Teilen

Bab 11

last update Veröffentlichungsdatum: 27.01.2026 18:44:42

“Lantas mengapa?! Kau menyibukkan dirimu seolah kau orang paling sibuk di dunia ini dan kini kau datang padaku seolah tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kita?!” pekik Aneya.

Beberapa pasang mata memperhatikan mereka yang sedang terpacu oleh emosi di halte. Aneya membiarkan hal itu, beberapa orang memilih untuk mengambil jarak dari Aneya.

“Kau tidak mengerti!” balas Arya.

“Aku mengerti! Kau lebih memilih meluangkan waktu dengan wanita lain selain diriku karena aku selalu menyusahkanmu!” pe
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 199

    “Lupakan saja,” balas Aneya sambil mengerucutkan bibirnya. Tawa Ravin semakin menjadi, salah satu tangan pria tersebut kembali bertengger di pucuk kepala Aneya. Elusan yang pelan dan menenangkan itu kembali dilakukan Ravin. “Ayolah, aku akan mendengarkan ceritanya,” sahut Ravin tanpa menoleh. Aneya menghela napas panjang. “Apakah aku pernah menceritakan padamu bahwa Arya juga ikut terlibat dalam hal itu?” “Benar kah?” tanya Ravin terkejut dan menoleh sebentar. “Bukan sesuatu yang besar, hanya terlibat dalam menambah beban pikiranku kala itu,” jawab Aneya datar dengan pandangan lurus. Detik itu juga sepi kembali mengambil alih di antara mereka. Tidak ada pertanyaan atau candaan yang memicu pria di sampingnya untuk membuka suara, begitu pun dengan Aneya. “Aku minta maaf jika itu membuka luka lama bagimu,” ucap Ravin dengan nada yang pelan. “Tidak masalah, maaf juga karena aku belum bisa menceritakannya padamu … butuh energi yang banyak untuk itu,” balas Aneya bersama dengan hela

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 198

    Ravin menghela napas, perlahan Aneya melepaskan pelukannya. Ia sempat mengangkat wajah, memperhatikan pergerakan yang dilakukan pria tersebut, tetapi Ravin justru beralih ke sisi mobil dan membukakan pintu untuknya. Aneya terdiam sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke kursi penumpang. “Ayo, pulang. Kita berdua sudah terlalu lelah untuk hari ini,” ujar Ravin dengan nada yang lembut. “Dia benar, aku saja yang terlalu berlebihan … sepertinya,” batin Aneya sembari menyeret kakinya pelan. Pintu mobil tertutup dengan bunyi dentuman pelan. Aneya tetap diam di kursi penumpang, pandangannya terpaku pada halaman luas di balik kaca depan. Jemarinya terkulai di pangkuan, tak bergerak meski beberapa detik berlalu. Tak lama kemudian, pintu di sisi pengemudi terbuka dan tertutup kembali. Ravin memutar kunci kontak, disusul deru mesin yang memenuhi kabin. Namun, Aneya masih belum mengalihkan pandangannya. Sepanjang perjalanan, Aneya hanya menatap jalanan dari balik kaca jendela. Tak sepatah

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 197

    “Akhirnya kau membuka suara,” celetuk Arya sarkas dengan seringai khasnya. Ravin meraih pergelangan tangan kiri Aneya, lalu bangkit dari tempat duduk. Aneya segera menyusul, napasnya memburu saat ia berdiri di sisi pria itu. Jemarinya menegang dalam genggaman Ravin, sementara tatapannya tertuju tajam pada Arya. “Kau bahkan terdengar tidak serius setiap kali menanggapi Ravin!” pekik Aneya bersama dengan amarah yang akhirnya meluap. “Jika aku tidak serius, untuk apa aku mengerahkan tenaga dalam menjawab pertanyaan seperti itu?” sahut Arya, “jangan terlalu dendam padaku, kita dulu juga pernah menjalin hubungan.” Rahang Aneya mengeras. Ia merenggut tangannya dari genggaman Ravin, lalu melangkah cepat menghampiri Arya. Jemarinya mengepal erat di sisi tubuh, sementara tatapannya tak lepas dari pria itu, seolah tak ada lagi yang mampu menghalangi langkahnya. Telapak tangan Aneya mendarat telak di pipi Arya, menghasilkan bunyi tamparan yang memecah keheningan. Ia tertegun saat melih

