Share

Belenggu Sang Bos Mafia
Belenggu Sang Bos Mafia
Penulis: Lotus

Bab 1

Penulis: Lotus
"Kita cerai, Tonny. Suratnya udah aku tanda tangan."

Aku meletakkan dokumen perceraian itu di atas meja kerjanya.

"Jangan kumat lagi." Dia bahkan tidak melirikku, matanya tetap tertuju pada laporan di depannya. "Malam ini aku ada pertemuan penting. Nggak ada waktu meladeni permainanmu."

"Aku nggak sedang main-main, ya." Aku menekankan setiap kata. "Aku mau cerai."

Barulah dia mendongak. Tatapannya menunjukkan rasa tidak senang.

"Kamu tau 'kan aku nggak suka lelucon kayak gini."

Beberapa bawahannya bergegas keluar ruangan dengan penuh pengertian, meski sempat melempar tatapan kasihan padaku.

"Aku nggak sedang bercanda." Aku mengepalkan tangan, memaksa diri untuk menatap langsung matanya.

Tonny bangkit. Bayangan tubuhnya yang tinggi menjulang menyelimutiku. Aroma parfum yang bercampur dengan cerutu seketika membuat tenggorokanku tercekat.

"Sayang." Dia menarik pinggangku ke dalam pelukannya, lalu berbisik tepat di telingaku.

"Obat ibumu itu harganya 15 juta per butir, dan dia harus minum enam butir sehari. Kalau kamu ninggalin aku, apa kamu mau biarin dia mati begitu aja?"

Gigiku bergemeletuk penuh kebencian.

Dulu aku sangat memuja sikap dominannya, tapi sekarang, aku sangat muak.

"Aku nggak butuh obatmu lagi!" Aku mendorongnya sekuat tenaga, melanjutkan dengan setengah berteriak, "Ibuku udah nggak ada! Aku cuma butuh tanda tangan kamu!"

Tatapan Tonny seketika berubah menjadi gelap dan tajam.

"Kamu berani bohong pakai alasan itu? Baru tadi pagi Helen nunjukin video ibumu sedang jalan santai."

Mataku terbelalak, baru saja hendak membantah saat Helen muncul di ambang pintu.

"Bos, kita harus berangkat sekarang."

Tonny segera beranjak pergi, meninggalkan perintah dengan ketus, "Jangan macam-macam. Kita bicara lagi setelah aku pulang."

Aku tahu dia tidak akan pernah bicarakan ini lagi.

Di matanya, ini hanyalah satu lagi drama "tidak jelas" karena aku sedang ingin cari perhatian.

Biasanya, tak sampai empat jam, aku akan datang padanya untuk minta maaf.

Dulu, aku memang selemah itu.

Saat itu aku sangat takut membuatnya marah karena tak ingin pasokan obat Ibu dihentikan. Apa pun permintaannya, akan kuterima dengan senyum.

Meski orang-orang mencibirku "seperti tak punya harga diri", aku pura-pura tuli.

Tapi kali ini berbeda.

Jika seminggu yang lalu dia mau mendengarkan teleponku sampai selesai, mungkin saat ini aku masih sudi membohongi diriku sendiri bahwa ini semua adalah cinta.

Tapi saat aku baru saja memohon di telepon waktu itu, Helen langsung merampas ponselnya.

"Nyonya mau keluar rumah untuk beli perhiasan koleksi terbaru lagi ya? Tapi di luar kondisinya sedang nggak aman. Nyonya bahkan nggak bisa pegang pistol ... jangan merepotkan Bos di saat seperti ini," ujar Helen ketus.

Aku menjelaskan dengan panik, "Bukan begitu! Ibuku …. "

"Ibu Anda baik-baik saja." Dia memotong kata-kataku dengan nada lembut yang dibuat-buat.

"Tadi aku sempatin menjenguk, nafsu makannya bagus. Kalaupun ingin keluar rumah, seharusnya Nyonya nggak usah pakai kondisi kesehatan ibu sendiri sebagai alasan, 'kan?"

Padahal, dalam foto yang diam-diam dikirim oleh perawat, kondisi Ibu memburuk drastis. Nyawanya terancam!

