Share

Bab 2

Author: Lotus
Belum sepuluh menit telepon kumatikan, langkah kaki Tonny yang terburu-buru sudah terdengar dari lantai bawah.

Ini sungguh langka. Dulu saat aku demam tinggi sampai 40 derajat saja, dia hanya menyuruh Helen mengirimkan obat penurun panas untukku.

Sepertinya memang harus menyenggol Helen dulu baru dia akan bergerak secepat ini.

Bahkan tanpa melepas jasnya, dia langsung menerjang masuk ke kamar, melangkah mendekatiku dengan tatapan marah dan mengintimidasi. "Berani kamu matiin telepon dariku?"

Aku tetap menunduk sambil melipat baju. "Aku sedang nggak pengen bicara."

Dia mencengkeram pergelangan tanganku, memaksaku menatap matanya.

"Cuma karena aku suruh kamu diam? Helen baru aja dapat kerja sama besar, jadi aku sebagai pimpinan ngajak anggota inti buat ngerayain. Apa masalahnya?!"

Suaranya meninggi, penuh kemarahan yang meluap.

"Kamu tau nggak berapa banyak orang yang baca komentar itu? Sampai ada yang ngira dia selingkuhanku! Helen itu punya harga diri tinggi, disindir begitu sama kamu, dia langsung nangis sampai pingsan!"

" …. Oh." Aku memiringkan kepala, benar-benar tidak paham apa yang dia permasalahkan.

"Apa hubungannya denganku? Memangnya aku ibunya?"

Dia malah tertawa sinis, saking geramnya.

Aku melanjutkan dengan nada datar dan santai, "Semua juga menganggap orang kepercayaanmu itu sikapnya nggak pantas, makanya mereka sampai ikut negur dia."

"Cukup!" teriaknya tiba-tiba. Suaranya begitu menggelegar sampai para pengawal di lorong mundur dua langkah.

"Helen itu orang kepercayaan keluarga. Uang yang dia kelola setiap hari jauh lebih banyak daripada yang pernah kamu lihat seumur hidupmu. Sementara kamu? Kamu cuma nikmatin perlindungan dariku dan hidup mewah, tapi berani-beraninya menjelekkan pegawai yang paling aku andalkan?"

Tatapannya penuh kekecewaan dan tuduhan.

"Kamu hidup nyaman di vila ini, dilayani ratusan pelayan, dan nggak pernah tahu gimana beratnya perjuangan di luar sana. Aku udah terlalu manjain kamu, sampai-sampai kamu jadi cemburu buta dan memfitnah Helen yang selama ini udah susah payah ngurus kamu."

"Sekali lagi kamu lakuin itu, aku akan hentikan pasokan obat ibumu saat itu juga."

Aku menatap wajahnya yang angkuh itu, lalu tiba-tiba tawa sinis meledak dari mulutku.

"Hidup nyaman?"

Dia mengerutkan kening, menatapku seolah aku sudah gila.

Kutarik pergelangan tangannya, menyeretnya sekuat tenaga masuk ke dalam ruang ganti baju.

Tempat itu penuh dengan gaun-gaun mewah yang berderet.

Namun, semuanya terkunci di balik lemari kaca.

"Lihat ini!" Aku menunjuk gembok di lemari kaca itu, suaraku bergetar karena marah.

"Dari gaun sampai kaus kaki, nggak ada satu pun yang bisa aku pakai sesukaku. Pak Tonny yang terhormat, beri tahu aku, istri mana yang harus mengajukan izin tertulis hanya untuk memakai celana dalam?"

Tonny mengernyit. "Itu karena kamu selalu milih baju yang nggak sesuai untuk acara-acara penting."

"Ha, nggak sesuai?" Aku tertawa getir. "Setiap gaun yang kamu sebut 'nggak sesuai' itu besoknya akan muncul di tubuh Helen!"

"Bahkan selingkuhan yang paling rendah sekalipun nggak akan jalanin hidup menyedihkan seperti aku!"

Kupikir perkataanku sudah cukup jelas.

Tapi yang terpancar dari mata Tonny hanyalah kebingungan dan rasa tidak sabar.