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 196

    “Salahkah jika aku percaya diri pada hal yang kuyakini?” tanya Arya sarkas membalik pertanyaan. “Senang mendengarmu begitu percaya diri,” sahut Ravin tak kalah sarkas. Netra Aneya bergantian melirik kedua pria yang berada di sekitarnya. Ia mengembuskan napas pelan melalui hidung, berusaha agar salah satu dari mereka tidak ada yang menyadari hal tersebut. “Sampai kapan aku akan dikarantina di sini?” tanya Arya kemudian. Aneya memperhatikan gerak-gerik Arya yang merogoh saku celana, seolah berusaha keras mengeluarkan benda dari dalam sana. Sebatang rokok kemudian dibakar oleh pria itu, tidak ada yang membuka suara dan Arya terlihat tetap santai menghisap rokoknya beberapa kali dengan kepulan asap yang beberapa kali dikeluarkan dari mulutnya. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu,” kata Ravin mencoba tetap pada topik. “Ravin, kau punya terlalu banyak pertanyaan, aku bahkan tidak yakin akan menjawab semua pertanyaan itu,” ucap Ar

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 195

    Aneya bergeming sembari menatap ke arah pintu yang menuju balkon. Tanpa sadar ia menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, ia mencoba membuat perasaannya stabil. “Aku siap,” jawab Aneya akhirnya terdengar pelan. “Tetap bersamaku, jangan lepaskan genggamannya,” sahut Ravin setengah berbisik. Genggaman pria itu semakin menguat kala langkah kaki mereka kini tertuju pada satu arah menuju pintu tersebut. Pria itu kemudian menarik pintu kaca besar setelah berhasil memutar gagangnya. Semilir angin malam yang terasa sejuk seketika menyambut mereka, salah satu tangan Aneya mencoba memperbaiki rambutnya yang tertiup angin. Pandangannya mengedar, balkon itu cukup luas. “Di mana dia?” gumam Aneya pelan hampir tak terdengar. “Ikut aku, balkon ini terhubung dengan beberapa bagian balkon di sisi samping,” ucap Ravin sederhana. Aneya sedikit terkejut ketika pria di sampingnya mendengar apa yang baru saja ia katakan. Sepersekian detik berikutnya, derap langkah mereka berjalan

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 194

    “Benar. Namun, untuk menempatinya secara permanen dia perlu mengeluarkan biaya lebih banyak lagi daripada yang sudah ku keluarkan saat pertama kali membeli rumah tersebut,” jawab Ravin dengan penuh sarkas sambil melirik ke arah kekasihnya. Mulut Aneya terbuka lebar disusul dengan tawa yang pecah. “Apakah di samping nama tengahmu ada terselip julukan tuan tukang pamer?” “Berhenti menggodaku seperti itu,” kata Ravin yang ikut larut dalam tawa. “Setidaknya aku berhasil mengetahui nama lengkapmu selama ini,” sahut Aneya tak mau kalah. Di detik berikutnya, Ravin memarkirkan mobilnya tepat berada di samping rumah tersebut, tawa mereka kemudian perlahan berhenti senada dengan deru mesin. Senyuman Ravin terukir begitu manis kala netra milik Aneya masih terpaku pada pria itu. “Kita akan melanjutkannya setelah ini, jangan kemana-mana,” ucap Ravin yang kemudian membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” seru Aneya dengan nada mencegat. Pria tersebut belum sepenuhnya keluar, masih sedang ber

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 7

    “Iya, Pak,” jawab Aneya mantap. Mereka masuk ke dalam lift tanpa banyak bicara. Pintu lift menutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa canggung, tetapi tidak sepenuhnya tidak nyaman. Aneya menatap angka lantai yang bergerak turun. Ia menyadari betapa sunyinya lift itu, hanya diisi suara de

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 6

    Pesan dari kontak yang sama kembali muncul di ponsel milik Aneya. Tepat ketika jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Layar ponselnya yang terang itu memantulkan cahaya ke wajahnya yang sedikit lelah. Aneya membaca pesan itu pelan. Memastikan ia tidak salah menangkap ma

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 5

    Tatapan Ravin masih membayang dalam benak Aneya, tertinggal seperti bayangan cahaya yang enggan pudar. Terasa mengganggu, melekat terlalu lama, bahkan ketika Aneya sudah berusaha memalingkan wajah dan mengatur kembali napasnya. Ruangan itu seharusnya terasa netral, bersih, rapi dan formal. Namun,

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 4

    Pukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut. “S

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status