Baru saja aku ingin menjelaskan, Tonny memotong dengan tidak sabar, "Cukup, Belinda. Aku sibuk, nggak punya waktu dengar kebohonganmu."

"Kamu selalu berbohong supaya bisa keluyuran. Terakhir kali kamu bilang sakit gigi, sekarang kamu malah jadiin ibumu alasan?"

"Turuti aja pengaturan Helen. Dia yang paling profesional, dia bisa urus semua dengan baik."

Begitulah cara dia menangani semua permintaanku.

Meski statusku adalah istri bos mafia, bahkan untuk membeli pembalut pun aku harus mengajukan permohonan dana kepada Helen.

Apalagi untuk keluar rumah.

Helen selalu punya seribu satu alasan untuk menolaknya.

"Alasan Nyonya keluar rumah nggak cukup kuat. Kalau gigi bungsu Anda sakit, minum obat pereda nyeri aja dulu."

"Nyonya menyelamatkan anak kucing yang keracunan pestisida? Itu bukan urusan saya."

"Pembalut? Pinjam aja sama pelayan."

Akhirnya, gigi bungsuku tumbuh miring tanpa pernah sempat ke dokter.

Anak kucing itu pun mati di pelukanku.

Bahkan para pelayan di vila itu memandangku dengan iba.

Tonny memang mengirimkan gaun mewah dan perhiasan setiap musim ke vila ini.

Tapi semuanya terkunci di lemari. Aku bahkan tidak punya hak untuk menyentuhnya.

Ironis sekali. Saat ibuku sekarat, aku justru sedang sibuk menulis dua puluh ribu kata permohonan izin untuk keluar rumah.

Helen hanya meliriknya sedetik sebelum melempar berkas itu kembali.

"Izin keluar harus diajukan tiga hari kerja sebelumnya. Tunggu aja tiga hari lagi."

Aku menangis sejadi-jadinya, memohon padanya, "Izinin aku pergi dua jam saja, ibuku benar-benar sedang kritis!"

Dia malah tersenyum. "Oh ya? Tapi kalau memang udah waktunya mati, mau kamu datang menjenguk pun dia akan tetap mati."

"Aku harus menjalankan tugasku menjaga Nyonya. Tanpa alasan yang sah, aku nggak bisa biarkan Nyonya keluar."

Telepon-teleponku pada Tonny pun selalu ditolak.

Tiga hari, lima hari, tujuh hari.

Sampai akhirnya perawat mengirimkan foto jasad Ibu.

Sebelumnya aku masih bisa membohongi diri bahwa ini adalah bentuk "perlindungan" dan "cintanya".

Kini ibuku sudah meninggal. Alasan apa lagi yang tersisa untuk tidak melarikan diri dari sangkar ini?

Aku menyeka air mata kepedihan ini, mengakhiri semua ingatan itu, dan mulai mengemasi barang-barang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Tonny mengirimkan sebuah tautan media sosial.

Di foto unggahan Helen itu, dia berdiri di samping Tonny, mengangkat gelas merayakan kerja sama mereka.

Keterangan fotonya: [Rutinitas kerja bersama Bos.]

Belum sempat aku bereaksi, masuk pesan perintah dari Tonny.

[Sudah lihat postingan Helen? Jangan berpikiran macam-macam. Sekali lagi kutegaskan, hubungan kami murni atasan dan bawahan.]

[Keluarga kita sedang dalam proses pembersihan citra. Aku tidak mau ada orang yang menganggap orang kepercayaan keluargaku tidak akur dengan istriku.]

Setiap ada hal yang menyangkut Helen, dia selalu muncul paling cepat.

Tadinya aku tak ingin menanggapi, tapi rasa dendam di hatiku tak bisa lagi diredam.

Toh aku sudah kehilangan segalanya, apa lagi yang perlu kutakutkan?

Aku pun mengetik komentar sinis di unggahan itu.

[Keluarga mana pun wajib merekrut Helen jadi orang kepercayaan. Hebat sekali, dia bahkan berani mengurung istri bosnya sendiri dan memainkan wewenang kecilnya dengan sangat lihai.]