"Jadi kamu permalukan dia di depan umum hanya karena masalah gaun-gaun ini?"

"Bisa nggak kamu mikir agak lebih luas?"

Rasa putus asa yang luar biasa membuat kepalaku pening.

Aku pun berbalik pergi, suaraku tak lagi mengandung emosi.

"Terserah apa maumu. Toh kita akan bercerai."

Kalimat itu memancing amarahnya lagi.

Hanya dengan beberapa langkah, Tonny sudah menyusul dan menahanku kuat-kuat dalam pelukannya.

"Jaga bicaramu, Nyonya. Jangan lupa siapa yang biayai tim medis terbaik untuk ibumu."

Aku menggigit bibir kuat-kuat, menahan air mata agar tidak jatuh.

Lucu sekali. Katanya dia berikan tim medis terbaik untuk Ibuku.

Tapi fakta bahwa Ibuku sudah meninggal saja dia tidak tahu.

"Lepasin aku." Suaraku gemetar. "Aku mau pergi."

Tiba-tiba Tonny terkekeh. "Cerai? Lalu apa? Biarkan ayahmu yang gila judi itu menjualmu ke bos gangster lain?"

Kata-katanya menghujam jantungku layaknya belati.

Tiga tahun lalu, karena Ayah berutang pada lintah darat dan menelantarkan Ibu yang sakit, aku terpaksa menerima pernikahan ini.

Lebih tepatnya, aku dijadikan barang jaminan utang dan langsung dilempar ke tempat tidurnya.

Tonny tahu betul ini adalah luka terdalamku, namun dengan kejam dia mengungkit luka itu sekarang.

"Setidaknya orang itu bukan kamu." Aku meronta. "Suratnya udah aku tanda tangan."

Dia membungkuk dan berbisik di telingaku, hembusan napas hangatnya membuat seluruh tubuhku merinding kedinginan, "Kamu pikir cerai itu tergantung keputusanmu aja?"

"Ingat ya, Sayang. Hanya ada satu cara agar istri bos mafia bisa keluar dari pernikahannya."

Aku tahu apa yang dia maksud.

Kematian.

"Aku akan kasih kamu akses penuh ke ruang ganti. Soal uang, mulai sekarang aku akan transfer 800 juta setiap bulan ke rekening pribadimu. Kamu nggak perlu lagi ajuin permohonan."

Cara yang sungguh klasik.

Memukul lalu membelai, supaya aku tetap menjadi "gadis penurutnya".

Jika ini dulu, aku pasti akan menangis haru dan menerimanya dengan penuh syukur.

Tapi sekarang aku sudah sadar dari mimpi buruk ini.

Uang dan pakaian, apakah itu akar masalahnya?

Helen, orang yang seharusnya disalahkan, justru tetap dia bela.

"Aku nggak butuh uangmu," tolakku dingin.

Tonny memicingkan mata. "Kamu lebih memilih lihat ibumu mati karena kekurangan obat?"

Lagi-lagi ancaman yang sama.

Jantungku seperti diremas, tapi wajahku tetap tenang. "Dia akan ngertiin aku."

Tonny jelas tidak menduga akan jawaban itu. Sesaat, aku melihat kilasan kepanikan di matanya.

Seolah dia tidak paham kenapa ancaman yang biasanya selalu ampuh, kali ini gagal total.

Namun keangkuhan seorang bos mafia tidak mengizinkannya untuk terus-menerus memohon.

Dia membiarkanku berjalan menuju pintu besar tanpa menoleh lagi.

Kali ini, tidak ada pengawal yang menghalangi jalan. Mereka semua menunggu instruksi atasan mereka.

Tonny mengangkat tangan, mengubah isyarat "tahan dia" menjadi "biarkan dia pergi".

Aku teringat suatu kali di markas pusat, aku mendengar Helen berkata padanya, "Bos, Nyonya belakangan ini sering menonton drama romantis. Apa dia bakal meniru pemeran utama wanita yang hobi merajuk dan minta cerai?"

"Kalau hari itu benar-benar datang, abaikan saja dia selama beberapa hari. Begitu dia tau betapa kejamnya dunia luar, dia akan pulang sambil menangis dan mengakui kesalahannya."

