Share

Bab 3

Penulis: Lotus
Sambil menyeret koper kecilku, aku pergi menemui Profesor Martha.

Beliau adalah sahabat karib mendiang ibuku.

Saat aku melepas gelar Master Arkeologi demi menikah dengan Tonny, beliau adalah satu-satunya orang yang menentang keras keputusan itu.

Di hari pernikahanku, beliau tidak datang, dan hanya mengirimiku sebuah pesan singkat.

[Apa yang kamu lepaskan jauh lebih berharga daripada apa yang kamu dapatkan.]

[Kalau kamu sudah lelah menjadi burung dalam sangkar emas, ingatlah masih ada jalan lain yang bisa kamu tempuh. Memang berat, tapi terasa bebas.]

Kata-katanya terbukti seperti sebuah ramalan.

Di awal pernikahan, sikap posesif Tonny belum sekuat sekarang.

Dia sering membawaku hadir di berbagai perjamuan.

Sampai akhirnya, ada pria lain yang menatapku sedikit lebih lama dari biasanya.

Tatapan Tonny seketika berubah gelap, dan sejak saat itu, dia tak pernah lagi membawaku ke acara apa pun.

Apalagi setelah Helen mengajukan diri untuk "menjagaku", aku benar-benar kehilangan kebebasanku sepenuhnya.

Pintu terbuka.

Melihat penampilanku yang sangat sederhana, Profesor Martha tampak sudah memahami segalanya.

"Masuklah, Nak," ucapnya sambil memberi jalan. "Aku baru aja nyeduh kopi."

Air mataku seketika tumpah tak terbendung.

Profesor menungguku tenang terlebih dahulu kemudian berkata perlahan, "Ada penemuan makam kuno baru di kota tua. Timku butuh seorang asisten."

Aku tersentak mendongak. "Profesor ... mau kasih aku kesempatan?"

"Asalkan kemampuan akademismu belum berkarat."

"Aku nggak mau bawa seorang nyonya sosialita ke situs penggalian."

"Aku bisa!" seruku hampir berteriak. "Sungguh!"

Profesor akhirnya tersenyum. "Bagus. Ambil perlengkapanmu, kita berangkat besok."

Terik matahari di kota tua rasanya sanggup memanggang kulit.

Aku berlutut di lubang galian, dengan sangat hati-hati membersihkan ubin kuno.

Keringat mengalir dari kening, bercampur dengan debu yang menempel di wajah.

Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari belakangku.

"Ya ampun, Belinda? Ini benar-benar kamu?!"

Seluruh tubuhku kaku seketika.

Aku berbalik. Helen berdiri di sana mengenakan setelan mewah, sambil menutupi hidungnya dengan syal sutra dan menatap jijik pada penampilanku yang kotor.

"Kupikir hidupmu sudah lebih baik sampai kamu berani kabur dari rumah … ternyata kamu malah jatuh serendah ini, bahkan bergaul dengan orang-orang seperti mereka."

Raut wajah anggota timku seketika berubah masam.

Aku berdiri, memasang badan di depan rekan-rekan setimku.

"Helen, kamu ini kayak anjing aja, ya? Di mana pun aku berada, kamu selalu bisa mencium jejakku dan membuntuti sampai ke sini."

Wajahnya memerah karena marah. Baru saja dia hendak memaki, sebuah sosok tinggi muncul dari belakangnya.

Tonny.

Dia mengenakan setelan jas santai, seolah-olah sedang datang untuk berlibur.

Melihat wajahku yang penuh noda tanah, sekelibat rasa kaget melintas di matanya.

"Ada apa ini?" tanyanya pada Helen, tapi matanya tertuju padaku.

Seketika ekspresi Helen berubah, matanya berkaca-kaca.

"Bos ... aku nggak nyangka Belinda tau rencana perjalanan kita dan dia buntutin kita sampai ke sini. Waktu aku mau nasihatin dia, dia malah maki-maki aku …."

Tonny mengerutkan kening menatap wajah kotor dan kusamku.

"Nggak ada aku, hidupmu jadi menyedihkan begini? Kalau kamu buntutin aku demi minta maaf, kamu harus minta maaf sama Helen lebih dahulu karena udah menghina tadi."

"Minta maaf?" Aku menunjuk ke arah Helen sambil tertawa sinis.

"Seumur hidup, aku nggak akan pernah minta maaf sama pelakor ambisius yang hobi menyiksaku ini."

Ekspresi Tonny seketika berubah drastis.