[Tolong pertahankan "keadilan" ini saat kamu berhasil naik jadi istri nanti, ya.]

Setelah menekan tombol kirim, sesak di dadaku sedikit berkurang.

Aku menjejalkan gaun terakhir yang paling sederhana ke dalam koper.

Gaun-gaun mewah yang tidak pas di badanku, rumah megah yang dipenuhi kamera pengintai, obsesi Tonny untuk mengendalikan yang berkedok cinta ....

Semuanya tak akan bisa menahanku lagi.

Ponselku tiba-tiba bergetar. Tonny menelepon.

Langsung kumatikan.

Sangat cepat dan tegas, sama seperti caranya mematikan telepon dariku saat Ibu sedang sekarat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 7

    Barang-barang yang kupasang di situs jual beli segera diborong oleh seorang pembeli anonim dengan harga yang sangat tidak masuk akal.Vila itu pun laku dalam waktu singkat.Aku tahu siapa pelakunya, tapi aku sudah tidak peduli lagi.Berbekal uang hasil penjualan dan sedikit barang, aku bersiap berangkat ke Negara Khemir untuk bergabung dalam proyek arkeologi baru.Sebelum berangkat, Profesor Martha menepuk pundakku."Posisiku aku serahkan sama kamu. Sekarang aku bisa pensiun dengan tenang dan pergi berkeliling dunia."Kami berdua tertawa bersama.Tiba-tiba, ponselku berdering nyaring.Suara asisten baru Tonny terdengar panik di seberang sana."Nyonya! Kumohon datanglah ke rumah sakit sekarang! Bos diserang!"Baru saja aku hendak menolak, Profesor Martha menepuk tanganku pelan. "Pergilah. Mungkin ini pertemuan terakhir kalian seumur hidup."Aku mencengkeram ponselku erat-erat. Setelah terdiam cukup lama, aku bergumam, "Baiklah."Di dalam ruang perawatan, Tonny terbaring dengan wajah puc

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 6

    Proses penandatanganan surat cerai berjalan dengan sangat lancar, di luar dugaan.Tonny tidak menampakkan batang hidungnya, dia hanya mengutus asisten barunya untuk mengantarkan dokumen."Nyonya, Bos berpesan …." Asisten itu tampak ragu untuk melanjutkan."Panggil aku Belinda," potongku sambil membubuhkan tanda tangan dengan mantap.Asisten itu kemudian menyodorkan sebuah map tebal."Bos menghibahkan vila ini untuk Anda, dan apartemen penthouse atas namanya juga sudah dibaliknamakan menjadi milik Anda. Selain itu, di dalam kartu ini ada saldo 80 miliar, sebagai rekening pribadi Anda.""Kata sandinya adalah hari ulang tahun Anda."Aku menatap kartu hitam itu, memutuskan untuk menerimanya, namun mendorong kembali kunci vila yang dia sodorkan."Apartemen dan uangnya akan aku terima. Tapi untuk vila ini, tolong jualin aja."Asisten itu tampak sangat kebingungan. "Bos sangat berharap Anda menyimpannya ….""Kalau gitu bilang sama dia," potongku lagi. "Aku merasa mual setiap kali melihat vil

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 5

    Dia masih mengenakan setelan jas, namun lingkaran hitam di bawah matanya tak lagi bisa disembunyikan.Mobil jip di belakangnya penuh sesak dengan peralatan baru."Tiba-tiba aku merasa harus mendukung proyek arkeologi ini. Peralatan seharga 45 miliar ini hanya sedikit aja bentuk dukunganku."Ekspresinya tampak serius, meski bekas tamparan di wajah tampannya belum juga hilang.Baru saja aku hendak menolak, rekan-rekan timku sudah tidak tahan untuk maju dan menyentuh peralatan baru itu."Belle." Dia melangkah ke arahku, kedua tangannya membawa sebuah kotak bekal hangat.Saat tutupnya dibuka, aroma hidangan laut yang pekat langsung menyeruak.Perutku seketika terasa mual dan bergejolak.Dia menatapku penuh harap."Aku sampai minta kepala koki sendiri yang antarkan ini, tiga jam perjalanan dengan mobil.""Dulu kamu paling suka makan ini, 'kan? Cobalah sedikit."Aku tak bergeming, hanya menyahut datar, "Aku alergi hidangan laut. Nyentuh sedikit aja akan bikin kulitku gatal dan ruam merah."T

