MasukSejak fajar menyingsing, ponsel Amanda tak berhenti bergetar. Rentetan pesan dari Alex masuk seperti teror yang dibungkus kata-kata rindu. Amanda hanya menatap layar itu dengan jantung berdegup kencang, lalu membaliknya ke atas meja seolah benda itu adalah bara api yang bisa membakar jemarinya. Ia tak membalas satu pun. Alex, yang mulai kehilangan kesabaran di toko bunganya, mencoba cara lain. Ia meraih telepon kabel toko, berharap nomor kantor yang terlihat formal akan membuat Amanda lengah. Namun, Amanda sudah hafal di luar kepala nomor itu—nomor yang dulu selalu ia tunggu-tunggu panggilannya, kini justru menjadi sinyal bahaya. Ponselnya berdering panjang, melolong di keheningan kamar, tapi Amanda hanya mematung, membiarkan dering itu mati dengan sendirinya. Tidak kehabisan akal, Alex meraih ponsel salah satu pegawainya yang sedang merangkai mawar. "Pinjam sebentar, urusan darurat," ucapnya singkat. Ia mendial nomor Amanda. Kali ini, sebuah nomor asing muncul di layar Amanda. Ber
Margareth tidak bisa tidur selama dua malam. Suara tawa meremehkan dari teman-teman arisannya di grup WhatsApp terus terngiang seperti tawon yang menyengat harga dirinya. Tuduhan bahwa kehamilan Amanda hanyalah rekayasa untuk menutupi skandal keluarga benar-benar membuat darahnya mendidih."Siapkan dirimu, Amanda. Pakai baju terbaikmu, jangan terlihat pucat," perintah Margareth pagi itu, suaranya dingin tanpa bantahan.Setibanya di klinik kandungan VVIP, Margareth tidak langsung masuk. Ia mengeluarkan ponsel keluaran terbaru, merapikan selendang sutranya, dan menekan tombol LIVE di akun Instagram-nya yang diikuti ribuan orang dari kalangan elit."Selamat pagi, teman-teman sosialitaku yang sedang sibuk berspekulasi," ucap Margareth ke arah kamera dengan senyum yang sangat manis namun mematikan. "Karena banyak sekali 'perhatian' mengenai menantu kesayanganku, aku rasa lebih baik aku berbagi kebahagiaan ini secara langsung agar tidak ada lagi yang... salah paham."Amanda hanya bisa berdi
Alex menatap botol kecil berisi cairan pekat di tangannya. Jamu racikan khusus yang ia pesan secara rahasia itu menjanjikan satu hal: stamina yang tak kunjung padam. Ia tahu Nina adalah perempuan yang jeli. Nina selalu bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak biasa, dan itulah yang Alex inginkan. Ia ingin Nina bertanya-tanya, ingin Nina curiga, dan ingin Nina merasa bahwa Alex telah berubah menjadi pria yang jauh lebih perkasa dari sebelumnya. Dengan satu gerakan mantap, Alex meminum jamu pahit itu hingga tandas. Rasa hangat langsung menjalar dari kerongkongannya, menyebar ke seluruh aliran darahnya, memberikan sensasi kekuatan yang seolah meledak di dalam tubuhnya. "Malam ini, kamu tidak akan pernah melupakan siapa aku, Nina," gumam Alex sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya tampak lebih tajam, dan napasnya mulai teratur dengan ritme yang kuat. Beberapa saat kemudian, Nina masuk ke dalam kamar. Ia memperhatikan Alex yang berdiri tegak dengan aura yang berbeda. Ada k
Nina mengatupkan mulutnya, mata yang terbelalak dengan tidak percaya. "Apa yang kamu katakan, Alex? Kamu tidak mungkin berhubungan dengan gadis itu!" dia membentak, suaranya tinggi dengan emosi. Alex mengangkat tangannya, mencoba untuk menenangkan Nina. "Nina, aku tahu ini terdengar tidak masuk akal, tapi aku tidak berhubungan dengan gadis itu. Aku hanya-" "Tidak berhubungan?!" Nina memotongnya, suaranya semakin tinggi. "Kamu berpikir aku percaya? Kamu selalu pulang malam, kamu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku tahu kamu ada sesuatu yang kamu sembunyikan!" Alex menggelakkan kepalanya, merasa frustrasi. "Nina, aku tidak ada yang menyembunyikan. Aku hanya mencoba untuk membantu gadis itu, dia-" "Gadis itu?!" Nina membentak lagi. "Kamu sudah menyebutnya 'gadis itu' seperti kamu tidak peduli dengan perasaanku. Aku tahu kamu ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan dia!" Alex merasa dirinya terpojok, tidak tahu bagaimana menjelaskan situasi ini kepada Nina. "Nina, aku-" "Tidak, A
Alex dan Gadis saling menatap saat sebuah pot bunga hampir jatuh dari rak. Mereka berdua secara spontan bergerak untuk mengamankan pot bunga yang hampir jatuh itu. Alex mencoba untuk menangkap pot bunga, sementara Gadis berusaha untuk membantu menstabilkan rak. Dalam gerakan yang cepat, mereka berhasil mengamankan pot bunga dan meletakkannya kembali di rak. Alex dan Gadis saling tersenyum, lega bahwa pot bunga itu tidak jatuh. Tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Nina datang ke toko bunga Alex, dan matanya langsung tertuju pada Gadis yang berdiri di dekat Alex. Nina merasa seperti diserang oleh rasa cemburu yang tiba-tiba. "Apa yang terjadi di sini?" Nina bertanya, suaranya sedikit keras. Alex, yang masih tersenyum, menjawab, "Nina, aku hanya membantu Gadis mengamankan pot bunga ini. Aku tidak sengaja—" Tapi Nina tidak mau mendengarkan. Matanya terus tertuju pada Gadis, dan dia langsung meminta, "Gadis, tolong pergi dari sini. Sekarang." Gadis, yang merasa tidak nyama
Amanda merasa sedikit tidak nyaman dengan keinginan Rudi untuk melakukan USG. Ia merasa belum siap untuk mengetahui jenis kelamin bayi atau melihat wajah bayi yang belum lahir. Selain itu kandungan dari Amanda sendiri belum tepat untuk di lakukan USG. Tapi Rudi sangat antusias dan ingin tahu segala hal tentang bayi yang ada di dalam kandungannya. "Amanda, ayo kita pergi ke dokter kandungan. Aku ingin tahu apakah kita akan memiliki anak laki-laki atau perempuan," Rudi berkata dengan senyum lebar. Amanda mencoba menolak, tapi Rudi tidak mau mendengarkan. "Amanda, aku tahu kamu belum siap, tapi aku siap. Aku ingin tahu segala hal tentang bayi kita," Rudi berkata dengan nada yang sedikit tegas. "Tapi Sayang. Ini belun waktunya. Kandunga ku belum genap 2 bulan. Aku belum bisa melakukan USG. " ucap Amanda dengan lembut. "Kamu jangan sok tahu. Ilmu dari mana itu? Teknologi sekarang itu sudah canggih. Bahkan kita bisa memilih bayi kita sendiri. Masa buat lihat anak kita sendiri tidak bis