"Apa kamu udah gila? Udah jelas kamu buntutin aku sampai ke sini, kenapa masih berlagak nggak peduli? Kamu pergi berhari-hari, apa kamu udah nggak peduli lagi dengan nyawa ibumu?"

Angin panas berembus ke wajahku, namun aku merasa dingin luar biasa.

Kudengar suaraku sendiri menyahut dengan sangat tenang, "Berhentiin aja. Toh, dia sudah meninggal minggu lalu."

Tonny langsung membantah, "Dalam laporan medis minggu lalu, kondisinya masih stabil. Sampai kapan kamu mau bohong dengan alasan ini?"

Melihat aku yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali, dia mengertakkan gigi.

"Bagus. Kayaknya udah terlalu lama aku nggak kasih kamu pelajaran."

Sambil berkata demikian, dia segera menghubungi bawahannya. "Leon, hentikan seluruh pengobatan ibunya Belinda sekarang juga!"

Dia menekan tombol begitu cepat sampai tidak menyadari wajah Helen yang berubah drastis.

"Bos, kurasa nggak perlu begitu ...."

Tonny memotongnya tajam, "Dia harus dikasih pelajaran supaya nggak keras kepala lagi!"

Dari seberang telepon, terdengar suara Leon yang bingung.

"Bos, tapi ibunda Nyonya sudah meninggal dunia minggu lalu."

Tonny membeku di tempat.

" … Apa?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 7

    Barang-barang yang kupasang di situs jual beli segera diborong oleh seorang pembeli anonim dengan harga yang sangat tidak masuk akal.Vila itu pun laku dalam waktu singkat.Aku tahu siapa pelakunya, tapi aku sudah tidak peduli lagi.Berbekal uang hasil penjualan dan sedikit barang, aku bersiap berangkat ke Negara Khemir untuk bergabung dalam proyek arkeologi baru.Sebelum berangkat, Profesor Martha menepuk pundakku."Posisiku aku serahkan sama kamu. Sekarang aku bisa pensiun dengan tenang dan pergi berkeliling dunia."Kami berdua tertawa bersama.Tiba-tiba, ponselku berdering nyaring.Suara asisten baru Tonny terdengar panik di seberang sana."Nyonya! Kumohon datanglah ke rumah sakit sekarang! Bos diserang!"Baru saja aku hendak menolak, Profesor Martha menepuk tanganku pelan. "Pergilah. Mungkin ini pertemuan terakhir kalian seumur hidup."Aku mencengkeram ponselku erat-erat. Setelah terdiam cukup lama, aku bergumam, "Baiklah."Di dalam ruang perawatan, Tonny terbaring dengan wajah puc

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 6

    Proses penandatanganan surat cerai berjalan dengan sangat lancar, di luar dugaan.Tonny tidak menampakkan batang hidungnya, dia hanya mengutus asisten barunya untuk mengantarkan dokumen."Nyonya, Bos berpesan …." Asisten itu tampak ragu untuk melanjutkan."Panggil aku Belinda," potongku sambil membubuhkan tanda tangan dengan mantap.Asisten itu kemudian menyodorkan sebuah map tebal."Bos menghibahkan vila ini untuk Anda, dan apartemen penthouse atas namanya juga sudah dibaliknamakan menjadi milik Anda. Selain itu, di dalam kartu ini ada saldo 80 miliar, sebagai rekening pribadi Anda.""Kata sandinya adalah hari ulang tahun Anda."Aku menatap kartu hitam itu, memutuskan untuk menerimanya, namun mendorong kembali kunci vila yang dia sodorkan."Apartemen dan uangnya akan aku terima. Tapi untuk vila ini, tolong jualin aja."Asisten itu tampak sangat kebingungan. "Bos sangat berharap Anda menyimpannya ….""Kalau gitu bilang sama dia," potongku lagi. "Aku merasa mual setiap kali melihat vil

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 5

    Dia masih mengenakan setelan jas, namun lingkaran hitam di bawah matanya tak lagi bisa disembunyikan.Mobil jip di belakangnya penuh sesak dengan peralatan baru."Tiba-tiba aku merasa harus mendukung proyek arkeologi ini. Peralatan seharga 45 miliar ini hanya sedikit aja bentuk dukunganku."Ekspresinya tampak serius, meski bekas tamparan di wajah tampannya belum juga hilang.Baru saja aku hendak menolak, rekan-rekan timku sudah tidak tahan untuk maju dan menyentuh peralatan baru itu."Belle." Dia melangkah ke arahku, kedua tangannya membawa sebuah kotak bekal hangat.Saat tutupnya dibuka, aroma hidangan laut yang pekat langsung menyeruak.Perutku seketika terasa mual dan bergejolak.Dia menatapku penuh harap."Aku sampai minta kepala koki sendiri yang antarkan ini, tiga jam perjalanan dengan mobil.""Dulu kamu paling suka makan ini, 'kan? Cobalah sedikit."Aku tak bergeming, hanya menyahut datar, "Aku alergi hidangan laut. Nyentuh sedikit aja akan bikin kulitku gatal dan ruam merah."T