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 4

    Suara Leon terdengar makin mengecil, penuh ketakutan."Waktu itu Nona Helen sendiri yang nyerahin surat kematiannya. Katanya Bos sedang nggak stabil, jadi berita ini nggak perlu dilaporin. Urusan Nyonya Belinda selama ini memang selalu dia yang tangani .... "Tonny menoleh dengan cepat, menatap tajam ke arah Helen."Seingatku, aku nggak pernah kasih perintah seperti itu."Wajah Helen pucat pasi, dia berusaha keras untuk tetap tenang. "Bos, waktu itu kita sedang sibuk ngurusin kerja sama, aku cuma takut fokus Anda terpecah.""Diam!" bentak Tonny padanya."Sini ponselmu! Aku mau lihat laporan medis ibunya yang asli!"Helen menggeleng panik dan refleks melangkah mundur.Tanpa basa-basi, Tonny merampas tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas.Segala pemberitahuan kondisi kritis yang selama ini disembunyikan.Setiap sen uang yang diajukan atas namaku, namun semuanya masuk ke rekening pribadinya.Serta banyak sekali riwayat pesan yang kelihatannya lembut namun penuh niat busuk.Tanpa s

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 3

    Sambil menyeret koper kecilku, aku pergi menemui Profesor Martha.Beliau adalah sahabat karib mendiang ibuku.Saat aku melepas gelar Master Arkeologi demi menikah dengan Tonny, beliau adalah satu-satunya orang yang menentang keras keputusan itu.Di hari pernikahanku, beliau tidak datang, dan hanya mengirimiku sebuah pesan singkat.[Apa yang kamu lepaskan jauh lebih berharga daripada apa yang kamu dapatkan.][Kalau kamu sudah lelah menjadi burung dalam sangkar emas, ingatlah masih ada jalan lain yang bisa kamu tempuh. Memang berat, tapi terasa bebas.]Kata-katanya terbukti seperti sebuah ramalan.Di awal pernikahan, sikap posesif Tonny belum sekuat sekarang.Dia sering membawaku hadir di berbagai perjamuan.Sampai akhirnya, ada pria lain yang menatapku sedikit lebih lama dari biasanya.Tatapan Tonny seketika berubah gelap, dan sejak saat itu, dia tak pernah lagi membawaku ke acara apa pun.Apalagi setelah Helen mengajukan diri untuk "menjagaku", aku benar-benar kehilangan kebebasanku se

  • Belenggu Sang Bos Mafia   Bab 2

    Belum sepuluh menit telepon kumatikan, langkah kaki Tonny yang terburu-buru sudah terdengar dari lantai bawah.Ini sungguh langka. Dulu saat aku demam tinggi sampai 40 derajat saja, dia hanya menyuruh Helen mengirimkan obat penurun panas untukku.Sepertinya memang harus menyenggol Helen dulu baru dia akan bergerak secepat ini.Bahkan tanpa melepas jasnya, dia langsung menerjang masuk ke kamar, melangkah mendekatiku dengan tatapan marah dan mengintimidasi. "Berani kamu matiin telepon dariku?"Aku tetap menunduk sambil melipat baju. "Aku sedang nggak pengen bicara."Dia mencengkeram pergelangan tanganku, memaksaku menatap matanya."Cuma karena aku suruh kamu diam? Helen baru aja dapat kerja sama besar, jadi aku sebagai pimpinan ngajak anggota inti buat ngerayain. Apa masalahnya?!"Suaranya meninggi, penuh kemarahan yang meluap."Kamu tau nggak berapa banyak orang yang baca komentar itu? Sampai ada yang ngira dia selingkuhanku! Helen itu punya harga diri tinggi, disindir begitu sama kamu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status