sejak Deni pergi.Rumah ini kembali tenang. Bahkan bisa dibilang... terlalu tenang. Tidak ada suara ribut-ribut di pagi hari, tidak ada rebutan remote TV, tidak ada piring pecah karena tangan kecil yang belum terlatih. Tapi ketenangan ini, anehnya, tidak membawa kedamaian.Aku tahu Florina masih menyimpan kecewa. Meskipun ia tidak lagi melontarkan protes secara langsung, ada jeda yang terasa di antara kami. Keheningan yang seolah berkata: kamu membuat keputusan sendiri, Abi. Tanpa aku.Dan Naraya...Anak itu... berubah.Biasanya, bangun tidur Naraya akan langsung berlari ke dapur untuk memeluk Florina. Ayau bermain bersama Devan.Sekarang, dia hanya duduk termenung di tepi tempat tidurnya, memeluk boneka kelinci putih kesayangannya—yang selama ini dia namai Mimi.Mimi yang dulu selalu ia ajak bicara, kini hanya jadi teman diam yang dipeluk erat. Matanya yang biasanya ceria berubah sayu. Suaranya menjadi lirih, dan cara dia menatapku… membuat dadaku terasa berat.Pagi it
"Aku akan melaporkan Warni ke polisi,” ucapnya pelan, nyaris dingin.Aku mendongak dari meja, tubuhku langsung menegang. “Apa?”“Aku serius.” Ia melangkah masuk. “Dia mencuri kondom bekas kita, Abi. Dia memperkosamu secara biologis. Dia membuat hidup kita jungkir balik tanpa izin.”“Flo...” Aku berdiri, mencoba mendekat. “Aku tahu Warni salah. Tapi... menyeretnya ke penjara? Itu keputusan berat.”“Bukan berat. Tapi adil.” Dia menatapku lurus. “Apa yang dia lakukan bukan hanya menjijikkan, tapi kriminal. Dia harus bertanggung jawab. Kita nggak bisa membiarkan perempuan kayak dia lepas tanpa hukuman.”Aku menelan ludah. Paru-paruku terasa sesak.“Dan soal Deni…” lanjutnya, nada suaranya melunak. “Aku akan merawatnya.”Jantungku mencelos.“Apa maksudmu?”“Aku sudah bicara dengan pengacara. Warni akan ditahan sementara penyidikan berjalan. Dan Deni... akan dititipkan ke kita.”“Tidak!” suaraku langsung naik satu oktaf. “Aku nggak setuju. Aku nggak mau dia tinggal di sini, Flo. Aku takut..
Malam itu seharusnya menjadi malam tenang. Aku sudah menyiapkan kopi hangat kesukaan Florina. Kami duduk di beranda belakang rumah, menghadap taman kecil yang kini menjadi tempat favorit Naraya melukis. Bocah perempuan kecil itu terlihat begitu serius dengan kanvas dan cat air di depannya. Sesekali dia memandang kami, tersenyum malu-malu, lalu kembali menorehkan warna.Florina bersandar di pundakku. Tangannya menggenggam mug berisi kopi, aroma hazelnut menyatu dengan udara malam yang lembut. Kami tidak banyak bicara. Hanya saling menatap, saling menikmati keheningan dan rasa damai yang jarang kami dapatkan belakangan ini sejak bisnis makin sibuk.Namun kedamaian itu hancur dalam sekejap.Pintu depan rumah diketuk. Awalnya kupikir tetangga atau petugas keamanan komplek. Tapi ketika aku membuka pintu, napasku tercekat.Dia berdiri di sana. Perempuan itu.Warni.Mantan asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumahku beberapa tahun lalu. Wajahnya masih sama meski lebih tirus, lebih le
Pada akhirnya aku tidak jadi ke kantor, usai percintaan yang hebat dengan istriku aku memilih mengerjakan pekerjaan aku di rumah. Toh hari ini tidak ada jadwal pertemuan sebab dibatalkan oleh pihak klienku sebab istrinya masuk rumah sakit. Sementara istriku? Dia tidur. Yah, dia kelelahan. Walau usia kami berjarak 18 tahun tapi aku rajin olah raga. Sbil istirahat, aku menelpon Dipta. Perbedaan jam, di sana malam hari. Dipta baru saja pulang dari kegiatan belajarnya. Siang harinya, istriku terburu-buru masuk ke ruang kerjaku. Katanya ada pemberitahuan Naraya pulang lebih awal sebab ada rapat guru dadakan.Akupun bergegas meraih kunci mobil, mengajak istriku untuk segera berangkat.Matahari belum terlalu terik saat aku mematikan mesin mobil di pelataran sekolah Naraya. Florina duduk di sebelahku, mengenakan blus warna krem lembut yang membuat wajahnya terlihat semakin teduh. Ia menoleh ke arah pagar sekolah, mengedarkan pandangan mencari sosok mungil yang kami cintai.“Belum keluar ju
Malam itu hujan baru saja reda.Tetes air masih menggantung di ujung daun palem depan rumah. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu taman. Aku baru saja selesai menutup laptop ketika terdengar suara bel dari arah pagar.Florina berjalan ke arah pintu. Aku menyusul, dan bersama-sama kami membuka.Di hadapan kami berdiri sepasang suami-istri berwajah ramah. Perempuan itu memeluk bingkisan berbalut kain batik, sementara suaminya tersenyum sopan sambil memegangi tangan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.“Permisi, maaf mengganggu malam-malam begini,” kata si pria dengan logat Sunda yang halus. “Kami tetangga baru. Baru tadi sore pindahan dari Bandung.”“Oh, selamat datang,” aku segera menyambut dan membukakan pintu pagar lebih lebar. “Silakan masuk. Nama saya Abimanyu. Ini istri saya, Florina.”Florina tersenyum hangat. “Senang sekali bisa kenalan. Ayo, jangan sungkan.”“Kami cuma mampir sebentar,” ujar istrinya. “Ini oleh-oleh kecil, ada bolen pisang dan peuyeum Bandung. E