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 4

    Suara Leon terdengar makin mengecil, penuh ketakutan."Waktu itu Nona Helen sendiri yang nyerahin surat kematiannya. Katanya Bos sedang nggak stabil, jadi berita ini nggak perlu dilaporin. Urusan Nyonya Belinda selama ini memang selalu dia yang tangani .... "Tonny menoleh dengan cepat, menatap tajam ke arah Helen."Seingatku, aku nggak pernah kasih perintah seperti itu."Wajah Helen pucat pasi, dia berusaha keras untuk tetap tenang. "Bos, waktu itu kita sedang sibuk ngurusin kerja sama, aku cuma takut fokus Anda terpecah.""Diam!" bentak Tonny padanya."Sini ponselmu! Aku mau lihat laporan medis ibunya yang asli!"Helen menggeleng panik dan refleks melangkah mundur.Tanpa basa-basi, Tonny merampas tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas.Segala pemberitahuan kondisi kritis yang selama ini disembunyikan.Setiap sen uang yang diajukan atas namaku, namun semuanya masuk ke rekening pribadinya.Serta banyak sekali riwayat pesan yang kelihatannya lembut namun penuh niat busuk.Tanpa s

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 3

    Sambil menyeret koper kecilku, aku pergi menemui Profesor Martha.Beliau adalah sahabat karib mendiang ibuku.Saat aku melepas gelar Master Arkeologi demi menikah dengan Tonny, beliau adalah satu-satunya orang yang menentang keras keputusan itu.Di hari pernikahanku, beliau tidak datang, dan hanya mengirimiku sebuah pesan singkat.[Apa yang kamu lepaskan jauh lebih berharga daripada apa yang kamu dapatkan.][Kalau kamu sudah lelah menjadi burung dalam sangkar emas, ingatlah masih ada jalan lain yang bisa kamu tempuh. Memang berat, tapi terasa bebas.]Kata-katanya terbukti seperti sebuah ramalan.Di awal pernikahan, sikap posesif Tonny belum sekuat sekarang.Dia sering membawaku hadir di berbagai perjamuan.Sampai akhirnya, ada pria lain yang menatapku sedikit lebih lama dari biasanya.Tatapan Tonny seketika berubah gelap, dan sejak saat itu, dia tak pernah lagi membawaku ke acara apa pun.Apalagi setelah Helen mengajukan diri untuk "menjagaku", aku benar-benar kehilangan kebebasanku se

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 2

    Belum sepuluh menit telepon kumatikan, langkah kaki Tonny yang terburu-buru sudah terdengar dari lantai bawah.Ini sungguh langka. Dulu saat aku demam tinggi sampai 40 derajat saja, dia hanya menyuruh Helen mengirimkan obat penurun panas untukku.Sepertinya memang harus menyenggol Helen dulu baru dia akan bergerak secepat ini.Bahkan tanpa melepas jasnya, dia langsung menerjang masuk ke kamar, melangkah mendekatiku dengan tatapan marah dan mengintimidasi. "Berani kamu matiin telepon dariku?"Aku tetap menunduk sambil melipat baju. "Aku sedang nggak pengen bicara."Dia mencengkeram pergelangan tanganku, memaksaku menatap matanya."Cuma karena aku suruh kamu diam? Helen baru aja dapat kerja sama besar, jadi aku sebagai pimpinan ngajak anggota inti buat ngerayain. Apa masalahnya?!"Suaranya meninggi, penuh kemarahan yang meluap."Kamu tau nggak berapa banyak orang yang baca komentar itu? Sampai ada yang ngira dia selingkuhanku! Helen itu punya harga diri tinggi, disindir begitu sama kamu,

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 1

    "Kita cerai, Tonny. Suratnya udah aku tanda tangan."Aku meletakkan dokumen perceraian itu di atas meja kerjanya."Jangan kumat lagi." Dia bahkan tidak melirikku, matanya tetap tertuju pada laporan di depannya. "Malam ini aku ada pertemuan penting. Nggak ada waktu meladeni permainanmu.""Aku nggak s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status