Pasti itu juga yang dia pikirkan saat ini.

Baru setelah sosok mungil itu benar-benar hilang dari pandangan, Tonny tersadar dari lamunannya.

Dengan gusar dia merogoh saku mencari rokok, namun yang ditemukannya adalah sebuah bungkusan kertas kecil.

Isinya beberapa butir permen mint keras.

Dia adalah perokok berat, tenggorokannya sering terasa tidak nyaman.

Aku sudah mencoba ratusan resep untuk membuat permen itu sendiri demi membuatnya merasa sedikit lebih nyaman.

Dia membuka satu permen dan mengisapnya. Rasa manis yang dingin seketika meredakan kerutan di keningnya.

"Biar aja dia main di luar selama satu atau dua hari."

Seseorang yang bisa begitu tulus membuatkan permen untuknya, pasti benar-benar mencintainya.

Begitu pikirnya.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 7

    Barang-barang yang kupasang di situs jual beli segera diborong oleh seorang pembeli anonim dengan harga yang sangat tidak masuk akal.Vila itu pun laku dalam waktu singkat.Aku tahu siapa pelakunya, tapi aku sudah tidak peduli lagi.Berbekal uang hasil penjualan dan sedikit barang, aku bersiap berangkat ke Negara Khemir untuk bergabung dalam proyek arkeologi baru.Sebelum berangkat, Profesor Martha menepuk pundakku."Posisiku aku serahkan sama kamu. Sekarang aku bisa pensiun dengan tenang dan pergi berkeliling dunia."Kami berdua tertawa bersama.Tiba-tiba, ponselku berdering nyaring.Suara asisten baru Tonny terdengar panik di seberang sana."Nyonya! Kumohon datanglah ke rumah sakit sekarang! Bos diserang!"Baru saja aku hendak menolak, Profesor Martha menepuk tanganku pelan. "Pergilah. Mungkin ini pertemuan terakhir kalian seumur hidup."Aku mencengkeram ponselku erat-erat. Setelah terdiam cukup lama, aku bergumam, "Baiklah."Di dalam ruang perawatan, Tonny terbaring dengan wajah puc

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 6

    Proses penandatanganan surat cerai berjalan dengan sangat lancar, di luar dugaan.Tonny tidak menampakkan batang hidungnya, dia hanya mengutus asisten barunya untuk mengantarkan dokumen."Nyonya, Bos berpesan …." Asisten itu tampak ragu untuk melanjutkan."Panggil aku Belinda," potongku sambil membubuhkan tanda tangan dengan mantap.Asisten itu kemudian menyodorkan sebuah map tebal."Bos menghibahkan vila ini untuk Anda, dan apartemen penthouse atas namanya juga sudah dibaliknamakan menjadi milik Anda. Selain itu, di dalam kartu ini ada saldo 80 miliar, sebagai rekening pribadi Anda.""Kata sandinya adalah hari ulang tahun Anda."Aku menatap kartu hitam itu, memutuskan untuk menerimanya, namun mendorong kembali kunci vila yang dia sodorkan."Apartemen dan uangnya akan aku terima. Tapi untuk vila ini, tolong jualin aja."Asisten itu tampak sangat kebingungan. "Bos sangat berharap Anda menyimpannya ….""Kalau gitu bilang sama dia," potongku lagi. "Aku merasa mual setiap kali melihat vil

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 5

    Dia masih mengenakan setelan jas, namun lingkaran hitam di bawah matanya tak lagi bisa disembunyikan.Mobil jip di belakangnya penuh sesak dengan peralatan baru."Tiba-tiba aku merasa harus mendukung proyek arkeologi ini. Peralatan seharga 45 miliar ini hanya sedikit aja bentuk dukunganku."Ekspresinya tampak serius, meski bekas tamparan di wajah tampannya belum juga hilang.Baru saja aku hendak menolak, rekan-rekan timku sudah tidak tahan untuk maju dan menyentuh peralatan baru itu."Belle." Dia melangkah ke arahku, kedua tangannya membawa sebuah kotak bekal hangat.Saat tutupnya dibuka, aroma hidangan laut yang pekat langsung menyeruak.Perutku seketika terasa mual dan bergejolak.Dia menatapku penuh harap."Aku sampai minta kepala koki sendiri yang antarkan ini, tiga jam perjalanan dengan mobil.""Dulu kamu paling suka makan ini, 'kan? Cobalah sedikit."Aku tak bergeming, hanya menyahut datar, "Aku alergi hidangan laut. Nyentuh sedikit aja akan bikin kulitku gatal dan ruam merah."T

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 4

    Suara Leon terdengar makin mengecil, penuh ketakutan."Waktu itu Nona Helen sendiri yang nyerahin surat kematiannya. Katanya Bos sedang nggak stabil, jadi berita ini nggak perlu dilaporin. Urusan Nyonya Belinda selama ini memang selalu dia yang tangani .... "Tonny menoleh dengan cepat, menatap tajam ke arah Helen."Seingatku, aku nggak pernah kasih perintah seperti itu."Wajah Helen pucat pasi, dia berusaha keras untuk tetap tenang. "Bos, waktu itu kita sedang sibuk ngurusin kerja sama, aku cuma takut fokus Anda terpecah.""Diam!" bentak Tonny padanya."Sini ponselmu! Aku mau lihat laporan medis ibunya yang asli!"Helen menggeleng panik dan refleks melangkah mundur.Tanpa basa-basi, Tonny merampas tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas.Segala pemberitahuan kondisi kritis yang selama ini disembunyikan.Setiap sen uang yang diajukan atas namaku, namun semuanya masuk ke rekening pribadinya.Serta banyak sekali riwayat pesan yang kelihatannya lembut namun penuh niat busuk.Tanpa s

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 3

    Sambil menyeret koper kecilku, aku pergi menemui Profesor Martha.Beliau adalah sahabat karib mendiang ibuku.Saat aku melepas gelar Master Arkeologi demi menikah dengan Tonny, beliau adalah satu-satunya orang yang menentang keras keputusan itu.Di hari pernikahanku, beliau tidak datang, dan hanya mengirimiku sebuah pesan singkat.[Apa yang kamu lepaskan jauh lebih berharga daripada apa yang kamu dapatkan.][Kalau kamu sudah lelah menjadi burung dalam sangkar emas, ingatlah masih ada jalan lain yang bisa kamu tempuh. Memang berat, tapi terasa bebas.]Kata-katanya terbukti seperti sebuah ramalan.Di awal pernikahan, sikap posesif Tonny belum sekuat sekarang.Dia sering membawaku hadir di berbagai perjamuan.Sampai akhirnya, ada pria lain yang menatapku sedikit lebih lama dari biasanya.Tatapan Tonny seketika berubah gelap, dan sejak saat itu, dia tak pernah lagi membawaku ke acara apa pun.Apalagi setelah Helen mengajukan diri untuk "menjagaku", aku benar-benar kehilangan kebebasanku se

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 2

    Belum sepuluh menit telepon kumatikan, langkah kaki Tonny yang terburu-buru sudah terdengar dari lantai bawah.Ini sungguh langka. Dulu saat aku demam tinggi sampai 40 derajat saja, dia hanya menyuruh Helen mengirimkan obat penurun panas untukku.Sepertinya memang harus menyenggol Helen dulu baru dia akan bergerak secepat ini.Bahkan tanpa melepas jasnya, dia langsung menerjang masuk ke kamar, melangkah mendekatiku dengan tatapan marah dan mengintimidasi. "Berani kamu matiin telepon dariku?"Aku tetap menunduk sambil melipat baju. "Aku sedang nggak pengen bicara."Dia mencengkeram pergelangan tanganku, memaksaku menatap matanya."Cuma karena aku suruh kamu diam? Helen baru aja dapat kerja sama besar, jadi aku sebagai pimpinan ngajak anggota inti buat ngerayain. Apa masalahnya?!"Suaranya meninggi, penuh kemarahan yang meluap."Kamu tau nggak berapa banyak orang yang baca komentar itu? Sampai ada yang ngira dia selingkuhanku! Helen itu punya harga diri tinggi, disindir begitu sama kamu,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status